Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Gara-gara Daniel


__ADS_3

Richard mengirim link berita kepada Daniel. Dimana ia telah berulah lagi, yakni memberitakan Marvin di lain media


Richard membayar mahal media tersebut dan tentu saja ia berani menjamin jika berita tersebut valid.


"Wkwkwkwk."


Daniel membalas ketika ia telah selesai melihat berita tersebut.


"Keisengan gue belum kelar, masih ada lagi." ujar Richard.


"Lanjutkan bro, lo abis berapa kasih tau gue."


"Santai, lo kira gue Miss Queen?" tukas mertuanya itu.


"Iya, ampun bang Sultan." balas Daniel.


Mereka terus berbalas pesan hingga Daniel pun tertawa-tawa. Ia melihat handphone sambil menuruni tangga. Padahal Richard yang mengirim chat padanya ada di lantai atas, tepatnya di dalam kamar.


"Mas, mau kemana?" tanya Lea heran.


Daniel menoleh.


"Eh, kelewat ya." ujarnya lalu berbalik sambil nyengir.


"Makanya jangan liat handphone mulu. Mau ke meja makan aja kelewat kan jadinya. Untung baru sampe situ, kalau sampe Glodok gimana?"


"Ya beli DVD lah, sama buah lontar. Abis itu beli siomay yang sepedaan." Daniel berseloroh.


"Kan itu siomay pig, mas. Emang kamu pernah beli?" tanya Lea seraya menatap suaminya itu. Daniel menarik kursi lalu duduk disana.


"Kagak, Richard noh." ujarnya kemudian.


"Dih, bukan gue, enak aja." Richard yang baru turun menjawab.


"Elo sama Ellio tuh."


"Apaan anjay?"


Suara sewot Ellio terdengar dari pintu, ia memang sudah mengatakan sejak tadi bahwa ia akan datang.


"Daniel tau yang bego waktu itu." ujarnya kemudian.


Daniel lalu tertawa. Lea heran, namun akhirnya ia pun ikut tertawa. Karena melihat Daniel yang sedemikian geli.


"Apaan sih, mas?" tanya nya penasaran.


"Ya, dia yang ngajakin beli siomay itu." ujar Ellio lagi.


"Tuh kan." ujar Richard.


"Kalian beli siomay itu?" Lea memastikan.

__ADS_1


"Iya gara-gara laki lo nih."


Daniel makin terbahak, Richard duduk di salah satu kursi meja makan. Sedang Ellio kini bergerak mendekat.


"Waktu itu kan kita sekolah pulang cepet, ada rapat." tukas Ellio.


"Terus Daniel ngide tuh ngajak kesitu. Jalanlah kita, lama kelamaan kita laper dong." lanjutnya lagi."


"Terus?" tanya Lea.


Daniel sendiri tak bisa menghentikan tawa.


"Eh, Daniel bilang. Beli siomay itu aja yuk. Nah kita kagak tau kalau tulisan B2 di belakangnya itu berarti pig. Kita ngiranya itu kayak merk supaya keren aja gitu, B2."


"Ya ampun, mas, mas." Lea menatap Daniel sambil menahan tawa.


"Ayah sendiri waktu itu di mana?" tanya Lea pada Richard."


"Ayah lagi beli buah lontar di dekat situ." ujar Richard.


"Pas ayah balik, mereka udah beli siomay. Ya udah, kebetulan lagi laper ya ayah ngikut. Eh nggak taunya salah server."


Daniel dan Ellio tertawa geli, Richard pun ikut tertawa mengingat kejadian itu. Meski telah bertahun-tahun berlalu, namun tetap saja lucu bila di ingat.


"Terus ketahuannya gimana?" tanya Lea lagi.


Kini Ellio ikut duduk di meja makan. Daniel meminum air putih, agar tawanya mereda. Namun lagi-lagi semua itu pecah.


"Apaan, udah masuk mulut gue waktu itu." ujar Richard.


"Oh iya, jadi pas udah sama-sama makan yang terakhir nih. Udah di kunyah pula. Tiba-tiba ada cici-cici berdua lewat. Dan dia bilang ke temennya. "Ini loh siomay pig yang paling enak disini."


"Hahahaha."


Daniel kembali terbahak, Ellio berusaha keras agar tawanya tak menjadi kian geli. Sementara Richard hampir tersedak, karena makan sambil tertawa.


Lea sendiri tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Antara lucu dan juga miris melihat tingkah sang suami.


"Itu seketika kita nge-freeze bertiga, Le. Siomaynya udah turun ke tenggorokan, tanpa bisa di halau. Karena pada saat cici-cici itu ngomong, kita bertiga lagi menelan secara bersamaan."


Ruangan itu pun makin dipenuhi tawa. Sampai-sampai para asisten rumah tangga yang mendengar pun ikut tertawa.


"Harusnya nggak apa-apa sih, karena kan kalian nggak tau." ujar Lea.


"Emang harusnya gitu." jawab Daniel.


"Iya tapi minimal lo mikir lah, Bambang. Disitu kawasan Pecinan, udah pasti banyak makanan non halal yang dijual." ujar Ellio.


"Lo aja nggak ada kepikiran kan?. Apalagi gue."


"Iya sih." Ellio mengalah.

__ADS_1


"Udah, sama-sama enak juga kan waktu itu." seloroh Richard.


Lalu mereka sama-sama kembali tertawa. Mereka lalu melanjutkan makan, lanjut ngobrol di teras samping, lalu bermain dengan darriel.


***


Toko ibu Lea mengalami kemajuan pesat, belakangan orderan meningkat melalui layanan ojek online. Pengunjung harian pun tak pernah sepi. Ia sangat bersyukur dengan keadaan tersebut.


Sebab tujuan hidupnya saat ini hanyalah memajukan bisnis dan berkonsentrasi mengurus serta membesarkan anak-anak.


"Ibu mau buka cabang dimana nantinya, kalau uangnya udah cukup."


Leo bertanya pada sang ibu, ketika ia mampir. Sang ibu berbicara mengenai rencananya membuka cabang toko di tempat lain.


"Mungkin daerah Bekasi kali." jawab sang ibu lalu meletakkan segelas Milo ice yang diminta anaknya itu.


"Kenapa nggak buka sistem franchise aja sih?. Siapa tau banyak loh yang berminat mau ikutan." ujar Leo.


"Franchise?"


"Iya, apalagi jaman sosmed begini gampang promosinya. Tinggal sebar di sosial media kalau kita buka franchise. Pasti banyak yang mau."


"Terus masalah supply produknya gimana?"


"Ya ini kan bakery sama pastry, ada minuman juga. Kan disini juga yang bikin karyawan ibu. Kita tinggal cariin karyawan aja dan kita training disini, sebelum franchise mereka jalan."


"Oh gitu ya?" ujar sang ibu kemudian.


"Lah, ibu mau buka cabang juga kan nanti yang urus bukan karyawan sini. Pasti di cabang baru, ibu merekrut orang baru juga kan?"


"Iya sih."


"Nah sama aja, mendingan buka franchise ketimbang modal sendiri. Sistem bayar royalti gitu, karena mereka pake brand kita."


"Cerdas juga kamu ya, ternyata."


Sang ibu tertawa pada Leo. Sementara Leo hanya tersenyum kecil lalu menyedot minumannya.


"Kamu kenapa sih nggak mau tinggal sama ibu, masih di kosan itu aja?. Nggak enak sama mas Daniel loh."


"Udah nyaman, bu." jawab Leo.


"Lagu kamu itu, udah kayak orang dewasa aja." ibunya kembali berujar sambil tertawa.


Mereka terus berbincang, sang ibu menanyakan perihal sekolah Leo. Dan Leo menjelaskan jika saat ini sekolahnya baik-baik saja. Tak ada masalah yang serius kecuali soal matematika yang membuat pusing kepala.


"Bu, ada yang nyari ibu."


Salah seorang karyawan mendekat dan memberitahukan hal tersebut pada ibu Lea.


"Siapa?" tanya ibu Lea pada karyawannya itu.

__ADS_1


Sang karyawan pun menoleh ke arah pintu. Ibu Lea dan Leo pun sama-sama terkejut. Sesosok laki-laki yang tiada lain adalah ayah kandung Leo, tengah berdiri disana.


__ADS_2