Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Marsha Dan Ellio


__ADS_3

"Pak Ellio sakit?"


Marsha sangat terkejut, Daniel bisa menangkap ada hal lain dari nada bicara sekretarisnya itu.


"Iya dan sakitnya cukup parah." Daniel berdusta.


"Masa sih pak?. Udah di bawa ke rumah sakit?"


Daniel makin menangkap hal yang tak biasa pada diri Marsha. Seolah Ellio adalah bagian terpenting dari dirinya.


"Dia nya nggak mau. Nggak tau deh, siapa yang bisa bujukin dia. Saya sama Richard yang biasa dia dengerin, sekarang udah nggak di dengerin lagi sama dia."


"Ya jangan gitu aturan, pak Ellio harus ke rumah sakit."


"Kamu, bisa nggak bantu bujukin Ellio?"


Daniel sejatinya ingin tertawa saat mengatakan hal tersebut, namun ia berusaha untuk terus memasang wajah serius.


"Maksudnya, saya ke rumahnya pak Ellio gitu pak?"


"Iya, bujukin dia supaya mau ke rumah sakit. Biar dia cepet sembuh."


"Tapi pak."


"Ellio itu tinggal sendiri loh. Orang tuanya Ellio sibuk dan cuek banget sama anak." Lagi-lagi Daniel berdusta, bahkan kali ini ia jadi hiperbola.


"Orang tuanya Ellio, kadang lupa kalau mereka punya anak."


"Sampe segitunya pak?" Marsha benar-benar terkejut mendengar semua itu.


"Iya, kadang papasan di jalan aja mereka lupa siapa Ellio."


Daniel menahan tawa demi mengatakan hal tersebut. Namun ini adalah usahanya agar Ellio ada yang mengawasi. Sebab dirinya kini sudah tak bisa full seperti dulu, baik dalam mengurus Richard maupun Ellio sendiri. Sebab ia kini memiliki Lea yang juga menuntut waktu dan perhatiannya.


"Ya udah deh pak, saya kesana aja. Saya kasihan sama pak Ellio." Marsha membuat sebuah keputusan.


"Ok, ntar pulang kerja saya antar kesana." ujar Daniel.


"Kalau gitu saya kerja dulu, pak."


Marsha kembali ke meja kerjanya, sementara Daniel kini tertawa meski tanpa suara.


***


Sore hari.


"Kreeek."


Suara pintu di buka.


"Koq bapak bisa buka pintu ini?" tanya Marsha pada Daniel. Mereka berdua telah berada di kediaman Ellio.


"Saya punya akses masuk kesini, kamu masuk aja sana. Tapi jaga jarak, penyakit Ellio menular. Tadi udah saya siapkan sarung tangan latex kan?"


"Iya pak."


"Ya udah saya pulang dulu."


"Bapak nggak nemenin saya?" tanya Marsha.


"Nanti saya ngomong apa sama pak Ellio." lanjutnya lagi.


"Kamu bilang aja saya yang suruh, karena saya khawatir sama dia."

__ADS_1


"Baik pak."


"Ok." Daniel berbalik.


"Ee, pak."


Marsha menghentikan langkah Daniel, pria itu pun kembali menoleh.


"Kenapa Sha?"


"Aman kan pak?" tanya Marsha ragu-ragu.


"Saya nggak akan di perkosa pak Ellio kan?"


"Hahaha, punya nya aja lagi bentol-bentol pasti."


Daniel menarik nafas, segera ia berubah kembali menjadi Daniel yang berwibawa. Ia lupa kalau tidak boleh terlalu cengengesan pada bawahannya.


"Mmm, maksud saya. Ellio bukan tipikal orang yang seperti itu. Kalaupun dia mau, harus persetujuan dua belah pihak. Dia nggak akan ngapa-ngapain kamu, sekalipun ada kesempatan. Ellio itu baik."


Marsha sedikit bernafas lega mendengar hal tersebut. Ia takut kejadian seperti di novel-novel online. Dimana para CEO digambarkan sangat suka melecehkan bawahan.


Karakter yang dibuat selalu mendeskripsikan seolah para CEO tersebut tidak terdidik dan tidak beriman. Padahal di dunia nyata pelaku pelecehan kebanyakan bukan CEO. Malah laki-laki yang kadang pekerjaannya tidak jelas.


Marsha melangkah, namun kemudian ia buru-buru kembali keluar. Saat Daniel hendak masuk ke mobil.


"Pak, kamarnya pak Ellio yang mana?"


"Tangga naik, sebelah kanan." ujar Daniel.


"Oh ok."


Marsha pun kembali ke dalam, sedang kini Daniel masuk ke dalam mobil. Tak lama Daniel pun meninggalkan kediaman Ellio. Tinggallah kini Marsha yang perlahan membuka pintu kamar Ellio.


"Kreeek."


"Pak."


Marsha memanggil Ellio, namun dengan nada yang sangat pelan. Tentu saja Ellio tidak bangun, sebab ia kini berada dalam pengaruh obat.


Marsha lalu menyibak selimut yang menutupi wajah pria itu. Dan seketika Marsha pun terkejut, melihat wajah Ellio yang dipenuhi cacar. Pantas tadi Daniel menyinggung soal bentol-bentol, ternyata inilah penyakit yang diderita Ellio.


Marsha melihat sekitar yang tampak berantakan. Lalu perlahan ia pun membereskan itu semua, bahkan hingga ke bagian luar.


"Heran, rumah segede ini kagak ada pembantunya apa?" tanya nya kemudian.


Ia lalu bergerak menuju dapur, sama sekali tak akan makanan untuk orang sakit disana. Bagaimana pula bisa tersedia, sedang Ellio si empunya rumah sendiri saat ini sedang sakit. Ia bahkan mungkin tak kuat untuk bergerak.


"Heran deh orang kaya begini, kenapa nggak mempekerjakan asisten rumah tangga. Kalau gue kaya begini, ART gue 10." ujar Marsha seraya membuka kulkas.


Ia ingin mencari bahan apa yang bisa ia gunakan untuk membuatkan makanan bagi Ellio.


"Makanan untuk orang sakit cacar."


Marsha mengetik kata tersebut di laman pencarian google. Dan tertera beberapa jenis makanan yang bisa di makan untuk penderita sakit cacar.


Maka perempuan itu pun segera mencari di dalam kulkas maupun rak kitchen set. Ternyata bahan-bahan yang dibutuhkan itu ada. Lalu ia pun mulai memasak.


"Siapa lo?"


"Huaaaa."


"Praaang."

__ADS_1


Ellio tiba-tiba saja muncul dan mengagetkan Marsha. Ia terkejut dengan kehadiran sekretaris Daniel tersebut. Sebab ia telah mengintai sejak tadi, karena mendengar beberapa bunyi dari arah dapur. Ellio takut jika ada pencuri masuk.


"Pak Ellio?"


"Marsha?"


Ellio tercengang.


"Kamu kesini sama Daniel?" tanyanya seraya melihat ke sekitar.


"Mmm, pak Daniel udah pulang pak."


Marsha mencoba menarik nafas.


"Sa, saya. Saya di suruh pak Daniel buat ngurus bapak." lanjutnya kemudian.


"Wah, keterlaluan tuh si Daniel. Ini kan bukan job desk kamu, kenapa mau-mau aja?"


"Anu pak, saya...."


"Kamu takut di marahi Daniel?"


"Mmm, i, nggak pak."


"Biar saya yang ngomong sama Daniel."


Ellio mencoba menghubungi Daniel, namun Marsha menghalanginya.


"Ja, jangan pak. Saya nggak apa-apa koq."


"Kenapa?. Kamu takut di pecat sama Daniel?. Saya yang akan menjamin."


"Bukan itu pak, saya khawatir sama bapak."


Marsha akhirnya keceplosan. Dan hal tersebut sontak membuat Ellio terdiam.


"Saya khawatir sama bapak, bahkan selalu khawatir." Lagi-lagi ia menghela nafas.


"Dan itu..." Marsha kembali menarik nafas, kali ini ia menunduk sejenak.


"Sejak lama pak." lanjutnya lagi.


Ellio pun mengerti apa maksud dari perkataan tersebut.


"Kamu memperhatikan saya sejak lama?" tanya Ellio seraya terus menatap Marsha dan kian mendekat ke arah gadis itu.


"I, iya pak." Marsha semakin salah tingkah.


Ellio terus mendekat, ia ingin menyentuh tangan sekretaris temanya itu.


"Pak, bapak cacar pak."


Seketika Ellio pun tersadar dan kembali menjauh.


"So, sorry." ujarnya tak kalah salah tingkahnya dengan Marsha.


"Ka, kamu masak apa?" tanya nya kemudian.


"Bubur kacang ijo pak." jawab Marsha.


"Oh, ok."


"Bapak tunggu di kamar ya."

__ADS_1


"Ok." jawab Ellio lagi.


Tak lama pria itu pun kembali ke kamarnya.


__ADS_2