
"Dan."
Richard masuk ke dalam kamar yang ditempati Daniel, ketika pagi hari menyapa. Tampak Daniel berdiri di balkon sambil menatap kearah halaman. Richard sempat melihat sarapan pagi Daniel yang belum tersentuh sama sekali di meja. Pria itu kemudian keluar dan mendekati Daniel.
"Dan."
Richard berdiri persis di sisi Daniel. Sementara Daniel masih terus mematung dan tak bergeming sama sekali. Hanya matanya saja yang berkedip sesekali.
"Lo makan ya." ujar Richard lagi.
"Gue nggak laper." jawab Daniel.
Ia menjawab dengan nada dingin, dan tatapan mata yang masih tertuju ke suatu arah di depan sana.
"Gue temenin." ujar Richard.
Daniel masih tak memberikan tanggapan apa-apa. Richard menelpon assiten rumah tangganya yang ada di bawah.
"Ti, bawa sarapan saya ke kamar Daniel." ujar Richard.
"Baik pak." jawab asisten rumah tangganya tersebut.
Tak lama kemudian sarapan pagi Richard datang. Asisten rumah tangga meletakkannya di meja yang ada di balkon. Tak lama ia pun turut membawa makanan Daniel keluar.
"Ada lagi pak?" tanya asisten rumah tangga tersebut pada Richard.
"Nggak ada, makasih ya Ti."
"Sama-sama pak."
Asisten rumah tangga tersebut kemudian meninggalkan Richard dan juga Daniel.
"Dan, ayo!"
Richard mengajak Daniel sekali lagi, namun agaknya Daniel masih malas.
"Ya udah kalau lo nggak makan, gue juga nggak makan." ujar Richard.
Daniel pun akhirnya mengalah. Sebab Richard tak pernah main-main pada apa yang diucapkannya.
***
"Ayah, mas Dan gimana yah?"
Lea menelpon Richard dari kampus, dan menanyakan kondisi sang suami hari itu.
"Daniel baik-baik aja, cuma masih sedih dan lebih banyak bengong. Tapi tadi dia udah makan, siang nanti ayah suruh asisten rumah tangga yang ngawasin dan suruh dia makan juga."
"Ayah di kantor ini?" tanya Lea lagi.
"Iya, di kantor." jawab Richard.
"Kamu kuliah?" Richard balik bertanya.
"Iya yah, udah boleh belum ya yah ngeliat mas Daniel?. Soalnya aku nggak enak kalau nyamperin, takut mas Daniel masih pengen sendirian dulu."
"Daniel kayaknya emang masih butuh waktu buat sendirian dulu. Tapi kalau kamu mau datang, datang aja Le. Kan kamu bisa ngobrol sama mbak-mbak dirumah, bisa nonton atau tidur dikamar lain. Yang penting kamu bisa ngeliat Daniel."
"Iya sih yah, cuma aku masih nggak enak aja takut ganggu. Liat ntar deh, soalnya masih banyak mata kuliah juga hari ini."
__ADS_1
"Ya udah, kamu jangan lupa makan. Jangan pecicilan, perut kamu itu udah gede sekarang. Ntar kenapa-kenapa lagi."
"Iya yah, beres." jawab Lea.
"Ya udah, ayah kerja dulu ya."
"Iya yah."
"Bye sayang."
"Bye ayah."
Lea menyudahi telpon tersebut. Tak lama ia melihat heboh-heboh di suatu sudut. Para mahasiswa menghambur dan berkerumun di tempat tersebut. Karena penasaran Lea pun akhirnya mendekat.
"Ada apaan sih?"
Adisty dan Ariana muncul diwaktu yang bersamaan dengan Lea dan bertanya padanya.
"Nggak tau gue." jawab Lea.
Mereka kian mendekat. Tampak Vita tengah coba membangunkan Arsen yang pingsan, dengan darah yang mengalir lewat hidung.
"Arsen."
Lea ikut menghambur ke arah sana, sementara Adisty dan Ariana terlihat terkejut sekaligus khawatir.
"Vit, Arsen kenapa?" tanya Lea panik.
"Nggak tau, Le. Barusan kita ngobrol, tiba-tiba dia mimisan dan pingsan kayak gini.
"Udah angkat aja, bawa ke klinik atau rumah sakit." Salah seorang mahasiswa berujar.
Lea menghubungi ayahnya Richard, dan meminta Richard mengubungi sang kakak Reynald. Tanpa membuang waktu, Richard segera menghubungi Reynald. Reynald sendiri buru-buru meninggalkan kantor untuk mengetahui keadaan anaknya lebih lanjut.
***
"Vit, apa Arsen sering kayak gini. Selama lo kenal dia?" tanya Lea pada Vita.
"Nggak tau, Le. Setahu gue nggak pernah sih. Tapi nggak tau kalau belakang gue ya."
Lea menghela nafas.
"Mudah-mudahan dia cuma mimisan biasa aja sih." ujar Lea kemudian.
Vita pun mengangguk, ia juga berharap jika Arsen hanya kelelahan atau sakit biasa saja.
"Lea."
Reynald datang di beberapa menit kemudian. Lea menatap om nya tersebut dan begitupun sebaliknya.
"Lea kamu?"
"Aku tau, om. Tapi ini bukan waktunya membahas hal itu, om harus bicara sama dokter dulu. Karena tadi dokter nanyain orang tuanya Arsen." ujar Lea.
"Ok, dimana ruangan dokternya?" tanya Reynald.
Lea pun lalu mengantarkan pamannya tersebut, menuju ke ruangan dokter yang menangani Arsen. Tak lama Lea kembali kepada Vita dan temannya yang lain.
Beberapa saat kembali berlalu, Reynald keluar dari ruangan dokter dengan wajah lesu sekaligus sedih. Lea menoleh ke arah pria itu, diikuti tatapan Vita dan yang lainnya.
__ADS_1
Reynald masuk ke dalam ruangan tempat dimana Arsen kini berada. Pemuda itu sudah sadar dan tampak membuang pandangan ke arah lain, seolah ia benci bertemu Reynald. Sementara Lea dan yang lainnya mengintip dari balik pintu.
"Kamu harus pulang sama papa, ke rumah papa." Reynald berujar pada Arsen.
"Nggak mau dan nggak akan pernah." jawab Arsen dengan nada yang tidak bersahabat.
"Mau kamu tolak bagaimanapun, papa ini ayah kamu Arsen. Dan papa nggak akan pernah menyerah untuk itu."
Arsen diam.
"Kamu butuh perawatan dan lingkungan tempat tinggal yang lebih baik." ujar Reynald lagi.
"Percuma, saya nggak akan sembuh. Thalasemia itu nggak ada obatnya."
"Paling tidak kita bisa meminimalisir." jawab Reynald.
Lea, Vita dan yang lainnya kompak membuka google dan mencari apa itu thalasemia. Dan mereka pun terkejut, karena ternyata Arsen menderita gangguan pembekuan darah.
"Tolong jangan ganggu saya lagi." ujar Arsen kemudian.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Arsen?"
Reynald duduk dipinggir tempat tidur. Namun pandangan matanya ia lempar ke dinding.
"Sampai kapan kita akan terus hidup dalam kesalahpahaman seperti ini?" lanjut Reynald lagi.
Sementara Arsen hanya diam, dan membuang pandangannya ke sudut lain.
"Saya cuma mau tenang menjalani hidup saya." jawab Arsen.
Reynald memejamkan matanya selama beberapa detik, sambil menghela nafas.
"Ok, anggap aja papa ini nggak ada. Tapi kamu harus menerima apa yang papa akan lakukan terhadap kamu, sebagai seorang ayah."
"Saya nggak perlu semua itu."
"Tolong jangan egois, sekali ini aja."
Kali ini Reynald menatap tajam ke mata anak semata wayangnya tersebut. Hingga Arsen pun akhirnya kembali terdiam dan tak menjawab apa-apa lagi.
***
"Apa?. Thalasemia?"
Richard bertanya pada Lea di telpon. Setelah tadi Lea mengabarkan kondisi Arsen dan mengatakan pada ayahnya itu, jika Reynald sudah sampai.
Tadi Richard sempat menanyakan saudaranya tersebut ada sang anak, melalui pesan singkat di WhatsApp.
"Iya yah, thalasemia. Tadi aku denger Arsen ngomong gitu ke om Rey."
Richard menarik nafas panjang, ia tau apa penyakit tersebut dan kini ia merasa kasihan pada sang kakak. Pasti Reynald sangat terpukul dengan hal itu.
"Ya udah, nanti kita bahas lagi soal ini. Ayah mau selesaikan sedikit lagi kerjaan ayah. Kamu nggak ke rumah?" tanya Richard.
"Abis ini yah, aku tadi udah chat an sama mas Daniel soalnya. Dia bilang ok, kalau aku mau kesana."
"Ya udah, hati-hati dijalan nanti kalau udah jalan."
"Iya yah."
__ADS_1
Richard menutup telpon tersebut, dan melanjutkan pekerjaan. Sedang Lea kini menyusul Vita dan yang lainnya ke ruangan Arsen.