
Lea senyum-senyum sendiri usai bertemu kedua temannya dan mengerjai Shela. Ia kembali ke kediaman Richard, namun kemudian hatinya kembali terganggu dan merasa tidak enak. Tatkala mengingat kondisi sang ayah yang saat ini perlu mendapat perhatian khusus.
"Mas, ayah udah diajak ke dokter?" tanya Lea pada Daniel melalui WhatsApp.
Tak lama Daniel pun menjawab.
"Belum, Le. Richard lagi sibuk banget sekarang. Dia tadi keluar ada urusan, nggak tau sampai jam berapa. Kata sekretarisnya tadi gitu." jawab Daniel.
"Duh, mas. Khawatir deh aku sama ayah." ucap Lea lagi.
"Apalagi aku, Le. Aku juga khawatir banget sama dia. Tapi mau gimana?. Nggak mungkin juga aku paksa dan seret-seret dia kan."
"Iya sih, ya udah deh mas. Aku mau jalan pulang dulu."
"Kamu udah ambil Darriel?"
"Udah nih, udah mau balik juga."
"Ya udah hati-hati di jalan." ujar Daniel.
"Iya mas."
"Bye Lea."
"Bye mas."
Lea diam sejenak. Tak lama kemudian ia pun mengirim pesan singkat pada Richard.
"Ayah, jangan kecapean. Jangan lupa makan juga. Kami semua sayang ayah."
Ia mengirim foto selfie-nya dengan Darriel. Richard yang menerima semua itu pun tersenyum,
"Iya, makasih ya sayang." balasnya lalu kembali melanjutkan urusan.
***
Esok hari, Nadya tak melihat Arkana di meja makan. Biasanya pagi-pagi sekali anak itu sudah mandi, mengenakan seragam dan duduk di kursi sambil menikmati sarapan yang dibuat oleh Putri.
"Mbak Putri, Arka mana?" tanya Nadya pada Putri.
"Kayaknya masih di kamar deh, bu. Mungkin lupa ngerjain PR, jadi baru dikerjakan sekarang kayak waktu itu."
Putri menduga-duga. Sebab sebelum-sebelumnya jika terlambat turun ke bawah, biasanya Arkana sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang lupa ia kerjakan semalam.Nadya pun naik ke atas lalu membuka pintu kamar anak semata wayangnya tersebut.
"Arka." ujarnya.
Tampak Arkana masih berada di tempat tidur. Nadya kaget sekaligus bingung. Perempuan itu lalu mendekat.
"Arka."
Ia menyentuh tangan Arkana, namun tangan anak itu terasa panas. Nadya terkejut dan refleks meraba keningnya.
"Astaga, Arka. Kamu sakit, nak?"
Arkana tak menjawab dan matanya masih terpejam.
"Arka."
Nadya mencoba membangunkan anak itu.
__ADS_1
"Arka bangun nak."
"Put, Putri."
Nadya memanggil Putri, tak lama Putri pun tiba. Asisten rumah tangga tersebut kaget melihat Arkana.
"Ya ampun, Arka kenapa bu?" tanya nya kemudian.
"Arka badannya panas banget dan dia nggak merespon waktu di panggil. Bilang supir siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang."
"Baik, bu."
Putri pun bergegas. Tak lama berselang mereka sudah terlihat meninggalkan rumah sambil membawa Arkana menuju rumah sakit.
***
"Bro, ayo kita ke rumah sakit!"
Daniel dan Ellio kembali mendapat kesempatan untuk membujuk Richard. Agar sahabat mereka tersebut mau memeriksakan kesehatannya.
"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Richard.
"Ya periksa kesehatan lah, masa periksa saldo ATM." seloroh Ellio.
"Ya buat apa orang gue sehat-sehat aja koq." ujar Richard lagi.
Daniel dan Ellio saling bersitatap satu sama lain. Mereka meyakini kata-kata tersebut adalah dusta. Mereka beranggapan bahwa Richard memang sedang menutup-nutupi penyakitnya.
Usaha mereka mengajak Richard ke rumah sakit adalah untuk menjebak sahabat mereka itu, agar segera mengaku dan jujur.
"Kita juga sehat-sehat aja keliatannya. Tapi nggak tau dalamnya kan " ucap Daniel.
"Lo berdua aja kalau mau check up, gue mah nanti-nanti aja." tukas Richard.
"Wah, lo mah nggak setia kawan bro." ujar Daniel.
"Iya, payah." Ellio menimpali dengan nada seolah penuh kekecewaan.
Richard yang tak bisa dikucilkan dari pergaulan tersebut akhirnya menjawab dengan gusar.
"Ya udah deh, iya. Ayo!" ujarnya.
Daniel dan Ellio pun langsung nyengir.
"Bener-bener ya lo berdua." lanjutnya kemudian.
"Ya udah, kita berangkat sekarang." ucap Daniel.
***
Mobil yang membawa Nadya dan anaknya tiba di emergency. Saat itu petugas langsung mendekat dan menyambut anak itu.
"Tolong, dia sakit dan nggak merespon saya dari tadi." ujar Nadya."
Petugas laki bertanya-tanya pada Nadya dan Nadya menjawab dengan sejujur-jujurnya. Tak lama Arkana dibawa untuk segera di lakukan tindakan.
"Nadya kemudian sibuk ini dan itu, mulai dari mengisi formulir, mengurus administrasi dan sebagainya."
Setelah semuanya usai ia meraih handphone dari dalam tas yang kebetulan ia silent. Ia bermaksud mengabari pihak sekolah jika hari ini Arka tidak masuk lantaran sakit.
__ADS_1
Namun ternyata disana telah banyak notifikasi panggilan dari Hanif, dan saat ini suaminya itu kembali menelpon.
"Mas."
"Kamu ini dari mana aja sih?. Suami nelpon bukannya diangkat. Dari mana kamu?. Keluar rumah, hah?"
Hanif marah-marah sambil menuduh dan membentak Nadya.
"Mas, aku ini di rumah sakit. Arka sakit." jawab Nadya.
"Sakit?. Kenapa bisa sakit?. Ngurus anak satu aja nggak becus."
Hati Nadya benar-benar serasa di tusuk oleh pisau mendengar semua itu. Dan Hanif terus saja nyerocos.
"Padahal kamu ini di rumah, masa anak satu nggak bisa di handle. Gimana kalau aku suruh hamil lagi dan punya anak tujuh."
"Mas."
"Tugas perempuan itu hanya hamil dan ngurus anak. Ini ngurus anak satu aja kamu nggak bener. Perempuan macam apa kamu ini?"
Air mata Nadya mengalir deras, ia menjauhkan handphone tersebut dari telinganya, dan membiarkan Hanif terus marah.
Putri yang ada di tempat tersebut jadi tak enak hati mendengarnya. Meski loud speaker tidak di aktifkan tapi ia tau jika Hanif tengah menyalahkan Nadya.
Ini sudah sering terjadi. Dimana sebagai kepala keluarga Hanif hanya taunya menyalahkan dan menggunakan kata becas-becus sebagai andalan.
Putri menilai Hanif hanya sebagai lelaki pencetak anak dan juga pemberi uang untuk biaya hidup. Sisanya ia menganggap mengurus anak adalah tugas perempuan, sesuai dengan didikan keluarganya.
Padahal tugas mengurus anak adalah tugas bersama. Peranan ayah jauh lebih luas ketimbang hanya memaju-mundurkan pentungan dan membuat seorang perempuan hamil, lalu memberinya uang untuk makan.
Seorang ayah juga harus mendampingi tumbuh kembang anak. Mengajak anak berkomunikasi serta menghindari melakukan hal-hal yang membuat anak menjadi down.
Seperti perbuatannya dengan Susi yang seenaknya membuat konten, lalu melukai perasaan Arkana. Kemudian ujungnya yang disalahkan tetap Nadya.
Ia ingin menjadi laki-laki yang bebas melakukan apa saja di dunia ini, tanpa memikirkan hati dan perasaan orang lain.
"Makanya ngurus anak itu yang becus."
Seorang laki-laki berteriak pada seorang perempuan di dekat Nadya dan Putri. Tampaknya itu sepasang suami istri yang tengah bertengkar. Di dekat mereka ada seorang ibu-ibu yang didisinyalir adalah ibu si laki-laki.
"Nggak usah ngomong becas-becus, mas. Kamus sendiri udah becus belum sebagai ayah dan kepala keluarga."
"Heh, Vira. Kamu itu perempuan."
Ibu-ibu yang diperkirakan sebagai ibu si laki-laki itu menunjuk si wanita yang bernama Vira tersebut.
"Kamu harusnya tau tugas kamu adalah mengurus anak. Bukan malah sibu kerja."
"Emang ibu pikir anak ibu cukup membiayai rumah tangga ini, hah?. Kalau saya nggak kerja, mana cukup bu. Gaji mas Marwan itu cuma lima juta. Tiga juta setengahnya dia kasih ibu, karena ibu menuntut mas Marwan membiayai anak-anak ibu yang lain. Dan mas Marwan beralasan ibu adalah cinta pertama dia, yang harus dia junjung tinggi. Sisa gajinya satu setengah juta. Ongkos dia kerja aja sama rokok udah mau satu juta perbulan. Sisa lima ratus ribu yang dikasih ke saya. Cukup kemana lima ratus ribu sebulan."
"Cukup, jangan bentak ibu." Marwan bersuara.
"Harusnya kamu itu bersyukur udah aku kasih lima ratus ribu perbulan. Uang nggak akan cukup kalau nggak bersyukur."
"Bersyukur kepala lo bau menyan." teriak Vira.
"Kontrakan kamu pikir siapa yang bayar?. Dari gaji aku. Makan dari gaji aku, biaya anak sekolah juga dari gaji aku. Uang lima ratus ribu dari kamu itu cuma nutup beli token listrik, air, galon sama gas. Nggak cukup kalau untuk biaya yang lain. Sekarang bilang aku nggak becus jaga anak. Gimana mau jaga anak kalau akunya aja banting tulang nutupin kekurangan kamu. Ngempanin kamu juga, padahal kamu kepala keluarga."
Nadya diam, begitupula dengan putri. Andai dia seberani perempuan bernama Vira itu dalam melawan Hanif. Pastilah ia tidak akan terus ditindas seperti sekarang ini.
__ADS_1