
"Ini apa Miska?"
Nina bertanya pada Lea, ketika pagi itu ia dikawal oleh bodyguard suruhan Daniel.
"Laki gue yang nyuruh." ujar Lea dengan muka datar namun sewot.
"Hahaha, biar kayak istri-istri mafia di novel online lo?" seloroh Nina lagi.
"Nin, please deh. Gue tuh nggak mau kali diginiin, laki gue nya maksa. Nyebelin banget."
Nina memperhatikan dua orang bodyguard tersebut. Mereka berdiri agak jauh dari dirinya dan juga Lea.
"Ceritanya lo di kintilin sampe dalem?" lagi-lagi ia bertanya.
"Yah gitu deh." ujar Lea masih sewot.
Tak lama kemudian Adisty dan Ariana mendekat.
"Hai Le." ujar mereka berdua penuh semangat. Mereka lalu melihat dua bodyguard yang mereka perkirakan mendampingi Lea.
"Asik nih di jagain?" ujar Adisty sambil senyum-senyum.
"Lo ambil aja deh kalau mau, lo kan demen di kawal-kawal. Biar berasa kayak member K-Pop."
"Yoi, tempo hari gue sama Ariana seneng banget. Pas laki lo ngasih bodyguard ke kita, sayangnya udah berakhir. Tapi nggak apa-apa sih, gue puas jadi princess walau cuma sebentar."
"Yoi gue juga." timpal Ariana.
"Tunggu." Nina menyela ucapan Adisty dan Ariana.
"Kalian berdua di kasih pengawalan?" tanya nya kemudian.
"Yup." jawab Adisty.
"Sama lakinya Lea?"
"Yoi." timpal Ariana..
Lea pun lalu bercerita pada Nina mengenai kronologi. Mengapa sampai Adisty dan Ariana mendapat pengawalan bodyguard dari Daniel.
"Oh gitu ceritanya." ujar Nina kemudian.
"Gue kebanyakan sibuk sih, jadi nggak tau hal penting." lanjutnya lagi.
"Ntar gue mau cerita banyak hal deh, tapi gue masuk dulu." ujar Lea.
"Sama, Le. Gue juga ada yang mau gue ceritain sama lo." ujar Nina.
"Ya udah, gue masuk dulu ya." ujar Lea lagi.
"Ok, gue juga masih ada kelas." tukas Nina.
"Bye Nin."
Lea berpamitan, Adisty dan Ariana ikut melambaikan tangan pada Nina.
"Bye." jawab Nina kemudian.
__ADS_1
***
Lea amat sangat kesal dengan bodyguard yang di tugaskan Daniel. Pasalnya mereka berdua menunggu didepan pintu kelas Lea. Ketika mata kuliah pertama selesai, Lea keluar dari dalam kelas dan langsung masuk ke dalam pandangan sang bodyguard.
"Anjir, ngapain sih langsung ngeliat ke gue gitu." gerutu Lea kesal, namun hal tersebut membuat Adisty dan Ariana tertawa. Iqbal yang baru keluar jadi bertanya padanya.
"Kenapa lu, Le?" ujarnya kemudian.
"Noh." Lea menunjuk ke arah bodyguard dengan menggerakkan kepalanya.
"Cie yang hidup bagaikan drama Korea." Ledek Iqbal.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain yang tampaknya sadar jika Lea dikawal pun, ikut menggoda perempuan itu.
"Cie Lea." ujar mereka kemudian.
"Apaan sih, sebel deh gue." Lea mendadak menjadi super sewot.
"Le, nikmatin aja. Di luar sana banyak cewek yang berharap hidupnya kayak kita." ujar Adisty seraya merangkul Lea.
"Bener Le, lebih baik dapat laki-laki yang suka aneh kayak laki lo. Daripada dapat cowok yang cuma bisanya ngegombal doang." timpal Ariana.
"Lebih baik salah satu dari lo, pacaran sama gue." tiba-tiba Rama nyeletuk.
"Ogah." ujar Adisty dan Ariana di waktu yang nyaris bersamaan. Sejenak Lea dan yang lainnya pun tertawa-tawa.
***
"Lo salah liat kali."
Lea berujar pada Nina di kantin kampus. Sesaat setelah Nina menceritakan kecurigaannya terhadap sang suami.
Ia tengah hamil muda dan tak mungkin memakan buah tersebut. Ia belum cukup kuat untuk mencium bau-bau yang menyengat. Bisa-bisa ia akan muntah dan lagipula ia sudah janjian dengan Nina.
"Gue sih berharap gitu, Le. Tapi cowok yang gue liat itu bajunya sama persis sama yang dipake laki gue, sebelum dia berangkat kerja."
Lea agak memperlambat makannya dan menatap Nina.
"Gue..."
Ia ingin berujar, namun tiba-tiba teringat jika Nina juga tengah hamil.
"Apa Le?" tanya Nina penasaran.
Lea menyesal karena telah membuat Nina terpancing ingin tahu. Sejatinya ia hendak mengatakan, jika dirinya curiga pada suami Nina sejak lama. Namun ia mengurungkan niat tersebut, takut Nina kepikiran.
"Gue cuma mau kasih saran ke elo." Lea membelokkan ucapannya ke topik lain.
"Jangan keburu membentuk persepsi, sama sesuatu yang belum tentu kebenarannya." lanjutnya kemudian.
Nina diam.
"Iya sih, bener apa yang lo bilang." ujar perempuan itu.
"Gue seharusnya nggak boleh menerka-nerka, sebelum ada bukti nyata. Sama aja gue membuat runyam diri gue sendiri." lanjutnya lagi.
"Makanya, mulai sekarang cobalah berprasangka baik. Lo kan lagi hamil juga, nggak baik buat bayi lo kalau negatif thinking."
__ADS_1
Nina mengangguk, meski sulit ia akan mencoba berfikir positif.
***
"Mas, sampe kapan sih ini bodyguard berhenti ngikutin aku?"
Lea bertanya dengan nada merengek di telpon. Ia telah kesal sejak tadi, karena terus diikuti oleh bodyguard kemanapun ia pergi.
"Baru juga satu hari aku kasih mereka nemenin kamu, belum setahun." jawab Daniel.
Pria itu kini masih berada di kantor dan berkutat dengan pekerjaannya.
"Sehari aja udah rasa setahun, gimana setahun beneran. Keriting otak aku, mas."
"Emangnya kamu nggak mau diawasi itu mau kemana, hmm?. Ada yang mau kamu rahasiakan, biar nggak ketahuan sama aku?"
"Koq jadi nuduh dan curigaan gitu sih." Lea mulai emosi.
"Siapa yang nuduh, aku nanya." ujar Daniel.
"Tau ah, nyebelin."
Lea menutup telponnya tanpa berpamitan, sesaat kemudian ia pun masuk ke dalam mobil. Ia meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke sebuah mall, entah mengapa kebosanan ini membuatnya ingin berbelanja. Ia ingin sedikit memanjakan diri dengan membeli baju, serta hal-hal lainnya.
"Lobi yang ini aja pak." ujar Lea menghentikan sang supir, ketika mereka telah tiba.
Ia berniat melarikan diri, karena saat ini sang bodyguard tengah memarkir moge mereka di parkiran motor. Parkiran tersebut cukup jauh dari lobi, hingga ia pun memiliki kemungkinan untuk kabur sejenak. Ia tak mau acara belanjanya jadi terganggu. Ia tak suka apabila ada yang mengawasi.
Buru-buru Lea masuk melalui pintu utama mall tersebut. Ia menoleh kesana-kemari dan memastikan jika para bodyguard tak mengikutinya.
"Yes." ujarnya kemudian.
Perempuan itu pun langsung naik ke eskalator, dan mengunjungi toko pakaian yang hendak ia tuju. Saat tengah asik memilah pakaian, Lea terhenyak. Lantaran dua bodyguardnya telah ada dan berdiri di muka toko. Mereka juga bertemu pandang dengan Lea.
"Anjrit, jangan-jangan badan gue dipasang alat penyadap nih. Koq mereka tau gue ada disini." gerutunya kemudian.
Lea kembali melirik ke arah mereka dan begitupun sebaliknya.
"Hadeh, nyebelin anjay." ujarnya lalu kembali memilah pakaian. Kali ini dengan kesal.
Usai membayar di kasir, hidup Lea pun kembali terkekang, pasalnya kedua bodyguard itu kini mengikuti langkahnya kemana saja.
"Duh sebel deh gue, ah elah." ujarnya seraya berjalan cepat.
Ia ingin sekali dua orang tersebut kehilangan jejaknya. Lea terus melangkah di tengah kerumunan orang yang lalu-lalang, sambil sesekali menoleh ke belakang. Sampai kemudian di suatu titik, ia mendapatkan kesempatan.
"Tuing."
Lea kembali mengaburkan dirinya, kali ini ia lebih licik. Selain membaur dengan kerumunan, perempuan itu menyelinap ke toilet dan berganti pakaian yang ia beli. Ia juga mencepol rambutnya yang terurai, agar dua bodyguardnya semakin pangling.
Ia kemudian keluar dari dalam toilet, menikmati kebebasan yang ia dambakan. Kedua bodyguard itu kini kebingungan, pasalnya Lea juga mengenakan masker kain. Yang entah kenapa tadi ingin sekali ia beli.
Ia kini begitu jumawa, pergi kesana kemari, membeli makanan dan apapun yang ia mau. Bermain di arena permainan dan lain sebagainya.
"Asik, kalau gini kan enak. Untung tadi gue liat masker ini dan pengen beli, ngebantu banget sih ini." ujarnya kemudian.
Lalu, ia melangkah untuk rencana selanjutnya.
__ADS_1
"Pasti mereka lagi bingung tuh, syukurin." ujarnya lagi.
Lea kembali bertemu dengan bodyguardnya di sebuah spot, ia pun menghindar ke arah lain sambil cekikikan. Namun tawa itu tak berlangsung lama. Pasalnya kini dihadapannya berdiri seorang lelaki, yang tiada lain adalah Daniel.