
"Masih mau ngambek?" tanya Daniel pada Lea yang kini telah berada dalam pelukannya.
Perempuan itu tak menjawab, hanya tersenyum lalu membenamkan wajah di dada sang suami. Daniel lalu mencium kening Lea dan mengelus bayinya yang ada di dalam.
"Papa kangen, nak." ujarnya kemudian.
Lea tersenyum dan ikut berinteraksi dengan bayinya. Turut serta pula ia mengelus perutnya sendiri. Hingga ia dan Daniel merasakan getaran yang sama dari dalam.
"Bergerak." ujar Daniel dengan mimik wajah yang bahagia.
Lea tersenyum.
"Iya, kangen juga ya nak sama papa?" tanya Lea pada si jabang bayi.
"Mamanya ngambek mulu, jadi papa nggak bisa elus kamu." ujar Daniel lagi.
"Mas sih, aku bukannya di baikin."
"Apa?. Di naikin?. Tadi kan udah barusan."
"Bukan di naikin, mas. Di baikin, baik pake B." Lea mulai sewot sementara Daniel kian terkekeh.
"Iya abis kamu maunya gimana aku nggak ngerti. Udah berusaha aku ajak ngomong tapi tetap aja cuek."
"Ya mas ngapain kek, rayu kek aku. Rada mohon maaf gitu dikit."
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Le, aku tuh nggak terbiasa terlalu merayu dan memohon kayak gitu. Kecuali emang udah genting banget. Tapi bukan berarti aku nggak sayang, aku cuma nggak bisa berlaku jadi kayak orang yang seumuran kamu."
"Iya-iya, aku yang salah." ujar Lea setengah sewot.
Daniel lalu mencium istrinya itu dengan sangat, mereka kini tertawa-tawa sambil berpelukan.
***
Esok harinya Daniel mengantar Lea ke kampus, sudah tak ada lagi acara marah-marahan ataupun merajuk tidak jelas di antara mereka.
"Turun disini aja mas." ujar Lea.
Daniel menghentikan mobil, Lea bersiap keluar.
"Le, aku udah bilang sama Adisty. Kalau kamu akan ikut mereka jalan-jalan."
"Oh ya?" Lea terkejut sekaligus merasa senang.
"Beneran mas?" tanya nya masih tak percaya.
"Iya beneran. Tapi pulang tepat waktu, jangan nambah hari lagi. Kan udah seminggu tuh."
"Ih makasih."
Lea lalu memeluk suaminya itu secara serta merta.
"Tapi ada syaratnya. Nggak boleh kecapean, dan harus mengutamakan istirahat."
"Iya mas, pasti. Lagian anak-anak juga nggak jadi koq jalan-jalan jauh. Jadinya palingan sekitar Bandung-Jakarta aja. Dan nggak jadi seminggu juga, paling berapa hari doang."
"Oh ya?"
"Iya, broadcastnya ada koq semalem."
"Ok, nanti kamu ikut aja sama mereka."
"Makasih ya mas."
Lea mencium dan memeluk suaminya itu. Daniel hanya tertawa kecil dan membalas pelukan tersebut.
"Masih lumayan lama kan berangkatnya?" tanya Daniel lagi.
"Iya mas, masih lumayan lama. Tapi makasih loh."
"Sama-sama." jawab Daniel.
Lea lalu berpamitan dan keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
***
Pagi itu matahari cerah, Daniel telah menyudahi perkaranya bersama Lea dengan tuntas. Ia kini mengemudikan mobil menuju kantor.
"Bro."
Tiba-tiba Ellio menelpon.
"Apaan, Karnadi?" tanya Daniel kemudian.
"Ke rumah gue, Richard juga udah di jalan."
"Lo nggak ke kantor emangnya?"
"Ngantor mulu, memperkaya perusahaan orang aja."
"Kan perusahaan elu, Bambang."
"Hehehe." Ellio nyengir.
"Udah kesini aja, buruan...!"
"Mau ngapain sih?" tanya Daniel lagi.
"Lo mah gitu Dan. Temen minta datang, pake ditanya dulu buat apa."
"Iya-iya ngambek mulu lo, ini gue kesana."
"Ok gue tunggu."
Ellio menyudahi telponnya. Tak lama kemudian Daniel pun menelpon Richard.
"Dan."
"Lo dimana?" tanya Daniel pada Richard.
"Udah tau kan?" Richard balik bertanya.
"Iya sih, apalagi urusannya kalau bukan si bayi tua." jawab Daniel.
Richard menghela nafas.
"Sama, gue juga." tukas Daniel.
"Sampe si Ellio maksa gue di hari sibuk, gue sleding pala tuh anak." lanjutnya kemudian.
"Kita kayaknya udah harus mikirin masa depan Ellio deh." Richard kembali berujar.
"Maksud lo?" tanya Daniel tak mengerti.
"Si Ellio mesti kita kawinin sama seseorang."
"Nikah maksudnya?" tanya Daniel lagi.
"Apalagi, Bambang. Kalau sekedar kawin di ranjang mah, udah sering tuh anak. Nah sekarang ini dia udah harus nikah, biar ada yang ngurus. Biar dia nggak ngeselin kita terus." jawab Richard.
"Iya sih, kalau dia nikah paling nggak ada orang yang bakal dia repotin. Ada yang selalu ngikutin kemauan dia, nemenin dia. Biar nggak merengek ke kita mulu."
"Itu dia, itu poin pentingnya. Si Bambang Ellio, selama dia masih single. Dia masih akan terus nyusahin lo dan gue, dalam hal sekecil apapun." ujar Richard.
Daniel tertawa kali ini.
"Namanya juga orok tua. Dari jaman masih sekolah, lo inget kan. Apa-apa harus sama lo dan gue, kalau nggak bumi bakalan gonjang-ganjing pindah orbit."
"Hahaha." Richard tertawa.
Mereka terus berghibah soal Ellio, meski itu dalam konteks candaan seorang sahabat. Mereka sejatinya ikhlas membantu Ellio selama ini. Hanya saja diantara mereka bertiga, Ellio lah yang kadang sifat anak-anaknya masih dominan.
***
Daniel dan Richard terdiam di meja makan. Ternyata Ellio memaksa mereka datang, adalah untuk menghabiskan masing-masing satu ekor lobster raksasa. Orang tua Ellio yang mengirim lobster tersebut. Sejenak Daniel dan Richard pun saling pandang.
"Pokoknya kalian harus makan, gue nggak mau sampe sisa. Soalnya bokap gue itu bakal marah banget, kalau apa yang dia kirim nggak gue makan."
"Kan ini derita lo, kenapa lo limpahkan ke gue sama Daniel. Lobster ini dikirim buat elo, jadi elo yang harus tanggung jawab."
__ADS_1
"Ngajak lo berdua makan, adalah bentuk tanggung jawab gue terhadap ini makanan. Kan harus habis, dan nggak harus gue sendiri dong yang ngabisin."
"Ya lo kasih ke orang kek." ujar Daniel.
"Lo sama Richard bukan orang?. Makhluk mitologi gitu?"
Daniel menghela nafas, menahan api yang siap menyembur dari mulutnya.
"Lo kan tau gue berdua punya masalah tekanan darah tinggi." Richard kembali berujar.
"Kalau tekanan darah lo berdua naik, ntar gue kasih tangga biar bisa turun. Pokoknya lo syukurin aja dulu nih lobster, di luar sana banyak yang pengen tapi nggak mampu beli." lanjut Ellio.
"Iya emak Ellio."
Daniel dan Richard berujar serentak dengan nada sewot. Tak lama mereka mulai memakan lobster tersebut.
***
"Mas Daaan."
Lea berteriak di hampir tengah malam, saat ia keluar dari kamar dan hendak mengambil air minum di kulkas. Daniel yang kebetulan tengah berada di salah satu ruangan yang sama dilantai tersebut pun, langsung buru-buru menghampiri Lea.
"Kenapa Le?" tanya nya panik.
"Nggak mas, tadi aku kaget sama ini." ujar Lea seraya menunjuk ke atas meja makan.
"Oh ini lobster kiriman Ellio, barusan sampe. Tadi pagi aku sama Richard dipaksa ngabisin satu utuh sama dia dirumahnya, nah yang ini buat kamu katanya. Udah di rebus dan tinggal makan aja, itu juga ada sambelnya."
"Mas tadi makan ini satu utuh gitu?" tanya Lea.
"Iya dan lama, ada kali dua jam aku ngabisin. Abis itu baru ke kantor.
Lea tertawa.
"Sama ayah juga?" tanya nya lagi.
"Iya, Richard darah tinggi noh sekarang di rumah." ujar Daniel sambil tertawa.
"Oh ya?"
"Iya, tapi dia udah minum obat. Lagian Ellio keterlaluan, temen sendiri dipaksa makan sebanyak itu. Emang dia, segala masuk."
"Om Ellio emang bisa makan banyak?. Perasan diantara kalian bertiga, dia deh yang bobot badannya paling rendah. Ototnya aja kering dan bagus banget."
"Ellio mah sampe tenda hajatan juga bisa di telen sama dia. Lambungnya Tanboy Kun punya."
Lea tertawa.
"Duh om Ellio ada-ada aja deh." ujarnya.
Ia kemudian mengambil handphone dan menelpon Richard, ia menanyakan kabar ayahnya itu. Setelah memastikan Richard baik-baik saja, ia kembali menatap lobster yang ada di atas meja.
"Makan gih..!" ujar Daniel kemudian.
"Emang boleh ya mas, aku lagi hamil gini.?"
Daniel lalu bertanya pada Mbah Google.
"Boleh, asal masaknya sampe mateng. Ini udah mateng sih." ujarnya lagi.
"Ya udah deh, soalnya menggoda banget dan aku belum pernah makan juga."
Lea lalu memakan lobster tersebut, sementara Daniel membantu membuka cangkangnya.
"Mas makan juga dong."
"Nggak, nggak, nggak. Aku udah mabok lobster dari tadi. Udah kamu aja." jawab Daniel.
"Hmmm."
"Enak?"
Lea mengangguk.
"Mau pake nasi." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Ya udah."
Daniel lalu mengambilkan nasi untuk Lea, dan menemani ia makan sampai selesai.