Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Netizen Semakin di Depan


__ADS_3

"Le, Lo ngampus?"


Vita bertanya pada Lea di telpon.


"Iya kenapa Vit?" Lea balik melempar pertanyaan pada temannya itu.


"Si Nina di tempat gue, semalem berantem katanya."


"Hah, serius?" tanya Lea kaget.


"Iya, suaminya udah mengakui semua kalau dia punya bini."


"What the f...." Lea berujar tanpa sengaja.


"Emang brengsek itu lakinya dia." ujar Vita lagi.


"Wah parah sih, kecurigaan kita dari awal emang nggak salah." tukas Lea.


"Lo sadar nggak sih Le, rata-rata dari kita itu kayak dianggap remeh dan dianggap recehan gitu loh oleh laki-laki berduit. Termasuk lakinya si Nina tuh, kayak ngeremehin Nina banget."


"Gue sadar Vit, sadar sepenuhnya. Walaupun gua nggak mengalami yang mereka semua alami. Tapi gue sadar, kalau cewek yang awalnya nggak punya modal kayak kita. Belum punya pendidikan tinggi, nggak mandiri dan nggak punya tabungan sendiri itu gampang diremehkan. Karena cowok-cowok berduit menganggap kalau kita tuh, akan luluh hanya karena di iming-imingi duit. Mereka jadi ngegampangin kita, kayak benda yang bisa dibayar."


"Dari didikan orang-orang tua kita aja udah salah, Le. Udah salah dari lama, salah secara turun temurun. Lo liat aja di hampir seluruh wilayah, didikannya sama untuk anak perempuan. Harus bisa masak, berberes rumah tangga, bisa ini, bisa itu, supaya nanti bakal dipilih sama laki-laki. Harapannya dipilih sama laki-laki yang mapan berduit, biar hidup terjamin. Akibatnya cewek tumbuh jadi bahan untuk dipilih. Kalau nggak sesuai kriteria si cowok, ya nggak dipilih. Kayak jualan baju tau nggak."


"Ember." jawab Lea.


"Lahir cuma buat jadi kandidat." lanjutnya kemudian.


"Selalu yang dicamkan ke dalam diri anak perempuan, "Cari laki-laki berduit, realistis. Hidup butuh duit".


"Tapi nggak pernah ada yang bilang ke anak perempuannya, "Jadi cewek tuh cari duit, mandiri. Realistis aja, karena cowok juga manusia. Suatu saat bisa aja nyakitin atau ninggalin kita. Karena cowok setia dan baik itu hanya sekian persen". Nggak ada yang ngomongin anak cewek ya begitu."


"Hhhh, dahlah. Hayati capek." ujar Lea.


"Emak gue noh salah satu yang selalu ngomongin gue gitu. Suruh cari laki-laki berduit biar terjamin. Ternyata jaminannya nggak mutu." ujar Vita.


"Zonk ya wak?" tukas Lea.


"Ember."


"Lea masuk...!"


Adisty yang tengah melintas menyapa Lea dan mengajaknya untuk masuk ke kelas. Karena sebentar lagi kelas akan dimulai.


"Eh Vit, gue masuk dulu. Ntar gue ketempat lo deh, selesai kuliah."


"Ok, gue tunggu."

__ADS_1


"Ok."


"Eh Le, titip cilor sama telur gulung dong yang depan kampus."


"Ok, apa lagi?"


"Hmm, itu aja deh. Tapi terserah lo kalau kira-kira ngeliat ada yang enak, bawain."


"Ok sip."


Vita kemudian menyudahi telpon dan Lea masuk ke kelas.


***


Mami Bianca hari ini keluar dari rumah sakit, setelah beberapa hari beristirahat pasca operasi pengangkatan rahim yang dilakukan padanya. Namun ketika mobil yang membawanya itu tiba di muka gerbang apartemen, mereka di cegat oleh sekumpulan wartawan.


Para sekuriti sudah menghalau wartawan-wartawan tersebut. Namun tetap saja mereka mampu menjangkau. Sebab jumlah mereka banyak, sedang tenaga keamanan apartemen yang bertugas saat itu hanya sedikit.


"Mam, mami gimana soal nasib anak asuhan mami yang sekarang sedang terpuruk mi?"


Seorang wartawan bertanya dengan suara lantang. Sedang Bianca hanya duduk lesu di kursi roda. Baru saja asisten dan dua orang kepercayaan lainnya membantu wanita itu keluar dari mobil.


"Tolong ya, ibu Bianca butuh istirahat." ujar salah satu dari mereka.


"Gimana tanggung jawab mami sebagai pemilik agency dan bagaimana tanggapan mami, setelah muncul pernyataan yang menyudutkan oleh mantan rekan kerja mami?"


"Iya mi, gimana mi. Katanya mami tuh memang sengaja berbisnis kotor, karena duitnya gede. Dan katanya mami ada bekingan orang hebat mi." tanya yang lainnya.


"Kasih tanggapannya dong mi."


Suasana menjadi sedikit ricuh. Para wartawan berusaha mendekati mami Bianca, disaat sekuriti semakin getol menghalangi. Mami Bianca terus diam, sedang ia kini di dorong oleh asistennya untuk sampai ke pintu lobi.


Tak hanya mami Bianca saja yang kualahan menghadapi wartawan. Para sugar daddy yang sudah ketahuan beberapa orang pun, tak luput dari pengejaran netizen.


Saat mengadakan konferensi pers, pengacara mami Sonia yang saat ini tengah ditahan menyatakan. Jika para sugar daddy juga harus ikut bertanggung jawab.


Salah satu sugar daddy yang melakukan kekerasan pada salah satu sugar baby, saat ini ada yang sudah di selidiki dan hampir ditahan. Hanya tinggal menunggu bukti sedikit lagi saja.


Dan meskipun sugar daddy yang resmi terlapor baru satu orang, bukan netizen namanya jika tidak mengetahui nama dan data sugar daddy yang lainnya.


Ada yang menyatakan, jangan meremehkan kemampuan intelijen dan investigasi dari para warganet. Sebab dewasa ini warganet lebih cepat mencari tau akan sesuatu, layaknya agen rahasia.


Kini semakin banyak sugar daddy yang di kejar-kejar wartawan maupun admin akun lambe-lambean. Salah satunya bos yang mempunyai showroom mobil sport di salah satu kawasan.


"Pak Harry, minta waktunya sebentar pak."


Wartawan mencegat bos showroom mobil tersebut, tepat disaat Ellio baru tiba di tempat yang sama. Ellio ada janji dengan bos mobil tersebut, karena Ellio biasa memesan kendaraan padanya.

__ADS_1


"Tolong jangan ganggu saya, saya sibuk." ujar Harry seraya merapatkan kedua telapak tangannya, tanda meminta maaf.


"Apakah benar bapak adalah salah satu orang yang pernah datang untuk mencari sugar baby di SB Agency?"


Seorang wartawan kembali bertanya secara gamblang. Ellio yang saat itu berada bangku di tengah mobilnya, tampak memperhatikan.


"Pak, kita pulang aja." ujar Ellio pada sang supir.


Ia takut jika dirinya juga akan menjadi bulan-bulanan wartawan tersebut. Maka supir Ellio pun akhirnya kembali memutar arah dan menjauh dari showroom itu. Sementara Harry bersusah payah untuk menghindar dari kerumunan.


***


"Lo kenapa bro?"


Daniel bertanya pada Ellio ketika mereka akhirnya bertemu di kantin kantor. Ini sudah jam istirahat makan siang, dan baik dirinya, Daniel maupun Richard baru saja bertemu di tempat ini hari ini.


Setelah tadi pagi mereka sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Siang itu boleh dibilang wajah Ellio tampak lesu dan tidak bersemangat seperti biasa.


"Gue tadi ke showroom nya Harry. Banyak banget wartawan yang ngejer dia, buat minta keterangan."


"Harry Wijaya?" tanya Richard.


"Iya Harry Wijaya." ujar Ellio lagi.


"Ngapain wartawan nyariin dia?" Daniel kembali bertanya.


"Soal kasus Benny Iskandar, yang diduga mukulin sugar baby nya itu. Kan Harry sohib tuh sama dia, dan dia juga ikut pas malem itu ke SB Agency. Makanya dia di kejer-kejer. Gue juga khawatir bakalan di ganggu privasi gue. Masalahnya nama gue terdaftar disitu sebagai pencari sugar baby."


Daniel menghela nafas.


"Gara-gara berita waktu itu tuh, yang sugar baby melapor ke polisi." ujar Daniel.


"Iya, mana si mami Sonia kan bocor juga ke polisi. Pengacaranya minta supaya siapapun sugar daddy yang ngambil cewek dari situ mesti ikut di usut. Mana netizen tau aja lagi siapa-siapa yang pernah kesana."


"Iya, walaupun cuma satu dua orang yang mereka tau. Tapi lama-lama bakal merambat itu." timpal Richard.


"Lo sama gue juga bakalan kena imbasnya." ujar Daniel.


Richard mengerutkan kening.


"Lah iya dong, lo dapat Dian dari mana kalau nggak dari situ?"


"Iya juga ya." ujar Richard.


"Gue ketemu Lea juga disitu." lanjut Daniel.


Ketiganya lalu sama-sama terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2