
"Le, jangan kayak gitu. Aku nggak enak." ujar Daniel saat mereka telah jauh dari pelaminan.
"Mas denger sendiri kan tadi dia ngomomg apa dan gayanya gimana." ujar Lea.
"Iya, aku paham. Aku juga emosi dengernya, tapi ya udalah. Emang orangnya gitu."
"Heheee."
Darriel yang sejak tadi diam dalam gendongan sang ayah, kini tertawa.
"Tuh, Darriel aja tau." ujar Lea.
"Heheee."
"Udah ah, kesana yuk. Mau minum aku." ujar Lea.
Daniel pun menuruti, tak ada gunanya juga sampai bertengkar lebih jauh gara-gara manusia seperti Hanif.
Memang pria itu yang memancing emosi istrinya. Daniel hanya merasa tak enak saja, bukan berarti menyetujui cara Hanif berbicara di hadapan Lea dan juga Marsha.
"Kak, ambil minum yuk!" ujar Lea menarik Marsha ke arah meja prasmanan. Mereka lalu berjalan. Daniel dan Ellio serta Darriel dibawa ke dekat Richard.
"Pak Dan nggak marah, Le?" tanya Marsha.
"Marah, dikit. Marah gue lebih banyak." ujar Lea sambil tertawa.
Mereka berdua lalu tertawa-tawa.
"Lagian si Patin ngomongnya begitu. Enek banget gue dengarnya." ujar Marsha.
"Sama." Lea menimpali.
"Udah, kita makan aja disini. Bodo amat." ujar Lea lagi.
Mereka lalu mengambil puding serta kudapan lalu memakannya. Mereka sengaja berdiri di dekat para bridesmaids, termasuk Shela yang tadi kecentilan pada Daniel.
"Perut lo udah keliatan banget ya, kak?"
Lea bertanya pada Marsha, namun dengan nada yang seolah merupakan sebuah kode.
"Iya nih, di garap bapaknya mulu." ujar Marsha seraya mengusap-usap perutnya yang membuncit. Ia memperlihatkannya ke arah para teman-teman Susi. Meski tanpa menatap mereka.
Tentu saja wajah teman-teman Susi tersebut langsung terlihat asam. Karena selain Daniel, mereka mengincar Ellio dan juga Richard.
"Om Ellio sayang banget ya sama lo." ujar Lea lagi.
"Sama kayak pak Daniel ke elo, Le. Dia juga kan apa-apa buat anak istri. Pelakor busuk nggak usah gede harap." ujar Marsha.
"Dih, pede banget. Di rebut pelakor baru tau rasa lo berdua."
Salah seorang bridesmaids yang telah terbakar bulu keteknya berkata dengan nada pelan, dan hanya circle mereka saja yang mendengar.
Sementara Lea dan Marsha berkata dengan suara agak keras, supaya di dengar oleh mereka.
"Itu yang ada di samping si pengantin laki-laki, ibunya ya kak?. Koq muda banget." tanya Lea, padahal ia sudah menduga itu istri pertama Hanif.
Hanya saja ia sedang memancing Marsha untuk bicara lebih lanjut. Agar mereka kembali memiliki topik untuk tetap berdiri di tempat itu.
__ADS_1
"Itu mah istri pertamanya, Le." ujar Marsha.
"Hah, serius?" tanya Lea.
"Iya, serius gue."
"Cantik banget ya, kayak princess."
"Iya, udah dapat princess malah belok ke Upik abu." ujar Marsha.
"Hahahaha."
Lea tertawa dan tidak dibuat-buat. Ia menatap istri kedua dan ketiga Hanif, lalu kembali tertawa.
"Ih dosa nggak sih, julid banget kita. Amit-amit loh kak, lagi hamil." ucap Lea.
"Amit-amit jabang bayi." Marsha sambil mengusap perutnya sendiri.
"Kita itu sebenarnya nggak penting mau good looking atau nggak, yang penting baik kelakuan." ujar Marsha lagi.
"Bener sih, kak. Tapi kebanyakan udalah buruk rupa, buruk kelakuan pula." timpal Lea.
Para bridesmaids yang tampangnya tak seberapa itu makin naik darah. Masalahnya Susi adalah panutan dan junjungan mereka.
Susi dan mereka sama-sama tak good looking. Hanya menang memiliki kemampuan makeup yang mumpuni. Hingga wajah asli mereka tertutup dempul.
"Eh, minum yuk!" ujar Lea.
Mereka lalu mengambil minum yang ada di meja paling dekat dengan para bridesmaids. Lea mengibaskan gaun mahalnya yang indah, lalu melangkah dan mengambil minum disana.
"Mama mau minum dong."
"Nih mas."
Lea memberikan air pada suaminya itu. Bridesmaids kembali kebakaran bulu ketek. Daniel minum sampai habis.
"Mau gantian mas gendong Darriel?" tanya Lea berbasa-basi.
Agar Shela yang kecentilan pada Daniel tadi menjadi panas hatinya. Padahal Darriel memiliki bobot yang berat dan Lea tak berharap menggendong bayi itu.
"Nggak usah, Darriel berat banget gini. Biar aku aja." ujar Daniel.
Secara ajaib Daniel pun pengertian. Hak tersebut makin mendukung Lea dalam memanas-manasi para pasukan Susi.
"Kalau mas capek, itu ada stroller kan."
"Iya santai aja. Papa masih mau gendong Darriel ya." ujar Daniel pada Darriel.
"Heheee."
"Hehe mulu anaknya papa, anaknya mama. Darriel anak papa mama ya." ujar Daniel.
"Heheee."
"Yuk, Le kesana yuk.!" ajak Daniel kemudian.
"Mas duluan aja, aku mau makan bakso." ujar Lea.
__ADS_1
"Oke." Daniel dan Darriel menjauh.
Belum lagi bulu ketek pada bridesmaids reda dari kebakaran. Ellio mendekat ke arah Marsha.
"Sayang kalau capek duduk yuk disana."
"Ntar aja pak, aku mau makan bakso dulu sama Lea." ujar Marsha.
"Oh ya udah. Nanti istirahat ya."
Ellio mengambil air putih dingin.
"Iya." ucap Marsha.
Pria itu kemudian pergi. Lea dan Marsha saling pandang dan tersenyum satu sama lain. Mereka sengaja melakukan itu tanpa janjian. Namun karena naluri ingin membuat para calon pelakor iri, maka itu yang terjadi.
"Sok paling beruntung banget anjay, jadi perempuan."
Beberapa bridesmaids memisahkan diri karena ingin mengumpat di belakang.
"Iya sok kecakepan." ujar salah satu dari mereka.
"Emang cantik banget sih." celetuk yang lainnya lagi.
"Halah sok cantik doang." ujar Shela dengan nada iri.
"Liat aja ntar gue rebut lakinya." lanjut perempuan itu.
"Kasih goyangan say, sampai melendung. Pengen liat gue mukanya si Lea-Lea itu kalau tau suaminya menghamili cewek lain. Kena mental nggak tuh nanti."
"Ntar bos Ellio gue yang deketin."
Rani yang sejak tadi diam kini bersuara.
"Biar nyaho tuh istrinya yang ngeselin itu." ujarnya.
Mereka terus menerus berkata dengan kesal. Sementara Lea dan Marsha makan didalam tanpa peduli lagi jika itu adalah acaranya Hanif. Mereka hanya ingin kenyang dan pulang.
Ketika host menyuruh Hanif untuk berbicara, mengenai alasan mengapa dia menikahi Susi. Hanif maju ke depan dan mendekat ke arah mikrofon.
Dengan ekspresi yang membuat banyak wanita ingin muntah, ia menitikkan air mata. Ia memuji-muji Susi sebagai perempuan yang baik.
Ia juga mengarang cerita jika ia telah berusaha menolak Susi dan mengatakan jika ia telah beristri.
Namun Susi meyakinkan ia mau menjadi yang ketiga dan akan mengabdi pada suami. Karena ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Hanif. Ia berjanji akan menjadikan istri-istri Hanif seperti kakak-kakaknya sendiri.
"Dia benar-benar berhati malaikat." ujar Hanif.
Lea dan Marsha yang duduk berhadapan refleks menonggoskan gigi mereka, sambil membuat gerakan mata ke atas.
Daniel dan Ellio yang menyaksikan semua itu pun tertawa. Hingga mengundang reaksi Hanif dan keluarga. Hadirin pun sama mengira jika Daniel dan Ellio menertawai Hanif. Namun Hanif memang pantas ditertawakan menurut mereka.
"Sorry, bro. Anak gue." Daniel mengalaskan Darriel.
"Heheee."
Darriel menyelamatkan sang ayah dan om nya dengan tawa. Semua orang pun percaya dan tertawa melihat Darriel.
__ADS_1
Hanif lanjut speech. Sedang Lea dan Marsha terus mencibir setiap perkataan pria itu. Bukan hanya mereka berdua saja. Banyak yang mencibir namun dengan gaya mereka masing-masing.