
"Anak lele."
Lea menggoda anaknya di pagi hari. Sesaat setelah bayi itu selesai dimandikan oleh Richard dan mendapatkan ASI pagi nya.
"Mama mau kuliah seharian full loh. Bangun dulu, main sama mama."
Darriel tetap setia dengan tidurnya yang menyenangkan.
"Darriel." Lea masih gigih berusaha.
"Anak ikan." ujar perempuan itu lagi.
Namun lagi-lagi hal tersebut tak berhasil. Hingga menyebabkan Lea jadi keki sendiri.
"Awas ya kamu, liat aja mama pergi sampe malem."
Darriel bergerak, namun malah menolehkan kepala ke arah lain dan kian bertambah nyenyak. Lea yang makin sewot tersebut lalu menoel pipi Darriel. Di pencetnya hidung anak itu, lalu ia keliitiki tubuhnya secara perlahan.
Ada Darriel bergerak, namun ia masih memuja rasa kantuk yang ia miliki. Akibatnya Lea menyerah, lalu mengambil handphone dan duduk di sofa ujung dekat kaca jendela kamar.
"Kamu kenapa Le, mukanya asem gitu?"
Daniel yang telah selesai mendapat sarapan pagi, kini bersiap mengambil tas kerjanya. Ia akan segera berangkat ke kantor.
"Darriel tuh mas." Ia mengadu layaknya abege labil yang tengah kesal akan sesuatu.
"Kenapa Darriel?" tanya Daniel kemudian.
"Nggak mau bangun. Kan aku nanti kuliah seharian full. Takutnya nanti kangen."
Daniel melebarkan bibir, antara kesal namun hendak tertawa. Ia kemudian mendekatkan diri ke box bayi dan mencoba membangunkan Darriel.
"Darriel, bangun nak. Mama mau ngajak main tuh."
Daniel menyentuh pipi dan tangan anak itu. Sesaat kemudian Darriel bangun dan menatap sang ayah.
"Nih bangun, Le." ujar Daniel kemudian.
Lea mendadak antusias dan mendekat. Namun Darriel lalu menguap dan kembali memejamkan mata.
"Ih, dia kenapa sih kalau sama aku mas?"
Lea terlihat sangat kesal namun hanya bisa menahan dalam hati. Sebab yang ia kesalkan itu adalah sesosok bayi tak berdaya.
"Kayaknya dia tau kalau kamu jahil dan suka nyanyi lagu anak ikan lele. Makanya dia nggak mau."
Daniel berujar seraya tertawa dan meraih tas laptopnya.
"Aku pergi ya." ujarnya lalu mencium kening Lea.
"Hati-hati di jalan mas." ucap Lea.
__ADS_1
"Iya, kamu juga nanti hati-hati di jalan."
"Iya mas, bye."
"Bye."
Daniel lalu melangkah dan menghilang di balik pintu kamar.
***
Esok hari.
Sesuai janji Lea dan Daniel menjalani pemotretan after wedding lanjutan di sebuah yacht, atau kapal pesiar kecil. Tema ini pun Lea yang meminta dan Daniel menyanggupinya.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
Foto demi foto keduanya pun diambil. Kali ini Darriel di tinggal di rumah saja bersama asisten rumah tangga dan juga kakeknya, Richard.
Sebab berbahaya membawa bayi di tengah angin laut yang cukup kencang. Lagipula usia Darriel baru satu bulan. Beda cerita jika ia sudah lebih besar nanti.
"Mas ambil foto di ujung sana yuk." pinta Lea mengarah ke bagian depan moncong yacht.
Maka Daniel pun menyetujui hal tersebut, sedang fotografer mengekor saja. Sebab tak ada tema khusus hari itu, melainkan bebas saja. Mau dari angle mana, diambil kapan dan pose seperti apa.
"Le."
"Hmm?"
Daniel mencium bibir istrinya itu secara serta merta. Membuat Lea kaget dan fotografer mengambil foto mereka. Wajah Lea mendadak memerah dan Daniel kembali mencium bibir perempuan itu.
Lea membalasnya kali ini, sementara yacht berhenti di sebuah titik. Keduanya lanjut berciuman, tak perduli ada sebuah yacht lain yang tengah melintas.
Seorang perempuan di yacht tersebut melihat ke arah Lea dan Daniel, sedang Lea dan Daniel tak melihat ke arahnya. Lantaran tengah asyik berciuman.
Perempuan di yacht sebelah itu tiada lain dan tak bukan adalah Clarissa. Saat ini ia tengah menghabiskan waktu dengan Marvin. Untuk menjalankan misinya yang ingin segera mengandung anak dari Marvin. Sedang Marvin sendiri tengah berada di dalam yacht sambil menelpon seseorang.
"Coba Darriel si anak lele udah gedean dikit ya mas. Kita ajak deh kesini." ujar Lea seraya melihat ke arah laut lepas.
Daniel memeluknya dari belakang, sang fotografer dan kru sudah disuruh Daniel beristirahat dan makan sejak beberapa saat yang lalu.
"Iya, kalau di ajak sekarang nanti dia masuk badai Le. Bukan lagi masuk angin."
Lea tertawa.
"Sendawa nya tornado ntar." timpal perempuan itu. Daniel jadi membayangkan dan ikut tertawa.
"Tapi nangis nggak dia ya kira-kira?" tanya Lea pada Daniel.
__ADS_1
"Nangis sih kemungkinan iya. Tapi kan ASI nya banyak di kulkas. Lagipula ada Richard sama Ellio ini nanti, jadi ada yang jagain dia."
Lea lalu diam dan tak berbicara lagi. Ia hanya menikmati riak air laut, dan juga hembusan angin yang perlahan mulai kencang.
Sementara yacht milik Marvin mulai menjauh. Clarissa masih menatap Lea dan Daniel penuh kedengkian.
"Kamu ngeliatin apa sih?" tanya Marvin yang baru selesai menelpon.
Pria itu kemudian mengikuti arah pandangan mata Clarissa. Ke tempat Daniel dan Lea yang tengah berbincang sambil bersenda gurau. Sesekali Daniel masih mencium bibir istrinya itu dan kemudian di balas oleh Lea.
Entah mengapa Marvin pun jadi kesal dibuatnya. Ia tak suka melihat Daniel masih bebas berkeliaran dan menjalani hidup yang bahagia. Sementara beberapa proyek Marvin gagal lantaran ulah pria itu.
***
Dirumah.
Richard dan Ellio telah tiba dari kantor. Mereka mendapati asisten rumah tangga yang tengah coba memberikan ASI pada Darriel. Tangis bayi itu terdengar sampai kemana-mana.
"Hei sayang, kenapa nangis.?"
Richard langsung menyerahkan tas laptop kepada asisten rumah tangga yang lainnya, lalu ia menyambut Darriel. Tangisan bayi itu sepertinya begitu sedih. Hingga menyebabkan Richard menjadi bingung dan mendadak memikirkan Lea serta Daniel.
Saat ini pasangan suami istri itu tidak tau, jika dari yacht yang lain Marvin mulai mengarahkan sebuah senjata api laras panjang.
Pria itu benar-benar telah dikuasai emosi. Setelah tadi ia berusaha melawannya dan mengalihkan pikiran ke arah lain.
Sebab yang ia inginkan adalah agar Daniel dipenjara. Namun kemudian entah mengapa ia menginginkan Daniel atau istrinya mati.
"Sayang."
Tiba-tiba Clarissa naik ke atas. Belum sempat bertemu muka dengan wanita itu, Marvin sudah keburu menyimpan senjatanya.
"Iya sayang." ucapnya kemudian.
Clarissa mendekat sambil tersenyum. Ia kemudian memeluk pria itu lalu mencium bibirnya. Marvin mengerti jika ini semua adalah sebuah kode pancingan.
Clarissa menunjukkan gelagat yang seperti ingin membuka baju dan celana. Marvin teralih lagi pikirannya. Kali ini ia mencium Clarissa dan tangan kanannya langsung memegang are sensitif dari wanita itu.
Sementara di rumah tangis Darriel mulai mereda.
"Kita pulang yuk mas." ajak Lea.
"Perasan aku nggak enak." lanjutnya lagi.
"Itu cuma perasaan kamu aja, soalnya ninggalin anak."
"Iya kali ya, tapi aku pengen pulang." ujar Lea lagi.
"Ya udah ayok."
Daniel meminta pada nahkoda kapal untuk mengembalikan mereka ke bibir pantai. Tak lama setelah itu mereka pun pulang ke rumah.
__ADS_1