Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pembicaraan yang Berlanjut


__ADS_3

"Mas, mas tuh selalu bawa sikat gigi ya kemana-mana?"


Lea bertanya pada Daniel, ketika suaminya itu baru saja selesai menyikat gigi. Dengan menggunakan sikat gigi lipat, beserta pasta gigi kecil yang selalu ia bawa kemanapun.


"Iya." ujar Daniel seraya tertawa, ia kini menghampiri Lea dan kembali memeluk istrinya itu. Ia dan Lea masih berada di ruang makan basemen. Ruang itu dilengkapi dengan sanitasi.


"Aku suka nggak pede ngomong sama orang, kalau abis makan. Apalagi aku selalu sibuk dan dikit-dikit ketemu klien. Kan malu kalau ada cabe nyelip di gigi."


Kali ini keduanya tertawa, Daniel mencium kening Lea dengan lembut.


"Maafin aku ya, Le." ujarnya kemudian.


"Aku janji hal ini nggak akan terulang lagi, Clarissa nggak akan aku ladenin bicara lagi."


"Iya mas." jawab Lea.


Daniel kemudian membelai kepala dan rambut istrinya itu.


"Tapi mas, boleh nggak aku nanya sesuatu." Lea menatap sang suami dengan penuh harap.


"Boleh, tanya aja." ujar Daniel kemudian.


Lea menundukkan kepala dan semakin mempererat pelukannya terhadap Daniel.


"Apa mas pernah tidur sama Clarissa?"


Lea menarik nafas, ia khawatir Daniel akan marah mengenai pertanyaan yang ia lontarkan.


"Ma, maksud aku. Aku nggak masalah soal itu, cuma pengen tau aja."


Daniel tersenyum, lalu kembali mengecup kening istrinya.


"Nggak pernah Le, sumpah." ujarnya kemudian.


Lea menatap sang suami.


"Pada saat itu aku nggak bisa melakukan apa-apa ke perempuan, karena pikiran aku masih di penuhi oleh Grace. Ellio dan Richard tau itu."


"Maksud mas?" tanya Lea tak mengerti.


"Ya nggak bisa berdiri lama, kalau di dekat perempuan."


"Yang itu?" Lea melirik ke bawah, tepatnya ke area sensitif Daniel.


"Ya." jawab Daniel kemudian.


"Aku pernah berfikir mau mencoba itu dengan Clarissa. Tapi ketika aku ketemu dia, aku malah ingat Grace. And then mendadak hilang gitu aja, aku ga punya gairah apa-apa lagi."

__ADS_1


"Tapi sama aku koq bisa?"


Daniel menghela nafas.


"Aku berusaha keras untuk melupakan semua tentang Grace sejak sama kamu, dan itu lumayan berhasil. Pelan-pelan aku bisa meninggalkan semua pikiran aku tentang dia. Pada saat pertama kali kita melakukan itu, aku juga takut. Takut kalau aku gagal lagi, tapi ternyata nggak."


Lea tersenyum pada Daniel, lalu Daniel pun mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Gayung bersambut, Lea mengecup bibir sang suami dan meraba dada bidang pria itu. Akibatnya nafas Daniel sedikit memburu, ia terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya secara spontan.


"Aku sayang kamu." ujar Daniel.


Mereka kembali berciuman, Lea membuka kancing kemeja Daniel dan memasukkan tangannya ke area perut dan meraba hingga ke dada.


"Mas."


"Hmm."


Ciuman mereka semakin panas, Daniel menaikkan dress Lea dan menyentuh area sensitif perempuan itu. Hingga Lea pun bergerak-gerak karena merasakan sensasi nikmat.


"Mas, hmmh."


"I love you."


Daniel berbisik di telinga sang istri, membuat Lea kian melayang dan lupa diri. Sementara ciuman mereka semakin panas, tangan mereka saling menjelajah satu sama lain.


"Mas, hmmh."


"Kenapa mas, tanya Lea bingung." Ia agak dongkol hati karena berharap Daniel melakukan hal yang lebih.


"Ini tempat makan, sayang." ujar Daniel seraya membelai rambut sang istri.


"Walaupun nggak ada yang menggunakan, lebih enak kalau di rumah kan?"


Kali ini Lea tersenyum, Daniel mengadukan keningnya dengan kening Lea. Lalu mereka pun tertawa bersama.


"Di ujung sana itu ada sekuriti, kita kan selalu berisik kalau lagi begituan. Kasian dia nanti spaneng dengerin suara kita."


Lagi-lagi keduanya tertawa, lalu mereka berciuman beberapa kali. Setelah itu mereka keluar, Lea berpamitan pada Daniel untuk pergi ke toko buku.


"Kamu sendirian perginya?" tanya Daniel.


"Iya mas, mau sama siapa coba."


"Ya udah hati-hati ya, makasih buat makan siangnya."


"Sama-sama."


"Kamu naik apa?"

__ADS_1


"Ojek online aja lah."


"Naik taxi aja ya, dari atas?"


"Ya udah deh."


Maka Daniel pun menemani Lea, hingga ia mendapatkan taxi di muka lobi. Ia melepas kepergian istrinya itu, lalu kembali untuk bekerja. Sementara dari kejauhan, Clarissa tampak melihat semua itu dengan hati terbakar.


***


Lea pergi ke toko buku, ia mencari-cari apa yang telah di katakan Rama padanya. Namun ternyata cukup sulit menemukan buku tersebut. Apalagi Rama mengatakan, haruslah karangan dari pengarang yang telah ia sebutkan.


"Duh, nggak boleh yang pengarangnya selain itu apa?"


Lea menggerutu sendiri sambil matanya terus mencari kesana-kemari.


"Ribet banget itu dosen, pake acara bilang nggak boleh ikut persentasi lah. Kalau bukunya bukan karangan si pengarang itu." lanjutnya lagi.


"Cari buku ini?"


Tiba-tiba seseorang muncul di hadapan Lea dan memperlihatkan buku yang ia cari.


"Arsen?"


Lea terkejut dengan kehadiran Arsenio. Namun tak demikian dengan pemuda itu, ia malah terlihat tenang dan penuh senyuman ketika bertatap muka dengan Lea.


"Nih." ujarnya memberikan.


"Wah makasih ya, koq lo tau gue nyari ini?" Lea merasa heran, namun ia meraih buku tersebut.


"Karena dulu gue juga disuruh nyari ini. Tapi sekarang buku yang punya gue itu, ada di adeknya temen gue. Kalau masih ada, gue pasti kasih ke elo."


"Oh ya, emangnya kita satu jurusan ya?" tanya Lea. Arsenio tertawa kecil, lalu menganggukkan kepala. Mereka kemudian berbincang-bincang sambil melihat dan membaca banyak buku.


Sementara di sebuah jalan, Vita baru saja bertengkar hebat dengan sugar daddy nya. Vita benar-benar merasa begitu lelah, beberapa hari ini ia mengalah dan tak mau mengungkit kesalahan sugar daddy nya itu. Lantaran ia masih ingin menginginkan uang, meski telah dikhianati.


Namun hari ini Vita tak dapat lagi membendung kekesalannya. Pasalnya sang sugar daddy terus saja ditelpon dan berbalas pesan dengan wanita idaman lain.


Vita menyendiri dan sangat butuh teman bicara, ia pun mencoba menelpon Arsenio. Namun handphone Arsenio saat ini tengah di silent dan berada di dalam tas. Sedang pemuda itu masih asik memilah buku bersama Lea.


Vita menangis, Arsenio tertawa-tawa bersama Lea. Usai membeli buku, Arsenio meminta Lea untuk duduk bersamanya di kafe yang ada di dalam toko buku. Di sana mereka minum minuman ringan seperti kopi dan jus, sambil membuka dan membahas beberapa buku.


"Bal, itu kan Lea."


Dani menunjuk ke arah kafe. Ia, Iqbal, dan juga Adisty baru saja tiba di toko buku. Mereka satu kelompok dan sedang hendak mencari buku yang sama, dengan apa yang sudah di dapat oleh Lea.


"Itu kayaknya senior kita deh." ujar Adisty.

__ADS_1


Iqbal diam sambil terus memperhatikan, entah mengapa ia tak menyukai pemandangan tersebut. Hatinya kini seperti terbakar.


__ADS_2