
Selesai menemani Nina, Lea menuju ke kantor Daniel. Tanpa memberitahukan terlebih dahulu, jika ia akan kesana. Perempuan itu ingin memberi kejutan dan pulang bersama sang suami dalam satu mobil. Syukur-syukur jika bisa membujuknya untuk jalan dulu ke suatu tempat.
Biasanya di jam seperti ini Daniel sudah pulang. Lagipula tadi ia sudah sempat bertanya pada suaminya itu. Apakah hari ini ia akan pulang malam atau tidak, dan Daniel menjawab tidak.
Maka Lea pun meminta sang supir untuk menuju ke tempat dimana suami bekerja. Namun sesampainya disana, tiba-tiba Lea melihat Daniel buru-buru masuk ke dalam mobil. Padahal belum tepat jam pulang.
"Bu, itu pak Daniel." ujar supirnya pada Lea.
"Emang ini udah jam pulang ya pak?"
"Belum sih."
Lea mengambil handphone dan menelpon Daniel. Sementara suaminya itu sudah bergerak ke pintu exit.
"Mas."
"Iya Le, ada apa?"
"Mas dimana sekarang?"
Ia pura-pura tidak mengetahui keberadaan sang suami, ia ingin melihat apakah Daniel jujur atau tidak terhadap dirinya.
"Di jalan mau ke rumah sakit, Lea. Danisha jatuh dari tangga."
"Hah?" Lea amat sangat terkejut mendengar semua itu.
"Aku barusan dapat kabar dari Grace, kamu udah dimana sekarang?" tanya Daniel.
"A, aku udah di jalan pulang mas." Lea tak mengatakan dimana posisinya.
"Ya udah, tunggu aku di rumah ya."
"I, iya mas. Hati-hati di jalan, kabarin aku perkembangannya gimana."
"Ok, nanti aku kabarin."
"Mas mau ke rumah sakit mana?"
Daniel pun lalu menyebut nama rumah sakit yang hendak ia tuju.
"Ok mas, hati-hati."
"Iya."
"Bye."
"Bye."
Lea menyudahi telponnya, namun tiba-tiba ia penasaran. Ia ingin juga menyambangi rumah sakit tersebut. Walaupun kurang begitu suka pada Grace, namun anaknya tidak bersalah. Dan biar bagaimanapun itu adalah adik dari Daniel. Lea tak mungkin membenci seorang anak kecil yang tidak berdosa.
"Pak, kita susul pak Daniel aja." ujar Lea pada sang supir.
"Kemana bu?"
Lea pun menyebutkan nama dan lokasi rumah sakit yang tadi sudah diberitahu oleh Daniel. Sesaat kemudian supir pun memutar arah dan mereka menuju ke sana.
__ADS_1
***
"Grace."
"Dan."
Grace menghambur ke pelukan Daniel, ketika Daniel tiba di muka ruang unit gawat darurat. Dimana adik tirinya tengah ditangani oleh dokter.
"Gimana ceritanya sih?" tanya Daniel kemudian.
Ia terlihat cukup cemas saat itu, pasalnya Danisha hanyalah seorang bayi yang mungkin tak cukup kuat menerima kesakitan.
"Aku nggak tau Dan, aku belum cek di CCTV. Aku cemas dan buru-buru mau menyelamatkan anak aku. Tapi aku yakin ini ada hubungannya dengan perempuan itu. Karena Danisha itu selalu di dalam box bayi. Kalaupun main di bawah, pasti ada aku atau mbaknya yang nemenin. Perempuan itu ada dirumah pada saat kejadian, aku tadi dari beli keperluan Danisha di luar."
"Mbaknya kemana pada saat kejadian itu?" tanya Daniel.
"Mbaknya lagi jemur baju dia dilantai tiga, katanya. Dan katanya lagi Danisha itu tidur, pas dia tinggalin di kamar."
Daniel menghela nafas, mereka kini menunggu dengan harap-harap cemas.
"Aku takut Dan, takut terjadi apa-apa sama dia."
"Daddy udah dikasih tau?"
"Sudah, dan seperti biasa dia lebih mementingkan pekerjaan. Dia bener-bener nggak punya hati, Dan. Mentang-mentang Danisha itu perempuan, kayak nggak terlalu penting buat dia."
Daniel menghela nafas, darahnya kini seperti naik ke ubun-ubun demi mendengar sikap ayahnya tersebut.
Sementara di suatu sudut, Lea tengah memperhatikan keduanya. Ia juga mendengar isi percakapan tersebut. Hatinya merasa cemburu, namun ia juga berusaha untuk mengerti kondisi Grace saat ini. Toh suaminya dan perempuan itu tidak sedang membicarakan hubungan mereka. Keduanya hanya fokus kepada Danisha.
Akhirnya Lea meninggalkan pelataran rumah sakit dan menuju ke rumah.
***
"Kemungkinan besar itu penyakit sipilis, Vit."
Salah seorang mantan kakak kelas Vita yang kini tengah kuliah kebidanan, membalas chat Vita mengenai apa yang ia alami. Karena hanya itulah satu-satunya teman akrab Vita, yang kuliah di bidang kesehatan. Vita tak punya tempat lain untuk bertanya.
"Jadi gue harus gimana?" balas Vita.
"Ya untuk lebih jelasnya, lo mending langsung periksa aja ke rumah sakit. Ada beberapa yang menyediakan layanan gratis, untuk periksa sipilis sekaligus HIV. Saran gue lo ambil aja periksa keduanya, gratis ini." teman Vita kembali menjawab.
"Nih rumah sakitnya."
Teman Vita kembali mengirim daftar list rumah sakit yang menyediakan layanan periksa gratis, untuk penyakit HIV dan penyakit menular seksual lainnya.
"Kalau gue beli tes kit sendiri di online gimana?" Vita kembali membalas chat, lalu di jawab lagi dengan cepat oleh temannya itu.
"Itu belum tentu akurat, karena pemeriksaan itu bukan sekedar pada permasalahan pokoknya aja. Lo akan ditanyai dulu secara menyeluruh, mengenai kondisi lo. Lagian rahasia dijamin aman koq, dan di sana itu nggak ada orang yang bakal menghujat. Semua dijamin membantu dan friendly."
Vita terdiam cukup lama, memandangi balasan tersebut sambil menimbang-nimbang. Ia kini berfikir apakah ia harus sudah ke rumah sakit atau belum.
"Jika iya, bagaimana?"
"Apa yang harus ia lakukan, jika ia positif menderita penyakit menular seksual?"
__ADS_1
"Bagaimana cara ia menghadapi kenyataan itu nanti?"
"Hhhh."
Vita menghela nafas panjang, ia benar-benar tenggelam dalam kebingungan.
***
"Apa?. Anak saya mengalami retak di kepala dan telinganya mengalami cidera, dok?"
Grace begitu kaget mendengar penjelasan dokter. Tubuh wanita itu gemetaran, sementara air matanya kini mengalir deras. Daniel yang mendampingi tampak berusaha menenangkan hati Grace.
"Iya bu, benturan yang dialami bayi ibu terbilang cukup keras. Untuk kronologi yang sudah ibu ceritakan, lebih baik ibu segera melapor ke pihak yang berwajib. Agar bisa dilakukan penyelidikan, terhadap siapapun yang berkaitan. Bayi ibu sendiri, saat ini sedang dalam penanganan serius. Apakah nantinya akan diperlukan operasi atau tidak, kita tunggu hasil observasi lebih lanjut."
Tangis Grace kian pecah, Daniel lalu memeluk erat wanita itu.
***
Waktu berlalu.
Daniel masuk ke sebuah ruangan dan menghampiri Edmund yang tengah rapat dengan kliennya.
Saat dibawah Daniel datang dengan berusaha bersikap tenang. Ia mengatakan pada resepsionis, jika ia diminta sang ayah untuk datang dan menunggu di ruangannya. Karena ada hal penting yang hendak mereka bicarakan.
Lantaran Daniel adalah anak dari Edmund, resepsionis tersebut pun memberinya izin. Hingga ketika sampai di pantai paling atas gedung, Daniel menghampiri Edmund dan langsung memukul wajahnya secara serta merta.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
"Brengsek, bajingan."
Teriaknya kemudian.
Edmund dan seisi ruang rapat pun terkejut. Para klien berusaha memisahkan Daniel dari sang ayah.
"Apa-apaan ini?"
Edmund berujar dengan mata memerah akibat marah besar pada Daniel. Betapa tidak, ia telah dipermalukan di hadapan klien yang tengah hadir.
"Lo yang apa-apaan, bangsat. Ayah macam apa yang anak bayinya jatuh dari tangga, kondisinya serius, sedang dia masih ada di ruang rapat tanpa khawatir sedikitpun. Ayah macam apa lo, bangsat?. Hah?"
Seisi ruangan itu terkejut, mereka kini kompak menatap ke arah Edmund. Membuat Edmund seketika gelagapan.
"Lo nyimpen cewek lain dirumah, selain istri lo. Cewek lo yang bikin anak lo celaka, dan elo nggak ada khawatir-khawatirnya sama sekali. Binatang aja nggak ada yang sikapnya kayak elo."
Daniel berkata dengan nada penuh berapi-api, tak lama kemudian sekuriti datang. Daniel diminta untuk segera keluar.
"Nggak usah sok mengamankan saya, saya akan keluar sendiri." teriaknya.
Daniel menarik diri dari tempat itu, yang penting hatinya puas sudah menghajar ayah yang tak bertanggung jawab seperti Edmund. Sedangkan para klien Edmund kini memandang sang partner, dengan pandangan yang penuh kekecewaan.
Mereka kecewa jika benar Edmund melakukan hal tersebut, meski itu bukan urusan mereka dan tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
__ADS_1