
"Hmm, om."
Lea melepaskan ciuman Daniel sesekali untuk menyebutkan nama pria itu, sementara Daniel terus memberikan sentuhan diberbagai sisi. Tangan Daniel mulai menjamah dengan gemas, gundukan besar yang ia idamkan sejak lama ini. Sementara bagian bawah tubuh mereka kini sudah kehilangan jarak.
"Hmm, sssh."
"Tok, tok, tok."
Terdengar suara ketukan pintu. Daniel menghentikan aktivitasnya lalu tertawa, tampak Lea sudah sangat berantakan dibuatnya. Gadis itu buru-buru menurunkan bajunya yang semula tersingkap dan menuju ke kamar.
"Cekrek."
Daniel membuka pintu, ternyata Ellio yang datang. Pandangan mata Ellio langsung berubah penuh kecurigaan, namun terlihat jelas ia berbahagia. Andai saja dugaannya memang benar.
"Lo koq kusut banget, bro. Laundry lo nggak nyetrikain kemeja sama jas?"
Ellio menyindir Daniel, sementara yang disindir hanya tersenyum.
"Masuk, bangsat." ujarnya kemudian.
"Wah harusnya gue nggak kesini nih, biar lo bisa dua atau tiga ronde."
"Gue nggak ngapa-ngapain, Bambang."
Daniel masih berusaha menyembunyikan semuanya. Namun caranya berbicara serta wajahnya yang penuh senyuman, Ellio bisa menangkap bahwa Daniel baru saja melakukan sesuatu yang menyenangkan. Terlepas dari sebatas mana ia melakukannya.
Sementara di dalam kamar, Lea berbaring sambil mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan sang sugar daddy. Lea pun jadi senyum-senyum sendiri.
***
"Ampun, dad."
Vita meringis kesakitan ketika tangan besar sugar daddy nya berlabuh di wajah gadis itu. Ini terjadi dimalam kepulangan mereka dari klub, Saat Lea masih tertidur pulas didalam kamarnya.
"Siapa yang nyuruh kamu pergi ketempat itu, dan minum sampai mabuk tanpa saya?"
Air mata Vita mengalir. Karena bukan hanya wajahnya yang sakit, tapi juga hatinya. Hanya karena dirinya dibeli, bukan berarti harus diperlakukan dengan kasar seperti itu juga.
"A, aku."
"Plaaak."
Satu tamparan lagi ia terima.
"Ingat, aku mengeluarkan uang banyak untuk membawa kamu keluar dari agency itu."
"Aku kesal dan stress karena daddy terlalu mengatur kehidupan aku. Aku nggak boleh ini, nggak boleh itu. Aku capek nurutin semua keinginan daddy."
__ADS_1
"Apa kamu bilang?"
Sugar daddy Vita mencengkram kedua sisi pipi dan dagu gadis itu dengan tangan, hingga ia pun merasa kian kesakitan.
"Bisa kamu mengembalikan semua uang yang sudah aku keluarkan untuk kamu?. Kamu itu tugasnya cuma nurut, aku bayar mahal kamu untuk itu. Kamu pikir aku nggak bisa cari perempuan lain diluar sana selain kamu, hah?"
Vita didorong ke belakang hingga tubuhnya terhentak ke dinding, ia lalu ditinggalkan begitu saja.
"Braaak."
Sugar daddy nya membanting pintu, air mata Vita mengalir. Baru terasa jika jalan yang ia pilih ini tidaklah mudah, semua ada konsekuensinya.
Lain Vita dan Lea, lain pula Nina. Sejak ia membuat kegaduhan bersama kedua temannya semalam, Nina tetap diperlakukan baik oleh sugar daddy dan keluarga sugar daddy nya tersebut. Mereka semua sangat-sangat dewasa dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan di oleh Nina.
"Jangan di ulangi lagi ya."
Ibu dari sugar daddy nya berujar, sesaat sebelum mereka sarapan pagi bersama. Kebetulan sang sugar Daddy sudah seminggu ini dirumah. Ada percekcokan kecil antara dirinya dan pria itu, hingga membuat Nina merasa perlu hiburan diluar. Namun kini ia merasa tak enak sendiri, karena perlakuan keluarga itu begitu baik.
"Kamu dengar kan tadi, apa yang ibuku bilang."
Sugar daddy Nina berujar, ketika mereka kini tengah jalan-jalan berdua dengan menggunakan mobil sport.
"Maaf ya, mas." ujarnya kemudian.
Sugar daddy Nina menyuruhnya memanggil dengan sebutan itu.
Nina diam.
"Kamu ngerti kan?" tanya pria itu sekali lagi.
Nina menunduk, sambil menganggukkan kepala. Maka sugar daddynya itu kini membelai kepalanya dengan lembut.
***
"Hai."
Lea menyapa Daniel pada keesokan harinya. Hari itu libur sekolah, setelah kemarin ia bolos lantaran ngantuk akibat mabuk semalam sebelumnya.
"Hai." jawab Daniel seraya menarik sedikit sudut bibirnya. Meski irit, namun ia sudah mau tersenyum di pagi hari. Tak seperti sebelum-sebelumnya, ia cuek terhadap Lea.
"Lagi bikin apa?" tanya Lea kemudian, pasalnya pria itu terlihat sedang memasak.
"Pancake." jawab Daniel.
Pria itu lalu menyelesaikan semuanya dan memberikan satu piring untuk Lea. Satu piring lainnya lagi adalah untuk dirinya sendiri.
"Thanks." ujar Lea.
__ADS_1
Daniel menatap gadis itu, seperti tatapan di hari-hari sebelumnya yang terkesan acuh tak acuh. Bedanya hari ini tatapan tersebut diakhiri senyuman, Lea pun tertawa saking senangnya.
"Om ternyata bisa senyum lebar juga." ledeknya kemudian.
Lagi-lagi Daniel tersenyum bahkan nyaris tertawa. Tak lama kemudian mereka sudah terlihat duduk saling berhadapan di meja makan, menikmati sarapan pagi sambil bercakap-cakap. Bisa dibilang, itu adalah saat pertama dimana mereka duduk dan berbicara tanpa ada rasa canggung. Sesekali tawa mereka pun terdengar disana.
"Kenapa sih, om tuh cuek banget sama aku selama ini?"
Lea berujar ketika mereka telah selesai makan dan membereskan rumah. Kini mereka tengah duduk bersama di balkon.
"Aku bingung mau ngomong apa, karena selama ini aku takut omongan kita nggak akan nyambung." jawab Daniel.
Pria itu menghisap pod Vape miliknya sambil menatap ke arah depan. Ia duduk menghadap ke sekitaran gedung-gedung lain di yang menjulang, sedang Lea ada di sisi kiri namun agak ke belakang.
"Om meremehkan pengetahuan aku dalam berbagai hal?"
Lea kembali bertanya. Entah mengapa kata "Saya" yang biasa mereka pakai, kini berubah menjadi "Aku." Mungkin terbawa suasana.
"Iya, aku ragu soal itu." Lagi-lagi Daniel menjawab, namun ada tawa kecil diwajahnya.
"Aku bisa koq diajak ngomong apa aja. Pengetahuan umum, kesehatan, politik, bisnis, manajemen. Om mau ngajak aku ngomongin yang mana?"
Kali ini Daniel tertawa, ia lalu mengungkapkan sebuah istilah dalam bisnis. Dan itu membuat Lea terdiam.
"Mm, kalau itu aku belum belajar om. Ngomongin yang lain aja bisa nggak, drakor kek, K-pop gitu?"
Daniel masih tertawa, kemudian ia membalikkan tubuh ke arah Lea. Kini mereka duduk saling berseberangan.
"Gimana kalau kita membicarakan soal kopi?" tanya Daniel kemudian.
"Wah, aku juga nggak tau jenis-jenis kopi." jawab Lea mulai khawatir. Ia takut diajak membahas mengenai komoditas tersebut. Apalagi sampai membicarakan jenis, rasa dan lain-lain.
"Tapi bisa bikin kan?" lagi-lagi Daniel bertanya.
"Ma, maksudnya bikin kopi?" kali ini Lea yang bertanya.
"Iya dong, kamu pikir apa."
Lea tertawa.
"Om mau aku bikinin kopi?"
Daniel mengangguk.
Lea pun bergegas ke bagian dapur dan membuatkan segelas kopi. Tak lama kemudian, ia pun kembali pada Daniel.
Mereka lanjut mengobrol, kali ini seputar topik yang mudah dijawab oleh Lea. Yakni mengenai sekolah dan rencana nya masuk ke universitas mana.
__ADS_1