Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hot Daniel


__ADS_3

"Ini tempatnya?" Lea bertanya pada Adisty. Ketika mereka memutuskan untuk mendaftar kursus melahirkan.


"Iya, ini bener koq." ujar Adisty seraya masih melihat peta pada laman google map.


"Golden Birth center."


Mereka membaca nama tempat itu.


"Ini klinik tapi koq kayak villa." ujar Lea.


"Emang dibuat senyaman mungkin kali, Le. Biar yang tergabung bisa serileks mungkin." ujar Adisty lagi.


Lea memperhatikan sekitar. Ada banyak tumbuhan serta perairan buatan yang mengeluarkan suara atau riak. Benar-benar memberikan ketenangan.


"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?"


Seseorang di bagian pendaftaran menyapa Adisty dan juga Lea dengan sangat ramah.


"Ee, mbak. Saya yang tadi nelpon atas nama Adisty, dan ini teman saya Lea yang mau daftar."


Petugas itu memperhatikan Lea yang tengah hamil besar tersebut.


"Tunggu sebentar ya." ujarnya kemudian.


Petugas itu berlalu, tak lama setelahnya ia kembali dengan membawa formulir pendaftaran.


"Ini diisi dan dilengkapi dulu ya." ujarnya lagi.


"Baik." jawab Adisty.


Lalu mereka membawa formulir itu ke meja terdekat dan mulai mengisinya. Setelah semuanya selesai, mereka kembali dan melanjutkan proses administrasi.


"Nah ini kartu keanggotaan dan jadwal kelas kamu dimulai lusa ya." ujar petugas itu pada Lea.


"Baik, terima kasih." jawab Lea dan Adisty serentak.


Mereka kemudian melangkah mengitari tempat itu sejenak, untuk melihat berbagai kegiatan yang ada di sana. Tampak ada banyak ibu-ibu berperut besar, tengah melakukan senam hamil di beberapa ruangan.


"Lo di rumah suka senam gitu nggak sih, Le?" tanya Adisty.


"Kagak." jawab Lea.


"Hah, masa sih?" Adisty tak percaya.


"Itu penting loh, Le." lanjutnya lagi.


"Gue di ajak senam sama laki gue mulu." ujar Lea.


Adisty terbahak mendengar semua itu. Memang memasuki bulan-bulan terakhir ini, Daniel jadi lebih sering mengunjungi bayinya yang ada di dalam. Semalam saja Daniel dengan penuh gairah menghampiri Lea yang tengah hendak membuat susu di dapur.


"Lea."


Daniel menghembuskan nafas hangat penuh gejolak di bahu perempuan itu, sambil memeluk perut buncitnya dari belakang.


Lea diam, Daniel yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek tersebut mengusap-usap perutnya dengan sangat. Hingga dalam waktu singkat Lea merasakan kegelian di area sekitar bahkan sekujur tubuh.


"Mas, hmmh."


Nafas Lea mulai memburu. Daniel memasukkan tangannya ke dalam gaun tidur Lea yang tipis dan pendek.

__ADS_1


"Perut kamu besar banget sayang, sssh."


Daniel menempelkan dan menggesekkan miliknya di bongkahan milik Lea.


"Mas."


Lea mulai menggeliat, Daniel mencium leher sang istri dengan tangan yang mulai berpindah ke bagian dada.


"Kamu sexy banget sayang."


Daniel mulai memberikan remasan yang membuat Lea kian merasakan kegelian.


"Maaas, hmmmh."


Daniel membalikkan tubuh Lea dan mencium bibirnya. Tangan pria itu mengusap-usap bagian dada, perut, lalu ke bagian sensitif Lea yang ada di bawah.


Di angkat dan di dudukannya perempuan muda itu ke atas kitchen set. Setelah sebelumnya ia melucuti underwear yang dikenakan Lea dan membiarkannya jatuh ke lantai.


Perlahan, masih dengan mencium Lea. Daniel melucuti penutup yang ia kenakan. Tampak sesuatu yang panjang mencuat di bawah sana. Ia lalu meraih tangan Lea dan mengarahkannya ke bagian tersebut.


Lea mulai memegang dan mengurut-urut benda itu. Hingga yang tadinya terasa keras, kini semakin bertambah keras.


"Kamu akan aku buat hamil terus, sayang. Aku mau punya anak banyak."


Daniel berkata disela-sela ia mencium bibir dan *******-***** tubuh Lea. Lea yang sudah berada dalam kenikmatan tersebut perlahan membuka kedua kakinya sendiri. Hingga kemudian Daniel mengarahkan keperkasaannya disana.


"Aaaaakh, maaaaas."


"Aaaaakh."


Daniel juga berteriak saking nikmatnya.Lalu Daniel pun memompa miliknya itu dengan penuh cinta.


Kali lain, sebelum mereka menginap dirumah Richard misalnya. Ada suatu kali Daniel yang buru-buru hendak ke kantor, melihat Lea yang juga tergesa-gesa hendak ke kampus.


"Mas, aku udah mau ke kampus. Mas juga mau ke kantor kan?" ujar Lea saat itu.


"Sebentar aja sayang, aku main cepet koq. Biar kita sama-sama enak." tukas Daniel.


Maka ia membalikkan tubuh Lea untuk menghadap ke arah dinding. Dan pria itu mulai melesak masuk mengunjungi bayinya dari arah belakang.


Keduanya mencapai puncak, meski permainan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Daniel terlihat sangat bahagia pagi itu. Ia mencium perut Lea berkali-kali setelah semuanya selesai. Sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor. Sementara Lea sendiri merasakan sensasi berdenyut-denyut di area sensitifnya bahkan hingga dua hari.


***


"Laki gue lagi hot banget akhir-akhir ini, jadi gue rasa nggak perlu senam hamil."


Lea kembali berujar pada Adisty, dan gadis itu lagi-lagi terbahak.


"Duh jadi pengen gue."


"Heh, lo belum nikah." seloroh Lea.


"Makanya jangan bikin gue sirik." balas Adisty.


"Iya deh, sorry." ujar Lea sambil tertawa.


"Kepikiran lo ya?" lanjutnya lagi.


"Ember." jawab Adisty makin tertawa.

__ADS_1


"Eh tapi kalaupun gue jadi elo, punya laki hot kayak mas Daniel. Gue nggak akan pake baju tiap hari."


Adisty membuat Lea tertawa-tawa.


"Mesum lo dasar." tukas Lea.


"Eh, mau kemana lagi nih kita?" tanya Adisty.


"Apalagi kalau bukan makan." jawab Lea.


"Ya udah deh, mau cari dekat sini apa nanti di kampus aja?" Lagi-lagi Adisty bertanya.


"Mmm, dekat sini ada emangnya?" Kali ini Lea yang bertanya.


"Ada, tapi agak jalan dikit. Nggak apa-apa?"


"Ya nggak apa-apa, ayo...!" jawab Lea.


Adisty tersenyum, ia suka semangat Lea soal makanan.


"Ayo...!" ujarnya kemudian.


Tak lama keduanya meninggalkan pekarangan. Golden Birth Center, lalu berjalan mencari sumber makanan terdekat. Ditengah jalan handphone Lea berbunyi, ternyata panggilan dari Daniel.


"Lele, dimana?. Udah sampe?" tanya Daniel pada perempuan itu.


"Udah mas dari tadi, udah selesai daftar malah. Mulai kelasnya lusa."


"Oh ya udah, berarti ini kamu mau pulang eh ke kampus?"


"Iya mau ke kampus, tapi mau makan dulu di dekat sini. Anak paus udah laper." seloroh Lea.


Daniel tertawa.


"Anak paus baik-baik aja kan?" tanya pria itu.


"Iya, dia baik-baik aja. Banyak gerak pagi ini mas."


"Oh ya?"


"Iya, kayaknya dia punya energi lebih deh."


"Karena aktivitas semalam kali." goda Daniel.


Lea pun tersenyum dengan wajah tersipu malu.


"Iya, karena di sayang sama papanya." jawab Lea.


Daniel yang tersenyum kali ini. Ia memang sangat menyayangi Lea dan juga anak mereka.


"Ya udah aku jalan dulu, mas. Kasihan Adisty di kacangin kalau aku ngomong mulu sama kamu."


Adisty tertawa, begitupula dengan Daniel.


"Jadi obat nyamuk gue." seloroh Adisty.


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Ya udah, aku matiin ya. Hati-hati kalian, kalau ada apa-apa segera kabari."

__ADS_1


"Iya mas."


"Daniel menutup sambungan telpon tersebut, dan Lea serta Adisty kembali berjalan.


__ADS_2