
Daniel tiba di tempat yang dimaksud, namun tidak ada siapapun di sana kecuali satu orang.
"Ellio?"
Daniel kaget melihat Ellio. Pun juga demikian dengan sahabatnya tersebut. Namun Ellio memilih diam, raut wajahnya terlihat begitu berat.
"Ellio, kenapa lo ada disini. Dimana Lea?"
Daniel mulai melontarkan pertanyaan, Ellio menatap dalam ke mata sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Daniel mulai cemas.
"Dan."
Ellio menghela nafas.
"Dimana Lea?" Suara Daniel terdengar meninggi.
"Richard." jawab Ellio dengan tatapan yang kosong.
"Richard?" Daniel menjadi tak mengerti.
"Richard yang bawa Lea?" tanya nya lagi.
"Richard ayahnya Lea."
Petir seakan menyambar, Daniel benar-benar tersentak dan syok mendengar semua itu.
"Wait, maksud lo.?"
"Richard ayah kandung Lea."
Daniel membeku di tempatnya, dunia seakan berputar-putar secara cepat dalam pikiran pria itu. Udara yang ia hirup pun mendadak menipis, masih dalam diam ia mengusap kepala dengan kedua tangannya.
Ini seakan sebuah pukulan yang begitu berat baginya. Cukup lama ia dan Ellio berada dalam diam, sampai kemudian Daniel mengambil nafas yang panjang dan berujar.
"Everything will be fine."
"No." Ellio menyela ucapan Daniel, sambil terus menatap sahabatnya itu.
"Why?"
"Richard marah, saat tau anaknya dibiarkan menikah di usia yang begitu muda."
"Why?" Suara Daniel mulai gemetaran.
"Richard tau suaminya Lea itu, gue."
__ADS_1
"Lo udah terlanjur jelek di mata Richard. Semua karena Clarissa mengirim pesan broadcast berisi foto saat lo berdua sama dia di ranjang. Gue rasa di orang kantor lo juga udah tersebar."
Daniel tersentak, ia mengingat persis kejadian tersebut. Saat itu dirinya tengah dekat dengan Clarissa. Ia mencoba melupakan Grace dengan cara bercinta dengan Clarissa, namun itu semua tak berhasil. Daniel masih terus mengingat Grace, dan meminta maaf pada Clarissa.
Clarissa memeluk Daniel dan mengatakan tak apa, jika Daniel tak bisa melakukannya saat itu. Lalu keduanya saling berpelukan di atas tempat tidur dan mengobrol. Saat suasana telah cair, Clarissa mengambil handphone dan mengambil foto mereka berdua.
"Gue nggak ngelakuin semua itu."
Daniel berujar lalu menjelaskan secara rinci pada Ellio.
"Gue paham, gue percaya sama lo. Tapi saat ini Richard sedang dikuasai ego dan prasangka buruk terhadap lo. Dia udah syok begitu tau punya anak, dan lebih terpukul lagi ketika tau anaknya itu adalah Lea. Richard sama kacau nya dengan lo sekarang."
"Gue harus ketemu Richard."
Daniel mengambil langkah.
"Dan."
"Daaan."
Bahkan teriakan Ellio tak mampu menghalanginya.
***
Flashback
Richard menemui Ferry, mereka merasa senang satu sama lain karena bisa bertemu dengan teman baik mereka. Obrolan di awali dengan saling bertukar kabar, sampai kemudian.
"Lo inget kan pernah gue ajak ke party temen gue, waktu kita masih kuliah."
"Iya gue ingat, kenapa?" tanya Richard.
"Cewek yang sama lo malem itu, apa lo tidur sama dia?"
Richard terdiam, ia tak menyangka jika rahasia yang ia pendam selama ini dipertanyakan oleh temannya itu.
"Kenapa emangnya?" tanya Richard lagi.
Ferry menghela nafas dan menghisap batang rokok yang terselip di kedua jari tangannya.
"Perempuan itu hamil anak lo."
Dunia Richard seakan runtuh, ketakutannya selama bertahun-tahun ternyata benar terjadi.
"Dari mana lo tau?" tanya nya kemudian, nafas Richard mulai terasa berat.
"Gue ketemu sama temen gue itu, dan dia bilang kalau dia juga nggak sengaja ketemu cewek yang malam itu sama lo. Cewek itu ngomong kalau dia punya anak sama lo."
__ADS_1
Bak terpukul benda keras, Richard merasa kepalanya begitu sakit. Malam itu saat hujan turun dengan derasnya, Ellio menemukan Richard tengah berdiri di suatu tempat. Diam tak bergeming, sementara sekujur tubuhnya basah oleh air hujan. Ellio buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri sahabatnya itu.
"Lo kenapa?" tanya Ellio.
Richard menatap Ellio dengan tatapan yang tampak sedih, tak lama ia pun memeluk Ellio dengan tubuh yang gemetaran.
"Gue punya anak, Ellio." Richard membuat Ellio bingung.
"Selama 17 hampir 18 tahun ini gue selalu dihantui pikiran tentang anak itu dan ternyata benar. Gue punya anak dari perempuan yang bahkan gue nggak ingat namanya siapa."
Ellio melepaskan pelukannya dan menatap Richard, hujan perlahan reda namun mereka kini basah kuyup.
"Lo masuk ke mobil lo, gue ikutin dari belakang. Kita cerita di rumah lo." ujar Ellio.
Mereka berdua pun akhirnya pulang ke kediaman Richard. Usai membersihkan diri dan mengganti pakaian, keduanya lalu duduk di meja makan dengan posisi saling berhadapan. Cukup lama Richard diam, sampai akhirnya ia berani menceritakan itu semua pada Ellio.
"Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue, sama Daniel?"
Ellio menatap Richard, sedang Richard membuang pandangannya ke suatu sudut.
"Karena gue pikir, gue cuma ketakutan aja. Makanya bayangan anak itu sering hadir dalam mimpi gue. Karena pada saat gue melakukan itu sama dia, gue dan dia juga berada di bawah pengaruh alkohol. Gue nggak tau mungkin dia berada di dalam masa subur atau nggak. Jadi gue pikir itu mustahil."
Ellio menghela nafas.
"Apa lo udah ketemu sama dia dan anak itu?" tanya nya kemudian. Richard menggelengkan kepalanya.
"Rencana dalam waktu dekat, lo mau kan temenin gue."
Ellio mengangguk, mereka kemudian terjebak di dalam keheningan. Hingga tadi pagi mendadak Richard menelpon dan mengajak dirinya untuk menemui anak itu.
Richard berkata jika si perempuan juga ikut, mereka harus membicarakan hal ini dengan serius. Ellio mengikuti keinginan sahabatnya tersebut, ia juga tau ini hal mendadak bagi Richard. Sudah pasti ia gugup, mungkin takut dan sebagainya.
Saat di dalam perjalanan, mereka berusaha terlihat baik-baik saja. Meski tak menampik jika sejatinya suasana sangatlah menegangkan. Bertemu dengan anak yang kita sendiri tak pernah tau bahwa ia ada.
Ketika sampai, Richard dan Ellio melangkah. Memasuki sebuah tempat yang dijanjikan sebagai tempat bertemu. Richard melangkah dengan didampingi Ellio, namun kemudian ketika kedua belah pihak sama-sama bertemu. Mereka terpaku bisu, dengan tubuh gemetar yang bahkan nyaris tak bisa bergerak sedikitpun.
"Lea?"
"Om Richard, om Ellio?"
Mereka tak mau mempercayai hal tersebut, namun di sana ada Ferry dan juga temannya. Ada pula ibu Lea dan Richard masih mengingat persis wajah perempuan itu, meski ia lupa siapa namanya.
"Kalian saling kenal?" tanya Ferry seraya menatap Richard, lalu bergantian menatap Lea.
"Om Ferry, jangan bilang kalau dia." Nafas Lea mulai memburu, begitupula dengan Richard.
Perlahan air mata Lea pun menetes, sementara Richard larut dalam perasaan yang emosional. Ia ingat, jika dirinya pernah melecehkan Lea dengan candaan. Pada saat pemilihan sugar baby di SB Agency kira-kira setahun yang lalu. Saat itu ia dan Ellio mengomentari bagian tubuh Lea, dan di dengar oleh Daniel.
__ADS_1
Kini ia seperti ditampar oleh karma. Perempuan muda itu, tiada lain adalah darah dagingnya sendiri.