
"Huuuh."
Lea menyelesaikan olahraganya kemudian duduk diam sambil mengatur nafas. Sudah dua jam berlalu, dan Darriel pun sudah tertidur, bangun, kemudian tidur lagi.
Lea hanya memberinya botol susu kemudian memindahkan bayi itu ke dalam box. Setelah beristirahat dan keringatnya sudah berkurang jauh, Lea kemudian pergi mandi dan menyiapkan makan malam. Tak lama setelah itu Daniel kembali dari kantor.
"Le, aku laper."
Itulah kata pertama yang di ucapkan Daniel ketika ia melihat Lea.
"Ayo mas, makan!" ajak Lea.
Segera Daniel meletakkan tas laptopnya di atas sofa, kemudian langsung menuju meja makan dan menarik salah satu kursi.
Ketika Lea menyajikan makanan, Daniel terperangah. Ia menatap dari ujung ke ujung meja makan yang penuh dengan warna-warni sayuran serta buah.
"Le, kita makan semak belukar?" tanya Daniel memperhatikan sayur-sayuran baik masak maupun mentah yang ada di hadapannya.
"Biar sehat, mas. Dulu kan kamu sehat banget makannya, waktu awal-awal kita ketemu."
"Iya, tapi jadi terkontaminasi micin gara-gara masakan kamu. Sekarang aku agak terbiasa sama micin. Terus kamu mau balikin lagi jadi makan sayur-sayuran seisi bumi kayak gini?" tanya Daniel.
Lea menghela nafas.
"Ya udah deh." ujarnya lalu mengambil satu mangkuk sedang berisi daging saos teriyaki, yang ia sembunyikan di lemari kitchen set.
"Aku udah duga mas pasti kaget sama sayuran ini. Jadi aku masakin ini."
Lea nyengir, Daniel bernafas lega akhirnya ia tidak cosplay jadi kambing.
"Nah, gini dong. Kan enak." ucap pria itu.
"Tapi makan sayurnya juga." tukas Lea.
"Iya, ini aku makan koq."
Daniel mengambil beberapa jenis sayuran yang di sediakan istrinya itu. Kemudian ia mulai makan.
"Tumben kamu kayak gini, Le. Biasanya masakan kamu penuh kolesterol." ujar Daniel di sela-sela makan.
"Aku pengen badan aku balik kayak dulu, mas. Ini aku udah kegendutan." jawab Lea.
"Ah nggak koq. Masih biasa aja."
"Pakaian udah pada sempit, mas. Nggak nyaman aku makenya."
"Ya udah, yang penting dietnya tetap perhatikan gizi. Darriel juga masih ASI soalnya."
"Iya mas." jawab Lea.
"Darriel tidur?" tanya Daniel.
"Nggak, nonton Coco melon di kamar."
"Oh." Daniel tertawa.
"Itu anak nggak kayak bayi lain. Bayi lain doyan tidur, dia doyan nonton." ujarnya lagi.
__ADS_1
"Sama doyan ngoceh." Lea menimpali.
"Lucu kali ya kalau Darriel udah sekolah."
Daniel meminum air didalam gelas yang telah di sediakan Lea sejak awal.
"Iya lucu pasti, makanya kamu sehat-sehat. Biar bisa antar dia sekolah nantinya. Kamu mah ngerokok mulu, kuat banget lagi."
"Iya, ntar di kurangi." jawab Daniel.
Ia selalu bisa memberikan jawaban paling simpel yang disukai perempuan. Meskipun itu belum tentu ia lakukan.
"Kamu kalau mau olahraga, nge-gym bareng aku aja Le." Lagi-lagi Daniel berujar.
"Ntar cowok-cowok yang demen sama kamu malah cemburu lagi." Lea berseloroh sambil tertawa.
Dulu ia pernah beberapa kali menemani suaminya itu nge-gym. Ada banyak cowok-cowok melambai yang sinis pada dirinya. Usut punya usut Ellio bilang, jika para amfibi itu adalah pemuja Daniel.
"Ya biarin aja, paling kamu jambak-jambakan sama mereka." tukas Daniel seraya ikut tertawa.
"Iya mereka enak jambak rambut aku, mas. Lah aku ke mereka, mau jambak apa coba?"
"Ada tau rambut mereka, gaib." ujar Daniel lagi.
Keduanya kini makin tertawa-tawa.
"Apalagi si Nario tuh, tiap ngondek nyelipin rambut ke kuping mulu. Padahal rambutnya nggak ada." tukas Daniel.
"Nario tuh yang agak gemuk gitu kan mas orangnya."
"Iya yang rambutnya kayak batok kelapa." ucap Daniel.
"Ih mas kamu mah." ujarnya kemudian.
"Loh emang iya, kayak batok kelapa." tukas Daniel.
"Tapi kamu, ayah, sama om Ellio geli nggak sih mas ketemu orang-orang kayak gitu?" tanya Lea.
"Sejauh ini sih, nggak. Karena mereka itu bukan tipikal yang suka ganggu atau pegang-pegang orang sembarangan. Cuma centil suka panggil-panggil doang." jawab Daniel.
"Kalau berani pegang-pegang mah, aku tonjok Le."
"Oh ya?. Serius?" tanya Lea sambil tertawa.
"Bukannya kamu pegang balik ya mas." lanjutnya lagi.
"Ember." ujar Daniel sambil menaikkan alisnya lalu menyuap nasi. Lea pun jadi tambah tertawa-tawa.
"Heheee."
Tiba-tiba Darriel terdengar ikut tertawa.
"Kenapa tuh anak?" tanya Daniel kemudian.
"Biasa, caper. Udah denger suara emak-bapaknya." tukas Lea.
"Oh ya mas, ayah gimana hasil medical check up nya?" tanya Lea.
__ADS_1
Tiba-tiba Daniel teringat lagi pada Richard. Padahal tadi ia sudah lumayan agak tenang hatinya lantaran banyak bercanda.
"Belum keluar semua hasilnya, Le."
"Yang udah keluar?"
"Yang udah keluar relatif baik. Cuma lagi nunggu hasil yang lainnya. Jadi aku belum bisa menyimpulkan apa-apa." ucap Daniel.
Lea menarik nafas panjang.
"Semoga ayah baik-baik aja ya mas."
"Iya, semoga. Kita terus doakan aja." ujar Daniel lagi.
Mereka lanjut makan. Setelah selesai Lea membereskan meja makan dan mencuci piring.
Sementara Daniel pergi ke atas untuk istirahat sejenak. Kemudian ia pergi mandi, berganti pakaian, dan menemani Darriel sampai keduanya sama-sama tertidur.
***
Di kediamannya Shela yang tengah bahagia karena merasa telah mampu mendekati Daniel meski hanya sebatas direct message Instagram tersebut, kini terlihat tengah berbicara dengan seorang teman.
"Nih, ini yang namanya Ellio. Ganteng kan?"
Shela memperlihatkan foto Ellio pada temanya itu. Temannya memperhatikan, meski di akun Instagram Ellio juga terdapat foto-foto pernikahannya dengan Marsha.
"Iya ganteng banget, tajir lagi ya."
"Bukan lagi, tajir melintir pokoknya. Sama kayak Daniel yang mau gue deketin ini." jawab Shela.
"Lo deketin aja ege, si Ellio. Biar gue ada temannya." lanjut perempuan itu.
"Tapi cowok gue mau di kemanain, Shel?" temannya itu balik bertanya.
"Ya kemana kek, bodo amat. Cowok lo pas-pasan gitu. Mending jadi sugar baby sekalian sama om-om tajir dan ganteng kayak gini. Syukur-syukur bisa bunting. Bakalan di biayain lo seumur hidup." tukas Shela.
"Iya sih, gue tuh kadang bosan banget. Cowok gue jarang bisa di ajak hang out. Alasannya nggak punya duit mulu."
"Makanya cari yang tajir." ujar Shela.
Temannya itu kini terus memperhatikan Ellio. Sedang yang di perhatikan tersebut saat ini tengah memompa-mompa liang istrinya, sambil memberikan usapan demi usapan di perut sang istri yang membuncit.
"Sha, aku keluarin di dalam ya." bisik Ellio di telinga Marsha. Mereka telah bercinta sejak tadi dan kini saatnya mencapai *******.
"Iya, hmmh."
"Ssshhh."
Ellio mempercepat tempo gerakan. Kemudian,
"Aaah, aaah, aaah."
"Aaaaaaah, enaaaak."
Mereka berteriak cukup kencang. Gelombang cinta mengalir di perut Marsha dan membuatnya seketika merasa hangat serta nikmat. Area sensitif wanita itu dan suaminya terasa berkedut-kedut dengan hebat.
"Aku sayang kamu." bisik Marsha di telinga Ellio. Ellio lalu tersenyum dan mencium pipi wanita itu.
__ADS_1
"Aku juga sayang." jawabnya kemudian.