
Daniel semakin resah, ia tampak tak bisa tenang menunggu kabar dari Lea.
"Dan, makan gih. Lo dari tadi belum makan, loh. Ntar di marahin dokter, baru tau rasa." ujar Ellio membujuk Daniel. Pria itu masih tampak gelisah dan mencoba membuang pandangannya ke sudut lain.
"Bro." Tiba-tiba Richard masuk ke ruangan tersebut. Sontak Daniel dan Ellio pun menoleh.
"Gue udah temukan mereka." ujar Richard kemudian.
"Mereka dimana?" tanya Daniel seraya melihat ke arah pintu.
Hans luka-luka, mereka hampir dirampok orang saat lagi pecah ban.
Daniel dan Ellio menarik nafas panjang, mereka sudah menduga pasti ada yang tidak beres.
"Terus mereka gimana?" tanya Daniel lagi.
"Lea nggak kenapa-kenapa, tapi Hans banyak luka. Karena dia melawan dan mencoba melindungi Lea."
Daniel dan Ellio tampak begitu panik.
"Ellio." ujar Daniel pada detik berikutnya.
Ellio pun mengerti, ia segera mengambil kursi roda dan membawanya ke arah Daniel.
"Mereka dirumah sakit ini kan?" lagi-lagi Daniel bertanya pada Richard.
"Iya, masih di IGD." jawab pria itu.
"Bawa gue kesana." ujar Daniel pada Ellio
"Ntar diliat dokter, Dan." Richard mencoba melarang demi kebaikan.
"Kalau nggak mau, gue pergi sendiri." ujar Daniel.
Richard memberi kode pada Ellio, untuk menuruti saja keinginan sahabatnya itu. Ellio pun memapah Daniel, agar ia bisa duduk di kursi roda. Karena saat ini, kondisi Daniel belum memungkinkan untuk berjalan. Takut ia akan kembali pingsan.
Mereka bertiga bergerak ke arah IGD. Tampak ada perawat yang menghampiri dan menegur mereka. Richard mengatakan jika mereka perlu menemui seseorang sejenak. Perawat itu pun tak dapat menolak, dan memberikan izin walau dengan batas waktu.
Di instalasi tersebut, Daniel melihat Lea yang menangis tersedu-sedu di kursi ruang tunggu. Daniel menyuruh Ellio menghentikan langkah, hingga hanya Richard yang sampai kepada Lea. Sementara Lea tak menyadari kehadiran Daniel dan juga Ellio.
Richard mengajak gadis itu untuk bicara, sedang Daniel merasa ada yang salah dengan dirinya. Ya, seperti sebuah perasaan iri. Namun enggan ia akui. Ia mulai mempertanyakan mengapa Lea bisa sebegitu sedihnya, atas apa yang menimpa Hans. Sedang ketika kemarin ia masuk kerumah sakit ini, Lea tak menangisi keadaannya.
Daniel kemudian menepis perasaan tersebut. Mungkin saja Lea merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Hans, makanya ia menangis. Lagipula mengapa Daniel harus merasakan iri. Sedang Lea bukanlah siapa-siapa bagi dirinya dan ia juga enggan menjadikannya siapa-siapa.
Ia bahkan tak memiliki feeling apa-apa terhadap gadis itu. Daniel tak ingin terlihat seperti bocah yang tengah berebut sebuah mainan. Lalu jika kalah, maka akan marah dan membenci orang yang berhasil.
"Gue mau balik ke kamar." ujar Daniel pada Ellio.
"Lo nggak mau ngeliat Hans?" tanya Ellio kemudian.
"Dia masih ditangani kan?" Daniel balik lagi.
"Iya sih." jawab Ellio.
"Nanti lo, update aja beritanya." ujar Daniel.
Ellio pun mengantarkan sahabatnya itu kembali ke kamar. Richard sempat melihat, namun tak mempermasalahkan. Mungkin Daniel tiba-tiba tak kuat, pikirnya. Karena sahabatnya itu masih lemah dan harus banyak berbaring.
__ADS_1
"Pak Richard."
Seorang dokter menghampiri Richard dan juga Lea. Dokter tersebut membeberkan kondisi Hans yang harus mendapat perawatan intensif. Richard pun mengurus segala keperluan anak itu, mengingat dia adalah anak dari temannya juga.
Ketika Hans dipindahkan ke sebuah ruangan, Lea segera saja menyambangi ruangan tersebut. Hans akhirnya sadar dan berbicara pada Lea.
"Maafin aku, Hans. Aku nggak bisa nolong kamu saat itu." ujar Lea dengan nada suara yang penuh rasa bersalah.
"Itu bukan salah kamu, Lea. Lokasi nya yang salah, kita pake acara pecah ban disitu segala."
"Tetap aja aku merasa nggak enak, harusnya aku bisa nolong kamu sedikit banyak."
"Lea, aku yang harus melindungi kamu sepenuhnya. Karena aku yang ngajak kamu pergi, aku nggak enak sama om Ellio sekarang."
"Ellio nggak apa-apa." Richard nyeletuk dan meyakinkan remaja itu.
"Yang penting kalian baik-baik aja." Lanjut Richard lagi.
"Richard."
Frans ayah Hans muncul tiba-tiba. Tadi Richard sudah memberitahu asisten pria itu, dan telah disampaikan.
"Frans."
"Sorry, gue bener-bener baru tau semua. Gue baru pulang dari Surabaya ini." ujar Grand.
"It's ok." ujar Richard.
Frans lalu menyambangi anaknya.
"Hey, sayang. Are you ok?" tanya Frans dengan wajah yang tampak begitu khawatir.
"Papa khawatir, nak. Lain kali lebih hati-hati ya."
"Maafin Hans ya, pa."
Frans tersenyum.
"It's ok."
"Oh ya pa, ini Lea. Keponakannya om Ellio."
"Oh." Frans menatap Lea, gadis itu tersenyum di sela rasa khawatirnya terhadap Hans yang masih tersisa.
Frans membelai kepala gadis itu seperti anaknya sendiri. Lea terdiam, betapa ayah Hans berbeda dengan ayah Rangga. Hans adalah tipikal orang tua yang tidak langsung menghujat pada perempuan yang dekat dengan anaknya.
"Lea nggak apa-apa kan, nggak diapa-apain orang kab?" tanya Frans pada Lea.
"Nggak om, saya baik-baik aja karena Hans." ujar Lea melontarkan pujian pada Hans. Ayah Hans pun terlihat sangat terharu. Ia telah membesarkan seorang putera yang pemberani.
"Hans, cepat sembuh." ujar Richard kemudian.
"Iya, om." jawab Hans sambil tersenyum.
"Om mau balik ke om Dan dulu."
"Oh iya, Dan juga disini?" tanya ayah Hans pada Richard.
__ADS_1
"Iya bro, biasa penyakit rutin."
Keduanya lalu tertawa.
"Ntar gue kesana, deh. Di ruangan mana dia?" tanya Frans.
"VVIP 405."
Frans mengangguk.
"Lea, kamu sebaiknya pulang dulu. Aku nggak enak sama om Ellio." ujar Hans kemudian. Lea pun mengangguk.
"Malam ini, kamu gimana?" tanya Lea.
"Tenang aja Lea, om akan jaga Hans. Kalau dia nggak nurut, om akan marahin." Frans berujar seraya tersenyum dan menatap Lea. Lea merasakan adanya kedamaian dari cara Frans berbicara.
"Iya Lea, kamu juga harus istirahat." timpal Richard.
"Besok, kesini lagi. Jenguk Hans." lanjutnya kemudian.
"Ok deh, besok aku kesini lagi." ujar Lea.
"Bro, gue ke Daniel dulu." ujar Richard pada ayah Hans.
"Ok, ntar gue nyusul." jawab Frans kemudian.
Richard pun lalu membawa Lea untuk menuju ke kamar Daniel. Sesampainya disana, ternyata Daniel sedang makan. Karena ia memang menunda makannya sejak tadi. Kini ia sudah merasa tenang, karena Hans dan Lea sudah diketahui keberadaannya. Meskipun kondisi Hans tadi sempat mengkhawatirkan.
"Gimana, bro?" tanya Daniel pada Richard.
"Frans udah dateng, Hans juga udah nggak gimana banget."
"Frans ada disitu?" tanya Daniel lagi.
"Ada, ntar dia mau kesini." jawab Richard.
"Kamu tadi kenapa handphone nya nggak aktif, Lea?" Daniel menginterogasi sugar baby nya itu.
"Mati, om. Lupa bawa power bank. Punya Hans juga lupa bawa. Mau nge cas di mobil nggak sempat, keburu pecah ban dan keburu mau dibegal."
"Sebelum itu kan harusnya kamu bisa ngecas dan bisa ngabarin saya setidaknya."
Lea menunduk.
"Maaf om, nggak kepikir sampai sana. Tadinya saya pikir, ya udalah handphone mati. Udah mau pulang ini kerumah, lagian juga saya nggak tau kalau om nyariin saya. Saya pikir, mau saya pergi kemana juga. Om nggak akan peduli sama saya."
Daniel menghela nafas, sementara Richard dan Ellio saling bersitatap satu sama lain.
"Lain kali, kasih tau aja Lea." Kali ini Ellio menimpali.
"Karena kan kamu tinggalnya sama om Daniel. Jadi kalau ada apa-apa, pasti om Daniel duluan yang dicari orang."
Lea kian menunduk.
"Iya om, lain kali nggak lagi koq. Ntar saya kabari kalau kemana-mana."
Lagi-lagi Daniel menghela nafas.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti kamu pulang sama Ellio."
Lea mengangguk, Daniel pun menyudahi makannya.