
Richard mengantar Dian ke bandara. Setelah menunggu beberapa saat, gadis itu berpamitan. Mereka berpelukan barang sejenak, lalu Dian melambaikan tangannya dan perlahan menghilang di tengah kerumunan menuju gate.
Richard kembali ke mobil, sore ini ia ada jadwal bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya. Maka ia memutar ke suatu arah, tak melewati jalan yang menuju ke kediamannya.
"Hah."
Richard mendadak menginjak rem, ketika tanpa sengaja ia hampir menabrak seseorang.
"Huh, hampir aja." ujar Richard.
Ia tak ingin kejadian yang sama terulang, cukup Cindy tempo hari saja yang mengalami. Richard mencoba menarik nafas di tengah ketegangan. Namun ia kini menyadari siapa orang yang nyaris ia tabrak tersebut.
"Citra?"
Richard segera keluar dan menghampiri ibu dari anaknya itu.
"Ri, Richard?"
Ibu Lea tak kalah kagetnya. Terlebih ia melihat Richard membawa mobil yang begitu mewah. Berbeda dengan mobil yang ia lihat, sewaktu mereka mengadakan pertemuan pertama kali.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Richard pada Citra.
"Mmm, nggak apa-apa." jawab Citra kemudian. Namun Richard menangkap adanya kesedihan di wajah wanita itu.
"Kamu mau kemana?" lagi-lagi Richard bertanya.
"Aku, mmm."
Ibu dari Lea tersebut menarik nafas, kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan. Namun ada bulir bening yang merebak di pelupuk matanya.
"Kita bicara di mobil aja, nggak keberatan kan?"
Citra menganggukkan kepala. Dalam sekejap mereka kini telah menyusuri jalan demi jalan. Awalnya Citra agak ragu bercerita, lantaran malu dengan kisah hidupnya yang berantakan.
Namun Richard mendengarkan dengan baik, dan memberikan tanggapan yang sangat-sangat dibutuhkan Citra. Akhirnya Citra pun merasa, jika Richard memang adalah orang yang tepat mendengarkan ceritanya.
Richard laki-laki yang baik, dulu mereka tak sempat saling mengenal lebih jauh. Karena terpisah oleh jarak dan waktu. Namun dari pertemuan saat itu, Lea lahir. Kini di mobil ini, mereka mulai saling terbuka satu sama lain.
"Kamu sudah makan?" tanya Richard pada Citra. Wanita itu menggelengkan kepala.
"Kita makan dulu ya."
"Aku nggak laper."
"Aku yang laper dan aku minta kamu temenin."
"Temenin doang kan?"
"Temenin sambil makan lah. Nanti kalau aku makan sendiri, kamu nggak. Ada orang yang salah pengertian, dikiranya aku nggak ngasih makan. Terus aku di rekam, di videokan, viral dan dihujat sejagat raya."
Citra tersenyum untuk pertama kalinya sejak bertemu tadi.
__ADS_1
"Tau aja kamu." ujarnya kemudian.
"Ya karena di negara kita ini, dibilang negara sopan tapi tingkat kesopanannya terhadap privasi orang lain itu sangat kurang." ujar Richard.
Citra memperhatikan laki-laki itu.
"Bener kan? tanya nya kemudian.
Citra hanya tersenyum.
"Di beberapa negara, asal memvideokan orang, apalagi korban kecelakaan misalnya. Itu bisa di pidana loh dan hukumnya nggak main-main. Tapi di negara kita orang masih bisa asal. Memvideokan orang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Terus mengarang caption seenak jidat, buat kepentingan konten. Tanpa mencari tau dulu kebenarannya.
"Iya sih." ujar Citra.
Mereka lanjut ngobrol, hingga tiba disebuah tempat makan yang cukup mewah. Citra sempat tertegun, lantaran ia sendiri belum pernah makan di tempat tersebut. Hanya pernah lewat sesekali dan berkhayal. Berkhayal suatu saat dia bisa makan di sana.
"Ayo...!"
Richard mengajak mantan cinta satu malamnya itu, untuk keluar dari mobil. Richard sendiri member ditempat itu, hingga ia tidak perlu masuk dalam daftar waiting list.
Setelah mendapat tempat duduk dan memesan makanan, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
"Apa kamu ada ketemu Lea?" tanya Citra pada Richard.
"Lea nggak ada ngabarin kamu?" Richard balik bertanya.
Citra menggeleng.
"Oh ya, terus gimana?"
"Udah baik-baik aja sih, tadi aja bercandaan."
Richard berujar lalu tersenyum. Citra kian menyadari betapa tampan dan berwibawanya laki-laki itu. Sangat berbeda dengan look suaminya yang menjengkelkan. Tak lama pesanan mereka pun datang, lalu keduanya makan sambil terus berbincang.
***
"Nanti aku mau pakai yang ini, ma."
Saudara ipar perempuan Nina, tengah melihat katalog dress. Dari seorang desainer ternama di negri ini.
"Kalau mama mau yang ini aja." sang ibu yang tak lain adalah mertua Nina, menimpali.
Mereka terus memilih, sedang Nina sendiri tak di tawari. Padahal tadi Nina sempat mendengar jika keduanya akan menghadiri malam penghargaan terhadap pengusaha, yang dimana suaminya menjadi nominasi. Sebagai salah satu pengusaha terbaik tahun ini.
Kabarnya acara tersebut, selain mengundang para miliarder, pengusaha dan lain sebaginya. Juga akan mengundang sederet penyanyi terkenal. Bahkan katanya ada bintang dari negri ginseng, Korea Selatan.
"Ma, Mentari. Koq Nina nggak diajak?" tanya Nina penasaran.
Mentari sang saudara ipar beserta ibu mertua Lea bersitatap, lalu tersenyum ala sinetron. Terlihat tulus namun sejatinya tidak.
"Kamu kan lagi hamil, harus jaga kesehatan. Di sana itu rame soalnya." ujar Mentari.
__ADS_1
"Iya Nina, nanti kamu pingsan. Kalau lagi hamil itu sebaiknya istirahat di rumah." timpal sang ibu mertua.
Meski masih mengganjal di hati, namun Nina pun hanya bisa menurut saja.
"I, iya." jawabnya kemudian.
***
Kamu abis ini mau kemana?" tanya Richard pada Citra, ketika mereka telah selesai makan.
"Aku nggak tau." jawab Citra.
"Yang jelas aku mau menenangkan diri dulu." lanjut lagi.
"Kalau ikut aku mau nggak?" tanya Richard lagi.
"Ke, kemana?" Citra balik bertanya.
"Aku mau nemuin klien dulu, abis itu bebas sih. Aku nggak ada kerjaan lagi."
Ibu Lea tampak berfikir.
"Mau ya?" Richard meminta kepastian.
"Mmm, o, ok." jawab ibu Lea sedikit ragu-ragu.
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. Richard akan menemui kliennya dalam waktu dekat. Namun ia melihat tampilan ibu Lea itu hanya memakai pakaian dan alas kaki seadanya.
"Kita mampir ke tempat teman aku dulu ya." ujar Richard, ketika mobil mulai berjalan.
Citra pun mengangguk, dan akhirnya setelah beberapa menit menyusuri jalan. Mereka tiba ditempat yang dimaksud.
Ternyata tempat tersebut adalah sebuah butik pakaian mewah. Ketika turun dari mobil, Citra terpesona dengan sebuah pakaian yang di pajang di display.
Meski ia telah mendapat uang banyak dari Richard, sebagai kompensasi atas dirinya yang telah membesarkan Lea. Namun Citra sama sekali belum membelanjakan uang tersebut untuk satu atau dua barang mahal. Ia takut barang itu akan digasak oleh sang suami dan dijual, serta dijadikan modal berjudi.
"Kamu suka baju ini?" tanya Richard pada Citra.
Perempuan itu hanya mengangguk tipis, Richard membawanya masuk dan mereka didekati oleh seorang penjaga.
"Kamu pilih aja, mana yang kamu suka. Ambil baju, tas, dan sepatu." ujar Richard.
Citra terperangah, tak disangkanya pria itu mengajak ia berbelanja.
"Ta, tapi Richard?"
"Please, kita nggak punya banyak waktu. Aku harus menemui klien aku dalam beberapa saat ke depan."
"Oh, o, ok."
Citra kemudian memilih dengan cepat dan menjatuhkan pilihan.
__ADS_1