
Lea senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan foto-foto pernikahannya dengan Daniel. Mulai dari yang sekedar akad kemudian pesta dengan membawa Darriel.
Lea masih ingat, saat pertama kali ia bertemu dengan Daniel. Kemudian mereka bertemu lagi dan Lea sempat melempar mobil pria itu dengan seblak yang ia beli.
Masih terbayang jelas ekspresi wajah Daniel kala itu, ketika melihat mobil mewahnya dipenuhi kerupuk basah plus dumpling dan juga ceker ayam.
"Iya, ayo minta maaf...!" teriak Lea kala itu.
Lantaran Daniel nyaris bertabrakan dengan motor yang dikemudikan Rangga. Saat itu Lea masih menjadi pacar Rangga dan Daniel masih belum bisa move on dari masa lalunya bersama Grace.
"Ngapain saya minta maaf, orang kalian yang menghalangi jalan saya." jawab Daniel.
"Heh, om. Om pikir itu jalan bapak moyang om?" Lea berujar dengan nada setengah berteriak.
"Iya, emang kenapa?. Lagian saya nggak mau mobil saya kesenggol motor murahan itu."
"Sok banget lo, om. Tempo hari aja lo pake mobil murah, pasti ini mobil bos lo kan?"
"What?. Heh, ini mobil saya, ya." ujar Daniel sengit.
"Muka om nggak pantes. Murahan kayak kelakuan om sendiri."
"Kurang ajar kamu, pasti ibu kamu perempuan nggak bener kan. Makanya kelakuan anaknya kayak kamu."
"Lah situ yang salah." teriak Lea.
"Kamu dan pacar kamu yang salah."
"Braaak!"
Lea melemparkan seblak yang ada ditangannya dan kini ia pun tertawa-tawa mengingat hari itu.
"Kamu kenapa Le?. Kesurupan?"
Daniel yang baru pulang kerja mengagetkan Lea. Bahkan perempuan itu tak sadar jika sang suami telah kembali.
"Mas udah pulang?" tanya Lea.
"Nggak, ini halusinasi." seloroh Daniel.
Lea pun lalu tertawa, sedang Daniel kini duduk disisinya.
"Mikirin apa sih?. Ketawa sendiri kayak orang gila." ujar Daniel.
"Lagi mengingat masa lalu, mas." jawab Lea.
"Yang mana dan sama siapa?" Daniel kepo.
"Pas waktu aku lempar mobil kamu pake seblak." jawab Lea.
__ADS_1
Daniel pun tertawa, seketika ingatannya kembali ke masa itu. Dimana Lea masih sangat barbar dan dirinya sendiri cukup angkuh.
Daniel ingat bagaimana Richard dan Ellio bingung melihat mobilnya yang dipenuhi ceker ayam serta serpihan cabai.
"Kamu tuh, kelewat barbar." ucap Daniel pada Lea.
"Suatu saat aku akan ceritain dan Darriel bakalan tau kelakuan emaknya." lanjut pria itu kemudian.
Lea tertawa ngakak kali ini.
"Ih, kamu mah. Ceritain yang baik-baik aja napa ke Darriel. Ngapain harus menceritakan hal itu." tukas Lea.
"Mau nyeritain apaan coba?"
"Bilang ke Darriel kalau dulu mamanya lucu, imut, gemesin dan manja gitu?. Kalau makan cuma sedikit dan kalau mangap bibirnya unyu."
Lea makin tertawa.
"Yang ada malah kebalikannya." ujar Daniel.
"Makan aja kamu mangapnya gede banget." lanjut pria itu.
"Jangan gitu ih?" rengek Lea.
Daniel lalu tertawa.
"Lah emang gitu koq kenyataannya." ucap Daniel pada istrinya itu.
"Lele, lele." ujarnya kemudian.
"Darriel mana?" tanya Daniel.
"Tidur dia mah jam segini." jawab Lea.
"Udah mandi dia?"
"Udah, udah makan juga."
"Kamu udah makan?" Lagi-lagi Daniel bertanya.
"Belum, kan nungguin kamu."
"Ya udah yuk, aku laper soalnya." ucap Daniel.
Tak lama mereka pun menyambangi meja makan dan makan bersama disana. Usai makan tentu saja mereka mengganggu Darriel, sampai bayi itu terbangun.
Setelah Darriel bangun mereka justru berusaha menidurkan bayi itu lagi, karena ternyata Darriel masih mengantuk. Ia menangis sejadi-jadinya lantaran merasa di usik.
Daniel dan Lea bergantian menggendong bayi itu. Ada yang bernyanyi, ada pula yang cilukba dan lain-lain. Darriel terus mengamuk, dan setelah susah payah berusaha akhirnya bayi itu kembali terlelap.
__ADS_1
"Huh."
Lea dan Daniel sama-sama menghela nafas lega, saat Darriel telah kembali ke alam mimpi. Mereka diam sejenak kemudian sama-sama tertawa.
"Kamu sih." ujar Daniel pada Lea.
"Lah mas juga ikut-ikutan bangunin Darriel. Mas juga jahil." Lea membela diri.
Mereka kembali terdiam, lalu sama-sama kembali tertawa.
"Kita ada-ada aja ya." ucap Daniel.
"Tapi seru, asal jangan tiap hari aja." ujar Lea
***
Di lain pihak.
"Pak."
"Hmm?"
"Rasanya kayak mimpi tau bisa nikah sama bapak. Terus sekarang hamil anaknya bapak."
Marsha berkata pada Ellio, ketika mereka berada di mobil. Keduanya memang sudah pulang kantor sejak tadi. Namun mereka berdua mampir ke supermarket untuk belanja.
"Mimpi gimana?" tanya Ellio.
"Ya dulu tuh kayaknya berat banget kalau dipikir-pikir. Bapak, pak Richard, pak Daniel tuh ada di level yang berbeda. Kita-kita nih para karyawan cuma bisa menghalu doang bisa pacaran sama kalian. Mana cewek-cewek di sekitar kalian cantik-cantik banget lagi." jawab Marsha.
Ellio tertawa.
"Dulu aku kayak hadiah lotere ya buat kamu?" tanya nya kemudian.
"Mending hadiah lotere. Bapak tuh kayak huruf N di permen karet Yosan tau nggak."
"Anjir susah banget itu dapetinnya." seloroh Ellio sambil tertawa. Ia jadi nostalgia tentang masa kecilnya bersama Daniel dan juga Richard.
"Dulu aku sama Daniel, Richard sengaja beli itu permen berpack-pack." ujar Ellio.
"Tetap nggak ketemu kan?" ujar Marsha.
"Kagak." seloroh Ellio sambil tertawa.
Ia lalu mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Sekarang udah ada kamu ya nak. Jodoh nggak ada yang tau." ucapnya kemudian.
Marsha pun lalu tersenyum dan akhirnya mereka tiba di rumah.
__ADS_1
***
"Siapa yang inget kejadian seblak?"