
Arkana tersenyum saat mobil Richard yang mengantarnya tiba di sekolah. Kebetulan saat itu ada beberapa teman yang melihat dirinya berada di dalam mobil tersebut.
"Om, Arka seneng deh pagi ini. Walaupun ini yang pertama dan terakhir, Arka nggak akan pernah menyesal."
Richard menoleh pada anak itu.
"Koq kamu ngomong gitu?" tanya Richard heran.
"Ya, Arka nggak tau apa kita bisa kayak gini terus atau nggak. Tapi yang jelas Arka suka dengan pagi ini. Arka seneng dianterin sama om. Kayak berasa Arka tuh punya papa."
Batin Richard bergemuruh. Ia kemudian menarik nafas panjang, lalu mengusap kepala anak itu dengan tangannya barang sejenak.
"Sana masuk!. Udah siang." ucap Richard.
Arkana mengangguk lalu mencium tangan pria itu. Tak lama ia keluar dari dalam mobil dan langsung bergabung dengan teman-temannya.
Seorang guru dari kejauhan tampak memperhatikan keadaan tersebut. Ia belum pernah melihat Arkana sebahagia itu sebelumnya.
Richard melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Ia sampai agak siang, sebab mampir dulu ke sebuah tempat untuk sarapan dan mendapatkan kopi. Tadi di rumah ia tak sempat melakukan hal tersebut, demi mengejar jam agar bisa mengantar Arkana.
"Bro, baru datang?"
Tanya Ellio yang kebetulan melintas di dekat tempat dimana Richard kini berjalan.
"Iya, dari ngopi gue." Richard memberikan alasan yang simpel.
"Ah nggak ngajak gue lo." seloroh Ellio.
"Lo bukannya ada rapat hari ini?"
"Ada sih, tapi ditunda sampe siang nanti." jawab Ellio.
"Loh, kenapa?"
"Ad hal yang mesti di urus dulu." Lagi-lagi Ellio menjawab.
"Oh ya udah, Dan udah dateng?" tanya Richard.
"Udah, si Darriel sakit katanya." tukas Ellio.
"Oh ya?. Sakit apa?" Richard kaget.
"Biasa, demam." jawab Ellio.
"Ya udah, gue ke Daniel dulu." ujar Richard.
"Oke, gue juga mau ngurusin ini dulu."
Ellio memperlihatkan sebuah file yang ada di tangannya.
"Apaan tuh?" tanya Richard penasaran.
"Rahasia perusahaan gue lah." seloroh Ellio.
Richard kemudian tertawa dan bergerak menuju ke ruangan Daniel. Sementara Ellio kini berlalu, guna menyelesaikan urusannya.
"Bro."
Richard membuka pintu ruang kerja sang menantu.
"Hei, bro."
Daniel menyapa mertuanya itu. Richard hanya berdiri di pintu dan melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Darriel sakit?"
"Iya, semalam panas banget badannya." jawab Daniel.
"Udah di bawa ke dokter?" tanya Richard.
"Lea udah chat dokter dan katanya demam Darriel masih dalam kategori yang wajar." jawab Daniel lagi.
Richard menghela nafas agak panjang.
"Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin gue." tukasnya kemudian.
Daniel mengangguk.
"Lo baru datang?" tanya pria itu.
"Iya, dari ngopi gue."
Richard mengungkapkan alasan yang sama, dengan apa yang tadi ia katakan pada Ellio.
"Oh ya, gue masuk dulu." tukas Richard lagi. Dan lagi-lagi Daniel mengangguk.
Richard lalu keluar dan menutup kembali pintu, ia kini bergerak ke arah kantornya. Sementara Daniel melanjutkan pekerjaan.
***
Lea mengurus Darriel dengan penuh kesabaran, meski sejatinya ia ingin ikut menangis ketika Darriel menangis.
Ini bukan kali pertamanya Darriel mengalami demam. Namun tetap saja Lea merasa khawatir yang amat sangat.
"Hokhoaaa."
Darriel bersuara seraya menatap ibunya itu. Kini mereka tengah berada di dalam kamar.
"Apa sayang?. Kasihan anak mama." ujarnya.
"Hokhoaaa."
Lea mengusap dan membelai kepala anaknya itu dengan lembut, lalu mencium keningnya.
"Heheee."
Darriel tertawa sejenak. Dan Lea kembali mencium pipi anak itu.
Tak lama Richard menelpon.
"Le."
"Iya yah." jawab Lea.
"Arkana sakit?" tanya pria itu.
"Arkana?"
"Eh, Darriel maksudnya."
Richard membenarkan ucapannya yang salah. Lea seketika teringat pada nama anak dari Nadya tersebut. Lea tau kedekatan antara sang ayah dan istri serta anak dari teman suaminya itu. Namun ia berpura-pura tidak tahu-menahu.
"Iya yah, dari semalam dia sakit." jawab Lea.
"Udah dibawa ke dokter?" tanya Richard lagi.
"Aku udah chat dokter dan katanya demam Darriel masih wajar. Cukup dikasih ASI aja. Lagian panasnya sudah turun." ucap Lea.
__ADS_1
"Ayah boleh video call ya, mau liat Darriel."
"Boleh koq yah."
Richard mengganti mode panggilan. Kemudian ia dapat melihat sang cucu yang tengah terbaring. Darriel terlihat antusias meski tak se-energik biasanya.
"Cucu papa kenapa?" tanya Richard pada bayi itu.
"Hokhoaaa." Darriel menjawab sambil berusaha tersenyum.
"Sakit ya kamu?" ujar Richard lagi.
"Hokhoaaa."
"Cepet sembuh ya."
"Hokhoaaa."
"Nanti kita jalan-jalan kalau udah sembuh."
"Hokhoaaa."
Richard kembali berbicara pada Lea. Tak lama ia pun berpamitan dan melanjutkan pekerjaan. Sementara Lea menidurkan Darriel.
***
Kembali ke saat tadi Arkana di antar oleh Richard.
"Ka, tadi itu siapa?"
Salah satu teman Arkana yang baru melihat Richard, bertanya. Saat itu Arkana baru keluar dari dalam mobil dan Richard baru hendak bergerak pergi.
"Calon papa baru." jawab Arkana sambil tertawa kecil.
"Oh ya?"
Semua teman-teman Arkana kaget.
"Iya." jawab Arkana antusias.
"Wah, emangnya orang tua lo udah pisah?" tanya temannya lagi.
"Belum, tapi akan segera koq." jawab Arkana.
Semua teman-teman anak itu tampak senang. Sebab selama ini mereka pun tau jika Arkana suka mengeluh, mengenai hubungannya dengan sang ayah yang memang tidak dekat sama sekali.
"Undang kita ya nanti, kalau mereka nikah." seloroh temannya yang lain. Arkana pun lalu tertawa.
"Iya." jawabnya kemudian.
Sementara di sisi lain, Nadya kini mengadakan pertemuan dengan seorang sahabat lama yang berprofesi sebagai pengacara.
Sebenarnya mereka hanya janji bertemu biasa. Sebagai teman lama yang ingin bersua dan menanyakan kabar masing-masing. Tetapi kemudian Nadya terbuka dengan permasalahan rumah tangganya saat ini.
Sudah barang tentu temannya itu kaget, dan tak menyangka jika Nadya di madu oleh suaminya sendiri. Tapi temannya itu juga senang, akhirnya Nadya sadar saat ini. Jika ia juga berhak untuk bahagia.
"Gue pengen cerai." ujar Nadya pada temannya itu.
"Gue nggak mendukung perceraian. Tapi kalau kasusnya kayak lo gini, gue akan bela lo sampai kapanpun." ujar temannya itu.
"Laki-laki model suami lo itu nggak perlu banyak di kasih hati, Nad. Lo cantik, lo berhak dapat yang lebih baik lagi." lanjutnya kemudian.
Nadya mengangguk, meski agak sedikit membuang pandangan matanya ke bawah lantaran ia begitu sedih atas hidupnya selama ini.
__ADS_1
"Lo persiapkan aja berkas-berkasnya. Gue bantu pengakuan perkara ke pengadilan." ujar temannya itu lagi.
Nadya seperti makin tercerahkan mendengar semua itu. Saat ini memang dirinya bertekad untuk segera menggugat cerai sang suami. Ia sudah muak dengan kehidupan rumah tangganya sendiri.