
Daniel, Richard, dan Ellio masuk kantor dengan mode ngantuk berat. Persis seperti dulu, saat Daniel masih single dan mereka sering menghabiskan waktu di klub malam milik Ellio.
Bedanya dulu mereka mengantuk di kantor lantaran mabuk dan pulang pagi. Tapi ini karena lelah menjaga Darriel.
Semalam sesaat setelah menyusui Darriel dan menidurkannya di dalam box bayi. Lea kembali ke kamar atas, lalu benar-benar tidur dengan nyenyak sampai pagi.
Sedang setelah itu Daniel, Richard, dan Ellio berkutat dengan Darriel yang kebetulan sering terjaga. Ellio di bangunkan Richard dari tidurnya, sebab melihat Daniel sempoyongan dalam menggendong Darriel. Pria itu menahan kantuk yang berat. Richard sendiri juga sudah diserang kantuk, meski masih berusaha bertahan.
Satu hal yang mereka pahami. Ternyata mengurus anak berbeda dengan pesta malam yang sering mereka adakan dulu. Bila berpesta dengan gadis-gadis cantik ditemani alkohol, rasanya satu malam pun tak cukup.
Namun mengurus anak satu saja, penuh dengan rasa lelah yang teramat sangat. Ternyata menjadi seorang ibu itu tak semudah dibayangkan.
Meski terlihat sepele dan remeh-temeh, nyatanya menjada dan merawat anak membutuhkan keikhlasan, kekuatan serta kesabaran yang tinggi. Apalagi untuk orang yang baru menjadi ibu, bisa stress jika harus mengurus bayi sendirian.
"Pak Dan, pak."
"Pak, bangun pak."
"Aaaaa."
Daniel bergerak sedikit dan makin memejamkan mata di sofa ruang kerjanya.
"Ngantuk banget kayaknya, emang abis begadang pak?"
Marsha berbicara padanya, Daniel hanya mendengar namun tak kuasa untuk menjawab. Sebab matanya masih di gelayuti setan batu.
"Pak, rapat bentar lagi dimulai loh."
"Haaah?"
Daniel akhirnya bangun dan gelagapan. Ia melirik arloji yang ada di tangan dan ternyata benar, jadwal rapat sudah dimulai.
"Sha, buruan siapin semuanya." ujar Daniel sambil beranjak.
"Udah semua pak, tinggal masuk aja ke ruang rapat. Semua sudah saya urus." ujar perempuan itu.
"Oke, thank you."
Daniel bergegas menuju ke ruang rapat, usai mengelap wajahnya dengan tissue basah dan juga tissue kering.
***
Di ruangan kerja Richard.
Pria yang belum pernah menikah namun memiliki cucu tersebut, kini tertidur pulas di kursi. Dengan kepala yang terjatuh di meja dan berbantal pada lengannya sendiri.
"Pak Richard, pak."
Sekretaris Richard membangunkan pria itu.
"Pak bangun, pak." ujarnya lagi.
"Hah?"
Richard mengucek matanya dan melihat sang sekretaris yang berdiri di muka.
"Kenapa?" tanya Richard masih dengan nyawanya yang baru kembali seperempat.
"Klien bapak sudah datang, mereka menunggu di ruang sebelah."
"Hah?"
__ADS_1
Richard terkejut, mendadak jiwanya yang tercecer kini kembali secara serta merta.
"Mereka udah lama nunggu?" tanya Richard cemas.
"Lumayan pak." jawab sekretarisnya itu.
"Kenapa kamu nggak bilang?. Terus kenapa nggak bangunin saya?" ujarnya marah.
Sekretarisnya menghela nafas cukup panjang.
"Pak, saya udah bangunin bapak dari tadi. Bapak yang tidur kayak orang setahun nggak tidur." jawab sekretarisnya itu lagi.
Richard yang gantian menghela nafas. Tak ada gunanya emosi saat ini.
"Ya sudah saya mau kesana sekarang, tolong persiapkan segala sesuatunya." ujar pria itu kemudian.
"Baik pak." jawab sang sekretaris.
***
Berbeda dengan Daniel dan juga Richard yang tertidur di meja kerja. Ellio justru molor di kursi dan meja pantry, tepatnya didekat segelas kopi yang tampak belum diminum dan sudah dingin. Salah satu karyawan yang hendak mengambil minum menemukanya di sana.
"Pak Ellio, pak."
Karyawan tersebut membangunkan Ellio.
"Pak, bangun pak." ujarnya lagi.
Ellio yang kebo tak terbangun juga, malah terlihat semakin nyenyak.
"Pak, ada pacar bapak disini."
"Hah?" Ellio terbangun mendadak.
"Ye, mana saya tau bapak pacarnya yang mana aja." jawab si karyawan.
"Mana pacar saya?" tanya Ellio lagi.
"Nggak ada." jawab si karyawan sambil nyengir.
Ellio melihat sekeliling.
"Saya dimana dan kamu siapa?" ujarnya lagi.
"Bapak di kantor pak, dan saya Mila karyawan bapak."
Ellio menatap wajah Mila cukup lama, sampai kemudian semua ingatannya yang mengabur kembali jelas.
"Koq saya disini?" tanya nya pada Mila.
"Ya mana saya tau pak, makanya bapak saya bangunin." jawab Mila.
Ellio menghela nafas panjang.
"Hhhhh."
Ia mengusap mata dan juga wajahnya.
"Bapak dari begadang ya semalam?" tanya Mila.
Ellio mengangguk.
__ADS_1
"Abis jagain bayinya Daniel." jawabnya kemudian.
"Emang udah lahir pak?"
"Iya, udah beberapa hari."
"Hoaaahm."
Pria itu menguap, tak lama ia pun kembali ke ruang kerjanya.
***
"Pak ini ada kiriman dari partner kita."
Marsha membawa banyak kotak kado berisi peralatan mandi, serta baju bayi.
"Dari siapa, Sha?" tanya Daniel pada Marsha.
"Dari karyawan pak, buat anak bapak." jawab Marsha.
Daniel menatap semua itu, dan menghela nafas. Kemudian ia tersenyum melihat ke arah karyawan dari celah tirai ruang kerjanya. Meski para karyawan itu tak menyadari.
"Pesen makan dan minuman gih buat mereka semua." ujar Daniel kemudian.
"Dan bilang terima kasih dari saya." ujarnya lagi.
"Baik pak."
Marsha melaksanakan perintah. Selang beberapa saat kemudian, Marsha kembali dengan membawa banyak hadiah lainnya. Ada yang mengirim baju bayi branded, ayunan elektrik, bahkan box tempat tidur bayi dan stroller yang mirip dengan milik keluarga kerajaan Inggris. Itu adalah Hadiah dari para partner dan investor di perusahan Daniel.
Tak hanya Daniel saja, Richard juga kini hampir tenggelam dengan kado yang diberikan karyawan, kolega bisnis, serta rekan-rekannya di beberapa komunitas. Bahkan dari beberapa pejabat kenalan Richard pun, sang cucu Darriel mendapatkan hadiah.
Sementara Ellio, para karyawannya yang mengenal Daniel menitipkan kado untuk Darriel padanya.
"Anaknya Daniel doang nih yang dikasih, bos kalian nggak?" tanya nya kemudian.
"Ngapain ngasih pak Ellio?"
Salah satu karyawan perempuan nyeletuk. Membuat Ellio ingin segera memberikan surat pemecatan padanya. Andai ia tak ingat jika mencari karyawan yang kerjanya bagus itu, sangat susah.
"Pak Ellio mah beli aja sendiri, manja banget." timpal yang lain."
"Eh asal tau aja ya, gue ini bos paling teraniaya sedunia tau nggak. Punya karyawan nyakitin semuanya."
Karyawan Ellio kompak menahan tawa, sedang pria itu mendorong mereka semua untuk segera keluar.
"Sana, sana, sana!. Sebelum saya semprot pakai pestisida kalian semua." ujarnya lagi.
Para karyawan pria itu langsung kembali ke meja kerja, sambil tertawa cekikikan.
***
Ketika jam pulang telah tiba, hadiah-hadiah tersebut di kumpulkan di lobi satunya yang sepi. Hadiah yang diberikan pada Richard serta Ellio pun disatukan ditempat tersebut. Para office boy dan sekuriti membantu membawakan.
Daniel memisahkan pemberian para karyawannya, karyawan Richard, serta karyawan Ellio. Pemberian mereka harus di terima oleh pria itu. Sebab karyawan pastilah merogoh kocek sendiri demi untuk memberikan hadiah pada anaknya. Daniel sangat-sangat menghargai hal tersebut.
Sedang pemberian klien, investor dan kolega yang notabennya orang tajir melintir, Daniel tumpuk di sebuah spot. Ia kemudian menyuruh para office boy, girl, atau sekuriti dan berbagai karyawan bukan golongan tinggi lainnya untuk bebas mengambil. Dengan catatan untuk digunakan anak kecil entah itu anak sendiri, keponakan, tetangga, atau apa. Yang jelas bukan diambil untuk dijual kembali.
Mereka pun mengambil dan tak serakah. Mereka mengambil seadanya saja, yang kira-kira mereka butuhkan.
Namun setelah dibagikan pun, Daniel, Richard serta Ellio masih bengong di tengah tumpukan. Sebab ternyata hadiah tersebut masih banyak sekali.
__ADS_1
"Ini kayaknya kita butuh mobil box deh bro." ujar Ellio seraya menatap tumpukan hadiah itu. Sementara Daniel dan Richard masih bengong.
"Iya, bro." jawab keduanya serentak.