
"Gimana kalau Richard kita jodohkan lagi aja." ujar Ellio memberi ide.
Ketika Daniel dan Lea beserta Darriel mampir ke rumahnya. Mereka saat ini tengah makan bersama di ruang makan.
"Di jodohkan lagi, emaknya aja kagak berhasil menjodohkan dia. Lagi kita yang bikin perjodohan." ucap Daniel.
"Nah justru itu." ujar Ellio.
"Kita menjodohkan dia jangan pake sistem pemaksaan kayak mami. Kita dekatkan dia sama seseorang dan biarkan mengalir gitu aja." lanjutnya kemudian.
Daniel tampak berpikir.
"Ntar kalau Richard mencak-mencak gimana?. Mau lo terkena jurus seribu bayangan menapaki atap." seloroh pria itu.
Lea dan Marsha tertawa.
"Nggak bakalan kalau caranya bener." ujar Ellio.
"Gimana caranya?" tanya Daniel.
"Kita, cari kandidat yang bakal buat di jodohin sama Richard. Bisa jadi dari teman lo, teman gue, atau temannya Marsha, teman Lea kek atau siapa. Nanti kita adakan kayak semacam party kecil, pura-pura aja ngerayain apa gitu. Nah kita undang Richard dan kita deket-deketin sama itu cewek."
"Oke, oke. Biar berinteraksi sendiri gitu ya?" tanya Daniel.
"Nah iya gitu maksud gue." ujar Ellio.
"Ya udah, gue mah ngikut aja." tukas Daniel.
"Selagi itu baik buat dia." lanjutnya kemudian.
"Kalau kalian berdua?"
Ellio bertanya pada Marsha dan juga Lea.
"Aku ikut aja." ujar Marsha.
"Le?" Ellio beralih menatap Lea. Daniel pun melakukan hal yang sama.
"Aku juga ngikut aja. Asal kalian cariin yang bener-bener baik, terlepas dari apapun penampilan luarnya. Mau dia terbuka, tertutup, yang penting baik dulu hatinya. Dan sayang anak kecil." ujar Lea.
"Sebab kalau yang nggak suka anak kecil, nanti kasihan Darriel. Darriel udah lengket banget sama kakeknya." lanjut perempuan itu.
Ellio mengangguk-anggukan kepalanya.
"Soal itu, gue bakal selektif." tukasnya.
"Nggak akan gue biarin mak lampir menjadi nyonya Richard. Kalau dia sampe nikahin cewek yang salah, yang juga menjauhkan kita semua dari Richard. Gue yang akan paksa Richard untuk gugat cerai." ujarnya lagi.
"Kalau ayahnya bucin?" goda Lea.
__ADS_1
"Gue bawa ke dukun." ujar Ellio.
Lea dan Marsha kini tertawa-tawa. Sementara Daniel teringat dulu saat ada masalah dengan organ reproduksinya. Ellio dan Richard juga sempat membawanya ke dukun. Ternyata dukun tersebut palsu dan membuka praktek hanya demi mengumpulkan uang semata.
"Hmmm, ini enak deh. Siapa yang bikin?"
Lea bertanya saat mencoba puding karamel yang di sediakan di meja makan. Kebetulan Lea sudah menghabiskan nasi dan juga lauknya sejak tadi.
"Dia yang bikin." Marsha berujar sambil melirik ke arah Ellio.
"Coba sini."
Daniel meminta puding tersebut dan disuapi oleh Lea.
"Tumben enak masakan lo, biasanya horor." ucap Daniel.
"Heh, gue itu berkembang ya Junaedi. Masa nggak bisa masak terus, kan gue belajar dari YouTube." Ellio membela diri.
"Enak koq." ujar Daniel lagi.
Ia lalu menguasai puding tersebut, membuat Lea jadi keki pada pria itu.
"Ini Le ambil lagi." ujar Marsha.
Lea pun lalu mengambil kembali puding yang baru.
"Heheee."
"Ngetawain apa nak?" tanya Lea heran.
Sebab Darriel melihat ke suatu arah. Lea dan yang lainnya mengikuti arah pandangan itu, dan tidak ada seorangpun yang mereka tangkap melalui tatapan mata mereka.
"Heheee."
Daniel dan yang lainnya saling bersitatap satu sama lain.
"Mas, kamu pernah cerita kan kalau rumah ini dulunya bekas bangunan Belanda." ujar Lea.
"Emang iya pak?"
Marsha yang baru mendengar hal tesebut kaget sekaligus takut. Karena kalau sudah menyangkut soal bangunan masa penjajahan kolonial, sudah pasti akan dihubungkan dengan hal-hal mistis.
"Iya tapi nggak kenapa-kenapa." ujar Daniel.
"Tau, orang bekas bangunan Belanda doang. Nggak ada sejarah yang macem-macem." Ellio menimpali.
"Ye, kita kan nggak tau pak. Siapa tau ada sejarah serem yang sengaja nggak ditulis atau nggak diceritakan. Misalnya pembantaian atau apa." ucap Marsha.
"Iya bener, om. Sejarah itu hanya ditulis sama yang inget doang. Nggak semuanya tertuang dalam buku atau cerita yang kita dengar." Lea menimpali.
__ADS_1
Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kamu tuh mistis banget, Le, Le." ujar Daniel kemudian.
"Sama, nih juga." Ellio mengarah pada sang istri.
"Darriel itu masih suci pak, wajar dia bisa melihat hal yang nggak bisa kita lihat." ujar Marsha lagi.
"Heheee."
Tiba-tiba Darriel kembali tertawa dan membuat adegan seolah-olah minta disambut oleh seseorang.
Lea dan Marsha makin ketakutan sekaligus heboh. Sementara suami-suami mereka masih memperhatikan pola tingkah darriel.
"Tuh mas ada sesuatu itu pasti." ujar Lea.
"Pak ke apartemen saya aja yuk, jangan tinggal di apartemen ini. Saya lagi hamil loh, serem tau."
Kedua perempuan itu semakin heboh, sementara suami-suami mereka mencoba menenangkan.
Tanpa mereka ketahui jika Darriel hanya sedang melihat seekor kupu-kupu, yang menempel di salah satu gorden rumah tersebut.
Ia membuat gerakan seolah minta disambut, bukan berati ingin digendong. Tapi berharap dirinya bisa menangkap kupu-kupu itu.
Tak ada yang menyadari pintu samping yang memang sengaja di buka. Hingga hewan terbang seperti itu bisa saja masuk ke dalam.
***
"Rangga, kamu tadi dari ngapain."
Ibu Rangga berkata pada sang putra. Ketika Rangga baru saja tiba.
"Rangga dari jual motor Rangga, mi." jawab pemuda itu.
Sang ibu terkejut.
"Kenapa di jual, nak?" tanya nya kemudian.
"Rangga lagi mau buka bisnis dan butuh modal. Saat ini kan papa udah nggak bisa menafkahi kita lagi. Dan lagipula beberapa aset dan tabungan papa sedang disita sama pihak yang berwajib. Untuk diperiksa dan diselidiki dulu. Sementara kita butuh uang dan makan tiap hari."
Ibu Rangga yang kini sakit-sakitan tersebut merasa sangat bersalah pada sang anak. Ia tau motor itu adalah benda kesayangan Rangga.
"Maafin mami ya, Rangga. Mami nggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu." ujar wanita itu penuh rasa bersalah.
Rangga tersenyum.
"Nggak apa-apa mi." ujarnya.
"Kalau bisnis Rangga udah jalan dan menghasilkan nanti, Rangga beli motor baru." tukas remaja itu.
__ADS_1
"Tapi kamu beneran nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, mi. Mami tenang aja." ucap Rangga lagi.