Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Firasat


__ADS_3

Daniel sedang mengantar anak angkatnya Nic pulang ke rumah, sebab beberapa saat lalu Nic baru saja menjenguk Darriel bersama kekasihnya Tiara. Tiara sendiri sudah diantarkan terlebih dahulu sebelum mengantar Nic.


"Jangan kelayapan malem terus."


Daniel berpesan pada Nic ketika ia sudah hampir membuka pintu mobil.


"Iya pa." jawab Nic sambil tertawa.


"Iya-iya, iya-iya. Papa liat kamu dugem mulu di insta story kamu."


"Iya nggak lagi koq. Minggu lalu itu ada dua temen Nic yang ulang tahun berturut-turut. Makanya jadi keliatan kayak gitu terus."


"Ya udah, sisanya fokus sama tujuan, kerjaan dan lain-lain ya."


"Iya pa."


Nic mencium tangan Daniel, Daniel pun memeluk anak angkatnya itu sejenak. Kemudian Nic keluar dari mobil.


"Hati-hati di jalan, pa." ujar Nic kemudian.


"Iya."


Daniel menekan kembali pedal gas mobilnya secara perlahan. Sementara dari kejauhan, tepatnya di dalam sebuah mobil. Seorang pria bertanya pada pria lain disisi kemudi.


"Itu siapa?" ujarnya.


Pria yang ada di sisi kemudi lalu menjawab.


"Itu anak angkatnya dia, dan dia sayang seperti anak sendiri."


Pria di sisi kemudi itu menoleh dan menatap rekannya penuh maksud.


"Kita bisa gunakan anak itu." lanjutnya lagi.


Mereka memperhatikan Nic yang kini masuk ke dalam pagar rumah, tak lama mereka pun meninggalkan tempat itu.


***


"Koq Arsen jarang keliatan ya?"


Salah satu ex sugar baby yang telah tergabung ke dalam lembaga pemberdayaan perempuan, tempat dimana Arsen dan teman-temannya menjadi relawan kini bertanya. Memang sudah sejak beberapa hari belakangan Arsen tak terlihat.


"Dia lagi ngurus ayahnya yang sakit." jawab salah seorang dari pengurus lembaga, yang juga merupakan teman Arsen. Ia sendiri tak mengetahui jika saat ini Arsen tengah di teror.


"Oh pantes nggak keliatan. Biasanya wara-wiri terus sama si Andi, Reyhan, Markus, Tina, Dwi."


"Ya mereka kan kayak telor keong, berkoloni." jawab staf pengurus itu lagi.


Kemudian mereka pun tertawa-tawa. Tak lama seseorang masuk tergopoh-gopoh.


"Buruan, kita harus pergi dari sini." ujar orang yang baru datang itu dengan panik dan tergesa-gesa.


"Ada apaan?"


Si ex sugar baby bertanya, diikuti tatapan yang lainnya.


"Tempat ini bakalan di serang sama beberapa orang."


"Ah, diserang gimana?" tanya semua yang ada di ruangan itu.


"Pokoknya ada yang nggak suka sama lembaga ini, kita harus buruan menyelamatkan diri."


"Ya lo tau dari mana?"


Ex sugar baby lain ikut bertanya.


"Dor, dor, dor."

__ADS_1


Terdengar suara tembakan di luar sana. Seisi ruangan panik dan bergegas menutup dan mengunci pintu dari dalam. Karena sepertinya sudah tak mungkin lagi untuk lari.


Mereka juga mengunci setiap kaca dan juga menutup segala akses yang tersedia. Sambil berteriak-teriak mereka naik ke lantai atas dan menonaktifkan lift. Mereka kemudian masuk ke sebuah ruangan dan menguncinya dari dalam.


Sementara di luar sekelompok penyerang mulai menghancurkan kaca dan mencoba membobol pintu.


***


"Mas, dimana?"


Lea menelpon Daniel, ketika pria itu masih dalam perjalanan pulang.


"Masih di jalan, Le. Kenapa?" Daniel balik bertanya.


"Pulang mas, koq perasaan aku nggak enak ya?" ujar Lea.


"Iya ini mau pulang, kenapa perasaan kamu emangnya?" tanya Daniel lagi.


"Nggak tau, nggak enak aja mas. Ayah mana ya?"


"Richard kayaknya lagi di jalan juga, tapi nggak tau deh. Tadi siang bilangnya kalau sore ini dia ada janji sama kliennya atau apa gitu."


Lea menarik nafas cemas.


"Ada apaan sih, Le?" tanya Daniel lagi.


"Kamu tuh kebanyakan nonton film pasti." lanjutnya kemudian.


"Nggak tau mas, nggak kayak biasanya aku kayak gini. Ini kamu udah dekat apa masih jauh?"


"Ya sekitar 15 sampai 20 menitan lah." jawab Daniel.


"Ya udah hati-hati di jalan mas. Aku mau telpon ayah dulu deh."


"Ya udah, nggak usah cemas. Bentar lagi aku sampe koq."


"Iya mas."


"Bye Lea."


Lea menyudahi telpon tersebut sementara Daniel melanjutkan perjalanan.


***


"Ayah."


Lea menelpon Richard yang tengah bermain bilyard bersama klien bisnisnya.


"Kenapa Lea?" tanya Richard pada anaknya itu. Ia kini agak menjauh dari teman-temannya.


"Ayah dimana?" tanya Lea.


"Lagi sama temen-temen ayah, kenapa?"


"Pulang dong yah. Perasaan aku nggak enak banget." ujar Lea.


"Nggak enak gimana?"


"Ya nggak enak aja, kepikiran sama ayah, sama mas Daniel. Takut kalian ada apa-apa gitu."


Richard menghela nafas sambil tertawa.


"Kamu lagi over thinking aja kali. Nggak ada apa-apa koq, ayah baik-baik aja dan disini aman-aman aja."


Lea diam, dalam hatinya ia tak mampu melawan perasaan tak enak itu. Dan seakan mengerti Richard pun akhirnya menjawab.


"Oke, ayah pulang bentar lagi. Kamu tenang aja ya."

__ADS_1


"Iya yah."


Lea menyudahi telponnya dan kini ia beralih menelpon Ellio.


"Iya kenapa Lea?" tanya Ellio yang saat ini masih di jalan. Ia hendak mengantar Marsha ke apartemen.


"Om El dimana?" tanya Lea.


"Di jalan, mau nganter Marsha." jawab Ellio.


"Oh, hati-hati ya om. Kalau bisa abis itu langsung pulang ke rumah."


"Kenapa emangnya Lea?" tanya Ellio heran.


"Nggak apa-apa om, cuma..."


"Cuma apa?"


"Dari tadi tuh aku ngerasa nggak enak hati terus sama mas Dan, ayah, terus sama om juga. Kayak nggak tenang aja kepikiran kalian bertiga."


Ellio tertawa kecil.


"Kamu tenang aja ya, Le. Om El baik-baik aja koq. Ini juga bakalan hati-hati."


"Iya om, aku cuma minta itu aja. Mana tau ada orang yang niat jahat sama kalian."


"Iya, om pasti waspada koq." ujar Ellio lagi.


"Oke om, udah dulu ya Darriel nangis."


"Oke-oke."


"Bye om El."


"Bye Lea."


Lea menyudahi telpon tersebut. Marsha bertanya pada Ellio ada apa dan Ellio pun menjelaskan.


"Biasalah ibu baru, jadi lebih sensitif." ujar Ellio sambil tersenyum.


"Nanti kalau saya punya anak, gitu juga kali ya pak?" tanya Marsha.


"Ini kan udah ada." ujar Ellio seraya mengusap perut Marsha.


"Ih bapak mah."


"Orang udah buncit gini, kerasa kan?" ujar pria itu lagi.


"Ini kan abis makan tadi."


Marsha merengek kesal tetapi dengan nada yang cukup manja dan menggemaskan.


"Hamil tau ini, liat nih kenceng gini."


Ellio masih terus mengganggu Marsha, sebab ia menyukai ekspresi sewot dari kekasihnya itu.


"Ih bapak gitu deh. Ntar di denger orang, dikira hamil beneran."


Ellio menghentikan laju kendaraan di bahu jalan. Kemudian ia menatap Marsha dan masih memegang perut wanita itu.


"Kamu nggak mau, hmm?"


Marsha diam, tatapan mata Ellio seolah melumpuhkan seluruh tubuhnya. Tak lama Ellio pun mencium sambil mengusap perut kekasihnya itu dengan lembut.


"Nanti anak-anak kita akan tumbuh disini." ujarnya kemudian.


Marsha tersenyum, lalu tanpa sadar ia membelai kepala laki-laki itu. Ellio kemudian mencium bibir Marsha dan Marsha pun membalasnya.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Sha."


Ellio berujar dengan setulus hati, matanya berkaca-kaca demi mengatakan hal tersebut. Tak lama keduanya saling berpelukan.


__ADS_2