Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Konsultasi


__ADS_3

"Mas, belum pulang?"


Lea bertanya pada Daniel di telpon menjelang larut malam, pada beberapa hari kemudian.


"Iya Le, bentar lagi pulang. Ini kita semua lagi pada lembur, banyak kerjaan yang mesti di selesaikan." ujar Daniel.


"Kenapa?" lanjutnya lagi.


"Ini mas, si Darriel nangis terus. Nggak mau diem dari tadi, pusing aku."


"Penuh nggak popoknya?" tanya Daniel.


"Udah di ganti mas."


"Laper mungkin."


"Udah di kasih susu juga, masih aja nangis."


"Coba lepasin semua bajunya, kamu cek. Ada gigitan serangga kah, atau iritasi karena kutu kasur atau apapun itu."


"Masa iya ada kutu kasur, mas. Tiap hari loh aku bersihin."


"Siapa tau, Le. Kita kan harus memikirkan segala kemungkinan." ujar pria itu.


"Iya sih."


"Panas nggak badannya?" tanya Daniel untuk yang kesekian kali.


"Nggak, normal." jawab Lea.


"Ya udah kamu cek dulu, aku selesaikan ini semua. Habis ini aku langsung pulang, nggak pake lama." ujar Daniel.


"Ya udah, aku tunggu ya mas."


"Iya, sabar ya Le."


"Iya mas."


Lea kemudian menyudahi panggilan telpon tersebut, lalu melaksanakan apa yang Daniel perintahkan. Ia membuka seluruh baju dan popok Darriel, lalu memeriksa sekujur tubuh bayinya itu. Kalau-kalau ada bekas gigitan serangga maupun iritasi.


Namun sepanjang mata memandang, tak ada tanda-tanda akan hal tersebut. Sekujur tubuh Darriel baik-baik saja, hanya sedikit berkeringat. Lea lalu mengelap tubuh anaknya itu dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.


Tetap saja Darriel menangis. Lea kemudian menggendongnya keluar, mungkin bayi nya bosan pikir perempuan itu. Darriel terus menangis bahkan seperti seseorang yang tengah di pukuli.


"Duh, ada yang tau nggak kenapa bayi Newborn kenceng banget nangisnya dan nggak berhenti-henti."


Lea membuat status di Instagram story' miliknya. Berharap ada followers yang memberi solusi. Darriel diam sejenak saat di beri ASI, lalu kembali menangis.


"Darriel jangan kayak gini, mama bingung harus gimana." ujarnya lagi.


Darriel masih saja seperti itu, hingga Lea pun akhirnya ikut menangis. Tak ada yang bisa menyalahkan, ia masih sangat muda untuk memiliki seorang bayi. Plus ia saat ini sendirian, tak ada teman jaga yang bergantian mengasuh anak itu.


"Lea."


Tiba-tiba Daniel datang, setelah beberapa menit berlalu. Ia melihat Lea yang menangis tersedu-sedu, sambil menggendong Darriel yang masih menangis.


"Nggak berhenti-henti, mas. Aku bingung." ujarnya seraya menyeka air mata.

__ADS_1


Daniel langsung mendekat dan mengambil Darriel dari tangan sang istri. Mendadak Darriel langsung diam, membuat Lea dan juga Daniel terkejut dan saling bertatapan.


Lea mengambil tissue lalu menyeka sisa air mata di wajahnya. Daniel membelai kepala dan mencium kening istrinya itu dengan lembut.


"Sana istirahat gih, kamu pasti capek kan ngurus dia seharian. Mana kamu sendirian lagi."ujar pria itu.


Lea mengangguk.


"Udah makan belum kamu?" tanya Daniel pada Lea.


"Udah tadi sore." jawab Lea.


"Makan lagi sana, atau bikin susu. Biar Darriel aku gendong dulu."


"Tadi kamu udah cuci tangan mas?"


"Udah di bawah, udah pake hand sanitizer juga." lanjut pria itu.


"Ya udah, aku makan bentar ya mas."


"Iya." jawab Daniel.


Pria itu kemudian duduk di sofa sambil masih menggendong Darriel. Darriel sepertinya begitu nyaman dalam dekapan sang ayah.


"Kamu kenapa nangis terus kayak gitu?. Hmmm?. Kangen sama papa?" tanya Daniel pada Darriel. Sementara bayi itu hanya bisa memberikan tatapan.


"Papa kerja nak, nggak bisa sepanjang hari sama Darriel. Tapi kan kalau libur papa dirumah, dari pagi sampai besok paginya lagi." lanjutnya kemudian.


Lea memperhatikan Daniel dan Darriel sambil sedikit tersenyum. Meski ia masih sedih akibat kejadian tadi yang cukup menguras emosi. Perempuan itu lalu makan, sambil mendengarkan sang suami yang terus berceloteh.


Lama kelamaan mata Darriel pun meredup, lalu ia tertidur dengan nyenyak. Daniel sendiri membiarkan anak itu dalam dekapan untuk waktu yang cukup lama. Kemudian baru ia pindahkan ke dalam box.


***


Lea membaca sebuah komentar netizen, yang maha mengetahui suatu perkara melebihi sang maha pencipta. Komentar tersebut.ditujukan pada insta story yang tadi ia buat.


Lalu ada lagi komentar-komentar lain di bawahnya.


"Itu mah biasa mbak. Anak saya juga dulu gitu, masuk bulan keempat sembuh sendiri."


"Itu biasa mbak, sabar aja menghadapinya."


"Mungkin iritasi sis."


"Laper kali bund."


"Fix itu mah diganggu makhluk halus, aturan pakainya jimat-jimat. Jangan mengabaikan apa kata orang tua dulu. Setan itu senang mengganggu bayi."


"Cobalah anak itu dipakaikan gelang jimat, kasih gunting dan sapu di dekat tempat tidurnya. Itu pasti gangguan jin."


"Kamu baca apa Le, sampe stress gitu mukanya."


Daniel yang baru selesai mandi menatap Lea yang begitu kusut, sambil melihat layar handphone.


"Ini mas."


Lea menyerahkan handphone dan memperlihatkan isi dari direct message yang ditujukan padanya. Daniel kemudian membaca pesan tersebut secara seksama.

__ADS_1


"Ah, kamu ini kan berpendidikan. Ngapain percaya beginian."


"Tapi tuh Darriel baru kali ini nangis lama dan kenceng kayak gitu mas. Takutnya kenapa-kenapa."


Daniel menghela nafas, lalu berpakaian. Setelah meletakkan handuk ke kamar mandi, ia pun menghampiri dan duduk disisi Lea.


"Besok, kita ke dokter anak. Kita tanyakan sama dokter, kenapa dia nangis kayak gitu."


"Besok kan mas kerja."


"Nggak apa-apa, aku temenin. Aku juga pengen tau." jawab pria itu.


Lea mengangguk, kemudian Daniel memeluknya dengan erat.


"Tapi yakin mas, rumah ini nggak ada makhluk halusnya." tanya Lea.


"Le, makhluk gaib itu ada, Tuhan kita aja nggak keliatan. Tapi Tuhan juga nggak mungkin membiarkan bayi yang masih rapuh dan suci di ganggu sama makhluk kayak gitu. Masa iya Tuhan diem aja. Kita aja yang setua dan berdosa ini di lindungi. Masa bayi yang masih suci nggak, logika aja."


"Iya sih."


"Udah, pokoknya besok kita ke dokter ya."


"Iya mas." jawab Lea.


***


Esok harinya Daniel dan Lea membawa Darriel untuk periksa ke dokter anak. Dan dokter mengatakan jika kondisi Darriel baik-baik saja.


"Dia sehat, nggak ada apa-apa." ujar dokter tersebut pada Daniel dan juga Lea.


"Terus kenapa dia nangisnya lama dan kenceng banget dok?. Sampe stress saya, kayak bayi yang disiksa nangisnya."


Dokter itu tersenyum pada Lea.


"Bayi yang suka menangis sering, apalagi menjelang Maghrib dan lama. Itu biasa terjadi dimana-mana" jawab dokter tersebut.


"Penyebabnya, dok?" tanya Daniel penasaran.


"Umumnya bayi merasa lapar, tetapi terkadang hal tersebut bukan menjadi satu-satunya sebab. Di rentang waktu menjelang Maghrib, bayi sering merasa gelisah dan tidak tenang sehingga mereka akan menangis untuk menyalurkan emosi yang mereka rasakan. Jadi mereka itu belum bisa menghandle emosi yang mereka miliki, seperti layaknya kita orang dewasa. Umumnya ini akan terjadi sampai usia mereka 12 minggu."


"Oh, oke." Daniel paham, begitupula dengan Lea.


"Terus cara mengatasinya dok?" tanya Lea.


"Kalau penyebabnya dia lapar, bisa diberikan ASI sambil di dekap."


"Kalau sudah ASI tapi masih nangis juga?"


"Bisa diajak mengitari rumah, sambil di gendong dan di dekap juga. Tapi yang pasti harus sabar. Kalau capek menangis, bayi akan berhenti dengan sendirinya."


"Baik dok." jawab Lea kemudian.


Daniel menoleh pada istrinya dan tersenyum.


"Nangis dok, semalem." ujarnya pada dokter.


Dokter tersebut ikut tersenyum.

__ADS_1


"Itu hal biasa koq pak Daniel. Umumnya ibu baru, akan merasa bingung ketika anaknya terus menangis. Apalagi kalau di sekitarnya tidak ada yang lebih tua dan membantu dalam mengurus si bayi. Ada yang lebih tua dan membantu mengurus, tapi misalkan si ibu di tekan dan di pojokkan. Itu juga bisa bikin si ibu jadi sedih dan stres. Pokoknya kalian berdua, harus saling menyemangati dan saling membesarkan hati pasangan dalam hal mengurus anak."


"Baik dok." jawab Daniel dan Lea serentak.


__ADS_2