
"Sini Le, masuk...!"
Nina mempersilahkan Lea untuk masuk ke apartemen miliknya. Kebetulan ia sudah pindah dan Lea memang berniat menyambangi kediaman temannya tersebut.
"Gede juga ya dalamnya." ujar Lea seraya melangkah masuk.
"Ya, lumayan lah Le. Ternyata warisan kadang ada gunanya juga." ujar Nina.
Lea tertawa.
"Bersyukur, Nin." ujarnya kemudian.
"Iya." jawab Nina.
"Lo tadi nggak kuliah?" tanya Lea.
"Nggak, makanya gue bisa disini. Kalau nggak, gue pasti masih di kelas jam segini sama Vita."
"Iya, Vita tadi mau gue ajakin katanya ada kelas."
"Makanya."
Nina lalu menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk Lea. Mereka kini duduk di sofa ruang tamu.
"Gimana laki lo, Nin?" Lea bertanya lagi.
"Dia sih masih ngotot dan nggak mau menceraikan gue, Le. Tadinya gue frustasi banget. Tapi gue pikir lagi, kan gue nikah siri ya. Ngapain gue pusing-pusing, kagak ada surat nikahnya ini. Bodo amat dia mau jungkir balik seratus kali."
"Iya sih, tunggu aja dia capek sendiri." ujar Lea.
"Abisnya tambeng, masih aja mau mempertahankan. Gue udah kesel banget sama dia."
"Jangankan elo, gue aja kesel setengah mati liat laki lo. Ini akibat tabiat bangsa kita secara turun temurun nih. Kalau nikah itu mesti banget punya anak, jadinya tujuan nikah sebagian besar orang ya cuma beranak pinak doang. Kalau pasangan nggak mampu kasih, pasti di kompor-komporin sama emaknya. Gue yakin ini semua juga ulah mertua lo. Dia yang mendesak-desak anaknya supaya punya anak."
"Percaya sih gue soal itu. Emak-emak cowok di negara kita kan gitu rata-rata. Apa-apa demi kepentingan kemenangan anak cowoknya, nggak mikir anak perempuan orang sakit gara-gara dia. Pengen banget gue pecahin itu kepala emaknya laki gue. Sok baik, sok baik. Eh taunya memanfaatkan rahim gue demi kepentingan anaknya. Emang dasar perempuan sial."
Nina berkata dengan penuh berapi-api. Sesaat kemudian ia dan Lea sama-sama mengambil air minum dan mulai meminumnya. Hingga emosi dalam diri mereka pun sedikit berkurang.
***
Sementara di sudut lain, Imelda tampak dingin menghadapi sang suami yang baru saja tiba. Ia tak lagi hangat seperti hari-hari sebelumnya.
Bertahun-tahun mereka menjalani pernikahan yang begitu mesra. Meski sang suami kerap berpergian ke luar kota, namun itu tak mengurangi kedekatan dan keintiman diantara mereka.
Imelda percaya 100% pada sang suami. Bahkan beberapa temannya sangat iri. Melihat Imelda yang belum memiliki anak, namun bisa tetap mesra dengan suaminya.
Sedang teman-temannya, yang bahkan sudah memberi anak lebih dari satu dalam pernikahan yang mereka jalani. Justru menjadi perempuan yang paling tidak bahagia. Hubungan mereka dengan suami justru renggang pasca memiliki anak.
__ADS_1
Selama bertahun-tahun sosok suami Imelda dianggap sebagai sosok laki-laki idaman di kalangan teman-temannya. Namun kini justru suaminya sendiri yang mematahkan hal tersebut.
Imelda sejatinya tak masalah, jika suaminya ingin menceraikan dirinya. Yang penting bicara jujur, karena ia pun mengerti kekurangan apa yang ia miliki. Ia hanya tidak suka, ketika suaminya malah berselingkuh dan membangun image sebagai suami setia di depannya. Imelda membenci laki-laki palsu. Ia lebih baik ditinggalkan secara terang-terangan, ketimbang ditusuk dari belakang seperti ini.
"Kamu kenapa sih, dari tadi nggak enak banget muka kamu. Aku ada salah?"
Suami Imelda yang juga suami Nina tersebut bertanya pada sang istri. Imelda bungkam, hatinya kini kian bertambah sakit. Apalagi ketika ia teringat pada Nina yang tengah mengandung.
"Sayang?"
"Stop panggil aku dengan panggilan itu."
Nada bicara Imelda pelan, namun dingin dan syarat akan kemarahan.
"Kamu kenapa sih?. Salah aku apa?"
"Salah apa?" Imelda menatap suaminya dengan lantang.
"Masih berani nanya kamu salah apa?"
"Iya, karena aku nggak tau aku salah apa."
Batin Imelda rasanya semakin di sayat-sayat. Sangat menjijikkan melihat laki-laki yang sengaja berbuat kesalahan, namun berusaha untuk terlihat suci di hadapan istrinya.
"Aku mau bercerai." ujar Imelda kemudian.
Hal tersebut membuat sang suami merasa begitu terkejut.
"Kamu yang maksudnya apa?. Kenapa kamu menikahi perempuan lain di belakang aku?"
Petir menggelegar, suaminya benar-benar tidak tahu jika berita tersebut telah sampai ke telinga Imelda.
"Kamu ini ngomong apa sih?" Suaminya masih berusaha berkilah.
"Nggak usah munafik kamu mas. Aku sudah bertemu perempuan itu, dan dia sekarang sedang hamil."
Suaminya itu makin terkejut sekaligus terpojok. Ia tak menyangka jika Imelda sudah bertemu dengan Nina.
"Aku mau cerai mas." ujar Imelda sekali lagi.
"Nggak, ini bukan keputusan kamu."
"Aku berhak memutuskan sendiri jalan hidup aku. Kamu udah berkhianat."
"Imelda, aku cuma mau keturunan."
"Kenapa kamu nggak bilang selama ini?"
__ADS_1
Imelda mulai membentak suaminya dengan nada yang berapi-api.
"Harusnya kamu bilang, bukan malah berpura-pura. Membuat image seolah kamu adalah suami paling setia, walaupun istri kamu nggak bisa kasih anak."
"Imelda."
"Harusnya kamu bilang dan ceraikan aku terlebih dahulu. Bukan malah mengkhianati pernikahan kita seperti ini."
"Imelda dengar dulu...!"
"Dengar apaaa?" Imelda berteriak. Hati dan pikiran wanita itu benar-benar telah di kuasai kemarahan.
"Aku masih mau melanjutkan pernikahan ini, aku mencintai kamu. Aku nggak cinta sama Nina, aku cuma mau punya anak aja. Supaya mamaku tenang dan nggak ribut soal keturunan lagi."
"Mama?. Kamu bilang mama?"
"Iya, mama yang mendesak aku untuk punya keturunan. Pernikahan aku dengan Nina, sebatas kepentingan itu."
"Terus kenapa mama nggak pernah bilang ke aku, dan justru malah terkesan seperti mendukung aku selama ini?"
"Karena kamu menantu yang kay..." Suami Imelda menghentikan ucapannya, karena tersadar akan sesuatu.
"Karena apa mas?"
"Maksud aku..."
"Karena aku menantu kaya, iyaaa?" Imelda kembali berteriak di muka sang suami.
"Karena aku menantu yang bisa membelikan ibu dan saudara-saudara kamu barang mahal?. Bisa ngajak mereka keluar negri kapanpun dan kemana pun mereka mau?. Karena aku, anaknya juga jadi ikutan kaya sekarang. Iya kan?"
Air mata Imelda jatuh menetes membasahi kedua belah pipinya. Hatinya seperti membiru karena racun kemarahan.
"Imelda."
Sang suami mencoba menyentuh bahu Imelda, namun Imelda menepisnya.
"Jahat kamu mas." ujarnya kemudian.
"Sama kayak keluarga kamu, jahat turunan." lanjutnya lagi.
"Imelda aku minta maaf."
"Percuma." jawab Imelda seraya menatap suaminya itu.
"Percuma mas, maaf kamu nggak akan bisa mengembalikan semuanya. Hati aku udah luka, nama kamu dan keluarga kamu sudah hitam di hati aku. Makasih untuk tahun-tahun yang menyenangkan, walaupun ternyata itu semua palsu. Setidaknya sekarang Tuhan membuka mata aku, tentang siapa kamu dan keluarga kamu."
"Imelda."
__ADS_1
"Aku mau cerai mas, titik."
Imelda kemudian meninggalkan sang suami, untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.