Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pengaruh (Bonus Part)


__ADS_3

"Le, mana Darriel."


Richard menanyakan cucunya. Seperti biasa walau telah kemana-mana, ia tetap saja merindukan Darriel.


"Ada yah, kami lagi di tempat ibu." jawab Lea


"Ngapain kalian disana?" tanya Richard lagi.


"Beli roti ya?" Lanjut pria itu.


"Nggak, ini lagi nggak di toko tapi di rumah ibu. Aku bantuin ibu buat mengkonsep pernikahan dia yah." ucap Lea.


"Menikah?" tanya Richard seraya mengerutkan dahi. Lea pun lalu menjelaskan jika ibunya hendak kembali menikah dengan ayah Leo.


"Oh, jadi gitu ceritanya." ujar Richard.


"Iya yah, ayah nggak apa-apa kan kalau ibu nikah lagi?"


Pria itu diam sejenak. Jujur ada rasa aneh dalam dirinya. Semacam perasaan tidak rela, namun itu tak terlalu kuat. Richard sadar betul perasaanya kini untuk siapa.


"Nggak koq, ayah nggak keberatan." ujar Richard.


"Ayah berharap ini yang terbaik buat mereka." lanjutnya kemudian.


"Hokhoaaa."


"Tuh dijawab sama Darriel." ujar Lea.


Richard pun tertawa.


"Ke rumah papa Rich dong ntar sore, papa Rich kangen nih sama Darriel."


"Tuh Darriel, kata papa Rich dia kangen. Darriel kangen nggak sama papa Rich?"


"Hokhoaaa."


"Kangen juga?" tanya Lea lagi.


"Heheee." Darriel tertawa.


"Nanti kita kesana, mau?"


"Hokhoaaa."


"Ya udah fix ya berarti?" Lagi-lagi Lea bertanya.


"Hokhoaaa."


Lea tertawa, begitupula dengan Richard yang mendengar celotehan bayi itu.


"Ya udah yah, nanti kami kesana sore." ujarnya.


"Oke, nginep ya." pinta Richard.


"Oke, ayah telpon mas Dan aja. Biar dia nyusul."


"Iya, ntar ayah telpon dia." tukas Richard.


"Ya udah, aku mau ngurusin urusan ibu dulu."


"Iya, salam sama ibu kamu ya."

__ADS_1


"Iya yah."


"Da-da Darriel."


"Tuh papa Rich bilang da-da sama Darriel." ujar Lea.


"Heheee."


Richard kembali tertawa.


"Ya udah Le, ayah tutup dulu."


"Iya yah."


Richard menyudahi telpon tersebut.


***


Ellio telah mendapatkan beberapa kandidat untuk dijadikan jodoh bagi Richard. Ia hanya memilih lima belas orang dari total seratus lebih yang mendaftar.


Tentu saja ini didasarkan pada kriteria yang telah ia serta Daniel tetapkan. Meskipun itu tak melalui persetujuan Richard terlebih dahulu.


"Udah ada berapa kandidat buat jodohnya si Bambang?" tanya Daniel pada Ellio di telpon.


Saat ini Daniel berada di ruang kerjanya, begitupula dengan Ellio.


"Udah dapat lima belas orang. Ntar sore kita temui dulu tiga orang, dan langsung eliminasi aja kalau emang nggak sesuai kriteria." tukas Ellio.


"Ya udah, lagian kita juga harus gerak cepat." ujar Daniel.


"Soalnya kita belum tau apa penyakit yang diderita Richard. Kita harus segera mendapatkan pendamping yang bisa menyemangati hidupnya dia." lanjutnya kemudian.


Seketika Ellio terdiam. Ia mengingat saat-saat mereka kecil dan remaja. Banyak kenangan yang mereka ukir bersama.


"Lo pikir gue nggak?" tanya Daniel.


"Gue juga sama sedihnya kayak lo. Bahkan mungkin lebih." tambahnya.


"Gue belum siap dengar kalau Richard tuh kenapa-kenapa." ucap Ellio lagi.


"Apalagi gue, El." Daniel menimpali.


Lalu keduanya sama-sama diam.


"Pokoknya kita berdua harus semangat dan melakukan apapun demi Richard. Termasuk mencarikan dia pasangan." ujar Daniel.


Ellio menyeka air matanya yang menetes.


"Iya, gue akan lakukan apapun itu demi dia." ucapnya kemudian.


"Ya udah, gue kerja dulu. Biar cepet kelar dan ntar sore kita temui cewek-cewek itu." tukas Daniel.


"Oke, gue juga sama." timpal Ellio.


Maka mereka menyudahi telpon tersebut lalu melanjutkan pekerjaan.


***


Hanif tengah berjalan di sebuah taman yang dipenuhi bunga. Sepanjang mata memandang hanya ada bunga mawar yang berwarna merah.


Tetapi di ujung sana ada sebuah pemandangan yang lain. Dimana setangkai mawar putih besar terlihat.

__ADS_1


Ia berbeda sendiri, dan tampak lebih besar dari bunga-bunga mawar merah yang ada di sekitarnya. Hanif yang terpesona akan keindahan bunga itu pun mendekat. Ia bermaksud mengambil.


Namun secara serta merta Richard tiba dan memetik bunga itu, kemudian membawanya pergi. Hanif terdiam, kemudian ia terbangun dari tidurnya.


Hanif melihat ke kanan dan ke kiri. Nyatanya ia masih berada di kamar resort dan hari telah sedemikian siang. Barusan ia bermimpi tentang bunga itu, namun ia sendiri tak mengerti apa maknanya.


"Sayang."


Tiba-tiba Susi si pelakor muda yang sedang hamil itu muncul, sambil membawa paper bag dan juga kantong kresek yang entah apa isinya.


"Kamu dari mana?" tanya Hanif pada istri ketiganya tersebut.


"Dari belanja baju di pasar." ucap Susi.


"Bukannya kemarin udah?" tanya Hanif lagi.


"Iya hari ini kepengen lagi. Ada yang belum aku beli sampe kebayang-bayang." tukas Susi.


"Kamu mau anak kamu yang di dalam perut aku ini ileran?" tambahnya kemudian.


Hanif langsung luluh, sebab ia saat ini tengah tergila-gila dan cinta mati pada Susi. Apapun yang Susi lakukan, ia akan memaklumi.


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu senang." ujarnya kemudian.


***


Richard berpamitan pada Nadia dan juga Arkana. Sebab masih banyak hal yang harus ia kerjakan, terutama urusan kantor.


Nadia berterima kasih sekali lagi pada pria itu, sedang Arkana tampak sedih. Ia sepertinya masih ingin bersama Richard.


"Besok om kesini lagi." tukas Richard pada Arkana dan Arkana pun mengiyakan.


"Maaf saya sama anak saya merepotkan pak Richard."


Nadya berujar ketika ia mengantar Richard hingga ke lobi depan rumah sakit.


"Saya nggak merasa di repotkan, Nad. Saya datang kesini atas kerelaan saya sendiri." jawab Richard.


"Iya, tapi saya tetap berterima kasih banyak sama bapak."


"Sama-sama." jawab Richard.


"Kalau saya ada waktu, saya akan datang lagi." tambahnya.


"Iya pak."


Richard pun berpamitan, kemudian ia berjalan ke arah lapangan parkir dan masuk ke dalam mobil. Selang beberapa saat berlalu, mobil pria itu sudah terlihat berjalan menjauh.


***


"Arkana kayaknya sedih pas pak Richard pulang."


Putri mulai memasukkan ucapan ke pikiran Nadya. Tepat beberapa saat setelah Richard meninggalkan rumah sakit.


Nadya diam dan melihat Arkana yang kini bermain handphone. Memang jelas terlihat kesedihan di mata anaknya itu. Ia tidak seceria tadi, saat Richard masih disini.


"Arkana butuh sosok ayah, bu." ujar Putri lagi dan lagi-lagi hati serta perasaan Nadya seperti di aduk-aduk.


***


Mampir yuk ke karya baru author.

__ADS_1



__ADS_2