Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sogokan (Bonus Part)


__ADS_3

"Maryanto."


Hanif memergoki salah satu dari dua supir Nadya yang baru saja mengantarkan Arkana ke sekolah. Supir tersebut tampak mampir ke pedagang asongan dan membeli rokok.


"Eh, bapak."


Maryanto kaget.


"Apa kabar pak?" ujarnya berbasa-basi.


"Baik." jawab Hanif.


Pria itu sok asik dengan turut membeli rokok pula pada pedagang asongan.


"Bapak ngapain disini?" tanya Maryanto, ketika Hanif telah menyalakan batang rokoknya.


"Mau lihat Arkana." jawab Hanif.


Maryanto agak kaget karena sejatinya Nadya sudah mewanti-wanti, agar Hanif tak menemui sang anak dulu. Kecuali di dampingi oleh pengacara.


"Arkana-nya udah masuk pak." ujar Maryanto.


"Iya, lain kali aja." jawab Hanif.


"Istri dan anak kamu apa kabar?" tanya pria itu.


"Baik, pak." jawab Maryanto.


"Oh ya."


Tiba-tiba Hanif mengeluarkan uang sebesar satu juta dan memberikannya pada Maryanto.


"Maaf pak, ini untuk apa ya?" tanya Maryanto heran.


"Ini untuk anak dan istrimu." ujar Hanif.


Maryanto masih tidak mengerti.


"Tapi pak."


"Sudah kamu ambil saja!" Hanif memaksa.


Maryanto pun tak bisa menolak, karena posisinya adalah karyawan. Dan Hanif adalah suami dari majikanya, meski mereka sudah berada di ambang perceraian.


"Ya sudah, saya pamit ya." ujar Hanif.


"Oh, iya pak. Terima kasih sekali lagi." tukas Maryanto.


Hanif berbalik arah, kemudian melangkah. Namun tak lama dari itu ia kembali pada Maryanto.


"Saya bisa kasih kamu seratus juta dan kamu bisa merubah nasib. Asalkan kamu mau kasih tau saya, siapa orang yang saat ini sedang dekat sama Nadya."


Maryanto terdiam. Ia sudah menduga sejak awal tadi, jika Hanif tidaklah tulus dalam memberi.


"Kamu nggak usah jawab pertanyaan saya sekarang, kamu pikir dulu aja baik-baik. Dengan uang segitu kamu bisa mengangkat derajat keluarga dan bisa memulai usaha." ujar Hanif lagi.


Suami dari Nadya itu kemudian benar-benar berlalu. Meninggalkan Maryanto dalam kebingungan yang mendalam.


***


"Delil kita beli baju baru yuk buat kamu."


Lea yang sudah bersiap tersebut kini memasukkan Darriel ke dalam stroller. Ia berniat mengajak anaknya itu ke mall bersama Adisty dan Ariana.


Baju-baju lama sudah diberikan Lea ke panti asuhan terdekat. Dan rencananya hari ini ia akan membelikan baju baru untuk anaknya itu.

__ADS_1


"Hokhoaaa."


"Ya udah ayo!"


Lea mendorong stroller. Namun kemudian terdengar suara Darriel yang seperti hendak pup.


"Udah cakep, Delil. Kenapa baru eek sekarang?"


Lea antara gemas dan kesal, sementara Darriel kini tertawa. Dengan wajah datar Lea kembali mengeluarkan anak itu dari dalam stroller dan membersihkannya. Kemudian Darriel di pakaikan popok baru, tapi bayi itu kembali lapar.


Lea terpaksa memberikan ASI terlebih dahulu, sampai kemudian Darriel pun tertidur. Setibanya di mall, Adisty dan Ariana yang berharap bisa berinteraksi dengan Darriel malah zonk. Pasalnya bayi itu masih tertidur dengan lelap.


"Koq tidur Le?" tanya Adisty pada Lea.


"Ya tidur, orang abis pup terus nyusu." jawab Lea.


"Yah, Delil bangun dong!. Aunty mau main sama Delil." ujar Adisty.


"Ntar juga bangun sendiri koq." tukas Lea.


Tak lama mereka pun mulai berjalan-jalan di mall tersebut dan menyambangi baby outlet atau baby store yang menjual berbagai perlengkapan bayi.


Adisty dan Ariana malah antusias, padahal Lea yang punya anak. Mereka memilih baju-baju dengan berbagai warna dan gaya.


Tak lama Darriel bangun dan sedikit menangis. Kemudian ia digendong oleh Lea dan akhirnya diam.


Selang beberapa saat ia sudah terlihat tertawa-tawa. Bahkan berpindah tangan dari Adisty ke Ariana, kemudian kembali lagi kepada Lea. Hari itu Lea tak membeli banyak.


"Udah, segini aja." ujar Lea pada kedua temannya.


"Nggak kurang tuh, Le?" tanya Adisty.


"Ntar beli banyak-banyak malah nggak kepake, Dis. Nih anak cepat banget gedenya." ujar Lea.


"Iya sih, sayang kalau gitu." ujar Adisty.


"Makan mulu sih, kamu." Ariana berseloroh pada Darriel dan Darriel pun mengoceh.


"Hokhoaaa."


"Owawawa."


"Gembul." ujar Lea.


"Heheee."


"Mukanya pengen gue remas, Le." ujar Adisty yang kini malah meremas pegangan stroller.


"Kadang pengen gue gebuk." ujar Lea.


"Heheee." Lagi-lagi Darriel tertawa.


"Saking gemesnya mama, sampe pengen mama gebuk ya Delil. Gedebuk, gedebuk, gedebuk." ujar Lea.


"Heheee."


Mereka selesai, Lea kemudian bergerak ke arah kasir. Sementara Darriel tetap bersama Adisty dan Ariana.


Mereka lanjut berbelanja skincare dan makeup. Lalu memutuskan untuk makan berat.


Mereka jalan sampai sore hari menjelang, setelah itu Lea baru mengajak Darriel pulang. Sebab tak lama berselang Daniel pun pulang dari kantor.


***


"Hanif nyogok supir kamu?"

__ADS_1


Richard bertanya pada Nadya. Usai Nadya di ceritakan oleh Maryanto, perihal perbuatan Hanif tadi siang. Hanif sengaja menyogok supir istrinya itu untuk menjadi mata-mata.


"Iya pak, dia intinya mau supir saya jadi mata-mata buat dia. Tapi supir saya ngadu ke saya." ujar Nadya.


Richard menghela nafas agak dalam.


"Kalaupun ada yang membocorkan soal ini ke dia. Satu yang harus kamu tau, aku nggak takut sedikitpun sama dia." ujar Richard.


Nadya terdiam, namun seperti ada jaminan rasa aman yang menyelimuti batin wanita itu.


"Iya pak." ujarnya kemudian.


"Arkana mana?"


Richard mengalihkan topik pembicaraan. Bukan karena ia gentar, tapi ia hanya malas saja me dengar nama Hanif. Emosinya tersulut ketika mendengar nama pria itu.


Karena saat ini dirinya mencintai Nadya. Maka segala apapun yang menyakiti Nadya, ia tak bisa terima begitu saja.


"Ada, Arka di dalam. Mau ngomong?" tanya Nadya.


"Boleh." jawab Richard.


Nadya lalu memanggil sang anak.


"Kenapa ma?" tanya Arkana seraya berbicara dari pinggir tangga lantai dua.


"Om Richard mau ngomong sama kamu." ujar Nadya.


"Oh ya?"


Arkana mendadak sumringah dan antusias. Tak lama ia pun lalu turun dan menerima panggilan tersebut.


"Hallo, om." ujarnya pada Richard.


"Hey, Arka. Apa kabar kamu?"


Richard melontarkan pertanyaan.


"Baik, om sendiri gimana?" Arkana balik bertanya.


"Baik juga, sama." jawab Richard.


Mereka lalu mengobrol panjang lebar, sampai kemudian Arkana mengembalikan handphone pada sang ibu. Dan Richard lanjut berbincang dengan wanita itu.


***


"Tadi kemana aja, Le?"


Daniel bertanya pada Lea, ketik ia telah selesai mandi sore dan menggendong Darriel.


"Makan sama jalan aja sama Adisty dan Ariana, mas. Sambil beliin si gembul baju." jawab Lea.


"Kamu tadi belanja ya?" tanya Daniel pada sang anak.


"Ngabisin uang papa kamu kan?" canda Daniel.


"Hokhoaaa."


"Owawawa."


"Nggak apa-apa koq, abisin aja. Papa cari duit kan emang niat Darriel." ujar Daniel kemudian.


Dan Darriel pun lalu tertawa.


"Heheee."

__ADS_1


__ADS_2