Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Jadwal Yang Sedikit Terlupa


__ADS_3

"Le, Nin."


Tiba-tiba Vita muncul di hadapan Lea dan Nina, setelah sekian lama. Tentu saja kedua perempuan itu amat sangat terkejut. Apalagi Vita muncul dengan wajah yang tampak kuyu dan mata sembab, seperti habis menangis dan mengalami tekanan.


"Lo kenapa Vit?" tanya Lea seraya menatap gadis itu.


Vita hanya diam menunduk, Lea dan Nina saling bersitatap.


"Gue mau minta maaf sama kalian berdua."


Suara Vita terisak, bahkan kini ia nyaris menangis.


"Gue...."


Lea memeluk Vita, lalu disusul oleh Nina. Seketika tangis Vita pun pecah.


"Jadi menurut lo, lo kena penyakit menular seksual?"


Lea bertanya dengan suara yang sangat-sangat kecil. Ketika mereka bertiga akhirnya duduk di suatu tempat. Lea tak ingin ada orang sekitar yang mendengar.


Vita mengangguk dan menjelaskan semua ciri-ciri yang ia miliki. Ciri-ciri yang menjurus pada gejala penyakit menular seksual tertentu.


"Tapi lo belum periksa?" tanya Nina.


Vita menggelengkan kepala.


"Belum Nin, gue takut sama hasilnya nanti."


"Nggak perlu takut Vit, kita temenin ya." ujar Lea lagi.


Vita menggeleng.


"Gue belum siap, Le."


"Vit, lebih baik semuanya di ketahui lebih awal. Lebih cepat kita tau, lebih cepat ambil tindakan. Itu lebih baik daripada nanti-nanti." Lea berusaha meyakinkan Vita.


"Bener yang dibilang Lea, Vit. Lo nggak perlu takut. Apapun yang terjadi nanti, gue sama Lea akan tetap ada buat lo."


"Iya Vita, kita semua nggak akan saling meninggalkan." timpal Lea.


"Sekalipun gue kena penyakit yang mematikan?" tanya Vita.


Lea dan Nina mengangguk pasti. Vita pun akhirnya menyetujui saran kedua orang sahabatnya itu, meski dalam hatinya masih ragu.


***


"Brengsek."


Sharon berteriak lagi di dalam rumahnya. Ia dan sang ibu telah pindah ke sebuah rumah penginggalan ayahnya yang lain, yang tak terindikasi sebagai hasil korupsi. Rumah itu tak ada setengahnya, dari ukuran rumah lama yang besar dan megah.


"Lo kenapa lagi sih, Shar?. Nyokap lo lagi sakit noh."


Maya yang baru saja keluar dari kamar ibu Sharon berujar.


"Gue nggak terima warisan bokap gue lebih banyak ke si Nina. Mana udah tanda tangan lagi itu si perempuan brengsek itu."


Maya menatap ke arah Tasya, yang berada di sudut lain. Jujur mereka kasihan pada Sharon, karena ia adalah anak yang sah dari pernikahan ayahnya. Seharusnya Sharon dapat lebih banyak ketimbang Nina, yang sekedar anak biologis tak berstatus.


"Gue akan gugat semua ini, gue nggak akan tinggal diam." lanjutnya lagi.


***


"Ya udah, berarti fix lusa ya Vit. Kita ke rumah sakit dan periksa semuanya." Lea berujar pada Vita, ketika mereka semua akhirnya sepakat.


"Beneran temenin gue ya Le, Nin." ujar Vita lagi.


"Iya, kita kan udah janji hari ini." ujar Lea.

__ADS_1


Vita tersenyum, mereka bertiga kini saling berpelukan.


"Maafin kelakuan gue selama ini." ujar Vita.


Lea dan Nina tersenyum.


"Nggak apa-apa Vit, kita kan temen. Kalau ada salah satu yang lagi marah, ya udah."


Lagi-lagi mereka bertiga tersenyum satu sama lain, lalu kembali berpelukan.


"Oh ya, anak gue sama Lea sama-sama cowok." tukas Nina.


"Oh ya?"


Vita tampak terkejut namun bahagia.


"Iya." jawab Nina diikuti anggukan Lea.


Vita pun jadi makin sumringah.


"Selamat ya." ujarnya lalu memeluk Lea dan Nina sekali lagi.


***


Richard baru saja selesai membeli kopi, ketika ia berbalik dan bertemu muka dengan Cindy. Cindy juga habis mengantri dan mendapatkan minumannya di bagian sebelah.


"Eh om."


"Cindy?"


Mereka mendadak canggung dan terpaku dalam beberapa saat, sampai kemudian Richard mengajak Cindy untuk duduk bersama di sebuah meja.


"Kamu dari kuliah tadi?" tanya Richard pada gadis itu.


"Iya om, baru aja balik. Tadi bareng Lea juga keluarnya."


"Iya, dia baik-baik aja. Tadi kayaknya pergi sama Nina."


Richard mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu kemudian ia meminum kopinya.


"Om dari mana tadi?" Cindy balik bertanya.


"Dari kantor, lagi suntuk aja makanya kesini."


"Om sering kesini?" tanya Cindy lagi.


"Iya lumayan seringlah."


"Koq kita nggak pernah ketemu ya om?"


"Ini ketemu." ujar Richard seraya tersenyum.


Cindy pun tersipu malu.


"Luka kamu udah sembuh semua?"


"Udah om, cuma yang di lutut aja masih membekas dikit."


"Lain kali kalau kemana-mana, hati-hati ya."


"Iya om."


Mereka pun lalu melanjutkan perbincangan.


***


Daniel kembali ke rumah sakit, untuk melihat kondisi adiknya. Namun ia tak bertemu dengan Grace, suster yang merawat Danisha mengatakan jika saat ini Grace tengah berada di kantor polisi.

__ADS_1


Daniel menanyakan kondisi Danisha, dokter mengatakan bahwa telah diambil beberapa tindakan guna menyelematkan anak itu.


"Baik dok, terima kasih atas informasinya." ujar Daniel.


"Sama-sama pak." jawab dokter itu.


Daniel pun keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju lobi rumah sakit. Namun tiba-tiba matanya menangkap sesosok yang tiada lain adalah Lea.


"Lea?"


Daniel menghampiri istrinya itu.


"Mas?" Lea terkejut.


"Hhhh." Ia kemudian menarik nafas seraya tersenyum


"Pantes mas nggak bales, udah disini toh. Syukur deh kalau mas inget ini jadwal periksa aku." ujar Lea.


Daniel tersentak, ia agak sedikit tak enak hati sejujurnya. Ia benar-benar lupa jika Lea tidak mengingatkan barusan. Pasalnya ia belum membaca pesan apapun dari istrinya itu.


"Mas udah liat Danisha?" tanya Lea.


"Mmm, belum." Dusta Daniel.


Ia tak ingin hal ini menjadi masalah nantinya. Ia takut kalau Lea mengira jika Daniel lebih memperhatikan Danisha, ketimbang anak mereka.


"Ayo mas, ke dalam aja. Bentar lagi jadwalnya." ujar Lea.


"Ayo...!"


Daniel lalu menggandeng lengan istrinya itu. Saat menjalani pemeriksaan ultrasonografi, Daniel melihat jenis kelamin bayinya melalui layar monitor. Terlihat jelas dan memang adalah laki-laki.


Ia hampir saja menitikkan air mata saking gembiranya ia, namun hal tersebut ia tahan karena malu pada dokter yang bertugas. Sementara Lea tampak penuh senyuman yang bahagia.


"Mas, nggak jenguk Danisha?"


Lea bertanya lagi pada Daniel, ketika mereka telah selesai menjalani pemeriksaan.


"Mmm, nanti aja deh." ujar Daniel.


"Oh ya mas udah makan?"


"Kenapa, kamu laper ya?" Daniel balas bertanya.


"Iya, tapi pengen makan waffle sama es krim mas. Boleh nggak ya?"


"Mmm, kalau di belakang aku kamu sering makan es krim nggak?" tanya Daniel.


"Nggak mas."


"Beneran?"


"Beneran, serius. Aku nggak bohong." ujar Lea meyakinkan sang suami.


"Ya udah deh, boleh koq sekali-sekali."


"Sama waffle ya mas."


"Ok, tapi belinya dimana?" tanya Daniel.


"Ada di kafe langganan aku sama temen-temen mas. Nanti aku tunjukkin tempatnya."


"Kamu tadi sama supir kan?" tanya Daniel lagi.


"Iya." jawab Lea.


"Ya udah aku telpon dulu, suruh dia pulang." ujar Daniel.

__ADS_1


Pria itu lalu menelpon dan menyuruh supir yang mengantar Lea untuk pulang. Sesaat kemudian, ia pun menuruti keinginan Lea untuk mendapat makanan yang ia inginkan.


__ADS_2