Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Waspada


__ADS_3

"Daniel mana?"


Richard bertanya pada Lea yang kini sudah turun dan duduk di meja makan, sambil mengambil piring serta nasi.


"Ada noh di atas, lagi mandi bareng di bathub. Itu si Darriel di kekepin mulu sama bapaknya. Diliatin terus, kayak masih penuh penyesalan." Lea menjawab lalu mulai mengambil lauk.


"Lah, kamu nggak ikut mello-mellowan sama mereka di atas. Biar suasana makin intim gitu." tukas Ellio.


"Laper om, mending aku makan dulu." Lea mulai menyuap nasi. Ellio kini menatap Richard.


"Sama aja dua-duanya somplak, makanya jodoh." ujar Richard kemudian.


Ellio pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Jika perempuan lain pastilah saat ini Lea sudah bertengkar hebat dengan suaminya. Lantaran sang suami yang teledor dalam mengurus anak. Tapi perempuan itu malah terlihat santai saja, meski sebelumnya ia begitu histeris ketika mengira jika ia telah kehilangan Darriel.


Sementara di atas, Daniel masih berada di bathub sambil memandikan Darriel. Ia mendekap bayi itu di dadanya yang hangat. Tampak Darriel menatapnya sambil sesekali mengedipkan mata.


Daniel sangat-sangat menyesal dengan kejadian hari ini dan belum bisa memaafkan diri sepenuhnya.


Ia masih berpikir bagaimana jika tadi ia tak menyuruh office boy mengeluarkan semua yang ia bawa di mobil. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada bayi itu.


***


Beberapa saat berlalu, Daniel sibuk mengambil dan memanaskan ASI dari lemari pendingin. Lalu kemudian ia pergi ke atas dan memberikan ASI tersebut pada Darriel.


Ia menggendong Darriel dan mengajaknya ke bawah. Mereka tampak mengitari sekitar ruangan dekat ruang makan.


"Makan dulu, bro." ajak Ellio kemudian.


"Ntar aja." jawab Daniel sambil terus memegangi botol susu, yang saat ini tengah dihisap oleh Darriel. Tampak Darriel seperti orang yang habis berlari puluhan meter, saking harusnya.


"Biarin aja om, kalau nggak gitu ntar nggak sadar-sadar." tukas Lea lalu beranjak.


"Iya juga sih." jawab Ellio.


Ia dan Richard saling menatap satu sama lain sambil tersenyum tipis. Tak lama asisten rumah tangga membereskan meja makan.


Richard dan Ellio beralih ke halaman belakang untuk merokok. Sedang Lea pergi ke kamar untuk membereskan tugas kuliahnya. Daniel sendiri masih mengurus Darriel, seakan enggan kehilangan waktu dengan bayi itu sedikitpun.


***


"Buuuk."

__ADS_1


"Buuuk."


"Buuuk."


"Siapa yang nyuruh lo, hah?"


"Lo suruhan siapaaa?"


Reynald memukuli satu orang yang diduga adalah otak pelaku penyerangan terhadap dirinya dan Arsen. Orang tersebut sudah sangat kualahan dan akhirnya mengatakan siapa orang yang telah membayar dirinya.


Ia menyebutkan beberapa nama. Dan dua diantaranya Reynald kenal. Mereka adalah pengusaha yang memang suka mengkoleksi daun muda alias sugar baby sebagai simpanan.


Salah satu orang kepercayaan Reynald merekam pembicaraan itu. Tak lama Reynald menyuruh agar orang yang telah menyerang dirinya dan Arsen tersebut segera di bawa ke kantor polisi.


Maka orang kepercayaan Reynald pun menuruti perintah tersebut. Orang itu diseret ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut.


Hanya berselang sekitar setengah jam saja. Mobil Reynald sudah tampak menyalip sebuah mobil di suatu jalan yang cukup lengang.


Orang yang di salip tersebut berhenti. Reynald segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri orang itu.


"Buuuk."


Sebuah bogem mentah mendarat di pipi orang tersebut. Orang itu terkejut dan membalas Reynald.


"Buuuk."


"Sen, itu kayak bokap lo deh."


Arsen yang kebetulan tengah minum satu cup kopi dingin tersebut kini terkejut. Ia menilik ke arah Reynald yang tampak tengah berkelahi.


Tanpa ba-bi-bu lagi ia segera beranjak, bahkan berlarian. Sementara teman-temannya menyusul dan ikut berlari di belakang.


"Pa."


"Papaaa."


Arsen berteriak dan menarik sang ayah. Sementara lawannya sudah kelimpungan dan saat ini banyak orang yang mendekat.


"Ada apa ini pa?" tanya nya dengan nada yang begitu cemas.


Sebab sang ayah memukul lawannya dengan power yang cukup besar. Seperti diketahui sebelumnya bahwa sang ayah memiliki bekas luka tusuk, yang harusnya menjadikan ia lebih hati-hati dalam membuat gerakan.


"Lo kalau emang punya nyali, hadapi gue sekarang. Jangan jadi orang pengecut yang bersembunyi di balik orang-orang yang lo bayar, untuk mencelakai anak gue."

__ADS_1


Arsen dan teman-temannya kaget, ia melihat kepada orang yang diserang oleh ayahnya itu.


"Ada apa ini?"


Beberapa warga mendekat dan bermaksud melerai pertikaian. Ada juga yang emosi pada Reynald, sebab mengira Reynald menyerang orang yang lemah. Mereka tidak tau apa permasalahan yang terjadi.


"Jadi elo yang membayar orang buat menyerang gue dan teman-teman gue di yayasan?"


Arsen mulai naik pitam. Beberapa warga yang semula tampak menyalahkan Reynald kini melihat ke arah Arsen. Mereka mendengar apa yang di ucapkan pemuda itu meski tidak begitu mengerti apa yang dimaksud.


"Harusnya lo mati saat itu juga. Dasar bocah ingusan nggak tau diri." Orang tersebut mulai bersuara.


"Lawan lo gue, bangsat."


Reynald pasang badan dan mendorong orang itu. Meski tadi sudah kalah, orang itu bangkit lagi untuk melawan. Perkelahian terjadi untuk yang kedua kalinya.


Para warga dan teman-teman Arsen berusaha melerai. Sampai kemudian polisi lalu lintas mendekat dan mengamankan semuanya.


***


Esok hari ketika hendak berangkat ke kantor. Daniel memeriksa mobilnya berkali-kali. Ia benar-benar memastikan tak lagi membawa Darriel baik di bagian depan, tengah, maupun area belakang serta bagasi.


Daniel hendak masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat. Namun kemudian ia kembali lagi ke atas dan memastikan jika Darriel benar-benar masih berada di dalam box. Ia bernafas lega ketika melihat Darriel masih terlelap di dalam sana.


"Mantu lo parno noh."


Ellio memperhatikan gelagat Daniel. Richard kemudian memperhatikan sambil sedikit tertawa.


"Udah sana berangkat!" ujarnya pada Daniel kemudian.


"Gue takut nggak sadar lagi kayak kemaren, bro." ucap Daniel lalu melangkah turun.


"Nggak, perasaan kayak gitu jangan diturutin. Ntar jadi gangguan kecemasan." tukas Richard lagi.


Daniel mengangguk-anggukan kepala sambil menghela nafas panjang. Jujur ia benar-benar takut kejadian yang sama akan berulang.


"Kemaren itu kan lo masih basian mabok, kurang tidur dan kecapean." Ellio mempali.


Lagi-lagi Daniel mengangguk.


"Ya udah, gue berangkat dulu." ujarnya kemudian.


"Hati-hati." Richard menepuk bahu menantunya itu.

__ADS_1


Tak lama setelahnya Daniel pun berangkat. Selang beberapa saat berlalu Ellio pamit dan turut berjalan menuju kantor. Terakhir barulah Richard yang beranjak, setelah memastikan seisi rumah aman.


__ADS_2