
"Le, dinner yuk...!"
Daniel mengirim pesan singkat itu kepada Lea. Lea membacanya dari layar notifikasi dan jadi senyum-senyum sendiri. Kemudian ia pun membalas.
"Koq tumben, mas. Ada angin apa emangnya?"
"Ya nggak apa-apa sih, pengen aja. Ya, ya, ya. Mau ya?. đ"
"Mmm, gimana ya?"
Lea sok jual mahal, padahal sudah sangat ingin mengobral. Bila perlu seribu dapat tiga.
"Kenapa, sibuk ya? âšī¸." Daniel mengirim emoticon kecewa.
"Ngebet banget emang? đ." tanya Lea lagi.
"Iyaaa đ."
"Mmm, aku pikir-pikir dulu ya mas. Soalnya aku juga pulang sore, tugas banyak."
Lea kembali senyum-senyum demi mengirim balasan tersebut.
"Nanti tugasnya aku yang kerjain. Kamu tenang aja, aku pinter koq orangnya."
"Hmmm đ¤."
Lea masih mengirim pesan seolah ia tengah berfikir.
"Ayolah, Lele. Kalau nggak mau, aku mogok makan siang pokoknya. đ"
Daniel mengetik pesan tersebut, disisi piring bekas makannya yang sudah bersih.
"Ok deh." jawab Lea. Ia agak tidak tega melihat Daniel yang meminta dengan sangat.
"Yes."
Daniel begitu senang, namun tingkahnya itu dilihat oleh Marsha yang tiba-tiba masuk.
"Bapak, kenapa pak?" tanya Marsha heran.
"Menang main PUBG?" lanjutnya lagi.
Daniel yang super girang mendadak langsung berwibawa lagi.
"A, nggak koq. Saya lagi trading." ujar pria itu berkilah.
"Oh gitu." ujar Marsha seraya tersenyum.
"Kenapa Marsha?" tanya Daniel kemudian.
"Nggak, mau minta tanda tanganin ini pak." jawab sekretarisnya itu.
Daniel pun meraih file yang dibawa oleh Marsha dan menandatanganinya.
"Oh iya pak, mawar itu udah ketahuan belum dari siapa?"
Marsha melirik ke arah mawar misterius yang sampai saat ini belum layu, dan masih berada di ruangan Daniel.
"Nggak tau, ambil aja Sha kalau mau. Itu kayaknya yang preserved deh, tahan kali itu setahun."
"Beneran boleh pak?. Soalnya saya mau bikin craft gitu, lagi butuh mawar. Daripada beli kan, hehehe."
"Ya udah ambil...!" ujar Daniel lagi.
"Beneran pak?"
"Iya."
"Yes, makasih pak."
__ADS_1
"Sama-sama."
Marsha pun lalu mengambil bunga tersebut dan membawa ke meja kerjanya di luar.
***
Lea dan teman sekelasnya tengah memperhatikan dosen killer di kelas mereka, yang tengah bercuap-cuap menjelaskan materi.
Baik Lea, Adisty maupun yang lainnya hanya berharap waktu akan segera berlalu. Sebab dosen tersebut menerapkan sistem layaknya di sebuah sekolah militer. Dimana seluruh mahasiswa tidak boleh ada yang sikap tubuhnya lemas. Harus tegap dan siaga selama jam mata kuliah yang ia berikan berlangsung.
"Anjir, pegel pinggang gue. Mana bawa bayi lagi gue di dalam perut."
Lea menggerutu sambil mengelus bayinya yang ada di dalam. Kelas terkutuk itu telah berakhir dan ia sangat-sangat merasa pegal. Terutama bagian pinggang ke bawah.
"Jangankan elu yang bunting, Le. Gue yang isinya seblak sama bubur ayam aja kram rasanya." timpal Adisty.
"Kenapa sih jam terakhir mata kuliah kita mesti ada dia, sebel banget gue." ujar Ariana.
Iqbal, Rama, dan Dani mendekat ke arah mereka.
"Gimana Bal, sehat?" tanya Adisty.
Iqbal hanya terkekeh.
"Biawak tuh dosen, dasar." gerutu Dani sambil membunyikan tangan.
"Pegel lu ya?" tanya Lea.
"Bukan pegel lagi, anjir. Udah kaku tulang belakang gue." ujarnya lagi.
"Tulang leher gue nih, geser." timpal Rama.
"Tuh dosen ngebet pengen masuk militer kali dulunya, makanya kita disiksa sama dia." tukas Ariana.
"Tau, bapak siapa sih tuh orang?" Lagi-lagi Adisty menggerutu.
"Iqbal."
"Iya yah." ujar Iqbal padanya.
"Ayah?"
Lea dan yang lainnya berujar tanpa suara, namun saling bertemu muka satu sama lain.
"Ini yang kamu minta kemarin."
Dosen tersebut memberikan satu buah paper bag, yang entah isinya apa pada Iqbal.
"Oh iya, makasih ya yah."
"Iya, salam sama ibu kamu. Ayah lanjut ngajar dulu."
"Iya yah."
Dosen tersebut menepuk bahu Iqbal dan berlalu. Lea dan teman-temannya yang lain masih terperangah.
"Sejak kapan dia jadi bapak lo?" tanya Rama dengan nada tak percaya.
Masalahnya ia, Dani, Adisty dan Ariana telah lama berteman dengan Iqbal. Namun baru mengetahui perkara ini, hari ini. Lea sendiri kini turut memperhatikan Iqbal, guna menunggu pemuda itu memberikan jawaban.
"Dia itu bapak kandung gue." ujar Iqbal.
Mereka semua pun kian terkejut.
"Yang sekarang sama nyokap lo itu, bukan?" tanya Dani.
"Tapi koq kayak bapak lo beneran ya?" Ariana menimpali.
"Iya, karena kan dari kecil yang ngurus gue emang dia. Jadi gue lebih dekat ke dia, ketimbang bapak gue yang barusan."
__ADS_1
"Koq lo nggak pernah cerita selama ini?" tanya Adisty.
"Ya nggak enak aja, ntar kalau nilai gue bagus dibilang pilih kasih lagi. Nepotisme ntar dibilang sama lo pada."
"Tenang aja nggak bakalan koq." ujar Lea.
"Tapi bisalah pilih kasihnya ke kita-kita juga." lanjutnya lagi.
Mereka semua pun lalu tertawa.
"Yoi, jadi gue nggak perlu capek-capek belajar." timpal Rama.
"Itu mah maunya elu, pemalas."
Adisty memarahi Rama, yang menyebabkan mereka semua kembali tertawa.
"Le."
"Kamu diantar supir kan?"
Daniel mengirim pesan singkat lagi pada Lea, melalui WhatsApp. Di saat Lea masih tertawa-tawa dengan temannya.
"Iya mas." jawab Lea kemudian.
"Ntar janjian aja yuk. Nanti aku share loc ke supirnya. Soalnya aku sekarang lagi di kantor partner salah satu bisnis aku. Kalau dari sini aku jemput kamu dulu ke kampus, bakalan lama sampainya. Soalnya macet banget dari arah sini ke sana. Nggak apa-apa kan langsung ketemu aja di tempat?"
"Oh ya udah mas, nggak apa-apa. Ntar aku langsung ke sana aja." jawab Lea.
Daniel menyudahi perbincangan. Berhubung jadwal dinner tersebut masih sekitar dua atau tiga jam lagi, Lea pun menghabiskan waktunya dulu di kampus. Kebetulan teman-temannya belum berniat akan pulang ke rumah, mereka masih ingin nongkrong bersama.
Seperti biasa akhirnya mereka nongkrong di kantin, sambil makan dan berbincang. Lea sendiri tak masalah sudah makan disini. Toh beberapa saat kemudian, ia akan lapar kembali. Karena ada makhluk lain dalam tubuhnya yang kini ikut makan dengannya. Mencuri setiap nutrisi yang masuk, hingga Lea acap kali merasa lapar dan lemas.
"Le."
Tiba-tiba Vita datang dari suatu arah, wajah gadis itu begitu panik dan cemas.
"Kenapa Vit?" tanya Lea heran.
Adisty, Iqbal, dan yang lainnya ikut memperhatikan gadis itu.
"Le, Rangga."
Vita mencoba mengatur nafasnya yang tersengal.
"Rangga kenapa?" tanya Lea mulai ikut merasa cemas.
"Barusan gue dapat kabar, Rangga katanya kritis."
Petir menyambar di langit hati Lea, Iqbal pun ikut terkejut. Sementara Adisty dan yang lainnya saling menatap. Mereka tau jika Rangga adalah nama dari mantan Lea. Namun mereka baru mengetahui jika pemuda itu saat ini tengah kritis.
"Gue mau kesana sekarang, Vit." ujar Lea.
"Ya udah ayo." jawab Vita.
"Gue ikut." ujar Iqbal.
"Ini ada apaan sih, si Rangga kenapa?" tanya Adisty.
"Dia mantan lo kan?" Ariana menimpali pertanyaan Adisty.
"Iya, dia kecelakaan." jawab Vita.
Adisty dan yang lainnya pun kaget.
"Ayo Vit." ujar Lea bergegas.
"Dis, Ar, Rama, Dani. Gue cabut ya." ujar Lea lagi.
"Hati-hati Le, jangan panik." tukas Adisty.
__ADS_1
"Iya."
Iqbal ikut berpamitan, begitupula dengan Vita. Tak lama kemudian mereka pun sudah terlihat berada di jalan menuju rumah sakit.