Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pembalasan


__ADS_3

Marvin dengan penuh percaya diri melangkah memasuki area perkantoran. Saat itu ia bergegas langsung menuju lantai tempat dimana ruangannya berada.


Seperti biasa ia memesan kopi panas, pada salah seorang office girl yang sudah datang terlebih dahulu.


Kemudian ia masuk ke ruangan, yang air conditionernya kebetulan telah di hidupkan. Ruangannya tersebut sudah rapi dan ia siap untuk bekerja.


Marvin meletakkan laptopnya di atas meja, lalu mengambil tablet yang ada di dalam laci. Ia mulai membuka media berita online, dan mencari berita menarik.


"Seorang pengusaha muda menghamili wanita tanpa tanggung jawab."


"Degh."


Batin Marvin seketika bergemuruh melihat headline news yang ada di depan matanya. Ia kemudian membaca berita tersebut.


"Seorang wanita yang tak mau disebutkan nama serta identitasnya, mengaku telah dihamili oleh seorang pengusaha bernama Marvin Andreas Devano. Seorang pengusaha yang bergerak di bidang......"


Marvin begitu terkejut membaca semua itu. Segera saja ia menghubungi beberapa orang yang ia kenal. Ia benar-benar panik atas pemberitaan tersebut.


Mengapa bisa sebuah media menyebutkan namanya secara gampang tanpa inisial. Ia lupa jika kemarin-kemarin ia juga membayar berbagai media untuk melakukan hal yang sama terhadap Daniel.


Sementara di lain pihak, Ellio yang baru saja datang kini tampak tergopoh-gopoh menghampiri Daniel dan juga Richard yang juga baru tiba di halaman parkir kantor.


"Bro." ujar Ellio dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Kenapa lu, bro?" tanya Daniel heran. Richard turut menatap Ellio dengan kening yang berkerut.


"Lo baca ini." ucap Ellio seraya menyodorkan tablet miliknya. Daniel meraih tablet tersebut dan mulai membaca apa yang Ellio perintahkan. Beritanya mengenai Marvin.


Daniel menatap Ellio, kemudian menatap Richard. Richard hanya tersenyum kemudian berlalu. Daniel tau ini perbuatan dari mertuanya itu.


"Lo, nggak takut ngarang berita kayak gini?" tanya Daniel pada Richard sambil berjalan, diikuti Ellio.


"Gue nggak ngarang koq, emang itu bener." jawab Richard.


"Maksudnya?"


"Dia emang menghamili cewek, dan cewek itu udah stress sekarang."


"Lo tau dari mana?"


"Dari kakaknya itu cewek." jawab Richard.


"Dia minta tolong ke gue untuk bisa menekan Marvin. Karena dia tau kalau gue kenal Marvin." lanjutnya lagi.


Daniel dan Ellio mengerutkan kening.


"Siapa sih orangnya?" tanya Daniel.


Ia kini menunggu jawaban, sama halnya seperti Ellio. Richard menghentikan langkah lalu menoleh.


"Clarissa." jawabnya kemudian.


"Clarissa?" gumam Daniel dan Ellio di waktu yang nyaris bersamaan.

__ADS_1


"Clarissa yang?" Ellio bertanya pada Richard.


"Iya, siapa lagi." ujar Richard.


Maka Daniel dan Ellio pun terkejut. Mereka kini masuk ke dalam lift. Ketika tiba di atas mereka melanjutkan percakapan.


"Lo udah liat keadaan dia?" tanya Ellio pada Richard lagi, sementara Daniel hanya memperhatikan.


"Iya, dan dia depresi berat. Saat ini lagi dibawah pengawasan keluarganya, and maybe ke psikolog kali." jawab Richard.


"Yang jelas, inilah saatnya kita serang Marvin." lanjutnya kemudian.


Ketiga sahabat itu kemudian saling menatap satu sama lain.


***


"Ini siapa yang bikin berita kayak gini?"


Marvin marah dihadapan dua dari sekian komplotannya. Sebab penyedia layanan berita online tersebut pun tak dapat di kontak dan memberi penjelasan.


"Ya mungkin cewek lo, kali." salah seorang dari mereka bicara.


Marvin kini benar-benar naik pitam. Jika memang Clarissa lah pelakunya, maka ia akan membuat perhitungan dengan perempuan itu.


Ia tidak akan mengampuni maupun memaafkan, sekalipun perempuan itu tengah mengandung. Sebab ia yakin betul itu bukanlah anaknya, melainkan anak dari sugar daddy yang memelihara Clarissa selama ini.


"Lo harus hubungi itu cewek." ujar rekannya lagi.


"Nggak bisa, tadi udah gue coba berkali-kali dan nomor dia tuh no service." ucap Marvin.


Marvin kini berpikir, benar apa yang dikatakan temannya itu. Ia harus segera menemui Clarissa. Maka dengan mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja kerja, pria itu pun lalu beranjak.


***


Lea kembali ke kampus setelah sekian hari kuliah dari rumah. Ia menitipkan Darriel pada asisten rumah tangga.


Namun di sepanjang kegiatan perkuliahan berlangsung, ia tak bisa berkonsentrasi. Pasalnya selalu terpikir akan Darriel.


Ini kali pertamanya ia meninggalkan Darriel dengan seorang asisten rumah tangga. Biasanya selalu ada Richard ataupun Daniel yang dirumah.


"Mbak, Darriel nangis nggak?"


Lea mengirim pesan singkat pada asisten rumah tangga itu melalui WhatsApp.


"Nggak, mbak Lea. Dari tadi Darriel tidur." balas sang asisten rumah tangga.


Lalu ia pun mengirim foto Darriel yang tengah tertidur lelap. Lea lega rasanya dan mulai kembali memperhatikan dosen.


Namun tiba-tiba,


"Apa jangan-jangan Darriel dikasih obat tidur ya?"


Pikirannya malah kemana-mana. Dan Lea berusaha keras untuk menepis prasangka semacam itu.

__ADS_1


"Ah nggak, orang mbaknya baik koq. Nggak mungkin dia tega sama Darriel." pikirnya.


Lalu ketakutan itu kembali menghilang, namun muncul lagi di menit-menit berikutnya. Membuat Lea terlihat resah dan juga gelisah.


"Lo kenapa, sih Le?" tanya Adisty yang sejak tadi memperhatikan.


"Gue kepikiran anak gue, Dis." ucap Lea.


"Lagian ini dosen, nggak boleh nggak Dateng lagi hari ini." lanjutnya kemudian.


"Emang dirumah ada siapa aja?" tanya Adisty.


"Asisten rumah tangga doang. Gue titip ke mereka."


"Bokap sama laki lo, kerja?"


"Iya, makanya gue khawatir banget ini." ucap Lea lagi.


"Udah positif thinking aja. Mikir yang baik-baik, pasti hasilnya nanti baik."


"Iya sih, harusnya gue nggak boleh prasangka buruk kayak gini." ucap Lea.


"Lagian kalau mereka ngapa-ngapain Darriel kan, resikonya berhadapan sama bapak lo, laki lo dan pihak yang berwajib juga."


"Iya sih."


Mereka kemudian kembali melanjutkan perkuliahan.


***


Saat kuliah selesai Lea buru-buru pamit pada teman-temannya. Saat itu dari arah lain Vita dan Nina baru saja mendekat.


"Gue balik ya." ucap Lea.


"Buru-buru amat." caletuk Vita.


"Anak gue, gue tinggalin sama asisten rumah tangga. Khawatir gue, ntar kayak di TV-TV." ujarnya.


"Ya udah, lo hati-hati. Baru mau ngajak makan ketoprak." tukas Nina.


"Ntar lain kali ya."


"Iya." jawab keduanya serentak.


Lea lalu berlarian ke arah mobil yang biasa mengantarnya. Disepanjang perjalanan tentu saja ia merasa cemas. Tetapi sampai dirumah, Darriel tampak tertawa-tawa di ayunan elektrik.


"Darriel, mama kangen." ucap Lea seraya mendekat dan mencium pipi Darriel.


Bayi itu tertawa. Ia sudah sedikit lebih ramah kepada Lea, meski Lea adalah musuh bebuyutannya. Apabila ibunya itu telah mengeluarkan nyanyian yang membuatnya takut.


"Dari tadi nggak ada nangis, mbak?" tanya Lea pada asisten rumah tangga yang kebetulan ada di dekatnya.


"Nggak, nggak nangis sama sekali dari mbak Lea pergi tadi sampai sekarang." jawab asisten rumah tangga tersebut.

__ADS_1


"Syukur deh." ucap Lea.


Ia bernafas lega karena ternyata anaknya pun tidak kenapa-kenapa.


__ADS_2