Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kaget


__ADS_3

Usia kandungan Lea mulai memasuki bulan ke tujuh. Dan ia pun terkejut melihat perubahan bentuk perutnya yang sangat signifikan.


"Mas, koq perut aku langsung buncit nggak karuan kayak gini sih?"


Daniel yang tengah minum kopi itu tersedak. Lea memperlihatkan perutnya yang double buncit kepada Daniel.


"Bulan kemaren perasaan nggak gini-gini amat. Kayak apaan aku begini?"


"Kayak paus biru, Le." ujar Daniel.


"Tuh kan, aku di ledekin. Suami durhaka kamu mas."


"Hahaha." Daniel makin terbahak.


"Kamu mah mending, Le."


"Mending gimana?"


"Ada orang yang hamil, dari bulan pertama ke enam itu malah nggak keliatan apa-apa. Masuk bulan ketujuh atau ke delapan langsung buncit kaget, kayak orang kena guna-guna."


Lea terbahak.


"Ih mas Daniel mulutnya, rumpi banget mas."


"Hahaha." Lagi-lagi Daniel tertawa dan hampir tersedak.


"Kamu tuh ada-ada aja, Le. Sana pake baju...!"


"Hehehe."


"Hahehahe, depan suami begitu. Gimana nggak kena hantam benda tumpul mulu."


"Itu mah kamu aja mas yang otaknya ngeres."


Lea masuk ke kamar lalu memakai baju. Tadi ia hanya mengenakan handuk, karena habis mandi. Sementara Daniel hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


"Saya nggak mau pak, saya kecewa sama pak Ellio."


Marsha tetap bersikeras, meski Daniel telah menjelaskan jika Ellio tak memiliki sugar baby.


"Sha, Ellio itu berniat cari sugar baby karena dia pengen punya pasangan. Bukan untuk dipelihara sebagai simpanan. Dia udah capek di khianati terus sama cewek, makanya pas hari itu dia ngajak saya dan Richard buat pergi ke SB Agency."


"Bapak kan temennya pak Ellio, pastilah bapak belain pak Ellio."


"Bukan gitu, walau temen juga kalau salah ya salah. Saya nggak pernah mau bagus-bagusin Ellio atau Richard. Kalau mereka busuk ya busuk, udah."


Marsha diam dan menatap Daniel.


"Percaya sama saya, Ellio itu laki-laki yang baik."


"Tapi saya baru denger pak. Katanya dulu kalian itu playboy, suka main cewek sana-sini."


"Ya yang jadi lawannya juga playgirl, Sha. Yang suka main cowok sana-sini. Sekarang buktinya, ada nggak kamu liat aku jalan sama cewek sana-sini, sejak udah nikah sama Lea.?"


"Nggak ada sih setahu saya." ujar Marsha.

__ADS_1


"Ellio juga sama. Kalau dia udah dapat pasangan yang srek di hati dia, dia akan setia koq orangnya."


"Gimana saya tau, saya ini bikin dia srek apa nggak." ujar Marsha.


Daniel tersenyum.


"Ellio itu suka sama kamu. Buktinya waktu kamu marah ke dia, Ellio ngadu dan minta saran jalan keluar sama saya dan Richard. Dia nggak pernah loh kayak gitu sebelumnya."


"Masa?" tanya Marsha tak percaya.


"Tanya aja sama Richard. Sampe rusuh banget muka Ellio, takut kamu nggak mau baik lagi sama dia."


Marsha diam.


"Baikan ya sama Ellio. Dia sakit lagi loh sekarang."


"Emang iya pak?"


"Iya, liat aja di ruangannya. Dia banyakan diem, kayak gangguan mental."


"Beneran pak?" tanya Marsha sekali lagi. Mendadak perempuan itu menjadi sangat khawatir.


"Iya."


"Saya ke ruangannya pak Ellio boleh ya pak?"


"Boleh, silahkan. Tapi sebentar aja."


"Iya pak."


Daniel mengangkat tangannya tanda mempersilahkan, Marsha pun segera keluar. Daniel buru-buru mengambil handphone dan menelpon Ellio. Saat itu Ellio tengah bekerja sambil mendengarkan musik dan minum kopi.


"Apaan, Dan?"


"Gue tadi bilang lo sakit di ruangan lo. Marsha lagi menuju ke sana sekarang."


"Hah?. Ok, ok."


Ellio buru-buru mematikan lagu, meletakkan kopinya di meja sekretaris yang ada di luar. Lalu ia memasang wajah yang kuyu dan terduduk lemas di atas kursi. Tak lama kemudian Marsha pun tiba.


"Pak Ellio."


Ellio pura-pura bengong dan menjatuhkan pandangannya ke arah lain.


"Pak Ellio."


Panggil Marsha sekali lagi, Ellio pun langsung pura-pura terkejut serta gelagapan.


"Eh, Marsha. Kamu sejak kapan disini?" tanya nya dengan nada pura-pura bingung.


"Barusan pak, bapak sakit lagi?"


"Mmm, nggak koq. Biasa aja."


Ellio memposisikan dirinya sebagai orang sakit, yang tak ingin dibilang sakit. Padahal hatinya sedang jingkrak-jingkrak bak cacing kepanasan. Ia senang melihat Marsha datang dan mengkhawatirkan dirinya.


"Pak saya udah nggak marah lagi koq, saya percaya sama bapak."

__ADS_1


Ellio sejatinya sudah ingin berteriak kegirangan, namun ia masih menjaga sikap agar terlihat cool dan berwibawa.


"Kamu nggak menuduh saya macam-macam lagi kan?" Ellio bertanya sambil menatap ke mata Marsha.


Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Hal tersebut cukup membuat Ellio yakin, jika apa yang dikatakan Marsha memanglah benar adanya.


"Kamu jangan marah-marah lagi ya. Saya orangnya suka kepikiran, kalau..."


Ellio sok dramatis dengan menjeda ucapannya.


"Kalau apa pak?" tanya Marsha.


"Kalau perempuan yang saya suka, ngediemin saya. Saya paling nggak kuat."


Hati Marsha mendadak seperti melayang-layang di udara. Seumur hidup ia belum pernah menerima kata-kata semanis ini, bahkan dari mantan kekasihnya sekalipun. Sementara Ellio joget-joget di dalam hati, karena ternyata gombalan recehnya ampuh juga untuk melumpuhkan Marsha.


"Iya pak, saya janji koq. Saya nggak akan marah lagi ke bapak. Tapi bapak juga janji, jangan main perempuan di luar sana. Apalagi sampai punya sugar baby. Saya akan pecahkan kepala bapak dan juga sugar baby bapak itu. Saya karate sabuk item loh pak."


"Hah, serius kamu?" tanya Ellio dengan penuh keterkejutan.


"Bener pak, cek aja di Instagram saya @Marshatarigan.


"Anjrit, udah karate, dari Medan pula ini perempuan." Ellio bergidik ngeri dalam hati.


"Gue mesti hati-hati nih, nggak boleh selingkuh. Bisa abis gue di hajar dan di tendang sampe keluar dari orbit bumi." lanjutnya lagi.


"Pak, bapak koq bengong?"


"Ah nggak, saya. Saya terlalu senang saat ini." ujar Ellio berkilah.


Sejatinya ia memang senang, namun sekaligus takut juga. Tetapi ia benar-benar ingin serius kali ini. Ia memang menyukai Marsha, karena sikap gadis itu yang terkadang seperti polos namun menggemaskan.


"Bapak sebaiknya istirahat dulu di rumah, jangan ngantor untuk beberapa hari ke depan."


"Nggak bisa, Sha. Kantor butuh saya, sama kayak saya butuh kamu."


Marsha tak kuasa menahan senyum, pipi gadis itu kini kian bersemu merah.


"Makan siang bareng yuk nanti." ajak Ellio.


"Gue ikut."


"Gue juga."


Tiba-tiba Daniel dan Richard muncul. Membuat Ellio ingin sekali menendang mereka ke dimensi.


"Apaan sih lo berdua, ganggu aja."


"Nggak bisa dong, lo ngajak Marsha yang notabenenya adalah sekretaris gue di jam kerja. Jadi sebagai bosnya, gue harus menjamin keselamatan karyawan gue."


"Dan gue adalah mertua Daniel sekaligus kakak yang di tuakan dalam hubungan pertemanan ini. Jadi lo nggak bisa menolak gue." Richard menimpali.


"Ya udah pak, ikut aja." ujar Marsha.


"Tuh Marsha aja nyuruh."


Ellio menghela nafas kesal.

__ADS_1


"Ya udah, ya udah ikut semuanya. Capek banget gue punya temen kayak lo berdua."


Ellio menggerutu, sedang Daniel dan Richard kini sama-sama memberi kode sambil tertawa.


__ADS_2