Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Es Krim


__ADS_3

"Hmmm, enak banget."


Lea memakan es krim yang ia buat sendiri kemarin. Daniel yang hari itu libur memperhatikan istrinya dari ruang keluarga rumah Richard.


"Jangan banyak-banyak, Le. Kamu menyusui loh." Daniel mengingatkan.


"Iya mas, dikit koq."


Daniel diam, ia melirik dan melihat Lea memakan dua sampai tiga sendok penuh es krim.


"Sedikitnya lebih dari satu cup es krim harga 5000 an ya, Le." ujarnya kemudian.


"Bawel banget sih mas, masih untung aku mau makan."


Lea sewot, lalu menutup dan memasukkan kembali es krim tersebut ke dalam freezer. Ia melengos dari hadapan Daniel.


"Kamu marah, Le?" tanya Daniel pada Lea.


"Iyalah, pikir aja sendiri."


Lea naik tangga menuju lantai atas, sementara Daniel kini tertawa. Lea tak tau jika saat ini Daniel tengah mencari-cari tempat bagus di internet, untuk merayakan pernikahannya dengan Lea.


***


"Apa kantor diserang?"


Arsen terkejut sekaligus tak percaya. Ia kini tengah berada bersama beberapa rekannya dari lembaga perlindungan anak dan perempuan. Tempat dimana ia pernah menjadi salah satu pendiri sekaligus relawan. Meski kini ia sudah mengundurkan diri demi keselamatan sang ayah, Reynald.


"Iya, bro. Saat itu gue sama yang lain lagi di kampus, sebagian lagi kerja. Nah di kantor isinya rata-rata cewek. Cowoknya cuma ada dua orang saat itu."


Salah satu teman Arsen yang bernama Gio berujar.


"Terus, mereka luka atau apa nggak?" tanya Arsen.


"Luka sih, nggak. Cuma bagian bawah kantor rusak parah. Soalnya mereka yang menyerang itu bersenjata. Sempat ada yang nembak juga katanya."


"Iya, untung polisi cepet datang." celetuk yang lainnya lagi.


Arsen terdiam. Sudah barang tentu ini perbuatan orang-orang yang tak menyukai lembaga tersebut. Terutama orang-orang yang memiliki misi untuk menekan kaum perempuan demi memvalidasi kekuasaan.


Belum lagi orang-orang berduit serta pejabat yang sangat suka memelihara wanita simpanan. Mereka pun merupakan salah satu orang yang menentang setiap lembaga yang melindungi perempuan.


"Kita harus bener-bener cari tau siapa dalangnya, Sen. Kita nggak bisa diem aja soal ini. Gue punya adek perempuan, suatu saat mungkin gue akan memiliki anak perempuan juga. Gue nggak mau perlindungan terhadap perempuan itu jadi melemah, hanya karena ada orang berkuasa yang bisa membeli hukum." Gio kembali berujar.

__ADS_1


"Iya, Sen. Kita semua harus bergerak untuk mengetahui siapa aja orang-orang yang ada di balik penyerangan itu."


Teman Arsen yang lainnya kembali nyeletuk. Arsen sendiri setuju dengan hal tersebut. Meski kini ia sudah tidak tergabung lagi dengan lembaga itu, namun ia masih bisa membantu penyelidikan.


Hal ini merupakan perkara yang tak dapat dibiarkan begitu saja. Mungkin banyak laki-laki di dunia ini akan skeptis mengenai keselamatan anak dan juga perempuan. Biasanya mereka yang begitu, merupakan laki-laki yang suka apabila wanita bisa ditindas dan di intimidasi.


Banyak orang menganggap laki-laki seperti Arsen dan teman-temannya adalah pendukung paham feminisme. Namun bagi Arsen ini semua tak lebih dari sebuah cara, untuk memuliakan kaum ibunya yang telah tiada.


Meski dulunya ia dibohongi dan dibilang jika Reynald adalah laki-laki yang suka berselingkuh, menganiaya istri, dan lain-lain. Dan meski saat ini ia sudah tau jika Reynald tak seperti itu adanya. Tetapi Arsen sudah terlanjur tercebur dan ia harus berenang.


Ibunya memang tak disiksa dan tak diselingkuhi, tetapi ia memperjuangkan ini sekarang untuk saudara sepupunya yang perempuan dari pihak ibu. Saudara sepupu perempuan dari pihak ayahnya, yakni Lea. Juga untuk seluruh teman-temannya yang perempuan, bahkan mungkin anaknya kelak. Bila ia juga dikaruniai anak perempuan.


Sebab sampai saat ini masih banyak perempuan yang tertindas, meski jaman sudah sedemikian maju.


"Gue akan bantu selidiki semuanya, kita harus tangkap pelaku penyerangan itu."


Arsen berujar pada Gio dan yang lainnya. Teman-teman Arsen itu pun kini terlihat senang dan jadi lebih bersemangat.


***


Di suatu tempat.


"Para bocah laki-laki dan perempuan ingusan, berkoar untuk perlindungan anak dan juga perempuan. Mereka pikir, mereka bisa apa."


"Maka dari itu, bocak tengik macam mereka harus di beri pelajaran."


Salah satu teman dari pria itu nyeletuk.


"Perempuan kalau terlalu diberikan fasilitas perlindungan ini dan itu, lama-lama bisa songong kepada kaum laki-laki." lanjutnya lagi.


"Ya liat saja sudah banyak perempuan yang tidak mau dijadikan istri kedua. Maunya bekerja dan tidak mau di rumah. Itu akibat dari munculnya lembaga-lembaga yang memenangkan perempuan seperti itu." Si laki-laki bermuka menyebalkan kembali berujar.


"Kita harus mendesak orang-orang terkait supaya memusnahkan lembaga-lembaga seperti itu. Perempuan itu jangan dikasih tempat untuk berkarir, untuk melawan, dan lain-lain. Nanti kita tidak bisa bergerak." lanjutnya lagi.


"Untuk langkah awal kita hancurkan dulu satu lembaga itu. Biar jadi efek jera untuk lembaga lainnya."


Salah satu teman si pria menyebalkan yang tadi diam, kini ikut-ikutan berujar. Tak lama mereka menyudahi percakapan tersebut, lalu menepuk tangan tiga kali.


Beberapa orang perempuan berpakaian sexy masuk. Mereka adalah para sugar baby dari pria-pria berwajah menyebalkan itu. Para sugar baby kemudian mendekat sambil memberikan rayuan-rayuan.


Lalu dalam sekejap ruangan tersebut menjadi ruangan yang penuh dengan pelecehan menjijikkan. Dan herannya para sugar baby itu mau-mau saja diperlakukan seperti itu demi uang.


***

__ADS_1


"Huachim."


"Huachim."


"Huachim."


Lea bersin sampai tiga kali, saat Daniel baru saja masuk ke kamar untuk mengecek Darriel.


"Kenapa kamu, Le?" tanya Daniel pada Lea.


Lea hendak menjawab namun,


"Huachim."


"Huachim."


"Huachim."


Lagi-lagi ia bersin, kali ini ada cairan bening yang mengucur dari hidungnya. Cairan tersebut tidak kental, seperti air biasa. Namun cukup membuat hidung Lea menjadi bertambah gatal.


"Huachim."


"Huachim."


"Huachim."


"Es teros, Le. Kalau dibilangin ngelawan."


Daniel mulai menyerang istri bandelnya tersebut seraya menilik ke dalam box bayi. Ke tempat dimana anaknya masih tidur nyenyak.


"Kamu kayak emak-emak deh mas, orang cuma bersin doang. Siapa tau alergi debu atau perubahan iklim."


"Pinter banget ngelesnya, sana minum obat di bawah!" perintah Daniel.


"Ntar chat dokter dulu, bolehnya minum obat apa. Kan aku menyusui." ujar Lea lagi.


"Ya udah chat sana dokternya, dari pada ntar keburu sakit."


"Iya."


Lea mengambil handphone dan mengirim pesan pada laman aplikasi chat dokter. Disana ia ditanyai mengenai keluhan dan diresepkan obat yang aman bagi ibu menyusui.


Selang beberapa saat setelah konsultasi dan pemesanan, obat tersebut pun datang. Lea lalu meminumnya dan ia masih bersin beberapa kali. Hingga kemudian perempuan muda itu tertidur di sofa ruang tengah, di lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2