Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Botol Kecap


__ADS_3

"Pak, pak Daniel. Bangun pak, udah jam pulang."


Salah seroang karyawan membangunkan Daniel. Pria itu terkejut dan refleks duduk dengan kepala yang terasa berat.


"Saya ketiduran ya?" tanya Daniel kemudian.


"Bukan lagi ketiduran pak, tapi bapak udah tidur beneran. Lama lagi." jawab karyawan itu.


"Ini jam berapa emangnya?" tanya Daniel.


"Ini udah jam pulang pak."


"Hah?. Perasan tadi masih siang." Daniel melirik arloji yang ada ditangannya.


"Ya sekarang ini udah sore pak."


"Koq bisa saya tidur selama itu, tapi nggak ada yang membangunkan saya?" tanya nya lagi.


"Soalnya kata pak Richard, nanti kalau kalian pulang tolong bangunkan pak Daniel. Ya udah kami tunggu aja sampai jam pulang, baru kami bangunkan."


Daniel mendadak ingin mengirim karyawannya itu ke planet mars. Sebab ia terlalu patuh pada apa yang diperintahkan oleh Richard. Padahal sejatinya Daniel pun bisa dibangunkan jauh sebelum ini.


"Ya udalah kalau gitu, Richard udah balik kantor?" tanya nya lagi.


"Dari pertama bapak tidur tadi, pak Richard udah pergi. Nganterin mbak Marsha pulang, katanya dia pusing."


"Marsha pulang?"


"Iya pak."


"Oh ya udah, makasih ya."


"Iya pak, duluan ya pak."


"Iya." jawab Daniel kemudian.


Karyawan tersebut pun meninggalkan ruangan Daniel. Ketika keluar dari ruangannya, Daniel melihat seisi kantor telah benar-benar sepi. Bahkan ada beberapa lampu yang sudah di matikan.


"Kalau tadi mereka lupa aja bangunin gue. Bakalan sampe pagi nih gue disini." ujarnya sambil berjalan ke arah lift.


***


"Huacim."


"Huacim."


Lea bersin, namun saat ini dirinya mengenakan masker. Sedang Darriel tengah diberi ASI melalui botol dan ada asisten rumah tangga yang bantu menggendong bayi itu.


"Kenapa kamu ngeliatin mana?"


Lea bertanya pada Darriel yang saat ini tengah menatap ke arahnya.


"Huk."


"Huk."


Darriel melepaskan ujung botol susu dari mulutnya karena ia cegukan.


"Wuuuu, cegukan mulu."


Lea meledek Darriel, mata bayi itu tak terlepas dari sang ibu.


"Jangan liatin mama kayak gitu ah. Merasa bersalah mama jadinya."


"Huacim."


"Huacim."


"Huacim."

__ADS_1


"Istirahat, Le."


Richard yang sudah tiba terlebih dahulu sejak tadi, kini melintas dan memberi nasehat pada puterinya tersebut.


"Iya yah, bentar lagi. Nunggu Darriel tidur dulu."


"Kan nggak apa-apa, dia banyak yang jagain disini. Alasan aja kamu mau scroll sosmed kan?"


"Hehehe." Lea nyengir.


"Sana tidur, gimana mau sehat kalau tidur aja kurang."


"Iya yah, jawabnya kemudian.


Lea pun beranjak menuju kamar.


"Jangan main handphone." ujar Richard sekali lagi.


"Iya ayah, bawel banget pak Bambang."


"Awas kalau nanti ayah liat main handphone."


"Iya."


Lea lalu masuk ke dalam kamar dan benar-benar beristirahat kali ini.


***


Di sebuah negara.


Dian tengah memilah-milah bahan pangan di sebuah toko Asia. Ia telah kembali ke tempat itu selama beberapa waktu belakangan ini.


Ia memang terbiasa memasak, meski uang yang diberikan Richard untuknya terbilang cukup banyak.


Ia tak bisa terus menerus makan makanan barat. Sebab seperti orang lokal pada umumnya, ia harus makan nasi. Maka dari itu tiap seminggu sekali ia pasti menyambangi toko tersebut. Sebab disana banyak makanan dari daerah Asia yang dijual.


Bumbu-bumbunya juga sangat khas dan harganya cukup murah, meski terbilang tinggi bila dibandingkan dengan harga asli.


Dian mengecek expired salah satu sambal botol. Ia menyukai sambal tersebut karena terbilang praktis.


"Wah, masih lama." ujar Dian seraya memasukkan sambal itu ke dalam keranjang.


Kemudian ia beralih pada barisan botol kecap manis. Kebetulan brand yang ia sukai tersisa hanya satu botol lagi. Dian segera mendaratkan tangannya di botol tersebut. Namun hal itu berbarengan dengan tangan seseorang, yang tampaknya juga tengah mengincar barang yang sama.


Tangan Dian berada di botol itu, sambil bersentuhan dengan tangan orang yang juga ingin mengambilnya. Mereka saling menatap, kemudian tertawa satu sama lain.


"Ambil aja." ujar Dian mempersilahkan.


Ia berkata dengan bahasa sehari-hari, lantaran melihat orang tersebut memakai salah satu jaket dengan brand lokal yang cukup terkenal. Meski wajahnya sedikit blasteran, namun Dian yakin jika mereka memiliki bahasa yang sama.


"Oh nggak, kamu aja. Kayaknya kamu lebih membutuhkan. Saya bisa pake merk lain." ujar orang tersebut pada Dian.


"Nggak apa-apa kalau emang mau." Dian dengan sukarela memberikan.


"Udah kamu aja."


Pria itu masih merasa tak enak. Namun tiba-tiba ada orang lain yang datang dan mengambil kecap tersebut dengan wajah tanpa dosa.


Dian dan orang yang tadi juga sempat menginginkan hal yang sama itu, kini terdiam. Namun detik berikutnya mereka kembali tertawa.


"Oh ya, Sean." ujar orang tersebut pada Dian.


"Aku Dian."


"Mahasiswa?"


"Iya." jawab Dian.


"Kamu?"

__ADS_1


"Aku sudah kerja." ucap Sean.


Dan keduanya kembali tertawa.


"Mau ngopi?" tanya Sean pada Dian tanpa basa-basi. Mengikuti kebiasaan tempat dimana kini mereka tinggal.


"Mmm..." Dian melirik arloji pemberian Richard yang ada di pergelangan tangannya.


"Oke." jawab Dian kemudian.


"Tapi aku bayar dulu." lanjutnya lagi.


"Sama." ujar Sean.


Mereka lalu berjalan ke arah kasir dan membayar. Tak lama setelahnya, mereka meninggalkan toko tersebut sambil beriringan.


***


Malam hari, Lea telah cukup tidur dan kini tengah terjaga. Ia duduk di ruang keluarga sambil dipeluk oleh Richard. Sedang Daniel ada di sofa seberang sambil mendekap Darriel.


"Persiapan Ellio udah berapa persen, Dan?"


Richard bertanya pada Daniel mengenai persiapan lamaran dan juga pernikahan Ellio. Meski sahabat mereka itu saat ini masih terbaring di rumah sakit.


"Adalah 60%." ujar Daniel.


"Good, jadi nanti tinggal menghadap orang tuanya Marsha dan semoga aja nggak banyak drama." tukas Richard.


"Orang tua Ellio udah lo kasih tau?" tanya Richard lagi.


"Udah."


"Terus tanggapan orang tuanya gimana?"


"Ya mereka malah seneng mau punya cucu."


Richard menatap Daniel, lalu mereka sama-sama tertawa.


"Emang nggak ada akhlak." ujar Richard kemudian.


"Anaknya ngebuntingin anak orang, bukannya marah malah seneng." lanjutnya lagi.


Daniel makin tak kuasa menahan tawa, meski saat ini Darriel tengah tertidur dalam dekapannya dan tak bisa mendengar suara berisik.


"Masih mending orang tuanya Ellio, bro." ucap Daniel.


"Orang tua lain ada loh yang anaknya menghamili anak orang, tapi di dukung buat kabur." lanjut pria itu.


"Itu lebih nggak bener lagi." ujar Richard.


"Abis om Ellio, ayah ya yah yang nikah."


Lea yang sejak tadi diam, kini berbicara. Namun celetukannya berhasil membuat Daniel menertawai Richard.


"Anak lo noh, udah minta ibu baru." ucap Daniel.


"Ibu baru, dikata gampang kali." jawab Richard.


"Gampang koq sebenernya. Tapi ayah sama kak Dian aja yang ribet." Lea kembali berujar.


"Ya kan Dian nya yang belum mau, ayah mah nurut aja." Richard membela diri.


"Ayah harusnya bisa meyakinkan, ntar di gondol orang loh yah."


"Siapa yang mau ngambil Dian dari ayah. Orang semua biaya hidup dia, ayah yang tanggung."


" Ye siapa tau aja, jangan kepedean dulu." ujar Lea.


Richard hanya tertawa lalu mencium kening anaknya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2