
"Lo kenapa sih, Le?"
Adisty bertanya pada Lea, ketika ia melihat temannya itu lebih banyak bengong. Tak seperti Lea yang biasanya.
"Gue lagi nggak enak hati aja sama laki gue."
"Kenapa?" tanya Adisty. Sementara Ariana kini menyimak.
"Tempo hari kita ketemu sama nyokap tirinya dia." ujar Lea.
"Nyokap tirinya itu mantannya laki lo kan?" tanya Ariana.
"Iya, nah dia tuh di usir sama bapaknya mas Daniel."
"Gara-gara?" tanya Adisty lagi.
"Ya gara-gara yang gue ceritain tempo hari. Yang anaknya jatuh dari tangga, nggak ketahuan. Akhirnya dia ngelapor polisi. Nah beberapa hari lalu rumah bapaknya itu di geledah polisi. Kayaknya bapak mas Dan nggak terima dan ngusir istrinya itu dari rumah."
"Terus masalahnya dimana?" tanya Ariana.
"Laki gue jadi kayak lebih banyak ngabisin waktu, buat nolongin mantannya itu. Sampe dia kadang pulang larut malam banget ngurusin urusannya tuh cewek."
Adisty dan Ariana memperhatikan Lea.
"Gue takut Dis, Ar. Takut mereka balikan lagi. Secara mas Daniel sama dia itu udah hampir 4 tahun pacaran. Dan gue tau kalau mas Daniel tuh masih ada rasa sama Grace, walau kadang dia suka tutup-tutupi. Gue takut rumah tangga gue hancur."
Adisty dan Ariana sama-sama menghela nafas. Mereka paham apa yang kini di rasakan oleh Lea.
"Sebaiknya jangan menduga-duga dulu, apalagi mikirin hal yang nggak baik. Itu sama aja doa loh." ujar Adisty."
"Bener, pikiran itu ada frekuensinya Le. Apa yang lo pikir, itu yang di dengar semesta. Itu juga yang akan di kabulkan. Karena pikiran itu semacam boomerang. Apa yang lo lempar, itu yang bakal balik ke elo. Mikir yang positif aja." timpal Ariana.
"Gue juga udah berusaha buat mikir positif, tapi sulit." jawab Lea.
"Cobalah ingat-ingat lagi, selama ini ada nggak laki lo selingkuh?. Ada nggak dia terbukti balikan sama mantannya itu. Kan dia laki lo, masa lo nggak bisa mengenali dengan baik. Suka selingkuh atau nggak dia." ujar Adisty lagi.
"Nggak pernah sih." jawab Lea.
"Dia baik banget selama ini, nggak pernah juga terbukti selingkuh." lanjutnya kemudian.
"Nah udah, lo bisa percaya kesitu." ujar Ariana.
Lea menghela nafas, benar apa yang dikatakan kedua temannya tersebut. Ia harus berfikir positif dan tak boleh menuduh suaminya yang macam-macam. Karena itu akan menimbulkan perasaan tak nyaman, dan perasaan itu tak baik untuk dirinya yang tengah hamil.
***
Di sebuah jalan raya, siang hari.
Iqbal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tengah bersemangat hari ini, pasalnya di samping pemuda itu ada Vita.
"Vit, gimana ya kalau anak-anak pada tau gue ngajak lo jalan gini?" tanya Iqbal.
__ADS_1
"Ya jangan dikasih tau, bakalan di ceng-cengin nanti kita." jawab Vita.
Iqbal tertawa.
"Tapi lo nggak apa-apa kan gue ajak jalan gini?" tanya nya kemudian.
"Ya nggak apa-apa, kenapa emangnya?" Vita balik bertanya.
"Ya kali ada yang marah nanti." ujar Iqbal lagi.
"Siapa yang marah?. Bapak gue?" seloroh Vita sambil tertawa.
"Yang kakak senior kita itu?" tanya Iqbal
"Arsen?" Vita balik bertanya.
"Iya, kan lo berdua dekat banget tuh keliatannya."
"Dianya suka sama Lea." seloroh Vita sambil tertawa.
"Oh ya, serius lo Vit?"
"Serius, itu juga yang bikin gue sempat nggak teguran sama Lea waktu itu."
"Gara-gara lo suka sama Arsen tapi Arsen suka sama Lea, gitu?" tanya Iqbal seraya tertawa.
"Iya." jawab Vita seraya masih tertawa pula.
"Lea banyak juga ya yang suka." ujar Iqbal lagi.
"Hahaha."
Iqbal ngakak.
"Namanya juga perjalanan hati, Vit. Mending gue pernah suka sama Lea, daripada pernah suka sama Rama atau Dani."
"Hahaha." Kali ini Vita yang ngakak.
"Bener kan gue ngomong?" tanya Iqbal.
Vita masih terus terbahak, suasana mobil itu syarat akan tawa. Sampai kemudian,
"Braaak."
"Buuum."
Sebuah kecelakaan terjadi. Mobil yang semula berjalan di sisi mobil Iqbal mendadak berhenti. Lantaran dihantam oleh sebuah mobil dari jalur yang berlawanan.
Buru-buru Iqbal menghentikan mobilnya di bahu jalan. Seorang pengemudi keluar dari mobil yang ditabrak dan mengecek pengemudi mobil yang menghantam mobilnya.
Pengemudi itu tak sadarkan diri. Iqbal dan Vita sama-sama berlarian dan melihat.
__ADS_1
"Rangga?"
Korban di mobil yang menghantam terlihat jelas, namun penuh darah. Vita kebetulan mengenali mantan Lea tersebut karena pernah melihat fotonya.
"Lo kenal Vit?" tanya Iqbal.
Vita mengangguk.
Dalam sekejap suasana pun berubah riuh, banyak dari pengendara yang berhenti untuk memberi pertolongan.
"Jangan pegang dulu, biarin polisi." teriak salah satu pengguna jalan. Ia menghimbau agar tidak ada yang mengambil tindakan sebelum polisi lalu lintas tiba.
Tak lama kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi. Aparat pun turun untuk mengamankan lokasi. Tak lama berselang sebuah ambulans juga tiba, guna menangani korban. Korban yang ternyata masih hidup itu pun segera di larikan ke rumah sakit.
***
Sesaat sebelum kejadian itu berlangsung. Rangga bertengkar hebat dengan ayahnya. Hubungan mereka sangat-sangat memburuk akhir-akhir ini.
Apalagi sejak sang ayah dengan terang-terangan mengatakan, bahwa ia akan segera menikahi Bianca. Tentu saja Rangga tak terima ada orang lain dalam kehidupannya.
Terlepas dari sikap buruk ibunya selama ini. Bagi Rangga rumah tangga yang sehat itu, adalah rumah tangga yang hanya terdiri dari ibu dan ayahnya.
Ia tidak ingin ada ibu lain, ataupun saudara dari lain ibu. Rangga tak akan menerima semua itu.
"Papi jahat, pi. Papi hancurkan keluarga kita." teriak Rangga pada ayahnya.
"Kamu berharap papi gimana Rangga?. Papi nggak mungkin menyuruh Bianca menggugurkan anak itu. Itu dosa papi dan papi harus bertanggung jawab."
"Sudah tau dosa, kenapa tetap dilakukan?"
Rangga menatap ayahnya itu dalam-dalam.
"Kenapa nggak dihentikan dari awal. Papi bisa berhenti, pi. Bisa berhenti kalau papi mau. Tapi papi malah melanjutkan semua itu, papi menikmati dosa itu."
"Papi mencintai Bianca."
"Lalu bagaimana dengan mami dan Rangga?"
Rangga kian mendekat ke wajah ayahnya tersebut.
"Apakah Rangga dan mami terlihat seperti orang yang tidak mencintai papi?" Penuh kemarahan pemuda itu berkata.
"Apakah yang terpenting dalam hidup ini, cuma cinta papi ke dia dan sebaliknya?. Hah?. Lalu cinta mami sama Rangga ke papi itu nggak penting?. Kami sayang sama papi, kami nggak mau papi berbagi kasih sayang dengan orang lain. Papi enak banget kalau ngomong, dosa, cinta, tanggung jawab. Mana tanggung jawab papi ke Tuhan?. Papi dulu menikahi mami, berjanji didepan Tuhan. Sekarang papi khianati mami dengan alasan tanggung jawab terhadap dosa. Dosa papi ke mami lebih besar ketimbang dosa papi ke perempuan pelacur itu."
"Plaaak."
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rangga. Seumur hidup ia belum pernah mendapat perlakuan kasar seperti itu dari ayahnya. Hati pemuda itu begitu sakit.
"Rangga janji pi, Rangga janji papi akan kehilangan Rangga."
Ayahnya yang masih syok karena tak sengaja memukul Rangga itu, kini menjadi semakin syok. Ia takut Rangga pergi meninggalkan rumah. Biar bagaimanapun Rangga adalah harapannya.
__ADS_1
"Papi akan kehilangan Rangga."
Pemuda itu kemudian berlalu, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Tak lama terdengar suara mesin mobil yang di hidupkan, ayahnya bergegas menghampiri, namun Rangga keburu pergi.