
Nadya mengajak Putri berbelanja banyak keperluan. Seperti baju, skincare dan beragam pernak pernik yang sejatinya selama ini cukup diidamkan oleh Putri.
Arkana sendiri juga diminta oleh sang ibu untuk membeli apa yang ia minta. Intinya mereka bersenang-senang saat itu.
Sementara di rumah, Daniel dan Lea sedang duduk di ruang tengah sambil nonton. Sedang Darriel masih tertidur lelap.
"Le." Daniel menyeru nama sang istri.
"Apa mas?" tanya Lea.
"Gimana ya soal jodohnya Richard. Aku agak worry sih, karena sampai saat ini aku sama Ellio belum juga ketemu yang pas. Pada nggak bener semua cewek-cewek yang kita temui." ucap Daniel.
"Nggak bener gimana?" tanya Lea penasaran.
"Ya, nggak bener." jawab Daniel.
"Ada yang permintaannya nggak wajar, ada yang berlebihan, lebay, alay. Pokoknya macem-macem deh." lanjutnya kemudian.
Lea pun tertawa, namun kemudian ia ingat jika saat ini Richard tengah akan mendekati Nadya.
"Kenapa Le?" Daniel seakan melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya itu.
"Ah, nggak apa-apa koq mas." jawab Lea lalu tersenyum.
Daniel jadi merasa bersalah pada istrinya itu. Ia menganggap dirinya telah gagal menyenangkan hati sang mertua, disaat sang mertua tengah sakit.
Seperti diketahui Daniel dan Ellio serta Lea salah paham mengenai sakit yang di derita oleh Richard. Saat ini Daniel menghubung-hubungkan antara satu kejadian dengan yang lainnya, lalu ia merasa tak enak hati sendiri.
***
Sama seperti Nadya, hari itu Richard mengajak ketiga asisten rumah tangganya untuk belanja. Dengan catatan mereka juga harus membelikan hal yang sama untuk para asisten rumah tangga yang ada dirumah. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari persaingan dan rasa iri.
Setelah itu mereka menemani Richard membeli beberapa barang seperti jam tangan dan juga parfum. Kemudian mereka mengikuti langkah Richard menuju lantai berikutnya.
Richard berjalan di depan, sementara ketiga asisten rumah tangganya tersebut ada dibelakang dan tampak saling berbincang satu sama lain.
Sesekali mereka tertawa, sampai kemudian Lita ditarik seseorang dari belakang. Sontak Lita menoleh, begitu juga dengan asisten rumah tangga yang lainnya.
Lita terkejut, ternyata itu adalah Putri yang saat ini tengah bersama Arkana. Lita hendak berteriak kegirangan namun ditahan oleh Putri.
Kemudian Putri menilik ke depan sana, ke tempat dimana Nadya tengah duduk menunggu. Tadi kebetulan Putri dan Arkana ke toilet, lalu sekembali dari toilet ia melihat rombongan Richard yang tengah melintas.
Lita begitu gembira melihat Nadya berada didepan sana. Nadya saat itu tengah menatap pesan makian dari Susi, yang tak menyukai jika Hanif tadi kerumahnya.
Sementara Richard berjalan dengan dengan tenang sambil sesekali menatap ke sekeliling, guna mencari outlet berikutnya yang hendak ia tuju.
Tiba-tiba Nadya mengangkat kepala dan menyudahi melihat handphone. Pada saat yang bersamaan Richard tanpa sengaja melihat kearahnya. Seketika langkah pria itu pun terhenti, sebab keduanya sama-sama kaget.
__ADS_1
Sedang para asisten rumah tangga dan juga Arkana berdiri di belakang agak jauh, sambil senyum-senyum sendiri.
"Loh, Nad. Kamu disini?" tanya Richard seraya mendekat.
"Sama Hanif?" lanjutnya seraya menilik ke sekitar, memastikan Nadya pergi dengan siapa.
"Nggak pak, saya sama Putri dan Arkana aja." jawab Nadya sambil tersenyum. Wanita itu kini berdiri di muka Richard.
"Putri sama Arkana-nya mana?" tanya Richard lagi.
Nadya kemudian menilik ke suatu arah dan diikuti arah pandangan mata Richard. Sontak Putri, Arkana, dan para asisten rumah tangga Richard berpura-pura tengah berbicara dan seakan tak melihat bos mereka. Richard kemudian tersenyum lalu kembali menatap Nadya.
"Kamu belum mau pulang kan?" tanya nya kemudian.
"Belum koq, pak. Baru juga sampai kesini." ucap Nadya.
"Gimana kalau kita ngopi?" tanya Richard.
Nadya diam, ia kembali ingat jika dirinya adalah istri orang dan saat ini tengah bermasalah akibat ulah istri ketiga.
Nadya juga ingat kalau lelaki dan perempuan tidak boleh bersama, terlebih perempuan yang sudah menikah seperti dirinya.
Namun tak lama, Nadya berhasil menepis seluruh anggapan-anggapan tersebut dalam hatinya. Sebab tak ada salahnya untuk mencoba berbahagia mulai hari ini.
"Oke." jawabnya kemudian.
"Lita."
Panggilnya pada sang asisten rumah tangga. Sontak Lita pun menoleh dan begitupula dengan yang lain.
"Saya sama Nadya mau ngopi di Bhumi kafe, lantai atas. Mau ikut?" tanya Richard.
"Mmm, kita mau jalan-jalan aja pak. Boleh kan?" tanya Lita.
Ia sengaja memberikan ruang pada bosnya itu agar lebih leluasa.
"Oke, kalau mau temui saya ke atas ya!" ujarnya lagi.
"Oke pak."
"Arka kamu mau ikut?" Richard menawari Arkana.
"Arka mau ikut mbak Putri aja, om. Tapi nanti ntar Arka samperin deh keatas. Arka mau main Timezone soalnya."
Arkana juga beralasan, padahal ia hanya senang bila sang ibu dekat dengan Richard.
"Oke." jawab Richard.
__ADS_1
Tak lama ia memberikan salah satu kartu kreditnya pada Lita. Agar para asisten rumah tangganya bisa membeli makanan atau apapun itu.
Kemudian Lita dan yang lainnya mulai beranjak, sementara Richard dan Nadya menuju ke Bhumi Kafe yang ada di lantai atas.
***
Beberapa saat sebelum itu.
"Mau ikut apa mau tinggal aja?" tanya Ellio pada Marsha.
"Kenapa bapak kasih aku pilihan untuk tinggal?. Biar bisa ketemu cewek lain?"
Marsha yang dilanda cemburu tak beralasan akibat hormon kehamilan itu, berkata pada Ellio. Ellio sendiri kemudian menghela nafas, ingin kesal tapi ingat perut istrinya yang tengah melendung akibat perbuatannya sendiri.
"Bukan itu, aku takut kamu capek. Lagian juga aku bisa belanja sendiri. Habis itu ya aku pulang." jawab Ellio.
Marsha menekuk bibirnya.
"Tapi kalau mau ikut, ayo!. Kalau kamu ngerasa nggak capek." tukas Ellio lagi.
"Mau ikut, mau makan dimsum." rengek Marsha.
"Ya udah, ayo!"
Ellio pun mengajak istrinya itu. Mereka lalu berbelanja pada sebuah supermarket di sebuah mall. Usai berbelanja, keinginan makan dimsum yang semula diutarakan Marsha dirumah menjadi seolah hilang.
Karena tiba-tiba saja ia ingin makan masakan Jepang. Maka Ellio menuruti kemauan perempuan itu.
"Yang di atas ada, enak." ucap Ellio.
Maka mereka pergi menuju ke atas.
***
Para asisten rumah tangga Richard dan juga Nadya kini berjalan-jalan dan menemani Arkana bermain di Timezone. Sambil memperhatikan anak sang majikan, Putri bercerita pada Lita mengenai kejadian di rumah tadi.
"Gila ya, dasar pelakor." ujar Lita kesal.
"Dimana-mana pelakor emang songong." lanjutnya lagi.
"Ember!" ucap Putri.
"Dia yang merebut, dia juga yang pengen menguasai. Padahal nomor tiga, pengennya di nomor satukan." lanjutnya lagi.
"Emang dasar kerak inti bumi." tukas Putri.
Lalu mereka semua pun sama-sama tertawa sekaligus miris. Tetapi mereka juga senang, Karen dengan adanya kejadian ini. Itu berarti alam semesta memang mendukung Richard dan juga Nadya untuk bertemu.
__ADS_1
***