Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Terlihat Aneh


__ADS_3

Flashback.


Hari itu Nina pulang cepat, bahkan tak jadi menyelesaikan mata kuliah yang kedua. Lantaran ia di dera rasa pusing serta kelelahan yang cukup hebat.


Karena khawatir pada kondisi bayinya, Nina pun memutuskan pulang ke rumah. Ia berjalan perlahan, kebetulan pintu depan tak terkunci. Tampaknya asisten rumah tangga baru saja selesai membersihkan halaman depan.


dikarenakan adanya dua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu, ibu mertua dan juga kakak ipar Nina tidak curiga pada derap langkah kaki yang masuk. Dan lagipula Nina sudah pamit untuk pergi ke kampus. Praktis Nina pun mendekat tanpa diketahui oleh mereka.


"Mas Al ngapain sih ma, pake acara beliin Nina perhiasan mewah segala. Kan buang-buang duit itu namanya."


Kakak ipar Nina berujar, ketika ia dan sang ibu mertua tengah sibuk berkutat di dapur. Nina yang tadinya hendak menyapa, kini menahan diri. Perempuan itu bersembunyi di balik tembok yang mengarah ke tempat tersebut.


"Ya mungkin saja si Al mau bersikap layaknya suami pada umumnya, biar istri sirinya itu nggak curiga."


"Degh."


Batin Nina bergemuruh.


"Curiga, curiga soal apa?" tanya nya dalam hati.


"Ya tapi kan nggak harus yang mahal-mahal juga. Cewek kampung kayak gitu, kasih yang harga 100-200 ribu juga udah seneng koq. Ngapain buang-buang duit sebanyak itu, ntar kalau Imelda curiga gimana?. Soal pengeluaran uang yang nggak wajar."


"Imelda?. Siapa Imelda?"


Sebuah pertanyaan kembali menyesaki batin Nina. Namun tak lama kemudian,


"Tini, kamu bersihkan bagian belakang."


Asisten rumah tangga yang bernama Nunik, berujar pada asisten rumah tangga satunya yang bernama Tini. Mereka berdua muncul dan mengarah ke dapur. Buru-buru Nina pun lari dan menyelinap, karena takut ketahuan ibu mertua dan juga kakak iparnya.


Nina belum akan menampakkan wajah dihadapan kedua orang tersebut. Ia masih ingin berpura-pura lugu dan berpura-pura tidak tahu. Demi mengorek rahasia itu lebih lanjut lagi.


***


"Jadi itu yang bikin lo akhirnya mau menyetujui warisan bokap lo?"


Lea bertanya pada Nina, ketika akhirnya Nina menceritakan apa yang terjadi. Sahabatnya itu juga kini minta ditemani, untuk bertemu dengan notaris kepercayaan sang ayah kandung.


"Iya Le, menurut lo apa Imelda itu istri lain dari suami gue?"

__ADS_1


Lea tersentak mendengar pertanyaan tersebut.


"Mmm, menurut gue, lo...."


Lea menarik nafas, dan menghentikan ucapannya sejenak.


"Lo nggak usah berfikiran negatif dulu deh." lanjutnya kemudian.


"Le, lo nggak usah terus-terusan menghibur gue. Gue tau sebagai sesama perempuan, lo juga pasti berfikir sama kan kayak gue?"


Lea makin tersentak.


"Mmm, gue..."


"Le, gue kuat kalau emang itu kenyataannya. Tapi lo juga harus bantu gue supaya bisa berdiri diatas kaki gue sendiri. Gue nggak perlu di hibur, atau di tutup-tutupi masalah kejelekan laki gue. Kalau lo juga merasa sama curiganya kayak gue, lo harus tolongin gue. Gue temen lo, Le."


Lea menarik nafas, ia kini menatap Nina dalam-dalam.


"Ok, gue akan bantuin lo." ujarnya kemudian.


Nina tersenyum, meski hatinya kini dipenuhi rasa sakit serta curiga terhadap sang suami dan keluarganya.


"Iya, gue minta temenin sama lo. Soalnha gue takut, takut kalau si nenek lampir itu tiba-tiba datang." Nina menyinggung soal Sharon.


"Ok, gue dianter supir koq. Dia bisa nganter kita kesana."


Nina mengangguk, maka selanjutnya mereka pun bersiap.


***


(Di sebuah rumah, pagi hari sebelum Lea dan Nina bertemu di kampus.)


Vita mengalami demam yang tinggi semalaman, yakni mencapai 38,1 derajat celcius. Beruntung ia tidak mengalami hal yang lebih buruk. Karena obat yang ia minum, cukup untuk meredakan hal tersebut.


Pagi ini ia bangun, saat badannya sudah dirasa cukup lumayan. Vita pergi ke kamar mandi, mengambil facial foam dan mencuci mukanya yang berminyak.


Setelah mencuci muka, Vita lanjut dengan skincare rutin nya di pagi hari. Ia sangat-sangat memuja perawatan dan berusaha untuk tidak melewatkannya satu hari pun. Meski semalam sempat tertunda lantaran ia mengalami demam.


Rangkaian di awali dengan memakai toner, serum, kemudian dilanjut dengan day cream. Setelah semuanha usai, Vita lalu mengambil sebuah sisir dan menyisir rambutnya yang panjang.

__ADS_1


Tak ada hal apapun yang terjadi. Sampai kemudian Vita menyadari, jika rambut panjangnya mengalami kerontokan yang cukup banyak.


Gadis itu menghentikan aktivitas menyisir, lalu ia menunduk dan berjongkok untuk mengamati rambut-rambutnya yang berserakan.


"Ah mungkin karena faktor badan panas tinggi semalam." gumam Vita.


Ia pun segera mengumpulkan dan membersihkan rambutnya yang rontok tersebut. Meski jumlahnya terbilang tidak wajar, jika dibanding selama ia pernah mengalami kerontokan.


Vita membuang rambutnya tersebut, ke dalam tong sampah mini yang ada di kamar. Tiba-tiba ia ingin sekali buang air kecil. Maka gadis itu pun segera masuk ke dalam toilet.


Ia menurunkan pakaian dalamnya dan duduk di kloset, namun kemudian ia merasakan perih yang aneh di area sensitifnya. Karena perih tersebut juga dibarengi rasa panas.


Ketika selesai Vita buru-buru menyiram dengan selang air yang tersedia. Dan tetap saja terasa sakit meski tak separah tadi. Vita penasaran, bagaimana bisa ia mengalami lecet di area tersebut.


Sedang ia dan sugar daddy nya sudah cukup lama berakhir. Ia sudah tak melakukan hubungan terlarang itu lagi.


Vita mengambil sebuah kaca besar dan meletakkannya di lantai. Ia menaikkan pakaian tidurnya, lalu duduk dan melebarkan kaki di depan kaca tersebut. Hingga terlihatlah area yang memang ingin ia lihat.


Vita mencoba membuka bagian itu dengan kedua tangannya, ke arah yang tadi terasa perih. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan semacam kutil tumbuh di sana.


Vita terdiam, dengan nafas yang kini cukup memburu. Gadis itu lalu meraih handphone dan membuka google. Ia mengetik sebuah kata di sana, lalu munculah banyak sekali artikel yang membahas tentang penyakit kelamin dengan ciri-ciri yang sama.


Vita panik, ia mendadak jadi begitu stres. Takut kalau ia mengalami hal serupa. Gadis itu kemudian menangis, tanpa tau harus berbuat apa. .


***


"Silahkan di tanda tangani...!"


Notaris kepercayaan sang ayah, menyuruh Nina untuk menanda tangani beberapa berkas. Perempuan itu sudah membacanya secara detail dan mengulang sebanyak dua kali.


Karena kata Lea, meskipun notaris itu pekerjaan yang tersumpah. Nina harus tetap membaca keseluruhan perjanjian, agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.


Sebab ahli waris yang ditunjuk bukan hanya satu orang, melainkan dua. Yakni Nina dan juga Sharon. Diketahui hubungan Sharon dan nina tidaklah baik.


Bisa saja Sharon memanipulasi keadaan, dan Nina tersingkirkan. Jika Nina tidak benar-benar memahami, apa yang akan ia tanda tangani.


"Ini disini?" tanya Nina.


"Iya." jawab notaris tersebut.

__ADS_1


Maka Nina pun menandatangani semuanya dengan lancar. Beberapa berkas diserahkan padanya. Namun untuk yang penting, Nina tetap mempercayakan kepada notaris tersebut. Sebab bila ia bawa ke rumah, di khawatirkan akan mengundang masalah. Mengingat suami dan keluarga suaminya, kini sudah mulai bersikap aneh.


__ADS_2