Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Percakapan di Suatu Tempat.


__ADS_3

Arsen kembali ke kamar Reynald, setelah Vita dan juga Nina pamit pulang. Reynald masih tertidur lelap, begitupula dengan Lea.


Arsen lalu membuka lemari yang terdapat di ruangan tersebut dan mengambil selimut. Lalu ia menyelimuti Lea, sebab udara kamar itu cukup dingin oleh air conditioner. Beberapa menit kemudian Daniel pun tiba bersama Richard dan juga Ellio.


"Arsen."


"Ssssttt." Arsen menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Daniel, Richard, serta Ellio melihat Reynald dan juga Lea yang tengah tertidur lelap. Maka mereka melangkah secara perlahan.


"Dia udah lama tidur?" tanya Daniel pada Arsen.


"Lumayan om." jawab Arsen.


"Ada kali satu jam." lanjutnya kemudian.


Reynald bergerak dan terbangun dari tidur, Richard langsung mendekati kakaknya tersebut dan menanyakan kabarnya.


Cukup lama mereka ada di tempat itu, sampai akhirnya Daniel dan Lea pamit pulang. Arsen sendiri pulang diantar mereka berdua. Sedang Richard dan Ellio akan menjaga Reynald hingga besok.


***


Di Sebuah ruangan, di suatu tempat. Masih di kota yang sama.


"Jadi si SB Agency ini bahkan merekrut anak di bawah umur?"


Seorang pria berpakaian seperti seorang penyidik bertanya pada salah seorang wanita, yang merupakan salah satu petinggi di sebuah lembaga pemerhati anak dan perempuan. Namun bukan berasal dari lembaga yang sama dengan Arsen.


"Iya, belakangan kami sudah mengetahui inisial remaja itu. Tetapi saat ini kami belum melakukan pendekatan maupun meminta keterangan." jawab si perempuan.


"Setelah semua tersangka yang terlibat di SB Agency tertangkap. Bagaimana nasib si remaja di bawah umur ini dan juga ex sugar baby lainnya?"


Pria berpakaian penyidik itu kembali bertanya.


"Si remaja ini kabarnya masih bersama dengan laki-laki yang bahkan usianya hampir dua kali lipat dari usia si remaja."


Si penyidik itu terdiam.


"Usia si laki-laki sekitar 40an?" tanya nya kemudian.


"Belum, tapi hampir. Sekitar 30 lebih lah." jawab si perempuan.


"Bagaimana lembaga ini menindaklanjuti hal tersebut. Apakah sudah ada pendekatan persuasif kepada si remaja maupun si laki-lakinya ini?. Untuk kemudian diajak berbicara dan mengumpulkan keterangan. Mengenai apakah si remaja ini terjebak sebuah hubungan yang manipulatif atau tidak. Karena seperti diketahui remaja-remaja di bawah umur itu masih bisa di manipulasi sedemikian rupa. Hingga ia mengira bahwa apa yang ia rasakan adalah cinta. Padahal hanya kepada pemenuhan sebuah kebutuhan, uang misalnya. Berhubung si pria ini memberikan apa yang dia mau, sehingga dia berpikir apa yang dia jalani itu adalah cinta."


Penyidik tersebut berbicara panjang lebar.


"Ya, untuk sejauh ini kami hanya sebatas memantau dulu. Belum ada tindakan yang mendekati ataupun bertanya secara langsung kepada si remaja. Sebab kita belum menemukan celah dan juga kesempatan. Tetapi dalam waktu dekat, bersama pihak-pihak terkait, kita akan berupaya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan." jawab si wanita.

__ADS_1


Maka percakapan itu pun berlanjut dan berlangsung cukup serius.


***


"Kamu tidur lagi aja Le, kalau masih ngantuk."


Daniel berujar pada Lea ketika mereka sudah berada di mobil. Pasalnya Lea terlihat menguap beberapa kali. Di samping wajahnya yang memang masih terlihat butuh tidur.


"Pengennya sih tidur lagi mas, tapi ini anak gerak mulu dari tadi."


"Oh ya?"


Daniel menyentuh perut Lea dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan masih berada di setir kemudi. Memang terasa jika bayinya saat ini bergerak cukup aktif.


"Sayang, kamu lagi ngapain di dalam sana?" tanya Daniel kemudian. Bayi itu kembali bergerak, dan kini Lea serta Daniel kompak tersenyum.


"Lagi break dance ya dek." seloroh Lea, membuat Daniel terbahak.


"Abisnya dari tadi gerak mulu, sakit perut mamanya kadang." ujar Lea lagi.


Daniel sedikit terdiam.


"Maafin ya, Le. Aku tau kamu udah tersiksa banget pasti, gara-gara anak aku di dalam." ujarnya seraya mengusap perut Lea.


"Tapi bentar lagi dia keluar koq." lanjut pria itu.


Lea hanya tersenyum sambil mengusap-usap perutnya.


"Iya mas, kayak penuh dan kenceng aja perut aku."


Lea hampir saja mengatakan jika tadi perutnya sempat kram dan sakit, namun hal tersebut ia tahan. Takut Daniel malah memberi proteksi lebih kepada dirinya, hingga ia sudah bergerak kemana-mana.


"Maaf ya, ini semua gara-gara aku." ujar Daniel.


"Tapi aku suka liat kamu begini."


"Suka gitu liat aku susah?" tanya Lea dengan wajah setengah cemberut.


"Bukan gitu, Le. Aku bukan senang liat kamu kesakitan atau apa. Aku senang liat kamu hamil anak aku. Itu artinya kamu adalah milik aku, dan orang lain akan sulit untuk merebut kamu dari aku."


"Ah nggak, Megan Fox anaknya tiga tapi pisah-pisah juga sama suaminya. Miranda Kerr udah dihamili Orlando Bloom, pisah ujungnya. Karena Miranda direbut Evan Spiegel, CEO Snapchat."


Daniel tertawa kecil.


"Tuh kan, suka banget mengecilkan hati suaminya."


Daniel berkata dengan nada pelan namun seperti ada kekecewaan dan kesedihan di dalamnya. Meski itu sangat sedikit sekali.

__ADS_1


"Mas aku bercanda loh, kamu baper beneran ya?" tanya Lea.


"Iya, baper tau aku. Mana kamu masih muda lagi. Bisa aja kan di rebut sama CEO muda lain."


"Dih." Lea memperhatikan Daniel sambil tertawa.


"Dek papa baper beneran ternyata." ujarnya seraya mengusap dan memperhatikan perutnya. Daniel masih tersenyum namun tatapan matanya seperti menahan sesuatu.


"Maaf mas ya ampun. Beneran deh, aku cuma bercanda aja." ujar Lea.


"Kamu tau nggak efek omongan kamu itu?" tanya Daniel.


"Apa?"


Lea balik bertanya.


"Sakit." ujar Daniel seraya memasang wajah serius, namun tak bisa. Sebab ujungnya ia senyum dan tertawa juga.


"Maaf ya mas, maaf banget." Le gelendotan di tangan sang suami.


"Jadi kamu niat buruk, Le?. Pengen direbut CEO lain gitu dari aku?"


"Masih lanjut aja si Bambang." Lea memukul lengan Daniel hingga Daniel pun kini terbahak.


"Nggak, nggak, nggak. Udah, udah, udah." ujar Daniel.


"Makan aja yuk abis ini." ujar pria itu kemudian.


"Mau makan apa?" tanya Lea.


"Apa kek, terserah kamu. Mau makan di tempat atau order via online juga boleh.


"Mmm, makan apa ya mas yang enak?" tanya Lea pada sang suami.


"Ya terserah kamu, kamu pengennya apa?"


Lea berpikir.


"Apa ya yang enak?" ujar nya lagi.


Daniel masih menunggu keputusan istrinya tersebut. Sementara mobil terus berjalan..


"Pengen Padang deh mas, tapi double rendang." Lea membuat keputusan.


"Mmm, ok. Boleh juga. Kayaknya udah lama ya kita nggak makan Padang." ujar Daniel.


"Iya, tapi aku rendangnya dua."

__ADS_1


"Ya udah kita cari warung nasi Padang aja, nggak usah online. Biar puas." Daniel memberikan ide.


"Ok deh." jawab Lea penuh semangat.


__ADS_2