Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rilis


__ADS_3

"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Seorang fotografer bayi yang sudah memiliki banyak fortofolio serta pengikut di Instagram, kini mengambil foto Darriel pada sebuah ruangan di rumah Richard.


Sebelumnya ruangan tersebut telah di desain dan di dekorasi terlebih dahulu dengan tema tertentu. Hari ini Lea dan Daniel ingin merilis foto-foto Darriel yang telah berusia satu bulan.


Rencananya mereka akan mengambil foto berturut-turut hingga dua belas bulan ke depan. Sebagai kenang-kenangan yang akan mereka ingat nantinya.


"Darriel, cobalah jangan judes gitu matanya."


Lea memeringatkan sang anak, meski itu sebenarnya tak akan berhasil. Sebab Darriel saat ini belum mengerti yang namanya larangan. Ia terus saja memberikan lirikan super julidnya ke arah kamera. Daniel hanya tertawa-tawa melihat hal tersebut.


"Liat mas, senyum kek, apa kek gitu. Judes mulu mukanya.


Daniel makin terbahak.


"Darriel anaknya cool ya sayang, nggak cengengesan ya nak."


Daniel membela sang anak.


"Cool apaan ini, judes tau nggak."


Darriel terlihat santai saja dan menatap ke arah lain.


"Ayo Darriel liat sini."


Asisten sang fotografer menunjukan beberapa mainan dan menggoyang-goyangkannya di depan wajah Darriel. Seketika perhatian Darriel pun kembali tertuju ke arah depan, tepatnya kepada kamera.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Fotonya kembali diambil. Darriel mulai menguap dan terlihat gusar. Sebab sejak tadi telah tiga kali ia berganti kostum. Mulai dari tuxedo, Star Wars Jedi, dan juga Harry Potter.


"Kayaknya kasih susu dulu ya." ujar Lea pada sang fotografer.


"Iya silahkan. Nanti kita ngambil foto dia waktu tidur." jawab fotografer tersebut.


Lea mengambil Darriel dan membawanya ke kamar untuk kemudian di beri ASI. Sedang fotografer diberikan makanan dan minuman oleh asisten rumah tangga. Tak lama Richard sampai dirumah, ia langsung mengawasi ruang fotografi tersebut.


Daniel mengatakan jika Richard jangan berganti baju dulu. Sebab ia juga menginginkan Richard berfoto dengan Darriel. Richard pun menyetujui hal tersebut.


Setelah beberapa saat berlalu, Lea kembali dengan Darriel yang sudah terlelap. Asisten fotografer kemudian menghidupkan sleeping musik lullaby, agar Darriel semakin tenang.


Dengan sangat profesional ia mengganti kostum Darriel tanpa membuat bayi itu terbangun. Lalu foto demi foto kembali di ambil.


Setelah foto-foto Darriel sendiri, lalu diambil pula fotonya bersama Lea dan juga Daniel. Terakhir bersama Richard. Ellio sejatinya ingin ikut, tapi saat ini ia tengah berada di apartemen Marsha. Sebab besok mereka akan fitting baju dan menemani Marsha periksa kandungan.


Usai semua foto diambil. Sang fotografer langsung mengeditnya ditempat dengan menggunakan peralatan yang ia bawa.


Daniel bilang ia ingin meminta mentahnya foto tersebut. Maka langsung saja foto-foto itu dikirim. Mengenai hasil cetaknya nanti, Daniel dan Lea hanya perlu menunggu dirumah. Sebab akan dikirim dalam waktu dua sampai tiga hari kerja.


"Ih lucu juga ya mas si judes ini."


Lea berujar setelah sang fotografer berikut asistennya pulang dan mereka kini berada di kamar. Daniel juga sudah mandi dan makan tadi di bawah bersama Richard.

__ADS_1


"Iya lucu, kan ganteng kayak bapaknya."


"Kamu mah narsis." ujar Lea sewot.


Daniel tertawa-tawa.


"Loh emang Darriel ganteng loh, mau kamu nggak mengakui sekalipun." ujar pria itu kemudian.


"Iya sih, kan keturunan aku juga. Ibunya cantik, anaknya pasti ganteng."


Daniel kembali tertawa lalu mencium kening istrinya itu.


"Kapan-kapan jalan yuk, Le." ujarnya kemudian.


"Kemana mas?" tanya Lea.


"Kemana kek, nanti tapi. Nunggu kita udah tega ninggalin Darriel."


"Kalau bisa ya mas. Aku takutnya baru setengah perjalanan kita balik belakang."


"Iya sih, aku juga mikirnya gitu." ucap Daniel.


"Jangan kan jauh, baru di ujung jalan sana aja udah kepikiran kali kita." selorohnya kemudian.


"Makanya." ucap Lea seraya menoleh ke dalam box. Saat ini Darriel kembali tertidur.


"Ya udah nunggu Darriel agak gede aja, biar bisa di ajak." ujar Daniel lagi.


Mereka lanjut melihat hasil foto tadi sambil terus mengomentarinya. Ada pose dimana Darriel sangat judes ke kamera.


"Astaga mas, julid banget anak kamu. Kayak admin lambe turah."


"Mana?"


"Ini keterlaluan sih judesnya." ujar pria itu.


Pasangan suami istri tersebut menggeleng-gelengkan kepala seraya mengelus dada.


"Eh mas, Darriel ntar pas remaja gimana ya?" tanya Lea pada Daniel.


"Gimana apanya?" Daniel balik bertanya karena bingung.


"Ya mukanya, perawakannya, sikapnya. Pasti ganteng dan cool gimana gitu kali ya?"


"Mmm, kalau ngeliat muka dia sekarang sih, kayaknya iya. Dan mudah-mudahan tinggi badannya kayak aku." ujar Daniel.


"Pokoknya kita harus perhatikan benar-benar tumbuh kembangnya mas. Supaya dia nanti jadi idola di sekolahnya."


Lea membayangkan hal tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Padahal itu semua terjadi masih sangat lama sekali.


"Iya, nanti itu jadi urusan aku." ujar Daniel.


"Tapi kalau dia julid kayak gini, apa nggak mungkin nanti dia jadi kayak cowok-cowok novel online gitu ya mas?. Yang dingin sama cewek."


"Terus gedenya jadi CEO arogan gitu?" seloroh Daniel.


Lea lalu tertawa-tawa.


"Setiap CEO selalu digambarkan arogan. Satu novel bikin arogan, arogan semua. Padahal temen-temen aku yang CEO tau sendiri bukan kamu?. Orangnya pada baik, humble, ke bawahan mengayomi, ke orang tua hormat. Terdidik dengan baik."


"Iya sih." jawab Lea

__ADS_1


"Tapi dulu kamu judes mas, sama aku." Lea mengingatkan.


Daniel agak seperti terpatahkan sedikit, mengenai argumennya tentang CEO yang ramah.


"Ya kan waktu itu kita nggak kenal." ujar Daniel membela diri.


"Jadi kalau nggak kenal, harus judes gitu?" tanya Lea lagi.


"Abisnya kamu nyebelin banget waktu itu. Tipe-tipe bocil yang minta di getok palanya." Daniel kembali membela diri, sementara Lea nyengir.


"Mobil aku lah kamu lempar seblak." lanjut pria itu kemudian.


"Hahaha."


"Hahaha."


Lea makin terkekeh-kekeh.


"Masih inget aja kamu mas."


"Masih dong, orang ada aku fotoin."


"Hah, serius?"


"Serius, nih."


Daniel menunjukkan foto saat mobilnya di lempar seblak oleh Lea, sekitar dua tahun yang lalu.


"Astaga."


Lea menatap foto itu sambil terus tertawa.


"Ya ampun mas, ini pas baru banget aku lempar ya."


"Iya, tadinya ini mau aku kasusin di polisi. Tapi kata Richard kasusnya terlalu receh dan kalau viral bakal malu-maluin aku sendiri. Akhirnya nggak jadi deh aku laporkan."


"Hahaha."


"Hahaha."


"Kamu sampe niat mau laporin aku mas, waktu itu?"


"Iya, eh ternyata jodoh. Kan kampret."


Daniel berujar sambil menahan senyum, sementara Lea telah kering giginya akibat terus tertawa dari tadi.


"Kamu bersihin itu gimana mas?" tanya Lea lagi.


Aku suruh OB kantor bawa mobil itu ke car wash."


"Emang OB kantor kamu tau cara mengendarai mobil mewah kayak gini?"


"Tau dong, sering aku ajarin."


"Oh ya?"


"Iya, soalnya aku pernah denger mereka ngomong di pantry. Gimana rasanya mengendarai mobil mewah kata mereka. Terus aku ajarin mereka."


Lea speechless mendengar pernyataan tersebut.


"Mas nggak apa-apa gitu mobilnya di sentuh sama orang biasa?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kenapa emangnya?"


Lea lalu tersenyum. Ia semakin merasa tak salah menjadikan Daniel sebagai suami.


__ADS_2