
Lea tak bisa tidur, pasalnya tubuh perempuan itu memberikan tanda jika ia rindu pada sentuhan tangan Daniel.
Gundukan kembar di dadanya mendadak kencang dan ingin sekali di remas oleh sang suami. Begitu juga dengan area sensitifnya, yang tiba-tiba ingin di jamah dan dihujani cinta oleh Daniel.
"Hmmh."
Lea mengeluarkan suara desah, saat ia dengan sengaja menyentuh salah satu bagian dadanya.
"Kenapa sih gue yang harus ngerasa gini?. Kan tengsin kalau gue minta duluan, dalam keadaan lagi diem-dieman gini. Mau tarok dimana harga diri gue?"
Lea menghembuskan nafas, mencoba memikirkan hal lain. Namun lagi-lagi seluruh area sensitif di tubuhnya mengeluarkan denyutan. Membuat perempuan itu rasanya ingin menghampiri Daniel, lalu membuka baju dihadapan suaminya itu.
"Duh Lea, tahan-tahan. Harga diri lo mau di tarok kemana, kalau lo bertingkah kayak cabe-cabean."
Ia mengingatkan dirinya sendiri, tak lama ia pun mengambil MacBook miliknya dan mulai berselancar di internet. Perempuan itu mencari berbagai drama Korea, agar keinginannya untuk bercinta dengan Daniel bisa ternetralisir.
"Nonton ini aja deh, kebetulan belum nonton episode barunya. Kan lumayan ngeliatin si Om Lee Dong Wook sama babang Kim Bum. Walau pemeran ceweknya B aja sih menurut gue mukanya. Ngeselin juga, sok kecakepan."
Lea membuka serial tersebut sambil menggerutu. Pasalnya ada dua idolanya yang bermain di sana, yakni Lee Dong Wook dan juga Kim Bum. Namun ia tak menyukai pemeran wanitanya lantaran terlihat terlalu biasa menurut Lea.
Karena ingin mengaburkan Daniel dari pikiran, maka Lea pun menyadarkan diri di bantal dan mulai menonton. Ia juga mengambil cemilan yang ia simpan di laci tempat tidur, kebetulan ia masih memiliki beberapa di sana.
Awal menonton, ia senyum-senyum sendiri. Karena langsung memperlihatkan tokoh-tokoh yang ia sukai. Ada beberapa saat dimana ia mencibir, ketika tokoh wanita mulai muncul dan berdialog.
"Ngapain sih mesti ada scene dia, mukanya itu loh nyebelin." ujarnya.
Waktu berjalan, Daniel sudah hilang dari benak Lea. Perempuan itu tampak nyaman menikmati alur serial, sampai kemudian.
"Duh, kenapa sih si Lee Dong Wook pake acara bertelanjang dada segala?. Huh."
Sekujur tubuh Lea kembali bereaksi, ia kini mendadak ingat pada tubuh suaminya yang sixpack dan berotot.
"Salah nih gue nonton ini, racun."
Lea menyudahi drama Korea tersebut dan mencari alternatif lain. Lagi-lagi di tengah acara menonton, ia berubah kesal.
"Ini si bang Limin, kenapa pake adegan ciuman segala dah?"
__ADS_1
Ia menggerutu ketika aktor Lee Min Ho beradegan ciuman di dalam serial tersebut.
"Perasaan di TV dulu, gue nggak pernah liat dia akting beginian." lanjutnya lagi.
"Skip lah."
Lea menyudahi tontonan itu dengan kesal. Ia tak mau mencari drama Korea lagi, karena takut terjebak keuwuan yang menyesakkan jiwa.
Perempuan itu beralih ke film dan serial lainnya, namun ternyata sama saja. Masih banyak yang menampilkan adegan kemesraan. Hingga ketika ia benar-benar menyerah, tiba-tiba terbersit ide di kepalanya. Lea pun tersenyum Venom.
***
Daniel tengah berkutat di depan laptop, tepatnya di kursi ruang makan. Ketika Lea akhirnya melintas ke arah kulkas, dengan mengenakan pakaian tipis menerawang dan wewangian yang menggoda.
"Braaak."
Lea membuka pintu kulkas tersebut dan mengambil air minum. Biasanya ia akan membawa botol minum tersebut ke kamar, namun tidak kali ini. Ia sengaja mengambil gelas lalu menuang dan meminumnya di tempat yang sama.
Ia sengaja ingin menggoda sang suami. Agar ia tak harus baik duluan, meski sudah sangat ingin di sentuh rasanya. Ia ingin Daniel yang memulai.
Lea minum dengan lambat sekali, sambil melirik ke arah Daniel. Namun pria itu tampak cuek, dengan masih memperhatikan pekerjaan.
"Batu banget sih." gerutu Lea dalam hati.
Ia coba memasang pose minum sexy, seperti yang dilakukan para brand ambassador minuman di iklan televisi. Namun sampai Lea nyaris encok pun, Daniel tetap fokus pada pekerjaannya.
"Braaak."
Lea kembali menutup pintu kulkas dan berlalu dengan kesal.
"Oh ya udah kalau jual mahal, gue bayarin." ujarnya dalam hati.
Lea kembali ke kamar dan merebahkan diri ke atas tempat tidur. Ia begitu kesal pada Daniel.
"Liat aja ntar kalau minta, nggak gue kasih. Sakit, sakit dah tuh pala kalau nggak di keluarin." lanjutnya kemudian.
Lea mencoba untuk tidur, namun hasrat kembali menguasai perempuan itu. Ia merasakan sensasi kegelian di area vitalnya bahkan terasa hingga ke perut.
__ADS_1
"Duh nih bayi, minta di kunjungi lagi sama bapaknya. Nggak bisa liat apa bapaknya cuek gitu."
Lea memejamkan mata, namun gairah itu makin lama makin memuncak. Akhirnya karena tak tahan, ia mulai menggunakan tangannya untuk memberikan remasan dan rabaan di sekujur tubuh. Lea membayangkan Daniel yang melakukan hal tersebut.
"Hmmh."
"Hmmh."
Desahnya dengan suara amat sangat pelan, ia takut dari luar Daniel akan mendengar semua ini dan ia akan malu.
"Ssshh, hmmh." Lagi dan lagi ia mendesah.
"Mas Dan, maaas."
Lea menyebut nama suaminya, tanpa Lea sadari jika ia tak menutup pintu dengan rapat. Hingga ketika ia tenggelam dalam permainannya sendiri, tiba-tiba Daniel masuk dan langsung menyentuh area sensitif miliknya.
Lea terkejut, namun Daniel segera mencium bibir istrinya itu. Lea yang sudah kehausan kini pasrah. Apalagi ketika jari tangan suaminya itu melesak masuk, Lea makin meracau dan belingsatan.
"Mas, hmmh."
Daniel terus mencium Lea dan Lea membalas perlakuan itu. Sampai kemudian Daniel melucuti penutup yang ada di tubuhnya dan juga tubuh Lea.
"Ah maaas."
Sesuatu yang besar melesak masuk di bawah sana tanpa aba-aba. Pikiran mereka yang kacau akibat masalah, kini mendadak menjadi ringan melayang.
Daniel mulai memompa istrinya itu dengan tempo perlahan, sedang Lea matanya sudah naik ke atas. Hanya bagian putihnya saja yang kelihatan, saking ia menikmati permainan ini.
Erangan, racauan, terdengar hampir setiap saat dan memenuhi ruangan. Lea telah mengusir egonya jauh-jauh. Karena siapa yang bisa menolak jika sudah diperlakukan seperti ini.
"Berbalik sayang...!"
Daniel meminta sang istri untuk mengubah posisi. Lea kini dalam posisi merangkak di hadapan suaminya itu. Lalu, Daniel kembali memulai permainan. Mereka benar-benar seperti menuntaskan dahaga.
Hingga ketika waktu telah cukup lama berlalu, Daniel mengerang dengan tubuh yang menegang. Hal yang sama juga terjadi pada Lea. Sebelum akhirnya mereka sama-sama merasakan sensasi seperti disetrum ratusan kenikmatan.
"Lea, aaakh."
__ADS_1
"Maaas."
Keduanya lalu sama-sama terbelalak dalam diam dan terhempas penuh kepuasan. Kini hanya nafas memburu yang tersisa, juga sebuah senyuman di bibir masing-masing.