
Hanif pergi ke kantor. Putri menyelinap dari balik sebatang pohon, kemudian menyambangi kediaman Susi. Istri baru dari majikan laki-lakinya tersebut.
"Ting, tong."
Putri memencet bel. Kemudian setelah terdengar langkah dari dalam, ia pun langsung buru-buru meneteskan obat tetes mata ke kedua matanya. Agar tampak terlihat seperti menangis.
"Siapa ya?"
Susi dengan tanpa kewaspadaan langsung membuka pintu pagar. Perempuan pelakor itu kemudian menyadari siapa yang ada di hadapannya.
"Lo, pembantunya Nadya kan?" tanya nya kemudian.
Putri menunduk, kemudian ia langsung memeluk Susi dan pura-pura menangis histeris.
"Lo kenapa?" tanya Susi heran.
"Saya di maki-maki sama bu Nadya. Dia jahat banget ternyata orangnya. Saya baru tau Dias seperti itu."
Putri makin memperdalam aktingnya. Susi yang masih muda belia itu pun lantas langsung percaya.
"Udah gue duga sih, dia itu kerdus. Alias kerudung dusta." ujarnya.
"Perempuan baik-baik, suaminya nggak mungkin menikah lagi." lanjutnya kemudian.
Putri menunduk, tak lama ia sudah bisa menguasai keadaan. Dimana ia masuk ke rumah Susi dan berhasil memasukkan pengaruhnya.
"Jangan sampai pak Hanif lebih sering kesana. Bu Nadya ada rencana mau hamil lagi soalnya. Biar dia dapat warisan banyak." ucap Putri.
"Apa?. Dia mau hamil lagi?"
Susi mendadak panas. Ubun-ubun pelakor itu kini seolah berasap. Putri nyaris tertawa menyaksikan semuanya..Namun ia berusaha bersikap profesional, sebagai agen yang mengutus diri sendiri untuk memisahkan Nadya dengan Hanif.
"Iya, malah tempo hari dia udah mendatangi dokter kandungan. Dia mau program bayi kembar."
__ADS_1
Nafas Susi Kimi memburu. Ia tidak rela bila Hanif kembali menggarap istri tuanya itu sampai hamil. Sesuai sikap pelakor pada umumnya, Susi memanglah maruk alias serakah. Ia ingin menguasai Hanif seutuhnya.
"Pak Hanif dari menemui Arkana di rumah sakit, dan menemui bu Nadya." ucap Putri.
"Nyonya Susi tau?" tanya nya kemudian.
Susi yang masih emosi tersebut kian bertambah kaget. Putri sengaja memanggil si pelakor itu dengan sebutan nyonya. Agar lebih melayang tinggi dan semakin gampang di pengaruhi.
Karena biasanya manusia lemah saat dipuji dan ditinggikan. Padahal kadang saat ditinggikan, kita tak tau seberapa sakit saat terjatuh kebawah.
"Nggak, saya nggak tau." ucap Susi.
"Mas Hanif bilang dia mau ke kantor karena ada urusan."
"Berarti nyonya Susi dibohongi." ucap Putri lagi.
"Padahal mereka mesra sekali loh saat ketemu. Apalagi pas menyuapi Arkana."
"Tapi nyonya jangan kasih tau pak Hanif kalau saya memberitahukan hal ini. Nanti saya nggak di gaji sama beliau." ucap Putri dengan nada super memelas.
"Udalah bu Nadya maki-maki saya karena kesalahan kecil doang. Gimana nasib orang kecil seperti saya." lanjutnya kemudian.
"Lo tenang aja, yang penting lo selalu kasih informasi ke gue mengenai mereka."
"Iya nyonya, sebaiknya halangi pak Hanif untuk ketemu sama bu Nadya yang jahat itu. Daripada bu Nadya hamil lagi."
Susi semakin memburu nafasnya, kini wanita itu mengambil handphone dan mengirim pesan pada Hanif.
"Mas nanti pulang kesini, anak kamu kangen bapaknya." ucap pelakor tersebut.
Beberapa saat berlalu, Putri pamit, ia diberi uang oleh Susi karena dianggap telah berjasa memberi informasi. Putri tak peduli, ia mengambil uang itu dan kini janjian dengan lite untuk makan bakso bersama.
***
__ADS_1
Lea ditengah persiapan pernikahan ibunya dan juga mantan ayah tirinya. Ia sangat sibuk menemani sang ibu mempersiapkan beberapa hal penting.
Sementara Darriel dibawa oleh Daniel ke kantor, sebab hari ini kantor tak terlalu sibuk dan Darriel pun tidak rewel. Ia anteng di dalam ayunan elektrik dan sesekali berceloteh.
"Hokhoaaa."
"Wawawa."
"Apa nak?"
tanya Daniel sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Uwauwawu."
"Ngomong apa?" lagi-lagi Daniel bertanya sambil tertawa.
"Hokhoa."
"Laper ya kamu?" tanya Daniel.
"Ngoaaa."
Daniel tertawa, ia lalu pergi ke pantry untuk mengambil asi yang ia bawa dan disimpan di sana. Tak lama kemudian ia kembali dan memanaskan ASI tersebut. Lalu memberikannya pada Darriel. Bayi itu minum dengan gembira.
"Pantesan." ujar Daniel kemudian.
"Laper ternyata." lanjutnya lagi.
"Heheee."
Darriel melepaskan sejenak botol susunya kemudian tertawa. Lalu ia kembali minum dengan penuh semangat.
***
__ADS_1