
Richard tengah menghadiri sebuah perjamuan Akbar antar sesama pengusaha. Ada banyak yang datang termasuklah beberapa orang yang satu koloni dengan Marvin. Yakni orang-orang yang menentang Daniel, Richard, maupun Ellio.
Tetapi kali ini Richard hadir sendirian. Sebab Daniel ada rapat penting di kantornya, sedang Ellio ada jadwal mengantar istrinya ke dokter kandungan.
Memang ada banyak yang Richard kenal disana, namun mengobrol dengan mereka semua tak seluwes mengobrol dengan Daniel maupun Ellio.
Jadilah Richard bersikap seperti pria maskulin yang dingin dan terkesan tak banyak bicara.
"Hai, bro."
Seorang yang tak begitu ia kenal datang menghampiri. Richard bersikap biasa saja, sebab itu adalah pertemuan dan siapapun bisa berinteraksi dengan orang-orang yang hadir di sana.
"Ya." jawab Richard seraya memperhatikan orang tersebut.
"Gaes ini Richard."
Semua mata kini tertuju pada Richard. Sementara Richard sendiri bingung, mengapa orang tersebut mengundang perhatian sekitar.
"Ini yang anaknya dibiarkan jadi sugar baby temannya sendiri."
Orang tersebut kembali berujar, seketika emosi dan darah Richard pun seakan mendidih.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" Ia bertanya dengan nada lantang yang penuh penekanan serta kemarahan.
"Loh, iya kan?. Gue nggak salah dong. Anak lo di jadikan pemuas nafsu oleh teman lo sendiri." ujarnya lagi.
"Brengsek!"
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Richard menghajar orang itu dengan cepat sampai tiga kali pukulan. Hingga orang tersebut kini jatuh terjerembab.
"Lo nggak usah banyak omong, kalau nggak tau cerita yang sebenarnya."
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Richard terus menghajar orang tersebut tanpa ampun. Orang itu sejatinya tak berpikir jika Richard akan berlaku demikian. Ia tadinya pikir Richard akan merasa malu, diam, lalu pergi. Tetapi ternyata reaksinya malah seperti ini.
"Bro, bro, bro. Udah, bro."
Beberapa orang pengusaha yang mengenal Richard dengan baik, kini mendekat dan mencoba memisahkan.
"Sekali lagi gue dengar lo melecehkan anak gue, bukan cuma leher lo yang gue patahkan. Tapi juga leher keluarga lo." teriak Richard.
"Richard, udah."
__ADS_1
Teman-temannya menarik Richard ke sisi yang lain.
"Brengsek." ujar Richard masih penuh emosi.
"Udah, bro. Tabiatnya satu koloni sama semua tuh orang."
Lagi-lagi teman Richard menjelaskan. Sementara nafas Richard kini masih memburu dan emosinya masih berada di ubun-ubun.
"Gue nggak ada masalah sama siapapun. Dari tadi juga gue lebih banyak diam." ujar Richard.
"Iya kita ngerti. Udah, lo tenang dulu."
Maka Richard pun berusaha menarik nafas panjang, ditengah kemarahan hatinya yang masih meluap-luap.
***
"Dia ngomong gitu?"
Ellio bertanya pada Richard, ketika ia menceritakan perihal kejadian yang ia alami pada sahabatnya tersebut. Daniel juga mendengar dan kini tampak terdiam menahan emosi.
"Lo tau kan CEO Mandala Arya." tanya Richard pada keduanya, namun lebih dititik beratkan pada Ellio. Sebab saat ini Daniel sedang membuang pandangan ke arah lain saking marahnya ia.
"Iya tau gue." jawab Ellio.
"Nah dia itu wakilnya kalau nggak salah. Koloninya si Marvin." ucap Richard lagi.
Lea yang mendengar semua itu dari balik tembok sebuah ruangan pun terdiam. Semua ini tak akan terjadi jika dulu ia sabar atas kekurangan yang ia miliki.
Setelah selama dua tahun ini hidupnya baik-baik saja dan terkesan paling beruntung diantara kandidat sugar baby lainnya.
"Keterlaluan sih, kalau udah ngomong kayak gitu. Coba tadi gue ikut." ucap Ellio geram.
Daniel kemudian beranjak.
"Lo mau kemana, Dan?"
Richard menghentikan langkah sang menantu. Namun Daniel hanya diam dan tak menjawab. Ia lalu keluar dari rumah mertuanya itu dan langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama terdengar suara mesin yang dihidupkan.
"Ikutin, El. Nanti ada apa-apa." ucap Richard pada Ellio.
"Oke." jawab pria itu.
Maka Ellio pun kini bergegas. Lea buru-buru keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Richard.
"Ayah, itu mas Dan mau kemana?" tanya nya kemudian.
"Kamu naik aja ke atas, urus Darriel." ujar Richard pada anaknya itu.
"Iya, tapi itu mau kemana?" tanya Lea lagi.
"Itu urusan laki-laki." jawab Richard sambil berlalu.
Sementara Lea kini tampak bengong, sebab tak mengerti dengan apa yang ayahnya maksud. Tapi ia yakin jika Daniel tak sedang baik-baik saja saat ini.
__ADS_1
***
"Elo kan orangnya."
Daniel tiba di muka orang yang tadi dipukul oleh Richard. Ia menemukan orang tersebut masih berada di lokasi pertemuan, dan baru saja hendak menuju kemalaman parkir untuk pulang. Sebab pertemuan itu kini telah usai.
"Dan, tolong jangan buat kegaduhan lagi. Tadi Richard udah."
Salah satu penyelenggara pertemuan itu berkata pada Daniel. Tanpa menghiraukan ucapan tersebut, Daniel langsung mendekat. Ia menghajar orang yang telah melecehkan istrinya itu dengan membabi buta.
Pada saat yang bersamaan Ellio tiba. Beberapa orang hendak mendekat dengan maksud memisahkan.
"Nggak usah." Ellio menghalangi tindakan mereka..
Maka orang-orang yang hendak memisahkan tersebut, kini diam dan menoleh pada Ellio.
"Biarkan dia bertanggung jawab atas apa yang sudah dia katakan." ucap Ellio lagi.
Orang-orang tersebut lalu diam dan hanya menyaksikan dari tempat dimana mereka berdiri.
"Bangun!" ucap Daniel ketika lawannya telah jatuh.
"Bangun dan lawan gue, bangsat!" perintahnya kemudian.
"Kalau lo nggak bangun dan nggak melawan. Gue akan suruh orang balas melecehkan keluarga lo." ujarnya lagi.
Orang tersebut berusaha bangkit, meski wajahnya sudah babak belur. Akibat dihajar Richard dan kini dihajar pula oleh Daniel.
"Bangun!"
Daniel berteriak, orang tersebut bangkit dan Daniel kembali menyerangnya dengan membabi buta.
"Baaak."
"Buuuk."
"Baaak."
"Buuuk."
Setelah puas ia pun berhenti.
"Gue nggak pernah menjadikan anak Richard sebagai perempuan pemuas nafsu." Daniel berkata dengan nafas yang kini tersengal-sengal.
"Dia gue bawa ke rumah di usia 16 tahun, karena gue menyelamatkan dia dari seorang kakek tua yang mau membeli dia." lanjutnya lagi.
"Gue nikahi dia secara baik-baik, dan saat itu kami semua belum tau kalau dia anaknya Richard. Jadi Richard nggak salah apa-apa. Lo mending urus aja anak perempuan lo. Karena gue yakin dia bakal terluka kalau tau bapaknya punya banyak simpanan. Salah satunya adalah teman baik anak lo sendiri."
Orang tersebut terdiam, ia kaget Daniel mengetahui tentang dirinya sampai sejauh itu. Orang-orang yang ada di lokasi kini diam dan masih terus menyaksikan. Bahkan mereka berdiri nyaris tanpa ada yang bersuara.
Daniel kemudian berlalu, diikuti oleh Ellio. Sementara suasana di tempat kejadian tersebut, telah menjadi sedemikian kacau.
***
__ADS_1