
Beralih ke kediaman Daniel dan juga Lea. Saat itu Lea dan daniel tengah makan nasi liwet yang dicampur dengan teri dan juga petai. Ada beberapa lauk disana seperti ikan dan juga ayam goreng beserta lalapan seisi bumi.
"Le, aku bulky banget nggak sih?" tanya Daniel.
Lea lalu memperhatikan tubuh suaminya yang berotot tersebut.
"Iya mas." ujarnya sambil tertawa.
"Dikit lagi jadi om Ade Rai kamu." lanjutnya kemudian.
"Makanya jangan ajak aku makan terus, biar ototnya kering lagi." ucap Daniel.
"Lah, mas yang pengen ikut makan, aku yang disalahin. Aneh."
"Lagian kamu makannya beginian. Orang kek makan yang nggak bikin aku selera gitu loh. Salad kek, oatmeal gitu." ujarnya lagi.
Ia menggerutu tetapi menyuap nasi dengan tangannya yang lebar.
"Ngomel tapi lanjut." tukas Lea.
"Heheee." Darriel yang ada di dekat mereka pun tertawa.
"Noh Delil aja heran ya Delil?"
Lea meminta dukungan sang anak, dan lagi-lagi Darriel tertawa.
"Heheee."
"Anak sama emak sama aja." Daniel makin sewot, tetapi lanjut mengambil ikan goreng dan juga sambal.
"Papa kamu badannya bermasalah, tapi yang disalahin mama. Gimana coba?" ujar Lea.
"Heheee."
"Hokhoaaa."
Darriel berceloteh.
"Papa tuh ototnya jadi gede begini gara-gara mama tau nggak?" ujar Daniel lagi.
"Heheee."
Darriel menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya.
"Padahal dulu, tau nggak Delil?"
"Papa kamu itu kalau makan, pemilih banget. Sama seblak aja dia jijik." lanjut Lea lagi.
"Gimana nggak jijik, orang mama kamu yang ngelempar itu makanan ke mobil papa yang mahal." tukas Daniel.
"Heheee."
Darriel makin antusias. Kedua orang tuanya terus bercerita, seperti Darriel sudah mengerti akan hal tersebut.
"Dulu tuh Delil, papa kamu sok ganteng. Sok jual mahal sama mama."
"Mama kamu yang godain papa duluan."
Daniel tak mau kalah.
"Tapi seneng kan?" ujar Lea.
"Ya abis gimana, orang udah depan mata. Mau gimana lagi." jawab pria itu.
__ADS_1
"Masih nggak mau ngaku, padahal mah bucin." ujar Lea.
"Yang bucin itu bisa dilihat dari siapa yang melendung." ujar Daniel.
Lea mengerutkan kening.
"Ya nggak bisa gitu dong tolak ukurnya. Kan mas nggak bisa hamil."
"Ya udah berarti kamu yang bucin. Kalau nggak bucin, nggak mungkin sampai mau dihamili kan?"
"Dih nggak mau ngalah banget." ujar Lea.
"Heheee."
Kali ini Darriel tertawa lebih kencang tiga kali lipat dari sebelumnya. Membuat Lea dan Daniel kaget, lalu sama-sama menoleh ke arah anak itu.
"Kaget mama." ujar Lea kemudian.
Sementara Daniel kini tertawa.
Mereka kemudian melanjutkan makan, dan berdebat lagi seperti tadi. Dan setiap kali hal itu terjadi, setiap itu pula Darriel tertawa dengan senangnya.
***
"Makan ya!"
Ellio tengah merayu sang istri yang sulit sekali makan di hari itu.
"Aku tuh kayak kenyang gitu loh, pak. Nggak nafsu makan." ucap Marsha.
"Nggak suka sama makanannya apa gimana?" tanya Ellio kemudian.
"Dibilang nggak suka ya, nggak juga. Tapi dibilang suka juga nggak." jawab Marsha lagi.
"Ya udah, kamu mau makan apa?. Barangkali kamu menginginkan sesuatu dari luar." ucap Ellio.
"Apa?" tanya Marsha heran.
"Ya apa kek, martabak gitu." jawab Ellio.
"Nggak mau."
"Ayam Krispy mau?" tanya Ellio lagi.
"Nggak mau juga." jawab Marsha.
"Ayam kampus?"
"Plak." Ellio mendapatkan pukulan dari istrinya itu, hingga ia pun tertawa-tawa.
"Pengen yang berkuah gitu rasanya." Marsha mulai memberikan clue.
"Soto ayam?" tanya Ellio.
Marsha mengelengkan kepala.
"Bakso?" lagi-lagi lagi ia menggeleng.
"Ketek?"
"Ih, bapak mah." Marsha sewot.
Lagi-lagi Ellio tertawa.
__ADS_1
"Lagian kamu nggak mau semua, kasihan loh anak kita."
"Oh, jadi hanya karena kasihan sama dia. Mood aku nggak diperhatiin?. Aku nggak mau makan gini juga, bisa jadi karena ini anak loh."
Marsha ngambek dan cemberut.
"Ya, nggak kayak gitu juga." ucap Ellio.
"Alah, bilang aja iya." Marsha kian merajuk.
Ellio menghela nafas sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia lalu mendekat dan mencoba merayu istrinya itu.
"Nggak gitu, sayang. Aku begini karena khawatir juga sama kamu, sama kesehatan kamu. Karena kan anak kita numpang sama kamu tumbuhnya. Kalau kamu nggak makan, dia juga nggak makan."
Mendengar sabarnya cara Ellio membujuk tersebut, Marsha pun jadi luluh seketika.
"Ya udah deh, aku mau makan." ujarnya.
"Mau makan apa?" tanya Ellio.
"Nggak tau, aku bingung." rengek Marsha.
"Ya udah yuk, kita sambil jalan keluar gimana?. Kali aja ketemu makanan yang kamu suka."
"Mmm...." Marsha tampak berpikir.
"Ya udah deh." ujarnya kemudian.
Tak lama setelah itu mereka terlihat meninggalkan rumah, dengan menggunakan sebuah mobil.
***
Usai makan dan menggosok gigi serta membereskan semuanya. Daniel mengambil laptop dan mengurus pekerjaan, sedang Lea mengerjakan tugas kampus. Darriel jadi bengong lalu bermain sendiri. Kadang terdengar ia tertawa-tawa sendiri.
"Hokhoaaa." ujarnya berceloteh.
"Uwawawa." Ia menambah kosakata baru, meski tetap saja tak ada yang mengerti.
"Hokhoaaa."
"Heheee."
"He, he, Heheee."
Ia antusias sendiri. Namun karena kedua orang tuanya terus saja sibuk, akhirnya ia mengeluarkan senjata pamungkas yakni menangis.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Lea tak lantas panik, hanya Daniel yang mendekat lalu menggendong anak itu. Sementara Lea mengambil ASI lalu memberikannya pada sang anak.
"Manja banget kamu Darriel, Darriel." ujarnya kemudian.
"Heheee."
Darriel kembali tertawa.
"Hehe, hehe doang bisanya." ujar Lea lagi.
"Udah mas, letakin aja di situ. Jangan di gendong terus." ujar Lea.
"Ntar ngelunjak dia, mau di gendong terus." lanjut perempuan itu. Daniel lalu meletakkan sang anak kembali ke ayunan elektrik. Dan Darriel mengenyot botol susunya dengan penuh semangat. Tak lama kemudian cahaya matanya meredup, lalu ia pun terlelap.
__ADS_1
"