
Daniel dan Richard tiba di pelataran parkir gedung acara yang disewa oleh Hanif. Selang beberapa saat kemudian, saat Daniel dan Richard tengah merokok di sebuah sudut. Mobil Ellio pun tiba.
"Bro."
Ellio menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Sebat dulu, bro. Kayaknya masih sepi deh di atas." ujar Richard.
Ellio pun lalu mengeluarkan rokok dan membakarnya di tempat itu.
Sementara di atas, tepatnya di sebuah sudut. Beberapa gadis berpakaian bridesmaids, tampak tengah berbicara antara satu dan yang lainnya.
"Ih akhirnya si Susi naik derajat, jadi nyonya."
Salah satu dari mereka berujar.
"Iya, semoga kita-kita ini nantinya menyusul. Geser tuh istri sah, hempaskan." timpal yang lainnya lagi.
"Nggak guna cantik kalau nggak bisa menggoyang laki."
"Hahahaha." Mereka cekikikan.
"Lakinya si Susi kan kaya nih, pasti yang datang juga cowok-cowok kaya. Kita harus siap menggunakan jurus kita loh, ciwik-ciwik."
Lagi-lagi salah seorang dari mereka berujar. Lalu yang lainnya lagi menimpali.
"Bener loh itu. Inilah kesempatan kita buat menjadi nyonya. Capek say hidup miskin terus. Mau kerja juga, bakal lama kayanya. Mending langsung mencari yang kaya, bodo amat laki orang."
"Hahahaha."
Para perempuan tidak terdidik itu kembali dengan tawa jahat mereka. Di sebuah ruangan Susi si pelakor alias calon istri Hanif, tengah dipakaikan pakaian pengantin tertutup dan sopan. Agar terkesan seperti wanita baik-baik.
Sebuah kebiasaan baru di negri ini. Apabila berselingkuh, ketahuan, langsung mengaku menikah dibawah tangan. Padahal belum menikah sama sekali.
Pelakor yang tadinya berpakaian terbuka seperti kurang bahan, langsung mendadak berpenampilan seperti wanita baik-baik.
Tujuannya supaya terlihat benar dan di puji-puji oleh semua orang. Sebab penyakit di negri ini, salah apapun, dosa apapun. Walau sudah memporak-porandakan rumah tangga orang.
Tapi ketika pelakunya mendadak berpakaian santun, maka akan langsung di puja-puji dan dijadikan panutan. Para perempuan sok suci akan membela dengan mengatakan,
"Kita tidak tau mungkin dia sudah menyesal telah menghancurkan rumah tangga orang. Mungkin sang pencipta alam sudah mengampuni dia dengan penyesalannya."
Sebuah pernyataan paling munafik dan sok bijak. Mengingat yang direbut bukanlah suami mereka. Kalau hal tersebut mereka alami secara langsung, mustahil mereka akan sebijak itu.
__ADS_1
Adalah wajar ketika seorang istri sah ataupun pendukung istri sah merasa emosi, melihat laki-laki yang selingkuh kemudian mengaku menikah dibawah tangan ketika ketahuan.
Tapi kumpulan wanita-wanita pembela pelakoran itu seperti tak memiliki hati. Padahal mau jungkir balik menyesal pun, yang namanya melakor adalah menyakiti hati sesama perempuan.
Menyakiti manusia adalah dosa kepada manusia. Dan dosa kepada manusia haruslah meminta maaf pada manusianya. Karena itu merupakan urusan dengan manusianya secara langsung.
Tidak bisa dengan mendadak menyesal dan berpenampilan santun saja, lantas dosa ke sesama manusia langsung hilang begitu saja. Kita harus meminta maaf.
***
Di rumah Lea menonton film lain. Dan didalam adegan film itu, ada seorang istri yang enggan ikut suaminya kondangan.
Tapi kemudian di tempat kondangan, suaminya malah di goda oleh wanita lain. Akhirnya mereka berbincang dan menjadi akrab, lalu bertukar nomor handphone.
Lea mendadak jadi berasap ubun-ubunnya. Apalagi Hanif saat ini tengah menikahi pelakor. Biasanya pelakor akan berteman dan membentuk Circle dengan para pelakor lainnya juga.
"Wah, gawat nih." ujar Lea ketika telah termakan oleh pikirannya sendiri.
"Biasanya nih cewek gatel, berteman sama cewek gatel juga." lanjutnya.
"Dulu aja gue calon sugar baby dan berteman sama para sugar baby. Apalagi si pelakor, pasti temanya para perebut laki orang semua. Mana laki gue ganteng begitu lagi."
Lea mengambil handphone dan menelpon Marsha.
Marsha saat itu tengah makan banyak sekali. Bayinya membuat ia selalu lapar.
"Kak, lo ikut om Ellio nggak ke acara nikahan temannya mas Daniel."
"Si Hanif?" tanya Marsha
"Iya."
"Kagak, gue takut emosi Le." ujar Marsha.
"Harusnya kita ikut." ujar Lea.
"Lo nggak tau si Hanif, Le. Gue itu udah pernah ketemu dia. Waktu dulu gue masih kerja di tempat yang lama. Belum kerja sama pak Daniel."
"Oh ya?"
"Iya, gue datang ke acara nikahan dia yang kedua. Diajak sama bos gue untuk datang. Asal lo tau ya, le. Muka si Hanif itu mirip ikan patin tau nggak. Tapi lagunya udah kayak bermuka paling ganteng aja sedunia. Nggak nyadar diri, kayak nggak pernah ngaca. Udah gitu ganjen lagi. Gue risih dengan cara dia ngeliatin gue."
"Tapi gini, kak. Dia ini nikah sama pelakor. Lo tau kan circle seseorang nggak mungkin jauh-jauh banget dari pribadi yang dia miliki. Udah pasti dia berteman sama pelakor juga. Banyak cewek-cewek ganjen yang juga sifatnya sama kayak dia. Hanif yang kata lo kayak ikan patin aja banyak yang mau, apalagi yang modelnya kayak laki kita."
__ADS_1
"Oh iya."
Marsha seperti tersadar akan sesuatu.
"Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana ya, Le?"
"Ubun-ubun Marsha turut berasap.
"Apa kita kesana aja?" lanjutnya kemudian.
"Emang kita harus kesana, kita nggak boleh kasih kesempatan sama tuh cewek-cewek gatel buat deketin laki kita. Okelah ada ayah disana. Tapi kan biasanya kalau lagi acara gitu ada aja teman atau kenalan manggil kita, akhirnya pada mencar. Dalam keadaan kayak gitu si pelakor menyusup, ikut ngobrol."
"Aduh Le, gue makin emosi nih." ujar Marsha.
"Ya udah kita siap-siap aja deh. Lo tanya sama om Ellio kak, lokasi mereka dimana."
"Tapi Le, gue lagi buncit gini. Nggak bisa cantik maksimal dong nanti. Kalah langsing ntar gue sama temen-temen si pelakor.
"Alah nggak semua pelakor itu body-nya bagus koq. Cowok-cowoknya aja yang pada buta." ujar Lea.
"Justru bagus lo lagi hamil gini, buat tuh cewek-cewek pada tau, lo melendung karena om Ellio."
"Iya juga ya. Oke deh kalau gitu, kita siap-siap." ujar Marsha.
Kedua perempuan itu pun bergegas. Lea turut mendandani Darriel dan berniat membawa anak itu turut serta.
***
Di lokasi pernikahan Hanif. Daniel, Richard dan Ellio sudah selesai merokok. Mereka kini bermaksud naik ke atas.
"Pak, share loc sekarang!"
Marsha mengirim pesan.
"Saya mau tau posisi bapak dimana." lanjutnya lagi.
"Liat, bro. Bini gue posesif." ujar Ellio. seraya memperlihatkan chat Marsha.
Daniel dan Richard tertawa.
"Kasih tau aja, bro. Biar dia nggak ribet lagi." jawab Daniel.
Ellio pun lalu mengirim lokasinya saat ini kepada sang istri. Ia pikir Marsha hanya ingin tau dimana letak keberadaannya. Tanpa ia ketahui jika saat ini Lea dan Marsha tengah berdandan habis-habisan. Mereka setiap menggempur calon pelakor yang kecentilan pada suami mereka.
__ADS_1
***