
"Mas, delil udah makin gede aja sekarang. Bentar lagi setahun. Aku nggak mau dia gede mas, nanti nggak lucu lagi."
Lea merengek pada sang suami sambil memperhatikan Darriel yang memainkan kaki serta tangannya dengan semangat.
"Le, kamu udah ngomong ini berapa kali loh. Emang manusia itu tumbuh dan dia akan tetap besar walau kamu nggak mau."
"Tapi kan aku sedih mas." ucap Lea kemudian.
"Iya, aku tau. Aku juga ngerasain hal yang sama koq. Bukan cuma itu aja, aku juga khawatir nggak bisa jadi ayah yang baik buat dia. khawatir aku jadi orang tua yang egois dan lain sebagainya. Banyak ketakutan aku sekarang." ucap Daniel.
"Eheee."
"Hokhoaaa."
Darriel bersuara.
Daniel dan Lea memperhatikan anak itu dan tiba-tiba Darriel menoleh ke arah mereka lalu kembali tertawa.
"Eheee."
Daniel dan Lea kemudian mendekat. Masing-masing dari mereka mengambil duduk di sisi kanan dan kiri sang anak. Membuat Darriel makin antusias memainkan kaki dan tangannya.
"Kamu tuh cepet banget gede, mama nggak rela." ucap Lea pada anak itu.
"Hokhoaaa."
"Eheee."
"Ehe, ehe melulu."
Lea mencium kedua pipi anaknya itu dengan gemas. Kemudian Darriel balas mencium Lea.
"Aduh, aduh. Air ludah semua muka mama."
Darriel tambah bersemangat, sedang Daniel kini tertawa-tawa.
__ADS_1
"Nanti kita sekolahkan dimana ya mas?" tanya Lea pada Daniel.
"Ya yang deket-deket sini aja, Le. Yang penting sekolahnya bagus." ucap Daniel.
Lea mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku tuh punya rencana yang besar dan banyak banget buat dia." ucap Lea.
"Aku pengen dia ikut les ini, les itu nantinya." Lanjut perempuan itu.
"Kita orang tua sangat dianjurkan membekali masa depan anak. Tapi balik lagi lihat ke bakat dan minat yang dimiliki si anak itu sendiri. Boleh mengarahkan, tapi jangan memaksakan kehendak." ucap Daniel.
"Kalau minat dan bakatnya Darriel suka tidur gimana mas?"
Lea melontarkan pertanyaan yang membuat Daniel seketika tertawa.
"Semua orang juga suka tidur, Le. Tapi setiap manusia itu juga pasti punya satu atau dua minat di bidang lain." jawab pria itu.
"Misalkan Darriel sukanya main game online gimana?"
"Ya tinggal arahkan jadi gamer profesional aja. Sesimpel itu koq." jawab Daniel.
"Terus apa?. mau kamu paksain jadi jago matematika gitu?. Iya kalau anaknya mau, kalau nggak."
"Ya maksud aku minimal dia ada jago di akademis gitu loh mas." ujar Lea.
"Kamu tuh milenial, Gen Z pula. Masih aja pikiran kayak orang dulu."
"Koq kayak orang dulu?"
"Ya iya, ambisi soal prestasi akademis. Boleh kalau anaknya punya minat ke arah sana, nggak masalah. Yang jadi masalah itu, kadang si anak emang nggak bisa maksimal di sana tapi dipaksain. Iya emang kewajiban seorang anak itu adalah belajar. Tapi kita juga nggak boleh kasih patokan yang terlalu tinggi. Nggak semua anak bisa pintar di akademis, Le." ujar Daniel panjang lebar.
Lea mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya deh, kita liat aja nanti." ujarnya
__ADS_1
kemudian.
"Uwawawa."
"Hokhoaaa."
Darriel seakan hendak mengajak kedua orang tuanya bicara.
"Ngomong apa kamu?" tanya Daniel pada anak itu.
"Hokhoaaa."
"Eheee."
Lagi-lagi Darriel tertawa.
***
Sementara itu perkara perceraian yang diajukan Nadya telah naik ke tingkat selanjutnya. Hari ini ia dan Hanif kembali di panggil untuk mediasi. Namun pihak Nadya menolak dengan berbagai alasan.
Hanif tak rela kehilangan istri cantiknya itu. Bukan perkara ia cinta mati, melainkan takut di ejek teman-temannya. Lantaran pernikahannya dengan banyak istri tak berhasil
Hanif tak ingin istri-istri nya menjadi pembangkang, dan tetap ingin terlihat seolah ia memiliki power yang besar.
"Sayang, maafin aku udah datang ke kamu dengan cara kasar tempo hari. Walaupun aku nggak berhasil masuk ke dalam dan ditahan oleh ketua RT. Tapi aku sangat yakin kamu tau aku datang. Aku minta maaf dan mau memperbaiki semuanya."
Hanif mengirim pesan ke handphone Nadya yang lama, dan Nadya kebetulan membaca pesan tersebut. Sebab ia sedang memegang handphone itu di tangannya.
"Aku maafkan, tapi aku tetap mau bercerai. Kecuali mas bisa memutar waktu dan tidak beristri banyak."
Nadya mengirimkan balasan tersebut dan Hanif pun kesal membacanya. Sebab tak ada seorang pun yang bisa memutar waktu dan mengcancel semua yang telah terjadi. Itu artinya Nadya memang tidak mau lagi ada rujuk diantara mereka.
"Brengsek!"
Hanif berteriak dengan nada marah. Ia kini benar-benar membayangkan dirinya di ejek oleh teman-temannya, lantaran hanya memiliki satu istri yakni Susi. Sebab Yayah pun sudah meminta cerai juga kepada dirinya. Hanif benar-benar dibuat seolah kehilangan power kali ini dan ia sangat murka.
__ADS_1
"Siapa sih laki-laki yang sudah mendekati Nadya." ujarnya lagi.
Tak lama ia pun menelpon orang kepercayaannya untuk mengikuti dan membuntuti sang istri kemanapun ia pergi.