
Rangga membuka laman WhatsApp miliknya, ia ingin mengirim pesan pada Lea dan mengatakan jika ia telah tiba. Mungkin Lea sedang kemana karena bosan menunggu, pikirnya. Karena tadi ia cukup lama berada dijalan.
Namun ketika WhatsApp tersebut dibuka, Rangga terkejut melihat pesan yang sebelumnya ia kirimkan. Ternyata belum di read oleh Lea.
Rangga pun kini menelpon gadis itu. Namun sayang handphone Lea tengah berada dalam mode silent, dan terletak di dalam tas. Lea kini fokus pada Daniel yang merintih, seperti orang mengigau. Ia terus berada disisi Daniel dan mengawasi pria itu, karena takut terjadi hal yang lebih serius.
Malam itu, Daniel terbangun dan mendapati Lea yang tertidur di sisi tempat tidurnya. Ia melihat ke arah pintu, tampak Richard dan Ellio yang baru tiba. Ketika kedua orang itu masuk, Daniel langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Agar Richard dan juga Ellio tak membuat kegaduhan, yang akhirnya bisa membangunkan gadis itu.
"Bawa dia pulang." ujar Daniel dengan suara pelan."
Richard pun akhirnya mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke mobil. Richard mengantarkan Lea ke apartemen Daniel, sementara Ellio tetap di rumah sakit. Usai mengantar gadis itu, Richard kembali ke rumah sakit.
Pagi-pagi sekali Lea terbangun dan menyadari jika kini ia telah berada di kamar. Hal pertama yang Lea cari adalah handphone. Dan pagi itu, ia banyak sekali menemukan panggilan tak terjawab dari Rangga, juga pesan WhatsApp yang dikirim pemuda itu untuknya.
Lea terkejut, ia baru teringat jika kemarin janjian dengan Rangga. Buru-buru gadis itu menelpon, namun nomor Rangga tidak aktif. Lea bergegas untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah.
Sesampainya disana, Lea tak langsung menemukan Rangga. Ia harus susah payah dulu bertanya kesana kemari. Sampai akhirnya ia berhasil menemukan pemuda itu.
Kini Rangga dan Lea saling berhadapan, Lea tau jika ia salah. Karena telah mengabaikan Rangga demi Daniel. Namun itu semua tidak di sengaja, Lea benar-benar tidak ingat saking fokusnya pada Daniel.
"Rangga, aku minta maaf."
Lea berujar ketika Rangga hendak berlalu, agaknya pemuda itu kecewa dan marah pada Lea.
"Aku nunggu kamu berjam-jam Lea. Seenggaknya kalau kamu emang nggak bisa datang, kabari aku. Kan bisa chat aku di WhatsApp."
Lea menunduk, ia benar-benar merasa bersalah dan tak enak hati kali ini.
"Ibu aku sakit, Rangga."
Lea mengeluarkan alasan, yang membuat Rangga terhenyak dan sedikit melunak.
__ADS_1
"Kemarin aku nunggu kamu ditempat itu, tapi mendadak ibu aku sakit dan harus segera dibawa kerumah sakit. Aku panik dan langsung pulang, aku bener-bener nggak sempat liat handphone. Karena ibu aku kondisinya serius."
"Terus sekarang gimana?" Rangga terlihat panik. Ia benar-benar tak bisa menangkap kebohongan di mata Lea.
"Dia, mm. Dia udah baik." jawab Lea kemudian.
"Nanti siang, boleh jenguk ibu kamu?" tanya Rangga lagi.
Lea diam, ia terjebak ucapannya sendiri. Sementara Rangga serius soal keinginannya itu.
"Mm, ibu aku." Lea berfikir keras mencari alasan lain, agar Rangga tak bisa bertemu ibunya.
"Dia, lagi nggak bisa diganggu kata dokter. Paling bisa seminggu lagi." Lea memperpanjang dustanya. Karena satu kebohongan memang selalu mengundang kebohongan lain.
Rangga menghela nafas.
"Ya udah, tapi nanti aku mau titip sesuatu buat ibu kamu ya. Boleh kan?" Lagi dan lagi Rangga bertanya.
"Cekrek."
Dari kejauhan Sharon mengambil foto Lea dan juga Rangga. Lalu ia kirimkan kepada ibu Rangga. Kecurigaan mereka kini bertambah jelas, bahwasannya memang Rangga lah yang mungkin membantu keuangan Lea belakangan ini.
***
Siang itu sepulang sekolah, Lea menyambangi sekolah Ryan dan Ryana. Ia memberikan titipan yang diberikan oleh Rangga pada kedua adiknya itu. Karena tadi Rangga memang berniat memberikan sesuatu, pada ibu Lea yang konon katanya sedang sakit.
Rangga mengorder makanan dan juga buah-buahan via ojek online dan mengirimnya ke alamat sekolah. Setelah itu, ia memberikannya pada Lea.
"Lea ini apa?" tanya Ryan pada Lea. Kedua anak itu kini sudah akan kembali kerumah, karena memang jam sekolah telah usai.
"Itu makanan, buat kalian makan dirumah." ujar Lea.
__ADS_1
"Makasih ya, Lea." Ryan berujar.
"Lea, uangnya diambil ibu." Ryana mengadukan perbuatan ibu mereka.
"Semuanya?" tanya Lea dengan hati yang seolah terpukul. Ia tak menyangka jika sang ibu melakukan hal tersebut. Kedua anak itu pun mengangguk.
Lea lalu mengeluarkan dompet dan memberikan kedua adiknya itu masing-masing 200 ribu rupiah. Kedua anak itu langsung sumringah. Meski tak sebanyak di awal, namun mereka tetap bahagia menerima uang tersebut.
"Makasih ya, Lea." ujar mereka di waktu yang nyaris bersamaan.
Usai memastikan kedua adiknya itu pulang, Lea pun beranjak menuju ke sebuah supermarket. Disana ia membeli buah-buahan lagi, untuk kemudian ia bawa kepada Daniel.
Lea mengantri di kasir, tanpa ia sadari jika ada Clarissa yang juga mengantri di belakangnya. Clarissa telah menyadari kehadiran Lea di supermarket itu, sejak tadi. Sedang Lea tak sadar sama sekali. Clarissa menguntit gadis remaja itu dan melihat apa saja yang dibeli oleh Lea.
Clarissa sangat kepo pada kehidupan Lea bersama Daniel. Ia juga sering stalking akun sosial media milik Lea dan melihat apa saja yang di-posting oleh mantan anggota SB Agency tersebut.
Clarissa seolah tidak rela, melihat Lea bahagia. Kini ia berada di belakang gadis itu. Sementara Lea fokus saja pada belanjaannya. Penghitungan kasir telah selesai, Lea kini mengeluarkan kartu kredit milik Daniel untuk membayar.
"Degh."
Bathin Clarissa bergemuruh, itu bukanlah black card yang dikeluarkan oleh American Express. Seperti yang sempat viral di sosial media beberapa waktu lalu. Karena black card tersebut sampai saat ini masih dipegang oleh Daniel sendiri.
Tetapi kartu kredit yang digunakan Lea, limitnya mencapai 450 juta rupiah. Sebuah limit tertinggi yang diberikan oleh salah satu bank konvensional, kepada orang-orang kaya seperti Daniel.
Rasa iri didalam hati Clarissa pun kian memuncak, sedang sugar daddy nya sendiri tak memberikan kartu kredit apapun kepadanya. Ia hanya diberi uang sekitar 15-20juta untuk setiap bulannya.
Sebenarnya jumlah itu cukup lumayan, mengingat Clarissa pun diberi tempat tinggal oleh sugar daddy nya itu. Namun ia merasa Lea jauh lebih beruntung dan tak pantas mendapatkan keberuntungan itu.
Harusnya ia lah yang saat ini bersama Daniel. Menikmati semua fasilitas yang dimiliki pria tampan itu. Lea sendiri tak pernah tahu apa itu limit kartu kredit. Ia hanya mengetahui, jika kartu tersebut ajaib dan bisa membayar apa saja yang ia kehendaki.
Tetapi Lea juga masih tahu diri, ia tidak pernah belanja secara berlebihan. Bahkan untuk bertransaksi diatas dua juta rupiah pun, ia sudah merasa sangat bersalah. Ia merasa dirinya terlalu boros terhadap uang.
__ADS_1
Lea selesai membayar, ia kemudian beranjak pergi membawa barang belanjaannya. Tinggallah kini Clarissa, dengan rasa irinya yang kian menggerogoti hati.