
Arsenio tiba di kediaman Reynald dan langsung dibukakan pintu pagar oleh sekuriti. Tanpa banyak berbasa-basi ia pun segera berlarian masuk dan menerobos pintu depan yang kebetulan tidak di kunci. Para asisten rumah tangga kaget dengan kepulangan pemuda itu.
"Papa mana?" tanya nya dengan wajah cemas.
"Di atas." jawab salah seorang asisten rumah tangga tersebut.
Maka Arsen pun bergegas menuju ke lantai dua. Dan setibanya disana ia melihat Reynald yang baru keluar dari kamar, lengkap dengan setelan jas dan seperti telah siap untuk berangkat kerja.
"Papa."
Arsen membuat Reynald terkejut.
"Arsen?"
Pria itu mendekat lalu secara serta merta memeluk sang anak.
"Kamu kemana aja nak?" tanya nya kemudian.
"Papa nggak apa-apa?"
Arsen tampak masih begitu cemas akan kondisi sang ayah. Reynald sendiri bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Arsen.
"Om Richard bilang papa sakit parah, dan nggak mau dibawa ke rumah sakit. Papa sakit apa?" tanya Arsen.
Reynald diam, kali ini ia menghela nafas agak panjang.
"Apa papa mesti sakit parah dulu, baru kamu mau pulang?" pria itu balik bertanya.
Arsen paham jika dirinya telah dibohongi oleh Richard. Karena ia diharapkan untuk pulang demi Reynald.
"Arsen tuh banyak kegiatan, pa. Bukannya nggak mau pulang sama sekali." jawab Arsen.
"Paling nggak liat papa sesekali. Kamu masih punya orang tua dan kamu itu sakit. Papa membebaskan kamu kesana-sini, bukan berarti papa nggak cemas mikirin kamu setiap hari. Cuma papa nggak mau ngomong, takut kamu insecure dan merasa berbeda dengan orang yang normal pada umumnya. Papa nggak mau kalau kamu berpikir Tuhan nggak adil kasih kamu penyakit bawaan."
Arsen diam.
"Maafin Arsen, Arsen janji akan lebih sering ada di rumah." ucap pemuda itu.
Reynald pun menghela nafas agak dalam dan mengangguk.
"Ya udah, mandi dan makan. Papa usahakan pulang sore sekitar jam empat. Kamu tunggu di rumah, jangan kemana-mana." ucap Reynald.
Maka Arsen pun mengangguk. Tak lama. Reynald turun ke bawah dan Arsen masuk ke dalam kamar.
***
Dua hari kemudian saat Daniel hendak akan pergi ke kantor. Tiba-tiba sekuriti bawah mengabarkan jika ada seorang wanita yang ingin bertemu dengannya.
Maka Daniel pergi ke bawah, sebab si perempuan enggan mengungkapkan identitasnya kepada sekuriti.
Awalnya Daniel mengira itu Shela yang masih ingin mengejar dirinya. Lea yang ada di atas pun berpikir demikian, tetapi setelah ditemui Daniel benar-benar terkejut. Sebab itu adalah ibunya yang datang jauh-jauh dari Turki.
Tentu saja Daniel senang dan menyambut kedatangan orang tuanya itu dengan baik. Ia kemudian mengajak sang ibu ke atas dan menemui Lea.
__ADS_1
"Siapa itu?"
Lea bertanya pada Darriel yang akhirnya di gendong oleh sang nenek. Tak seperti biasanya, Darriel kini agak lebih kalem. Ia terus memperhatikan ibu Daniel lekat-lekat.
"Di gendong siapa coba?"
Daniel menimpali pertanyaan Lea. Sementara Darriel hanya berkedip dan terus memperhatikan.
"Dia mirip Daniel waktu bayi." ucap ibu Daniel yang juga terus memperhatikan Darriel.
Tiba-tiba Darriel hendak tersenyum, namun ragu.
"Dih koq gitu senyumnya. Ragu-ragu begitu." goda Lea.
"Heee."
"Hokhoaaa."
Bayi itu mulai memberikan reaksi.
"Ya udah mama disini aja." ujar Daniel.
"Kamu mau berangkat kerja?" tanya sang ibu.
"Iya, udah siang soalnya."
"Ya sudah hati-hati di jalan ya."
"Iya ma."
Kebetulan ibu Daniel adalah tipe mertua yang baik dan santai, maka Lea pun tak harus bersikap menjadi fake dihadapan wanita itu.
***
"Dan, Icha nakal dan nyusahin nggak?"
Grace bertanya di telpon pada Daniel. Ketika Daniel belum lagi sampai di kantor dan masih terjebak kemacetan lalu lintas.
"Nggak koq, baik-baik aja." jawab Daniel.
"Maaf ya, aku pulang nanti malem. Mungkin Icha aku jemput besok pagi." ujar Grace.
"Ya udah nggak masalah. Selesaikan aja dulu urusan kamu, masalah Icha semua udah di handle sama Lea."
"Oh ya udah kalau gitu, makasih banyak ya."
"Iya, sama-sama." jawab Daniel.
Maka Grace pun menyudahi percakapan tersebut, dan Daniel melanjutkan perjalanan. Kebetulan kemacetan kini telah berakhir. Ia menyusuri jalan demi jalan, sampai kemudian ia berpapasan dengan mobil Richard.
Daniel melihat Richard dan seorang anak berpakaian sekolah dasar di sampingnya. Tetapi karena itu berlangsung cepat, Daniel tak bisa melihat dengan jelas wajah dari anak tersebut.
"Anak SD siapa yang dibawa Richard?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Ia pun agak berpikir, sebab Richard tak memiliki keponakan yang seusia anak SD.
"Ah mungkin anak tetangganya yang menebeng dan minta diantarkan." pikir Daniel.
Maka ia pun tak memusingkan hal tersebut dan lanjut berjalan, hingga tiba di kantor. Sementara Richard sendiri pada akhirnya tiba di sekolah Arkana. Ia mengantar anak dari Nadya itu pagi ini.
Sebab Arkana yang ingin diantar olehnya dan Richard menuruti saja. Bukan karena ia ingin mencari perhatian Nadya, tetapi hanya ingin memenuhi harapan anak itu.
"Om makasih ya."
Arkana berpamitan untuk segera keluar dari mobil.
"Sama-sama." jawab Richard.
"Nanti belajarnya yang bener dan jangan nakal, oke?"
"Oke."
Arkana segera keluar dan berlarian menuju gerbang sekolah. Sementara Richard kini berbelok arah, guna mencapai kantor.
***
Waktu berlalu, Lea tampak melihat ibu Daniel memasak masakan khas negara Turki di dapur. Ia juga membantu apa yang ia bisa bantu, meski itu tak banyak. Sebab Lea takut salah dan akhirnya masakan itu malah kacau nantinya.
"Jadi mama bikin roti sendiri setiap hari?" tanya Lea ketika selesai mendengar cerita sang ibu mertua. Bahwasanya menikah dengan pria Turki rata-rata wanita diminta untuk pandai memasak dan berhemat.
"Iya Le, setiap hari. Karena mereka itu suka banget makan roti. Tapi nggak mau beli juga, karena bikin sendiri jauh lebih hemat." jawab sang ibu mertua.
"Tapi kan makan waktu, ma." ucap Lea.
"Kalau Lea mah mending ke toko bakery." selorohnya lagi sambil tertawa.
Ibu Daniel kini ikut-ikutan tertawa.
"Ya nanya juga tempat, Le. Lain ladang, ya lain belalang. Lain negara, ya lain pula kebiasaan." ujar ibu Daniel.
"Tapi ma, Lea pernah lihat YouTube nih. Ada yang bikin konten katanya menikah sama cowok Turki itu nggak gampang. Hidupnya kebanyakan bener-bener di atur sama suami dan keluarga suami." ujar Lea.
"Itu benar. Tapi kalau mama, syukurnya dapat suami yang dan keluarga suami yang nggak gitu-gitu amat. Ya masih standar aja aturannya." ucap ibu Daniel.
Lea terus memperhatikan mertuanya itu.
"Contoh aturannya gimana ma?"
"Ya rata-rata disuruh masak, harus pinter beberes. Kalau yang lain sih keuangan 100% diatur suami atau mertua. Istri bener-bener nggak boleh pegang duit."
"Oh ya?. Sampe segitunya ma?" tanya Lea.
"Iya, tapi ada juga yang kayak suami mama. Yang istrinya boleh pegang uang, boleh keluar rumah walau tanpa suami. Mau tinggal memisahkan diri dari orang tua."
"Emang rata-rata nggak misah rumah?" Lagi-lagi Lea bertanya.
"Kebanyakan sih nggak, dan kehidupan rumah tangga anak laki-laki diatur sama ibunya." ucap ibu Daniel.
__ADS_1
Lea menarik nafas, ia merasa beruntung menikah dengan Daniel. Tak lama apa yang dibuat pun matang, lalu mereka makan bersama.