Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pulang


__ADS_3

"Bro, gue pulang." ujar Daniel seraya menggendong tubuh Lea yang tertidur.


Beberapa saat setelah makan, ketika Daniel Richard, dan Ellio tengah berbincang di balkon atas. Lea menonton tayangan YouTube dan kemudian ia pun tertidur dengan lelap.


"Hati-hati, bro."


Richard menjawab sambil membukakan pintu mobil Daniel. Daniel lalu meletakkan Lea ke dalam dan memasangkan seat belt padanya. Pada saat yang bersamaan Ellio juga pamit. Lalu mereka sama-sama meninggalkan kediaman Richard.


***


Sesuai janji, Daniel menyediakan tempat tinggal sementara bagi Nina. Vita dan teman-teman Nina yang lainnya diminta untuk menemani perempuan itu. Tugas mereka adalah menghibur dan membuatnya move on dari masalah yang kini masih ia hadapi.


Lea sendiri ikut mengantar Nina ke tempat tersebut. Sedang Adisty, Iqbal dan yang lainnya bantu membawakan barang Nina.


"Nin, semoga lo betah ya disini." ujar Lea pada Nina.


"Makasih banyak ya Le, gue suka vibes nya. Bilangin sama laki lo, makasih." tukas Nina.


"Vit, lo temenin Nina ya." Lea berkata pada Vita.


"Sip, beres Le. Pokoknya gue akan disini sesering mungkin." jawab gadis itu.


Mereka lalu mulai membantu membereskan barang Nina dan Lea memesan makanan untuk mereka semua. Lea sangat yakin jika Nina akan segera membaik. Sebab teman-teman yang lain sangat mendukung kesembuhan perempuan itu.


Lain Nina, lain pula suaminya. Keadaan Nina berbanding terbalik dengan laki-laki itu. Ia kini terpuruk dipenjara, meski belum menjalani persidangan. Dan ia pun harus menghadapi gugatan cerai dari istri sahnya, Imelda.


Setiap hari ia menangis, menyesali apa yang telah ia perbuat selama ini. Namun seberapa pun besarnya penyesalan tersebut, tetap tak akan bisa mengembalikan semuanya seperti dulu lagi.


***


Richard baru saja menyudahi telponnya dengan Dian. Pembicaraan mereka agak sedikit terganggu lantaran Richard yang kebanyakan blank dalam menanggapi ucapan kekasihnya tersebut.


Satu, karena saat ini ia tengah menyetir mobil. Jadi fokusnya mau tidak mau harus terbagi. Dua, ia teringat pada peristiwa yang terjadi antara dirinya dan juga ibu Lea beberapa saat yang lalu.


Pria tampan tersebut baru saja membantu ibu Lea pindah rumah. Ia membelikan wanita itu properti, karena kasihan melihat ia dan anak-anaknya harus tinggal di sebuah kontrakan.


Meski sejatinya ibu Lea tak mengemis soal tempat tinggal pada Richard, namun tetap saja Richard merasa peduli. Karena wanita itu juga pernah melahirkan anaknya, yakni Lea.


"Om Richard, om Richard itu papanya Lea ya?"


Ryana bertanya pada Richard. Richard tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


"Iya." jawabnya kemudian.


"Om Richard coba jadi papanya Ryana, Ryan sama adek juga. Pasti kami senang banget."


"Ryana, kamu nggak boleh ngomong gitu ya."


Ibu Lea mengingatkan anaknya tersebut, namun Richard hanya tersenyum. Baginya celotehan Ryana tak lebih dari sekedar ucapan anak kecil.


"Ibu coba nikah aja sama om Richard."


Kali ini Richard dan ibu Lea sama-sama terdiam, keduanya saling menatap satu sama lain.


"Sana main...!" Ibunya memerintahkan.


Ryana lalu pergi, tinggallah kini ibu Lea dan Richard yang berada dalam situasi canggung. Keduanya lalu membereskan barang-barang, agar suasana tak menjadi semakin kaku.


Saking sibuknya mondar-mandir sambil membawa barang, ibu Lea tanpa sengaja menginjak mainan Ryana. Lalu ia pun nyaris terjatuh. Beruntung Richard dengan sigap menangkap tubuh wanita itu. Hingga mereka kini berada dalam posisi yang begitu dekat.


Ibu Lea diam begitupula dengan Richard, tangan pria itu masih memeluk ibu Lea. Seketika keduanya teringat pada peristiwa belasan tahun lalu. Saat mereka bertemu kemudian melakukan hal terlarang yang seharusnya tak pernah terjadi. Hingga akhirnya membuahkan Lea.


Ryan berlarian mengejar kucing peliharaannya yang kabur dari kandang. Tanpa sengaja ia menabrak tubuh ibunya, hingga wanita itu terdorong kearah Richard semakin dalam. Kini bibirnya dengan bibir Richard begitu dekat.


Hingga keduanya bisa merasakan hangatnya nafas masing-masing. Jantung mereka berdegup kencang. Ada sebuah perasaan yang tak bisa mereka tahan.


Richard dan ibu Lea berciuman, namun seketika mereka menjadi sadar dan suasana pun berubah semakin canggung.


Kini Richard mengingat semua itu, sekaligus teringat pada Dian. Hatinya berada dalam perasaan yang bercabang. Ia terus mencoba mengembalikan akal sehatnya. Namun sepertinya semua itu telah berhenti.


"Turunin nggak aku sekarang!"


Seorang gadis berteriak dari sebuah mobil. Mobil tersebut kemudian menyalip mobil Richard dan berhenti mendadak di bahu jalan. Tak lama gadis itu pun keluar. Richard terkejut, karena itu adalah Cindy. Dan ia tampak bertengkar dengan seorang pemuda.


"Plaaak."


Pemuda itu menamparnya. Membuat Richard terpaksa menghentikan mobil, lalu keluar dan mendekat ke arah mereka.


"Heh, apa-apaan ini?"


Richard bertanya pada pemuda itu, seketika Cindy terkejut dengan kehadiran Richard.


"Om Richard." ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Oh ini om-om yang nge-keep kamu."


Kekasih Cindy berujar secara tidak sopan, hingga membuat Cindy refleks mendorong bahu pemuda itu.


"Apaan sih kamu, malu-maluin tau nggak?" teriak Cindy.


"Elo yang malu-maluin gue." Pemuda itu balas berteriak.


"Heh, bisa kan kamu bersikap lebih sopan sama perempuan." Richard membentak kekasih Cindy.


"Nggak usah ikut campur deh om. Om juga bakalan kayak saya koq, kalau tau pacarnya di simpan sama cowok tua."


"Tutup mulut kamu!" teriak Cindy.


Pemuda itu lalu kembali masuk ke dalam mobil dan segera tancap gas. Tinggallah Cindy dalam keadaan bingung, sekaligus malu pada Richard.


"Kamu tadi itu kenapa?"


Richard bertanya pada Cindy ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Cindy diam, merasa bingung apakah dirinya harus bercerita atau tidak.


"Cin?"


"Dia baca chat aku sama om yang beberapa hari lalu. Dia ngira om itu om-om nya aku, yang memelihara aku. Udah di jelasin masih juga nggak ngerti."


Richard menghela nafas.


"Pacar kamu emang kasar gitu orangnya?. Kamu pernah bilang ke om kalau kamu nggak punya pacar."


Cindy diam, ia pernah mengatakan hal tersebut pada Richard.


"Sa, saya..."


Cindy terlihat begitu berat mengatakannya. Namun akhirnya ia pun jujur pada Richard.


"Saya sama dia tuh sebenernya udah pengen putus dari lama, om. Dia orangnya kasar, suka mukul, egois. Anak mami gimana sih?. Tapi setiap kali saya mau putusin, dia ngamuk-ngamuk. Terus bikin drama mau bunuh diri atau apa. Nanti orang tuanya nelpon orang tua saya, minta tolong ke saya supaya datangin dan tenangin anak mereka."


Lagi-lagi Richard menghela nafas.


"Kalau emang kamu mau putus, kamu harus tegas. Biarin aja orang tuanya nelpon dan maksa kamu supaya nemuin anak mereka. Bilang aja kalau kamu udah nggak mau. Urusan anak mereka ya urusan mereka, bukan tanggung jawab kamu. Kalau kamu nggak tegas sama hidup kamu sendiri, kamu akan selalu di atur orang lain sama keadaan."


"Iya sih." jawab Cindy kemudian.

__ADS_1


Lalu hening pun menyeruak, Richard kini fokus pada jalan yang mereka lalui.


__ADS_2