Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Tak Sengaja Bertemu (Extra Part)


__ADS_3

"Lit, keperluan kita udah abis semua?"


Richard bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya, yang mengurus segala bahan baku dan keperluan rumah. Termasuk perintilan dapur dan lain-lain.


"Sebagian besar udah abis sih, pak." jawab Lita.


Kita belanja aja yuk, mumpung belum terlalu malam ini." ujar Richard lagi.


"Oke, boleh banget pak. Sekalian jalan, hehe."


Richard tersenyum.


"Ya udah, siap-siap. Ajak dua lainnya lagi." tukas pria itu.


Tak lama Lita pun mengabarkan ke para asisten rumah tangga bahwa Richard hendak berbelanja. Kemudian diminta dua sukarelawan untuk ikut.


Tentu saja semuanya suka dan rela, karena pergi dengan Richard merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Namun karena yang diajak hanya tiga orang, maka yang lain terpaksa mengalah.


"Ayo pak!"


Lita telah bersiap bersama dua asisten rumah tangga lain yang bernama Ayu dan Siti.


"Ya udah ayo!" ajak Richard.


Pria beranak dan bercucu satu itu pun lalu mengambil kunci mobil. Mereka segera menuju ke supermarket terdekat.


Sesampainya disana ternyata supermarket tak begitu ramai. Sehingga mereka semua lebih bersemangat lagi.


"Kayaknya nggak terlalu rame nih." ujar Richard pada ketiga asisten rumah tangganya.


"Iya bener, pak. Kalau rame tuh suka sumpek." ujar Lita.


Mereka kemudian masuk ke dalam dengan membawa tiga troly.


"Kalian ingat kan apa-apa aja yang habis?" tanya Richard.


"Ingat pak."


"Ya sudah, ambil sesuai kebutuhan." ujar pria itu lagi.


Para asisten rumah tangga itu pun mengambil berbagai keperluan yang memang telah habis. Meski di bebaskan oleh Richard dan Richard tak pernah bertanya untuk apa semua yang dibeli. Namun para asisten rumah tangga tak pernah memanfaatkan kebaikan Richard.


Mereka berbelanja memang terbatas hanya kepada hal-hal atau produk-produk yang memang sudah habis saja. Jika Richard menawarkan untuk membeli ini dan itu, barulah mereka akan mengambil.


Ketiga asisten rumah tangga tersebut sedikit berpencar. Ada yang membeli keperluan dapur serta isi kulkas. Seperti daging, ayam, buah-buahan dan sayur.


Ada juga yang membeli produk-produk seperti detergen, pengepel lantai, pewangi pakaian, sabun mandi, pasta gigi dan lain-lain.


Sementara yang satunya bertugas membeli kelengkapan bumbu-bumbu dan juga kopi instan. Serta berbagai cemilan yang disukai oleh Richard.


"Bro, dimana?"


Tiba-tiba Daniel menelpon. Suara sengau dari menantunya yang habis menangis itu membuat Richard menjadi bertanya-tanya.


"Lo kenapa, bro?" Richard balik bertanya pada Daniel.


"Ah nggak, bro." Daniel seakan menyadari suaranya yang berubah.

__ADS_1


"Gue pilek aja dikit." ujarnya lagi.


"Minum obat." tukas Richard.


"Iya ini udah. Lo dimana?" tanya Daniel.


"Lagi belanja keperluan rumah."


"Lo diluar?" tanya Daniel kaget.


"Iya, kenapa sih emangnya?" Richard heran pada sikap sang menantu yang tak seperti biasanya itu.


"Lo sendirian?" Lagi-lagi Daniel bertanya.


"Nggak, sama asisten rumah tangga. Kita pergi berempat." tukas Richard.


"Oh." Daniel bernafas lega.


"Lo kenapa sih?" tanya Richard heran.


"Mmm, nggak. Cuma sedikit khawatir aja sama lo. Makanya ini gue telpon, karena kepikiran." ujar Daniel.


Richard diam namun ia tersenyum.


"Ada-ada aja lo." ujarnya kemudian.


"Ya udah, sana lo belanja dulu." ucap Daniel.


"Oke, Darriel mana?" tanya Richard.


"Oh ya udah deh. Ntar balik kalau Darriel belum tidur, gue video call ke sana."


"Oke."


Telpon tersebut pun akhirnya disudahi oleh Daniel. Richard lanjut berjalan diantara rak-rak display yang menyajikan banyak produk. Kemudian ia ingat jika harus membeli beberapa alat pencukur. Sebab miliknya sudah terpakai dan mulai tumpul.


Richard kemudian mencari letak dimana alat tersebut berada. Tak lama kemudian ia pun menemukannya.


Pria itu berjalan ke arah sana. Ia agak meleng karena melihat adanya produk-produk lain di sekitar. Dan ketika tangannya hendak menyentuh salah satu alat pencukur tersebut, tiba-tiba tanpa sengaja ia memegang sebuah tangan yang begitu halus.


Richard terkejut dan menoleh, begitu pula dengan si pemilik tangan yang ternyata adalah seorang perempuan tersebut.


"Nadya?"


"Pak Richard?"


Keduanya terdiam cukup lama, dengan mata yang saling bersitatap satu sama lain. Hingga kemudian keduanya pun tersadar jika tangan mereka masih saling menempel.


Richard refleks menarik tangannya, begitupula dengan Nadya sendiri. Seketika suasana pun berubah menjadi canggung.


"Maaf." ujar Richard pada wanita itu.


"Saya tadi sambil lihat-lihat kesana-sini. Jadi saya nggak tau." lanjutnya kemudian.


"Mmm, nggak apa-apa." ucap Nadya lalu memberikan senyuman yang tipis. Namun terlihat ia masih terkejut serta sering menundukkan pandangan.


"Aaa, kamu....?"

__ADS_1


"Saya membelikan keperluan mas Hanif. Karena mas Hanif sedang bulan madu dengan istri barunya. Jadi dia minta saya berbelanja keperluan dia yang sudah habis." jawab Nadya.


"Oh, ok." jawab Richard.


"Sendirian?" tanya Richard lagi.


Nadya mengangguk.


Suasana kian bertambah canggung.


"Saya permisi dulu." ujar Nadya.


Bagaimana kalau kita jalan sama-sama." ujar Richard. Nadya menghentikan langkahnya dan terdiam.


"Saya ini istri orang, pak. Saya tidak boleh berjalan dengan laki-laki lain yang bukan suami saya. Saya tidak mau menimbulkan fitnah."


Richard tak bisa berkata apa-apa lagi. Nadya memang sangat taat pada segala aturan yang diajarkan padanya sejak kecil.


Wanita itu melangkah. Namun kemudian langkahnya terhenti, ketika ada tiga asisten rumah tangga Richard yang tiba-tiba datang.


"Ini siapa pak?" tanya mereka pada Richard.


"Ini Nadya, teman saya." jawab Richard.


"Hallo mbak Nadya, aku Lita."


"Ayu nggak pake Ting-Ting." ujar Ayu."


"Saya Siti, mbak." Siti menimpali.


"Nadya." ujar Nadya seraya tersenyum.


Richard memerhatikan semua itu.


"Mbak Nadya sendirian aja?" tanya Lita.


"Iya." jawab Nadya masih dengan senyumnya yang manis.


"Masih belanja atau sudah mau pulang?" tanya Siti."


"Masih mau belanja." jawab Nadya.


"Kebetulan, bareng aja yuk." tukas Ayu.


Richard kaget dengan sikap para asisten rumah tangganya itu.


"Iya tapi...."


"Ayo mbak Nad, sama kita aja. Temannya pak Richard, teman kami juga." Lita makin sok akrab.


Nadya menoleh sejenak pada Richard, namun ia tak bisa menolak ajakan ketiga asisten rumah tangga pria tersebut. Akhirnya ia pun berjalan bersama mereka.


Lita ada sempat menoleh pada Richard dan memberi kode untuk mengiring di belakang. Richard pum tersenyum lalu menyusul mereka semua.


Salam perjalanan pendekatan secara paksa tersebut. Richard agak menjaga jarak di belakang. Ia membiarkan para asisten rumah tangganya bersikap makin sok kenal sok dekat pada Nadya.


Ia tak peduli Nadya akan risih atau tidak. Paling nanti ia akan meminta maaf di akhir. Ia menyukai saat seperti ini. Ketika Nadya berada dekat dengannya tanpa takut timbul fitnah.

__ADS_1


__ADS_2