Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sandera


__ADS_3

"Banyak banget, om, Le."


Adisty menerima banyak sekali roti dan juga cake. Ellio dan Lea yang membelikan untuknya.


"Buat dirumah, kasih nyokap lo kek, tetangga atau siapa terserah." ujar Lea pada temannya itu.


"Iya sekalian kalau kamu laper malem-malem terus males ke dapur." timpal Ellio.


Adisty tersenyum.


"Makasih banyak ya om, Le."


"Sama-sama." jawab Lea. Sedang Ellio hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Udah?" tanya Daniel seraya menghampiri mereka bertiga.


"Udah mas, pulang yuk...!" ajak Lea.


"Ayo Adisty sekalian om anter." ujar Ellio kepada Adisty.


"Kan arah pulang kita nggak sama om." tukas gadis itu.


"Om mau ke tempat temen." jawab Ellio.


"Bohong, mau pacaran itu pasti." seloroh Daniel. Sedang Lea dan Adisty tampak tertawa-tawa.


Mereka kemudian pamit kepada ibu Lea dan berpisah di halaman parkir. Ellio mengantar Adisty, sementara Daniel dan Lea pulang ke rumah.


***


Di tempat lain, Richard kembali jalan dengan Cindy. Ariana tanpa sengaja melihat keduanya. Sebab ia dan Hans tengah hangout dan makan di kawasan yang sama dengan mereka.


"Kamu ngeliatin siapa sih?" tanya Hans pada Ariana.


"Itu bapaknya Lea." ujar Ariana pada Hans.


Maka pandangan mata Hans pun tertuju, ke tempat dimana arah pandangan Ariana terjatuh. Benar saja ada Richard disana bersama dengan seorang gadis yang seumuran dengan anaknya sendiri.


"Itu siapa?" tanya Hans pada sang kekasih.


"Itu Cindy, anak kelas aku." jawab Ariana sambil terus makan.


"Mereka pacaran?" tanya Hans lagi.


"Tau deh pacaran apa nggak. Tapi kayaknya sih iya."


"Terus apa masalahnya?" Lagi-lagi Hans bertanya.


"Koq kamu kayak terganggu gitu ngeliatnya?" lanjutnya lagi.


"Bukan terganggu sih, tapi apa ya. Kan aku kenal Lea nih, kenal bapaknya juga." ujar Ariana.


"Iya terus?"


"Masalahnya aku juga tau keluarganya Cindy itu matrenya kayak apa. Cindy nya sih baik, tapi keluarganya nggak. Udah ada temen aku yang jadi korban dari sifat matre keluarganya Cindy."


"Maksudnya temen kamu itu pacar Cindy gitu?" tanya Hans.


"Mantan." jawab Ariana.


"Tapi tuh pernah di porotin parah banget." lanjutnya kemudian.


Hans melirik ke arah Cindy dan Richard sejenak, lalu kembali menoleh ke arah Ariana.


"Nah kabarnya Cindy tuh sekarang juga masih punya cowok. Cowoknya itu kasar dan kayak nggak rela gitu di putusin sama si Cindy. Dia suka nuduh Cindy macem-macem dan suka mukul juga. Aku rasa keluarga si Cindy juga morotin si cowok itu, makanya si cowok nggak mau ditinggalin. Karena udah merasa rugi."


"Kamu tau dari mana?"

__ADS_1


"Ya dari gosip anak-anak yang beredar. Aku sih kasihan aja sama om Richard, kalau sampai terjebak sama Cindy."


"Iya sih, om Richard tuh baik banget loh orangnya. Aku sama keluargaku udah kenal lama sama dia." ujar Hans lagi.


"Dia tuh ya, kalau bantu orang nggak setengah-setengah. Makanya sering banget ada cewek yang manfaatin dia. Kalau masalah teman mah, teman dia pada tau diri semua dan baik-baik. Tapi kalau cewek, kayaknya dia udah berapa kali deh terjebak sama yang model begitu."


"Kalau kak Dian kamu tau?" tanya Ariana pada Hans.


"Dian?"


"Iya, pacar bapaknya Lea yang sekarang."


"Wah, kalau itu aku nggak tau. Tapi mantan dia yang sebelum itu tau. Karena pernah dia ajak ke party nya papa."


Ariana mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lama ia dan Hans melihat Richard serta Cindy sudah berlalu.


***


Di rumah, beberapa menit setelah tiba. Lea tampak mematut diri di depan kaca, perempuan itu tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang sudah sangat membuncit.


Tak lama Daniel datang dan memeluk perempuan itu dari belakang. Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya, Daniel sangat suka mencium pipi dan leher Lea. Sambil tangannya turut melingkar di perut sang istri yang membesar.


"Kamu cantik banget kalau begini." bisiknya ditelinga Lea."


Lea tersenyum dan meresapi hangatnya nafas sang suami.


"Kita belum ada maternity shoot loh mas." ujarnya kemudian.


"Oh iya."


Daniel agaknya tersadar, jika sampai bulan ke delapan kehamilan Lea ini. Mereka belum punya satu foto pun sebagai kenang-kenangan. Hanya ada beberapa foto selfi di handphone.


"Kita buat yuk, sebelum dia keburu lahir." ujar Daniel.


"Fotografernya siapa, terus lokasinya dimana?" tanya Lea.


"Iya sih." jawab Lea sambil tersenyum.


Ia kembali mengelus perutnya sendiri dan diikuti oleh Daniel.


"Sebelum maternity shoot, kita maternity exercise dulu ya."


Daniel kembali berbisik di telinga Lea, seraya tangannya masih mengelus bagian perut dan area sensitif di tubuh istrinya.


Lea pun menggeliat dan mendesah. Membuat gairah Daniel semakin bangkit. Seiring dengan mencuatnya tongkat keperkasaan di balik celananya.


Daniel membalik tubuh Lea, dan ia pun memberikan usapan, ciuman, serta remasan di sekujur tubuh perempuan itu. Sehingga aktivitas yang penuh kenikmatan itu tak dapat dihindarkan lagi.


*******, erangan, dan racauan memenuhi ruangan tersebut dalam rentang waktu yang cukup lama. Sampai kemudian keduanya sama-sama terhempas, setelah mencapai puncak di waktu yang bersamaan pula.


Usai bercinta seperti biasa mereka mengobrol. Lanjut kemudian mandi bersama, setelah keringat di tubuh mereka mulai berkurang.


Daniel membereskan tempat tidur dan mengganti seprai. Sedang Lea seperti biasa pergi ke dapur dan mencari apapun yang bisa ia buat serta mereka makan.


Usai makan mereka kembali ke tempat tidur dan berada begitu dekat satu sama lain. Daniel mulai mencari-cari fotografer untuk keperluan maternity shoot di sosial media. Sambil terus memperhatikan dan menjawab setiap perkataan, ataupun pertanyaan Lea dalam obrolan mereka.


***


Di sebuah bandara internasional di waktu yang sama. Dian tengah mengantri untuk boarding. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Richard.


Sementara Richard sendiri kini berada di mobil bersama Cindy. Tak lama kemudian mereka sampai di depan kediaman gadis itu.


"Om nggak mau mampir dulu?" tanya Cindy.


"Orang tua saya baik koq om." lanjut gadis itu lagi.


Richard tertawa.

__ADS_1


"Iya, om percaya koq mereka baik. Tapi om harus pulang dulu. Karena tadi ada klien yang minta dikirim sampel produk. Lain kali ya?" ujar pria itu.


"Ok om."


Cindy tersenyum lalu membuka pintu mobil. Namun sebelum keluar tiba-tiba,


"Cup."


Cindy mencium pipi Richard secara serta merta. Hingga membuat pria itu terkejut sekaligus terdiam.


"Hati-hati di jalan ya om, dan makasih banyak atas semuanumya."


Cindy kemudian keluar dan Richard segera melanjutkan perjalanan. Disepanjang perjalanan itu Richard terus terpikirkan pada sikap spontan Cindy.


Ia jadi tak begitu berkonsentrasi dalam mengemudi. Tak lama kemudian ia menerima telpon dari ibunya.


"Iya, mi?"


"Richie dimana kamu?" tanya ibunya kemudian.


"Di jalan mi, mau pulang." jawab Richard.


"Kamu ke rumah mami sekarang, sebelum Maryam dan keluarganya datang kesini."


"Maryam siapa mi?" tanya Richard bingung.


"Kamu akan mami kenalkan dengan Maryam." jawab sang ibu.


"Ma, maksud mami, Richard mau di jodohkan gitu?"


"Iya, karena kamu di suruh bawa calon istri ke rumah kelamaan. Cucumu sudah mau lahir itu, masa punya kakek bujangan."


"Mi, Richard udah punya pasangan."


"Ya mana?. Kamu mah PHP doang."


"Emang mami tau PHP apa?"


"Tau dong, Pria dengan harapan palsu."


"Bukan, tapi pemberi harapan palsu."


"Mami lagi nggak mau main tebak-tebakan sama kamu, lekas pulang sekarang juga."


"Tapi mi."


"Harus...!"


"Richard nggak mau."


"Bro."


Terdengar suara Ellio yang ketakutan dan gemetaran di seberang sana.


"Ellio?" Richard mulai khawatir.


"Ellio lo kenapa ada di sana?" tanya nya panik.


"Gue sama Marsha di sandera mami. Kalau lo nggak pulang, mami bakal menyerang gue sama sepuluh kemoceng. Nih asisten rumah tangga mami udah pada siap dengan senjata mereka. Lo kan tau gue phobia akut sama kemoceng. Tolongin gue, bro."


Richard menarik nafas panjang, ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap ibunya kali ini.


"Mi, jangan libatkan Ellio ataupun Marsha dalam hal ini."


"Mami akan lepaskan mereka berdua kalau kamu pulang. Tadinya mami nggak mau melakukan ini. Tapi kamu adalah orang yang susah datang kesini, sekalipun mami jebak. Buruan...!"


"Ok, ok, Richard datang." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Maka pria itu pun kini bergegas.


__ADS_2