
Kejadian Clarissa terus menjadi trending topik selama hampir seminggu ini. Namun Lea, Vita, dan Nina tak mau ambil pusing. Toh Clarissa memang tak dekat dengan mereka dari awal.
Ketiganya pun merasa jika itu bukanlah urusan mereka, yang penting hidup dan keuangan mereka saat ini aman-aman saja. Tak ada yang berurusan dengan istri sah dari masing-masing sugar daddy, karena sugar daddy mereka sendiri berstatus single.
"Lea, keatas."
Daniel mengirim pesan singkat pada sugar baby nya itu, untuk segera naik ke lantai atas.
"Kenapa, om?" Lea membalas pesan tersebut dan mengirimkannya.
"Mau unboxing nggak?" balas Daniel lagi.
Seketika otak Lea pun langsung traveling, apalagi akhir-akhir ini Daniel lebih berani menyentuh dirinya di semua bagian.
"Apakah ini waktunya Daniel akan mempergunakan tongkat besar itu padanya?"
"Lea buruan...!"
Daniel kembali mengirimkan chat padanya.
Penuh keraguan Lea berjalan ke arah lift dan masuk ke sana, tak lama kemudian ia pun sampai di kamar Daniel.
"Kenapa om?" tanya Lea pada pria itu.
Namun Daniel tak terlihat, dan malah muncul di belakang Lea.
"Nih." ujar Daniel seraya menyerahkan sebuah MacBook yang masih tersegel.
"Ini?"
Lea menatap Daniel, ternyata inilah yang akan di unboxing sesungguhnya.
"Buat kamu, sebentar lagi kan kamu kuliah. Kamu akan butuh itu."
"Jadi yang kata mau di unboxing itu, ini om?" tanya Lea.
"Menurut kamu?" Daniel menatap gadis itu, ia tahu pergi kemana pikiran Lea saat ini.
Perlahan diambilnya kembali MacBook tersebut dari tangan Lea, dan diletakkannya di atas meja. Ia lalu menarik pinggang gadis itu, dan merapatkan tubuh mereka hingga tak lagi berjarak. Lea yang kaget, hanya bisa pasrah. Apalagi saat Daniel mulai mencium bibirnya.
"Hmmh."
Tubuh Lea mendadak bereaksi sekaligus menikmati, ketika tangan Daniel mulai bergerak ke bagian-bagian tertentu.
"Ah, om." rintihnya lagi.
Daniel mulai mendorong gadis itu ketempat tidur, lalu pergumulan panas pun terjadi disana.
Daniel mengarahkan tangan Lea ketempat yang menjadi titik kenikmatannya. Lea terkejut, baru kali itu ia menyentuh benda tersebut.
"Om."
Daniel tak lagi bicara, hanya terus melakukan aksinya hingga Lea mengangkat-angkat sendiri pinggulnya ke atas. Ia menggeliinjang dengan mata yang terpejam dan terbuka secara bergantian.
Daniel pun menikmati semuanya, namun hanya sebatas itu saja. Tak sampai merenggut apa yang dimiliki gadis itu. Daniel saat ini sedang dalam masa penyembuhan psikologis, pasca sindrom Grace yang ia alami selama ini.
__ADS_1
***
"Tapi lo udah punya keinginan ke arah sana kan?"
Ellio bertanya pada Daniel seraya menuangkan kopi ke dalam gelas. Daniel dan Ellio kini duduk di meja makan, di kediaman temannya itu. Adalah biasa bagi Daniel, untuk singgah ke kediaman Ellio setiap hari-hari tertentu.
"Ada, cuma gue masih takut. Takut pas gue udah lagi siap, dianya siap, tiba-tiba muncul lagi tuh sindrom si Grace di kepala gue. Kalau nggak jadi kan kasihan dianya juga, pasti dongkol hati."
Ellio tertawa.
"Tapi lo lebih lama dari biasanya nggak?" tanya Ellio.
"Apanya?" Daniel balik bertanya, Ellio lalu mencuatkan jari telunjuknya.
"Iya lama, kalau sama cewek lain sebelum-sebelumnya kan emang udah kayak males dari awal. Nggak mood, jadinya nggak sempurna juga bangunnya."
"Tapi sama Lea, kayak pilar tengah rumah?"
"Ya, sangat." ujar Daniel lalu menghirup kopinya.
Ellio menghela nafas.
"Gue seneng, bro. Itu artinya bukan organ reproduksi lo yang sakit selama ini, tapi pikiran lo."
"Ya, gue juga udah konsultasi ke dokter dan gue bilang semuanya."
"Oh ya?." tanya Ellio tak percaya. Daniel pun mengangguk, Ellio makin senang.
"Akhirnya, lo turutin juga kata gue. Lo kan paling susah disuruh konsultasi ke dokter SPKK."
Daniel tertawa.
"Hhhh." Lagi-lagi Ellio menghela nafas lega.
Tak lama kemudian terdengar suara orang memencet bel pintu pagar. Ellio pun menyalakan monitor di tablet miliknya, tampak sebuah muka terpampang di depan sana.
"Richard?"
"Woi Bambang, buka."
Ellio dan Daniel pun sumringah, karena ternyata Richard telah kembali. Ellio lalu memencet tombol navigasi dan terbukalah pintu pagar rumahnya.
Richard melangkah masuk, Ellio memencet tombol untuk membuka pintu depan. Sementara dirinya kini mengambil gelas satu lagi. Ia dan Daniel masih di ruang makan, sampai kemudian Richard tiba dihadapan mereka berdua.
***
Esok harinya di sebuah kampus.
Vita tampak melangkah gontai, memasuki pekarangan lembaga pendidikan tertinggi tersebut. Ia sangat tidak bersemangat sekali, karena sugar daddy nya datang dan minta dilayani di tengah malam yang suntuk. Padahal Vita akhir-akhir ini tak cukup tidur lantaran ia sibuk mengerjakan beberapa tugas yang lumayan berat.
Ia sudah mencoba mengkomunikasikan semuanya, jika ia tengah dilanda kelesuan yang cukup ekstrim dan butuh banyak istirahat. Namun makin kesini, sugar daddy nya makin menunjukkan sikap yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Ia tetap memaksa Vita berhubungan.
Jauh berbeda dari pertama kali ia memilih Vita sebagai sugar daddy nya. Saat itu meskipun agak egois, namun tidak separah sekarang. Tapi kini semakin banyak uang yang ia keluarkan untuk Vita, makin semena-mena pula sikap pria kaya itu padanya.
"Vit."
__ADS_1
Seseorang menyapa Vita, gadis itu mengerutkan kening dan berusaha mengenali. Karena rasa kantuk dan lesu membuat pandangannya buram serta otaknya juga blank.
"Arsenio?" ujarnya kemudian.
"Arsen kan?" lanjutnya lagi.
"Iya siapa lagi, Jamilah. Ini gue, Arsen."
"Arseeen."
Vita menghambur dan memeluk laki-laki muda itu. Arsen adalah temannya yang sejak awal kelas 2 SMA, pindah ke luar negri.
"Ngapain lo disini?" tanya Vita penuh antusias, sekaligus masih tak percaya.
"Gue pindah kuliah disini." ujar Arsen.
"Serius lo?"
"Iya."
"Yeay."
Vita berteriak kegirangan dan memeluk pemuda tampan itu, Arsen pun balas memeluknya. Mereka bersahabat baik dan saling merindukan satu sama lain..
"Ini hari pertama lo?" tanya Vita lagi.
"Nggak, gue udah hampir seminggu disini."
"Koq nggak WA atau telpon gue sih?" tanya Vita kemudian.
"Udah, tapi kayaknya cowok lo deh yang jawab. Soalnya dia bilang, jangan ganggu Vita lagi."
Vita terdiam, ini pastilah ulah sugar daddy nya. Pria itu memang suka memeriksa handphone Vita dan mengambil alih. Jika diganti password, maka dia akan murka.
"Itu pasti ulah adek sepupu gue, emang jahil orangnya." Vita berkilah, sampai hari ini tak ada temannya yang tau jika ia menjadi sugar baby. Kecuali Nina dan Lea.
"Pacar lo juga nggak apa-apa, Vit." ledek Arsen kemudian.
"Nggak ada, jomblo gue." Vita masih berkilah.
"Ya cari dong." ledek Arsen lagi.
Keduanya lalu tertawa, dan kemudian mengarah ke kafe kampus. Mereka lalu sepakat untuk mendapatkan kopi dingin.
"By the way, kalau emang udah seminggu disini. Koq gue nggak pernah liat elo ya?" tanya Vita ketika mereka telah duduk di sebuah meja.
"Gue kuliah pagi, abis itu langsung ke komunitas. Ngasih pelajaran ketrampilan."
"Komunitas apa sekte sesat?" Vita meledek temannya itu.
"Komunitas, Vit. Komunitas janda-janda korban kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik maupun verbal. Ada juga ex cewek panggilan atau simpanan yang juga terdampak kekerasan. Itu kayak semacam pembinaan dan konseling, supaya mereka bisa mendapatkan hidup mereka lagi. Gue relawan disana."
Vita terdiam, ia pun adalah korban kekerasan akhir-akhir ini.
"Nanti kapan-kapan kesana, yuk...!" ajak Arsen kemudian.
__ADS_1
"Siapa tau cewek kuliahan kayak lo bisa membakar semangat mereka, supaya mereka semangat lagi kedepannya. Banyak loh mereka yang akhirnya sekolah lagi, atau menciptakan suatu karya dan menjualnya secara online. Supaya bisa merubah nasib mereka."
"Ok deh, ntar kapan-kapan gue kesana." ujar Vita lalu tersenyum. Mereka pun lanjut membahas lain topik.